Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid: Perjalanan Hidup Dan Kepribadiannya (Seri 4)

Biografi Sahabat Nabi, Sa'id Bin Zaid Perjalanan Hidup Dan Kepribadiannya (Seri 4)

C. Perjalanan Hidup Dan Kepribadiannya

Perjalanan Hidup Sa’id telah diwarnai oleh petunjuk dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang disampingnya selama lebih kurang dua puluh tiga tahun. Kebersamaan yang panjang dan indah tersebut memberikan pengaruh yang sangat baik dalam kehidupan Sa’id. Membentuk kepribadiannya, meninggikan kepribadiannya, membekalinya dengan akhlak yang terpuji, dan ia adalah salah satu dari mereka yang berhasil lulus dengan keikhlasan dan kesucian. Dia termasuk mereka yang terdidik dengan keikhlasan dan kesucian. Terdidik untuk zuhud, menjaga kehormatan diri, bersikap tawadhu’, saling menasihati dalam da’wah, dan konsisten dengan akhlak mulia yang diajarkan Islam.

Adapun riwayat-riwayat yang bercerita tentang perjalanan hidup Sa’id, kisah kehidupannya, dan kepribadiannya, walaupun tidak banyak, namun itu cukup memberikan gambaran tentang ciri-ciri kepribadian nya yang mulia dan sangat selaras dengan risalah yang dibawanya dan konsep hidup yang telah diajarkan kepadanya. Sa’id sangat konsisten menjaga kebersamaan dengan jamaah kaum muslimin, zuhud dalam duniawi maupun kepemimpinan, mencintai jihad, dan selalu ingin terus meningkatkan dirinya menuju sebuah kesempurnaan. Ia mencintai kedua orangtua dan keluarganya, menyayangi saudara-saudaranya dan siap membela mereka apabila mereka disakiti, baik saat mereka ada atau tidak. Ia terus berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat (samar), dan berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Nabi. Karena itulah ia memiliki kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan para shahabatnya, dan doanya diterima di sisi Allah.

Ahmad, Asy-Syaikhani, Ibnu Hibban, dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas sebuah hadits panjang tentang Kisah Saqifah dan Pembaiatan kepada Abu Bakar, dan sikap Umar pada masa pemerintahannya. Pada saat haji terakhir yang dilakukannya, ia berkata, “Kalau nanti Umar telah wafat, maka aku pasti memba’iat si fulan.” Ibnu Abbas berkata, “Ketika kami sampai di Madinah pada akhir Dzul Hijjah, hari jum’at pun tiba. Aku segera bergegas untuk ke masjid, karena apa yang telah aku dengan dari Abdurrahman bin Auf. Namun aku mendapatkan Sa’id telah mendahuluiku, dan ia duduk di sisi sebelah kanan dari mimbar. Akupun duduk di sampingnya sehingga lututku menyentuh lututnya. Tidak lama kemudian Umar keluar dan menuju kea rah mimbar.”

Inilah Ibnu Abbas yang telah berusaha untuk datang lebih dahulu dan duduk di shaf pertama dan mendengarkan khutbah Amirul Mukminin, ternyata mendapati Sa’id telah mendahuluinya datang ke Masjid, dan duduk di samping mimbar menunggu shalat dan berdzikir kepada Allah.

Dalam hadits dari Ka’ab bin Malik dalam kisah tiga orang yang tidak turut dalam perang Tabuk dan ia adalah satu dari mereka ia menceritakan turunnya ayat yang menerima taubat mereka, dan bagaimana ia mendapatkan kabar gembira tersebut, kemudian ia berkata,

“Abu Al-A’war Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail pergi menemui Hilal (dia adalah hilal bin Umayyah Al-Waqifi, satu di antara mereka yang tidak ikut. Yang kedua adalah Murarah bin Ar-Rabi’, dan yang ketiga Ka’ab) untuk memberinya kabar gembira di Bani Waqif, dan ketika ia mengabarkannya, Hilal segera sujud. Sa’id berkata, “Aku telah menyangka bahwa dia tidak akan pernah lagi mengangkat kepalanya sampai jiwanya keluar.” Tangis kebahagiaannya jauh lebih banyak dari tangis kesedihan yang dirasakannya, hingga orang-orang mengkhawatirkannya. Kemudian orang-orang menemuinya untuk mengucapkan selamat. Dia hamper tidak bisa berjalan menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam karena kelemahan, kesedihan, dan tangisannya. Hingga kemudian ia mengendarai keledai!”

Sebuah situasi yang indah dan menunjukkan sikap saling mendukung antara individu-individu masyarakat yang dibentuk oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Yang menggambarkan perhatian besar dari seorang saudara kepada saudaranya yang lain, kecintaannya kepadanya, dan kegembiraannya akan kebahagiaannya, ketergesaannya dalam menyampaikan berita tentang diterimanya taubanyatnya yang memberikan kegembiraan dalam jiwanya, dan mengangkat kesedihan dan kesempitan yang dirasakannya akibat boikot social yang diterimanya dari seluruh masyarakat karena dosa yang telah diperbuatnya. Ini adalah buah dari didikan dan bimbingan yang menakjubkan kepada generasi tersebut, di mana antara satu dengan yang lainnya benar-benar bagaikan satu kesatuan bangunan yang saling menguatkan.

Kemudian mari kita lihat sikap yang di tunjukkan Sa’id dengan orang-orang shahabat besar yang menjadi gubernur, dan hanya diam ketika dalam sebuah kesempatan di majelisnya seseorang mencaci-maki Ali. Maka Sa’id segera bangkit menyuarakan kebenaran di hadapan sang gubernur dan semua orang yang berada di majelis tersebut. Dan menceritakan kepada mereka satu di antara kemuliaan Ali Radhiyallahu’anhu.

Ahmad dan empat Ashabus-Sunan juga Ibnu Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Shadaqah bin Al-Mutsana bin An-Nakha’I, dari kakeknya Riyah bin Al-Harits An-Nakha’I, ia mengatakan “Suatu hari Al-Mughirah bin Syu’bah berada di masjid besar, dengan ditemani penduduk Kufah di kiri dan kanannya. Ghirah menyambutnya dan mendudukannya di dekatnya di atas alas duduknya. Lalu datang seorang laki-laki (seorang penduduk Kufah bernama Qais bin Ilqimah, dalam riwayat lain disebutkan dengan namanya), dari penduduk Kufah yang menemui Al-Mughirah, dan kemudian mencaci maki. Sa’id bertanya, “Siapakah yang di caci maki wahai Mughirah?” Ia menjawab, “Ia mencaci maki Ali bin Abu Thalib!” Maka Sa’id berkata, “Hai Mughirah bin Syu’bah,hai Mughirah bin Syu’bah,” sampai tiga kali. Tidakkah aku mendengar shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dicaci di hadapanmu dan engkau sama sekali tidak mencegah dan melarang?! Aku bersaksi kepada Rasulullah atas apa yang telah didengar kedua telingaku, dan difahami oleh hatiku dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sungguh aku tidak akan mengatakan kebohongan jika ia bertanya kepadaku saat bertemu dengannya nanti. Sungguh beliau telah bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ali di surga, Utsman di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman di surga, Sa’ad di surga, dan orang mukmin yang kesembilan di surga,” kalau aku mau aku akan menyebutkan namanya.” Maka orang-orang yang hadir di masjid menjadi rebut dan memintanya, “Wahai shahabat Rasulullah, siapakah yang kesembilan tersebut? Ia menjawab, “Kalian telah memintaku dengan nama Allah, demi Allah yang Maha Agung, akulah orang mukmin yang kesembilan tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang kesepuluh. Kemudian ia melanjutkan dengan sebuah sumpah “Demi Allah, sebuah peperangan yang diikuti oleh seorang laki-laki, dimana wajahnya penuh debu bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam lebih baik dari apda amal perbautan siapapun dari kalian, bahkan walaupun ia berumur seperti Nabi Nuh Alaihissalam.”

Sebagian mereka menambahkan dalam riwayat ini, “Kemudian Sa’id berkata, “Sungguh benar, ketika umur-umur mereka terputus, Allah berkehendak untuk tidak memutus pahala mereka sampai hari kiamat. Celakalah orang yang membenci mereka, dan berbagialah orang yang mencintai mereka.”

Adapun laki-laki yang merugi tadi, yang telah mencaci seorang shahabat yang mulia, khalifah Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan putra dari paman beliau, serta suami dari pemuka para wanita di dunia, dan yang pertama-tama masuk Islam, yang memiliki keutamaan-keutamaan, dan kedudukan yang tinggi, yang dicacinya di hadapan banyak orang dan juga shahabat, sungguh matanya telah buta, dan jalannya telah sesat. Kita dapat katakana kepadanya, “Wahai orang yang bodoh, apa yang bisa membandingkanmu dengan Ali?! Kalaulah karena tidak karena peristiwa yang memalukan ini, engkau tidak akan dikenal oleh siapapun, dan sejarahpun takkan pernah mencatat namamu. Sungguh celaka engkau yang dikenal karena sikap yang keji dan jalan yang tercela ini!” Adapun Ali, selama atas sejarah yang seolah berdendang menyebutkan namanya, berbahagialah pena yang menuliskan kiprahnya, dan berbajagialah mereka yang membela dan menceritakan keutamaan-keutamaan nya. Dan sungguh tepat apa yang diucapkan Sa’id, “Ketika umur-umur mereka terputus, Allah berkehendak untuk tidak memutus pahala mereka sampai hari kiamat.” Baik dengan perbuatan-perbuatan mereka yang terpuji, atau dengan nama-nama mereka yang selalu dikenang dan didoakan untuk senantiasa mendapatkan keridhaan dari Allah, atau dengan mengambil kebaikan orang-orang yang membenci mereka dan kemudian ditambahkan kepada lembaran sejarah kehidupan mereka yang bersih. Jadi bagaimanapun cara Ali dan saudara-saudaranya yang lain dikenang, mereka akan selalu mendapatkan ganjaran dan pahala.”

Namun ini semua tidak menghalangi Sa’id untuk bangkit menentang kemungkaran dan sikap yang sudah keterlaluan tersebut. Dia pun mencela Mughirah dan mengatakan kepadanya, “Hai Mughirah bin Syu’bah’, sampai tiga kali! Bagaimana mungkin engkau bisa diam sementara seorang shahabat di caci di majelismu, tanpa kau cegah. Seharusnya engkau menghukum orang ini di depan umum agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahnya!

Sa’id adalah seorang yang berpendirian teguh, berperilaku mulia, sangat wara’, amat menjauhi hal-hal yang berbau syubhat, apalagi yang haram. Dia telah menyimak petunjuk dan perjalanan hidup Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, mendengar langsung hadits-hadits beliau, dan berakhlak dengan akhlak beliau. Dan di antara yang ia dengar dari beliau adalah larangan untuk mengambil sejengkal tanah orang lain yang bukan haknya, dan ancaman yang menakutkan bagi mereka yang melakukannya. Karena itulah ia sangat takut, dan amat menjaga sikap wara’nya untuk jangan sampai mengambil tanah tetangga-tetangganya, baik itu berupa rumah, atau ladang, ataupun bangunan-bangunan lain.

Sikap wara’ yang dimilikinya ini tidak terlihat begitu saja tanpa di landasi oleh keikhlasan kepada Allah Ta’ala, namun Allah berkehendak untuk menguji Sa’id dengan seorang tetangga wanitanya yang menuduhnya melebihi batas tanahnya dan mencuri sebagian dari tanahnya. Kemudian mengadukannya kepada gubernur Madinah saat itu Marwan bin Hakam. Allah pun membukakan tabir kebenaran, dan membebaskan Sa’id. Maka akhlak mulia yang tertutup rapi dengan keikhlasan itupun tampak jelas, dan menjadi pelajaran bagi manusia selama berabad-abad. Dan menjadi bukti bagi mereka bahwa di balik sebuah cobaan terdapat nikmat yang agung. Dan kedudukan Sa’id pun semakin tinggi di sisi Allah, juga dalam pandangan manusia.

Al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan “Arwa binti Uwais mengaku bahwa Sa’id bin Ziad telah mengambil sedikit dari tanahnya, maka ia mengadukannya kepada Marwan bin Hakam. Sa’id berkata, “Akankah aku mengambil sebagian dari tanahnya setelah apa yang kudengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam?! Marwan berkata, “Apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam? Sa’id menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim, maka Allah akan mengalungkannya dengan tujuh lapis bumu pada hari kiamat.” Maka Marwan berkata kepadanya, “Aku tidak akan meminta bukti kepadamu setelah ini.” Kemudian Sa’id berkata, “Ya Allah, kalau wanita itu berdusta, maka butakanlah matanyam dan matikan ia di tanahnya.” Urwah berkata, “Dan wanita itu tidak mati hingga matanya buta, kemudian saat ia berjalan di tanah miliknya, ia terjatuh ke dalam sebuah sumur dan mati.”

Dan Arwa belum cukup sampai di sana, bahkan ia mengutus seseorang untuk berbicara kepada Sa’id, lalu menambah api permusuhan nya dengan mengancam bahwa ia akan membongkar keburukan Sa’id di depan umum di masjid Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam!

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam Al-Isti’ab dari Abu Bakar bin Amru bin Hazm, ia berkata, “Arwa binti Uwais datang menemui ayahku, Muhammad bin Amru bin Hazm, dan berkata kepadanya, “Hai Abu Abdul Malik, sesungguhnya Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail telah membangun sebuah dinding di tanah yang menjadi hakku. Datangilah dia, dan suruh agar ia melepaskan hakku, karena demi Allah, kalau ia tidak melakukannya aku akan meneriakkan ini di masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam! Ia berkata kepadanya, “Janganlah engkau menyakiti shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dia tidak akan pernah menzhalimimu atau mengambil hakmu.” Arwa pun pergi dan mendatangi Umarah bin Amru dan Abdullah bin Salamah dan berkata kepada mereka berdua, “Datangilah Sa’id bin Zaid, sungguh dia telah menzhalimiku dan membangun sebuah dinding di tanah yang merupakan hakku. Karena demi Allah, kalau ia tidak melakukannya aku akan meneriakkan ini di masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam!” Mereka pun pergi mendatanginya di tanahnya yang berada di Aqiq, Sa’id berkata kepada mereka, “Apa yang membawa kalian kemari.” Mereka menjawab, “Arwa binti Uwais telah mendatangi kami dan menduga bahwa engkau telah membuat dinding di tanah yang merupakan haknya, dan bersumpah dengan nama Allah bahwa kalau engkau tidak mencopot nya, dia akan meneriakimu di masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Maka kami merasa lebih baik untuk mendatangimu dan mengingatkanmu tentang itu.” Sa’id berkata, “Sungguh aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim, maka Allah akan mengalungkannya dengan tujuh lapis bumi pada hari kiamat.” Maka itu, silahkan ia datang dan mengambil apa yang menjadi haknya. Ya Allah, kalau ia berbohong atasku maka janganlah engkau matikan dia sehingga matanya buta, dan menjadikan kematiannya di tanahnya.” Merekapun kembali dan memberitahukan Arwa tentang itu. Arwa pun datang dan menghancurkan dinding tersebut dan membangun sebuah bangunan lain. Tidak berapa lama setelah itu, ia menjadi buta, dan saat itu ia selalu bangun pada malam hari dengan ditemani pembantunya untuk membangunkan para pekerja. Suatu malam ia bangun dan membiarkan pembantunya tidur, dan berjalan keluar hingga terjatuh ke dalam sebuah sumur dan mati di sana!”

Sikap wara’ Sa’id dan kerelaannya untuk tidak mempersoalkan hak nya sendiri semakin terlihat jelas ketika ia memberikan kepada wanita tersebut bagian yang luas dari tanahnya. Abu Nu’aim telah menceritakan dalam kita Hilyatul Auliya’, “Arwa binti Uwais mendatangi Marwan bin Hakam untuk mengadukan tentang Sa’id bin Zaid. Ia berkata, “Dia tetangganya di Aqiq, Maka Ashim bin Umar pun mendatangi Sa’id. Dan Sa’id berkata, “Aku mengambil hak dari Arwa?!” demi Allah aku telah melepaskan untuknya enam ratus hasta dari tanahku karena sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang mengambil hak seseorang dari kaum muslimin yang bukan haknya, maka pada hari kiamat ia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi!” Bangunlah hai Arwa, dan ambillah apa yang anggap hakmu. Arwa bangkit dan mengambil tanah yang merupakan milik Sa;id lebih banyak lagi, kemudian Sa’id berdoa keburukan untuknya.”

Tidak beberapa lama setelah itu, Allah memperlihatkan kebenaran. Dan orang-orang pun mengetahui kejujuran Sa’id dan bahwa ia tidak bersalah. Setelah kejadian tersebut, Sa’id Radhiyallahu Anhu berdoa kepada Tuhannya agar menunjukkan kebenaran dalam kasusnya, demi menjaga kebersihan tanahnya, dan menjaga kesucian lembaran hidup nya di antara seluruh manusia.

Abu Nu’aim menceritakan dalam kitab Al-Hilyah, dan Ibnu Abdil Barr dalam Al-Isti’ab, dan juga Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah, dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm, ia mengatakan “Sa’id berkata, “Ya Allah, sesungguhnya ia menyangka bahwa ia telah dizhalimi, kalau ia berdusta maka butakanlah matanya, dan lemparkanlah ia kedalam sumurnya. Dan perlihatkanlah hakku agar menjadi penerang bagi kaum muslimin bahwa aku tidak pernah menzhaliminya.” Dalam keadaan demikian, terjadilah sebuah banjir di Aqiq yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan membukakan batas tanah yang menjadi sengketa tersebut. Dan terbukti bahwa Sa’id tidak berbohong. Tidak berapa lama kemudian, wanita itu menjadi buta, dan ketika ia sedang berjalan-jalan di tanahnya itu, ia terpelosok ke dalam sumurnya sendiri.” Perawi berkata, “Di saat kecil, kami sering mendengar seseorang berkata kepada yang lain, “Semoga Allah membutakan matamu seperti butanya Arwa.” Saat itu kami mengira bahwa dia hanya hanya berbicara tidak sopan. Dan ternyata yang ia maksudkan adalah apa yang telah menimpa Arwa karena telah menuduh Sa’id.

Atas peristiwa inilah kemudian Sa’id Radhiyallahu Anhu dikenal sebagai orang yang dikabulkan doanya. Sangat benar apa yang telah dilakukan Sa’id dengan berdiri kokoh bagaikan sebuah gunung, setelah mendengar ancaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bagi orang yang mengambil sejengkal tanah yang bukan haknya. Ia tidak berkeinginan untuk melakukannya, namun berpegang teguh kepada hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan tidak hendak melangkahinya sedikitpun. Dan sudah sepantasnya bag setiap muslim untuk menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau syubhat, menjauhi yang haram, khususnya hak-hak kaum muslimin, terutama yang berkaitan dengan tanah, agar tidak mengambil sejengkalpun yang bukan haknya. Semua ini karena ancaman keras yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam oleh banyak shahabat.

Para imam hadits telah mendiskusikan makna yang terkandung dalam hadits ini. Dan ungkapan “Dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi” bermakna bahwa seolah orang yang mengambil tanah yang bukan miliknya, maka pada hari kiamat dia akan membawa tanah yang diambilnya tersebut ke padang mahsyar, dan menjadi bagaikan kalung di lehernya. Atau dibalas dengan melemparkannya ke tujuh lapis bumi, sehingga setiap lapis bumi bagaikan kalung tersendiri di lehernya. Ini diperjelas oleh hadits riwayat Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari “Dia akan dilemparkan pada hari kiamat kepada tujuh lapis bumi.” Atau dia akan dibebani dengan menjadikannya kalung di lehernya, dan ia tidak mampu. Maka dia akan diadzab demikian sebagaimana orang yang berbohong dalam tidurnya “Bahwa ia akan melaksanakan suatu ibadah.” Atau pengalungan yang dimaksudkan adalah pengalungan dosa, sehingga kezhaliman yang ia lakukan akan terus menggantung dilehernya sebagaimana dosa yang akan terus dibawanya. Dalam hal ini terdapat firman Allah Ta’ala, “Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya (QS. Al-Isra’ [17]: 13).” Juga ada kemungkinan bahwa mereka yang melaksanakan dosa ini akan terbagi. Sebagian dengan di adzab dengan ini, dan yang lain diadzab dengan hal lainnya, sesuai dengan besar kecilnya kerusakan yang ia sebabkan.

Khalifah Utsman bin Affan telah memberikan untuk Sa’id sebuah jatah tanah di Kufah, maka ia pun pergi dan tinggal di sana. Kemudian setelah kepergiannya, rumah tersebut didiami oleh sebagian anaknya. Sa’id bahkan tidak tinggal di Kufah sampai akhir hayatnya, namun ia kembali ke Madinah dan meninggal di Aqiq.

Sa’id adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya. Karena apa yang dilihatnya tentang kesungguhan ayahnya dalam mencari agama, dan keseriusannya untuk mendapatkannya. Juga penantian ayahnya akan kemunculan Nabi yang ditunggu-tunggu, sebagaimana kabar gembira yang diterimanya. Namun ternyata ajal mendahuluinya sehingga tidak sempat mendapatkannya.

Maka ketika Islam datang, Sa’id menginginkan agar ayahnya juga mendapatkan kebaikan yang telah lama ditunggunya tersebut. Maka Sa’id meminta Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk mendoakan ayahnya.

Ahmad dan Al-Hakim meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid, “Sesungguhnya ia meminta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam agar ayahnya Zaid di ampuni Allah, maka dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku Zaid bin Amru bin Nufail sebagaimana yang telah engkau ketahui, dan sebagaimana yang telah kau dengar, kalau saja ia bisa mendapatkanmu niscaya ia akan beriman kepadamu. Maka mintakanlah ampunan untuknya.” Rasulullah menjawab, “Ya” Dan belia memintakan ampunan untuknya, dan berkata, “Sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat sendirian seabgai sebuah umat.”

Sa’id telah mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi para khalifah, shahabat, dan ummahatul mukminin. Telah diceritakan sebelumnya sikapnya terhadap Al-Mughirah bin Syu’bah yang saat itu merupakan seorang gubernur. Ketika ia datang, Mughiralah segera menyambutnya, mendekatkannya dan mendudukannya di tempatnya.

Al-Baihaqi dan yang lain meriwayatkan dari Muharib bin Ditsar, “Bahwasanya Ummul Mukminin Maimunah mewasiatkan agar Sa’id bin Zaid yang menshalatkan jenazahnya.”

Ketika Sa’id wafat, dan para shahabat diberitahu tentang itu, Ibnu Umar yang sedang bersiap-siap untuk melaksanakan shalat jumat, segera meninggalkannya dan berangkat menuju rumah Sa’id di Aqiq. Setelah itu ia menyelenggarakan jenazahnya bersama yang lain dan kemudian membawanya di atas pundak-pundak mereka menuju Madinah, tempat di mana ia akan dimakamkan.

Perjalanan shahabat yang mulia ini pun menjadi sempurna, dengan menyatukan seluruh unsur kebaikan, mulai dari mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallamm, senantiasa bersikap zuhud dan wara’, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mencintai kaum muslimin, menolong para shahabat dan membela mereka, meneruskan perjalanan jihad yang tlah dimulainya sejak di Mekah, dengan berpegang teguh kepada agamanya dan bersabar atas segala siksaan, kemudian keikutsertaannya dalam seluruh peperangan yang diikuti Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam, lalu melanjutkannya dengan mengikuti beberapa peristiwa pada masa khulafaur rasyidin.

Ketika pasukam kaum muslimin menuju wilayah Syam, Sa’id segera menaiki kudanya dan berangkat bersama para mujahidin. Ia menyaksikan pengepungan Damaskus dan penaklukannya. Lalu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah menunjuknya menjadi gubernur di sana. Maka dia adalah orang pertama yang bekerja memimpin Damaskus dari umat ini.

Namun jiwa Sa’id tidak bisa berlama-lama dalam kepemimpinan, sementara ia menyaksikan para mujahidin mengerahkan seluruh kemampuan dan nyawa mereka di jalan Allah, dan menerima pahala yang tidak bisa didapatkan oleh umat Islam yang lain.

Maka ketika ia mengetahui bahwa Abu Ubaidah telah berangkat untuk menaklukkan Elia – Baitul Mqadis, dan Abu Ubaidah menunggu sikap dari penduduknya. Namun mereka menolak untuk menyerah atau berdamai, maka ia pun maju dan mengepung mereka. Dan yang bertugas untuk memimpin penyerangan saat itu adalah Khalid bin Walid dan Yazid bin Abu Sufyan, yang masing-masing berada di sisinya. Berita ini pun sampai ke telinga Sa’id yang saat itu merupakan gubernur di Damaskus. Maka ia menulis surat kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Radhiyallahu’anhuma , “Bismillahirrahmanirrahim, dari Sa’id bin Zaid kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, keselamatan untukmu, sesungguhnya aku memuji Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Amma Ba’du. Demi Allah, sungguh aku tidak bisa mendahulukanmu dan shahabat-shahabatmu untuk berjihad di jalan Allah dari diriku. Ataupun dari hal lain yang mendekatkanku dari keridhaan Allah Azza wa Jalla, Apabila seuratku ini sampai kepadamu, maka utuslah untuk pekerjaan ini orang yang lebih menginginkannya dariku. Agar dia bisa bekerja untukmu sesuai dengan keinginanmu. Karena sesungguhnya aku akan segera datang kepadamu di sana Insya Allah. Maka Abu Ubaidah berkata kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Pimpinlah Damaskus untukku.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *