Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid: Ilmunya dan Hadits-hadits Yang Diriwayatkannya (Seri 5)

Biografi Sahabat Nabi, Sa'id Bin Zaid Ilmunya dan Hadits-hadits Yang Diriwayatkannya (Seri 5)

D. Ilmunya dan Hadits-hadits Yang Diriwayatkannya

Walaupun Sa’id telah mendampingi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam seluruh perjalanan dakwahnya, mendengar langsung meninggalkannya dan berangkat menuju rumah Sa’id di Aqiq. Setelah itu ia menyelenggarakan jenazahnya bersama yang lain dan kemudian membawanya di atas pundak-pundak mereka menuju Madinah, tempat di mana ia akan dimakamkan.

Perjalanan shahabat yang mulia ini pun menjadi sempurna, dengan menyatukan seluruh unsur kebaikan, mulai dari mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, senantiasa bersikap zuhud dan wara’, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkara, mencintai kaum muslimin, menolong para shahabat dan membela mereka, meneruskan perjalanan jihad yang telah dimulainya sejak di Mekah, dengan berpegan teguh kepada agamanya dan bersabar atas segala siksaan, kemudian keikutsertaannya dalam seluruh peperangan yang diikuti Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, lalu melanjutkannya dengan mengikuti beberapa peristiwa pada masa khulafaur rasyidin.

Ketika pasukan kaum muslimin menuju wilayah Syam, Sa’id segera menaiki kudanya dan berangkat bersama para mujahidin. Ia menyaksikan pengepungan Damaskus dan penaklukannya. Lalu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menunjuknya menjadi gubernur di sana. Maka dia adalah orang pertama yang bekerja memimpin Damaskus dari umat ini.

Namun jiwa Sa’id tidak bisa berlama-lama dalam kepemimpinan, sementara ia menyaksikan para mujahidin mengerahkan seluruh kemampuan dan nyawa mereka di jalan Allah, dan menerima pahala yang tidak bisa didapatkan oleh umat Islam yang lain.

Maka ketika ia mengetahui bahwa Abu Ubaidah telah berangkat untuk menaklukkan Elia Baitul Maqdis, dan Abu Ubaidah menunggu sikap dari penduduknya. Namun mereka menolak untuk menyerah atau berdamai, maka ia pun maju dan mengepung mereka. Dan yang bertugas untuk memimpin penyerangan saat itu adalah Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sufyan, yang masing-masing berada di sisinya. Berita ini pun sampai ke telinga Sa’id yang saat itu merupakan gubernur di Damaskus. Maka ia menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Radhiyallahu’ Anhuma, “Bismillahirrahmanirrahim, dari Sa’id bin Zaid kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, keselamatan untukmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Amma Ba’du. Demi Allah, sungguh aku tidak bisa mendahulukanmu dan shahabat-shahabatmu untuk berjihad di jalan Allah dari diriku. Ataupun dari hal lain yang mendekatkanku dari keridhaan Allah Azza wa Jalla. Apabila suratku ini sampai kepadamu, maka utuslah untuk pekerjaan ini orang yang lebih menginginkannya dariku. Agar dia bisa bekerja untukmu sesuai dengan keinginanmu. Karena sesungguhnya aku akan segera datang kepadamu di sana Insya Allah. Maka Abu Ubaidah berkata, kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Pimpinlah Damaskus untukku.”

Demi Allah, alangkah besarnya jiwa-jiwa ini, alangkah agungnya cita-citanya, dan alangkah hebatnya tekad yang tersemai di sana. Jiwa-jiwa yang dididik untuk senantiasa mengejar keridhaan Allah, menggapai tingkatan para syuhada, tidak dengan keadaan yang penuh kesenangan. Sa’id Radhiyallahu Anhu mengetahui pahala yang ia dapat dari kepemimpinan apabila ia menunaikan hak-haknya. Dengan memimpin manusia dengan adil, dan menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka. Namun ia juga mengetahui dengan baik, bahwa ada yang menyebarkan kalimat yang benar, dan membebaskan manusia dari cengkeraman kekufuran dan penyembahan kepada selain Allah. Dan bahwasanya satu orang yang mendapatkan petunjuk Allah melaluinya, jauh lebih baik baginya dari dunia seisinya. Ini ditambah lagi dengan berbagi macam fitnah yang akan melingkupi wilayah kepemimpinan, dan cobaan yang akan membuat seorang pemimpin tergelincir. Di mana tidak ada yang dapat membedakannya dan menghindarinya serta selamat darinya, kecuali seorang pemimpin yang bijaksana, berpengalaman, mempunyai kesabaran dan kelapangan hati, dan alangkah sedihnya di Damaskus yang tidak pernah disukainya ataupun diharapkannya. Dan ia segera menuju medan jihad, untuk mendapatkan kemuliaan dari penaklukan Baitul Maqdis dan yang lainnya.

Setelah itu ia turut dalam perang Yarmuk yang menentukan, yang berhasil memusnahkan kekuasaan Romawi dari bumi Syam. Kemudian mendirikan pondasi dari agama yang baru, yang kebaikannya segera menyebar di wiliayah tersebut.

Sa’id dan saudara-saudaranya, yang namanya tercatat oleh pensejarah, atau yang tidak terlintas dalam ingatannya dan kemudian terlupakan, maka bagi mereka semua rahmat dan keridhaan, hingga nanti menemui Tuhan mereka yang akan memberikan ganjaran yang paling baik, dan surga yang penuh kenikmatan.

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *