Categories
Umar Bin Khaththab

Biografi Sahabat Nabi Umar Bin Khaththab: Kekhalifahan Umar yang Penuh Keberkahan (Seri 6)

E. PENDIRIAN NEGARA DAN KEJENIUSAN UMAR DALAM PENDIRIANNYA
Dalam rentang waktu yang cukup panjang dari kekhalifahan Umar yang penuh keberkahan itu, negara Islam mengalami perkembangan yang luar biasa. Umar meletakkan pondasi yang kuat dan kaidah dasar yang mantap bagi negara Islam sehingga menjelma menjadi sebagai bukti kongkrit dan contoh nyata dari apa yang ingin diwujudkan oleh agama ini.

1. Syura
Umar menjadikan syurah atau musyawarah sebagai semboyan. Dia ingin menjadi pemimpin bagi sekelompok singa bukan sekawanan lembu. Dia berharap rakyatnya memiliki mata yang awas, kritis, berpikiran cemerlang, dan dinamis. Dia tidak ingin rakyatnya menutup mata, telinga, dan mulut mereka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya lantas menerima saja apa yang disodorkan pada mereka.

Terkadang Umar mengajak para pemuka shahabat dan para senior yang ikut serta dalam perang Badar untuk bermusyawarah. Di lain waktu, ketika menghadapi situasi yang sulit Umar mengundang para pemuda untuk bermusyawarah, berharap akan ketajaman pemikiran mereka. Di antara pemuda yang kerap diajaknya bermusyawarah adalah Abdullah bin Abbas. Bahkan Umar tidak segan-segan meminta pendapat kalangan perempuan. Jika dia melihat ada ide mereka yang baik, dia tidak ragu untuk mengambil itu tersebut.

Ketika Umar meminta pendapat orang lain dalam suatu persoalan, itu bukan sekedar formalitas atau hanya mengharap persetujuan dari yang lain. Melainkan, dalam banyak kesempatan Umar selalu mengingatkan orang-orang dengan mengatakan, “Jangan sampaikan pendapat yang kalian pikir sesuai dengan keinginan, tapi sampaikanlah pendapat yang kalian anggap kebenaran!”

Suatu hari Umar naik ke atas mimbar, lalu bertanya pada jamaah, “Wahai kaum muslimin sekalian, bagaimana pendapat kalian jika saya condong pada dunia?” Seseorang lalu mengangkat salah satu  tangannya memperagakan suatu pedang yang tajam seraya berkata, “Kalau itu terjadi, kami akan menebaskan pedang begini.” Maksudmu engkau akan mengarahkannya padaku?” Tanpa merasa takut orang itu mengiyakan. Wajah Umar berseri-seri, lalu dia berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara di kalian orang yang akan meluruskan penyimpanganku.”

Pada kesempatan lain, ketika Umar sedang berada di suatu majlis, bergabunglah beberapa orang Muhajirin dan Anshar. Umar bertanya pada mereka, “Bagaimana menurut kalian jika saya agak meloggarkan atas kalian beberapa hal?” Mereka diam. Umar terus mengulang pertanyaan samapi tiga kali. Sampai akhirnya Basyir bin Sa’ad menjawab, “Kalau engkau lakukan itu, akan kami luruskan engkau seperti kami meluruskan anak panah.” Umar pun berkata, “Itu baru kalian, kalau begitu.”

Abu Ubaidah bin Jarrah dan Mu’adz bi Jabal pernah menulis surat kepadanya, yang isinya, “Engakau telah diangkat sebagai pemimpin umat ini yang terdiri dari berbagai macam Rasulullah, di hadapanmu ada orang-orang terhormat dan orang-orang biasa, ada teman dan ada juga musuh, setiap mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh keadilan. Maka perhatikanlah apa yang seharusnya engkau lakukan wahai Umar. Kami mengingatkanmu tentang suatu hari setelah seluruh wajah terunduk, seluruh hati menciut, tak ada yang membanta keputusan Sang Maharaja yang memaksa mereka tunduk pada kekuasaan-Nya, berharap rahmat-Nya, dan takut akan siksa-Nya.”

Umar membalas surat itu dengan perkataan, “Kalian berdua telah menasehati saya, apa yang kalian katakan adalah benar. Maka jangan pernah berhenti untuk mengirimi saya nasihat, saya sangat membutuhkan itu dari kalian. Wassalam.”

2. Penanggalan Hijriah
Suatu ketika Umar disodori sebuah dokumen berisi kesepakatan antara dua orang. Tertulis di situ bahwa berlakunya pada bulan Sya’ban. Umar lantas bertanya, “Sya’ban kapan? Tahun ini, tahun lalu, atau tahun yang akan datang?”

Berangkat dari kejadian tersebut Umar pun segera mengumpulkan para shahabat dan meminta pendapat mereka tentang penetapan penanggalan yang bisa mereka sepakati dalam muamalah mereka. Ada yang menyarankan untuk mengikuti penanggalan bangsa Persia dan Romawi, ada juga yang menyarankan untuk menggunakan penanggalan berdasarkan kelahiran Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sementara yang lain berdasarkan masa diutusnya beliau sebagai Nabi, ada juga yang berdasarkan wafatnya. Sedangkan Ali bin Abi Thalib serta beberapa orang jamaah menyarankan penanggalan berdasarkan hijrahnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dari Mekah ke Medinah karena semua orang mengetahui hal tersebut. Umar pun cenderung memilih pendapat terakhir ini karena semua orang mengetahui secara pasti kapan waktu pelaksanaan hijrah. Di samping itu hijrah juga merupakan momen perubahan besar dalam secara dakwah Islam.

Umar pun memutuskan penggunaan penanggalan berdasarkan hijrah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dari awal tahun itu, yaitu bulan Muharram yang merupakan permulaan tahun berdasarkan perputaran bulan, agar tidak merombak urutan bulan yang sudah baku. Keputusan itu diberlakukan pada tahun 16 Hijriah, dua setengah tahun setelah pengangkatan Umar sebagai khalifah.

3. Hukum tanah di wilayah penaklukan
Setelah penaklukan semakin meluas, kaum muslimin menghadapi persoalan baru terkait tanah-tanah yang berada di wilayah penaklukan, apakah dibagikan kepada para mujahidin setelah diambil seperlimanya atau dibiarkan pada pemiliknya lalu mereka membayar pajak kepada kaum muslimin.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut Umar pun bermusyawarah dengan tim ahli kekhalifahan, diputuskanlah untuk membiarkan tanah tersebut pada pemiliknya lalu ditetapkan atas mereka pajak yang dibayarkan ke baitul mal agar dapat memberi manfaat bagi semua.

4. Peradilan
Dalam hal peradilan, Umar menetapkan kebijakan pengadilan. Dia memerintahkan para gubernur di seluruh wilayah untuk mendirikan pengadilan dan mengangkat seorang hakim yang tugasnya khusus menangani peradilan.

Di antaranya apa yang ditulisnya pada Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur wilayah Bashrah, “Sesungguhnya persoalan peradilan itu kewajiban yang telah ditetapkan dan sunnah yang harus diikuti, maka pahamilah perkara jika diajukan padamu, tidaklah bermanfaat pembicaraan tentang kebenaran tanpa realisasi. Damaikanlah antara manusia di majlismu, sehingga orang-orang mulia tidak berharap kesewenanganmu dan orang-orang yang lemah tidak putus asa terhadap keadilanmu. Orang yang menuntut harus mengajukan bukti sedangkan yang membantah harus bersumapah. Jalan damai boleh ditempuh untuk menyelesaikan pertikaian kaum muslimin, kecuali jalan damai yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Jangan pernah ragu untuk meralat keputusan yang telah engkau tetapkan sebelumnya jika engkau menemukan keputusan yang lebih benar. Sesungguhnya tidak ada yang akan mengalahkan suatu kebenaran. Ketahuilah, meralat keputusan untuk mencapai kebenaran jauh lebih baik daripada bersikeras melanjutkan keputusan yang salah. Pahamilah dengan baik hal-hal yang engkau ragukan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Seluruh kaum muslimin diterima kesaksiannya kecuali orang yang pernah dijatuhi hukuman, pernah membuat kesaalahan palsu, dianggap berpihak atau berlaku nepotisme.”

5. Pembuatan hukum administrasi
Akibat dari banyaknya penaklukan yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar adalah melimpahnya kekayaan dan pendapatan negara. Ketika kaum muslimin berhasil menaklukan Mesir, Syam, Irak, Persia, dan Mada’in, para gubernur mengirim pajak dari berbagai wilayah penaklukan sehingga memenuhi baitul mal.
Seseorang berkata kepada Umar, “Wahai Amirul mukminin, saya melihat orang-orang asing itu memiliki buku administrasi  yang berisi nama-nama orang yang berhak mendapat gaji.”

Mendengar ide tersebut, Umar berkeinginan untuk merealisasikannya. Dia lantas mengumpulkan para tokoh untuk bermusyawarah dengan mereka. Ali bin Abi Thalib dan utsman bin Affan meyampaikan pendapatnya. Kemudian Walid bin Hasyim bin Mughirah berkata, “Wahai Amirul mukminin, saya berkunjung ke Syam, saya lihat para rajanya memiliki buku administrasi dan mengangkat pasukan tentara. Maka buatlah sebuah buku administrasi dan bentuklah pasukan tentara.”

Umar pun menyetujui ide Walid. Peristiwa itu terjadi pada tahun 20 H. Umar lalu memanggil tokoh-tokoh Quraisy yang ahli dalam silsilah nasab, seperti Aqil bin Abi Thalib, Makhramah bin Naufal, dan Jubair bin Muth’im, dan memerintahkan kepada mereka menulis nama-nama kaum muslimin dan mengurutkannya sesuai kedudukan mereka.”

Mereka pun mulai menulis nama-nama, diawali dengan Bani Hasyim, lalu Abu Bakar dan kaumnya, diikuti Umar dan kaumnya didasarkan pada urutan kekhalifahan. Ketika Umar melihat catatan tersebut, dia berkata, “Saya juga berharap seperti ini , tapi sebaiknya kalian memulai dengan kerabat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dari yang paling dekat samapi yang jauh, lalu letakkan Umar di temapat yang ditetapkan Allah untuknya.’

Umar lalu menetapkan bagian untuk setiap orang yang tercantum namanya dalam buku. Dia melibihkan bagian orang-orang yang terdahulu masuk Islam dan ikut serta dalam berbagai pertempuran di masa awal Islam. Sementara Abu Bakar sebelumnya membagi semua rata pada semua orang. Ketika hal itu disampaikan pada Umar, dia mengatakan, “Saya tidak mungkin menyamakan orang yang memerangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan orang yang berperang bersama beliau!”

Tidak ada yang mendapat bagian yang lebih banyak daripada para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar kecuali para istri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Umar menetapkan bagi masing-masing mereka dua belas ribu dirham.

Umar menetapkan bagian tertentu untuk masing-masing kaum muslimin. Umar pernah berkata, “Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini kecuali memiliki hak atas harta rampasan ini, baik diberikan maupun tidak. Jika saya masih hidup nanti, seorang gembala di Yaman akan memperoleh haknya sebelum wajahnya memerah karena lelah memintanya.”

Umar berkata, “Jika jumlah hartanya banyak, Umar menetapkan untuk masing-masing tentara 4000 dirham. Seribu untuk biaya perjalanan, seribu untuk persenjataan, seribu untuk biaya keluarga yang ditinggalkan, dan seribu untuk kuda tunggangan. Saya akan menambahnya jika jumlah harta bertambah dan saya akan menghitungnya dengan cermat. Jika saya ragu akan saya timbang, jika saya masih ragu juga, akan saya tuangkan tanpa perlu menghitung.”

Semua orang hidup dengan harta yang melimpah dan berkecukupan. Semua orang pun mendoakan Amirul mukminin. Ketika Umar mendengar hal tersebut, “Jangan puji saya, karena seanddainya harta itu milik Khaththab, saya tidak akan membaginya.”

6. Gudang logistik
Pada masa kekhalifahannya, Umar pun mendirikan gudang logistik untuk menyimpan persediaan gandum, kurma, kismis, dan kebutuhan lain untuk menolong orang yang memerlukan atau menjamu tamu khalifah. Umar pun membangun pos-pos  persediaan air di sepanjang jalan dari Madinah ke Mekah yang dapat membantu para musafir yang kehabisan bekal agar dapat sampai ke tujuannya.

7. Berbagai peraturan lain yang mengagumkan

  • Menetapkan nafkah untuk setiap anak yang baru lahir di wilayah Islam. Ketetapan ini dikirim ke seluruh gubernur wilayah.
  • Umar berkirim surat pada para gubernur dan panglima tentara menetapkan bahwa masa tugas tidak boleh lebih dari empat bulan. Para tentara harus kembali pulang ke keluarganya sebelum masa tersebut.
  • Mengutamakan mengiriman pasukan dari kalanagn bujangan daripada yang telah menikah dan mengutamakan para prajurit daripada rakyat biasa.
  • Umar juga menulis surat kepada para gubernur, “Agar para panglima tidak menerapkan hukum had pada siapapun sampai mereka terlatih, agar tidak terpengaruh bisikan setan untuk membelot pada pasukan kafir.”
  • Di antara peraturan penting yang ditetapkan Umar untuk melindungi Madinah Munawwarah (pusat kekhalifahan) adalah melarang membawa masuk tawanan dewasa ke sana.

8. Pengusiaran Yahudi
Pada tahun 20 H Umar mengusir seluruha kaum Yahudi Khaibar dan Najran dari Jazirah Arab. Umar mengirim surat kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan aku untuk mengusir kalian. Telah sampai padaku berita bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Tidak akan berkumpul dua agama di Jazirah Arab.” Maka siapa yang pernah mendapat janji dari Rasulullah, silakan datang padaku untuk aku penuhi. Siapa yang tidak memiliki ikatan perjanjian dengan beliau hendaklah bersiap untuk meninggalkan Jazirah Arab.”

9. Perluasan Masjid Nabawi
Umar juga melakukan perluasan Masjid Nabawi. Dia membeli rumah-rumah yang berada di sekitarnya dan memperluas masjid kaum muslimin. Dia juga meminta Abbas paman Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam untuk menjual rumahnya, namun Abbas menyedekahkannya untuk kaum muslimin.

10. Penddikan
Umar sangat peduli terhadap pendidikan rakyatnya. Dia ikut turun tangan mengajarkan pengetahuan agama pada Arab badui. Umar pun mengutus para ulama dari kalangan shahabat untuk mengajari orang-orang Al-Qur’an dan memahamkan mereka persoalan agama. Dia pernah mengatakan, “Hendaklah yang berdagang di pasar orang yang memahami agama.”

11. Mengumpulkan orang dalam pelaksanaan shalat terawih dan membuat penerangan masjid
Umar mengumpilkan orang-orang dalam pelaksanaan shalat tarawih dengan menetapkan Ubay bi Ka’Abu Bakar sebagai imam. Dia menulis surat kepada seluruh gebernur wilayah memerintahkan mereka untuk melakukan shalat qiyamu Ramadhan secara berjamaah.
Umar juga membuat penerangan di masjid dengan lampu. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib melewati beberapa masjid di Bulan Ramadhanyang seluruhnya terang benderang oleh lampu. Maka dia berkata, “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaiman dia menerangi masjid kita.”

12. Prinsip “dari mana kau dapatkan ini?”
Umar menerapkan prinsip ini dalam memeriksa para gubernur wilayah. Cukup banyak kejadian yang menunjukkan bagaimana Umar selalu menerapkan prinsip ini.

13. Memuliakan para pendahulu masuk Islam
Umar sangat memuliakan para pendahulu masuk Islam, yaitu mereka yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam mempertahankan keislaman mereka. Suatu waktu beberapa orang hendak bertamu ke rumah Umar. Ada Suhail bin Amr, Abu Musa Al-Asy’ari Sufyan, dan tokoh-tokoh Quraisy yang lain. Lalu keluarlah orang yang menyampaikan izin untuk masuk, lalu mengizinkan para shahabat yang pernah ikut perang Badar seperti Shuhaib, Bilal, dan Ammar Radiyallahu ‘Anhum.

Abu Sufyan berkata, “Saya tidak pernah mengalami hal ini. Dia mengizinkan orang-orang tersebut untuk masuk, sementara kita tidak dilirik sama sekali.”

Suhail bin Amr berkata, “Wahai kaum, demi Allah saya melihat perubahan wajah kalian. Jika kalian marah, maka maralah pada diri kalian sendiri. Mereka dan kalian diseru masuk Islam. Mereka segera menjawab seruan itu sementara kalian berlam-lambat.”

Pada suatu hari Umar membagikan pakaian. Di antara pakaian itu terdapat kain yang bagus dan lebar. Umar pun menyuruh untuk dikirim ke Ummu Umarah, Nasibah binti Ka’ab. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Setiap saya menoleh ke kanan dan ke kiri pada saat perang Uhud, saya selalu melihat Nasibah bertempur melindungi saya.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.