Categories
Sa'id Bin Zaid

Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid: Bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam (Seri 3)

B. Bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

2. Mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam

Sa’id terus mendampingi Rasulullah selama masa dakwah yang penuh berkah, dia adalah seorang yang paling pertama memeluk Islam, dia tetap berada di Mekah dan tidak meninggalkannya untuk ke Habasyah atau yang lainnya. Kemudian ia hijrah ke Madinah dan terus mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallamdi sana sampai kembali kepada Tuhannya.

Kebersamaan yang indah ini telah dilalui Sa’od selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dan kebersamaan tersebut tentunya penuh dengan berbagai peristiwa dan banyak kejadian. Sa;id adalah satu di antara tokoh shahabat dan yang terkemuka di antara mereka. Namun sebagian besar kitab-kitab referensi sedikit sekali menceritakan kiprah dan prestasinya selama kurun waktu yang cukup panjang tersebut. Sementara pada wakty yang sama kita lihat banyak shahabat lain yang masih di bawah Sa’id dalam hal keutamaannya yang pertama-tama masuk Islam ataupun dalam hal kedudukannya, seluruh shahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah sosok-sosok terpilih dan terbaik, banyak sekali sumber yang bercerita tentang mereka, dan mereka juga mendapatkan porsi yang sangat banyak dalam lembaran sejarah.

Dan hanya terdapat sebuah riwayat yang menceritakan secara umum tentang kehidupan shahabat ini bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, yang memberikan gambaran tentang kiprahnya. Dan menerangi jalan bagi para pembaca untuk memastikan keberadaan Sa’id secara terus menerus dalam mendampingi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, juga belajar dari beliau, mengikutinya dan membelanya.

Ibnu Asakir dan yang lain meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, “Kedudukan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail, mereka selalu berada di depan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam peperangan, berada di belakang beliau dalam shaf shalat. Dan tak satupun shahabat dari kalangan Muhajirin atau Anshar yang bisa menggantikan posisi mereka, baik di saat kehadiran mereka atau tidak”.

Satu riwayat yang singkat ini cukup bagi seorang sastrawan  untuk merajut sebuah cerita kehidupan seorang Sa’id dan kebersamaannya dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan peran-perannya bersama beliau. Dengan membandingkannya dengan biografi shahabat-shahabat lain yang disebutkan bersamanya. Namun kami tidak ingin pena ini menulis sesuatu yang tidak diketahuinya, atau mengada-ada. Jadi, riwayat di atas cukup bagi kita untuk mengambil kesimpulan tentang tingginya kedudukan shahabat yang satu ini di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, juga kedudukan nya di sisi para shahabat dan orang-orang kebanyakan. Kita juga bisa mengambil kesimpulan tentang kebersamaannya yang hampir tak pernah lepas dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam shalat-shalatnya, dalam majelis-majelis beliau, di Madinah, ataupun saat bepergian, dan kemudian pada saat peperangan dan peristiwa-peristiwa lainnya.

3. Peperangan yang diikutinya bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Para sejarawan dan penulis biografi tidak memasukkan Sa’id dalam deretan para pahlawan dari kalangan shahabat, ataupun mereka yang tergolong singa-singa perang pada saat berkecamuknya pertempuran. Seperti halnya Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abu Thalhah, dan Abu durjanah. Namun mereka semua sepakat bahwa ia ikut dalam semua peperangan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, ikut berjihad di bawha panji beliau, untuk membela agamanya, mempertahankan dakwahnya, dan cukuplah itu menjadi suatu kehormatan baginya.

4. Perang Badar

Sa’id tidak ikut dalam perang Badar. Namun itu bukan karena keterlambatannya untuk mendapatkan kemuliaan tersebut, tapi karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah mengutusnya untuk menyelidiki berita tentang kafilah Quraisy uang menjadi target. Ia pun segera berangkat. Setelah menyelesaikan misinya, ia kembali ke Madinah untuk melaporkannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun ia mendapatkan beliau telah selesai dari perang Badar. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tetap menghitung perannya dalam perang tersebut juga pahala yang didapatkannya. Karena itulah para sejarawan dan biographer termasuk Al-Bukhari memasukkannya ke dalam golongan yang ikut perang Badar.

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir serta yang lainnya meriwayatkan, Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menunggu-nunggu kedatangan kafilah Quraisy dari Syam, beliau mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid Amru bin Nufail sepuluh hari sebelum keberangkatan beliau dari Madinah, untuk menyelidiki berita tentang kafilah tersebut. Mereka pun pergi hingga sampai di Al-Haura’, dan tetap disana sampai kafilah tersebut melewati mereka. Berita tentang hal ini sampai kepada Rasulullah sebelum kepulangan mereka berdua, maka beliaupun memimpin shahabat-shahabat nya dan pergi untuk mencegat kafilah. Namun ternyata kafilah itu mengambil jalan pantai dan bergegas. Mereka berjalan siang dan malam untuk menghindari pengejaran. Sementara itu, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid kembali ke Madinah untuk memberitahukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tentang kafilah tersebut, tanpa mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan Madinah. Mereka pun sampai di Madinah tepat pada hari di mana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bertemu dengan pasukan Quraisy di Badar. Mereka pun segera meninggalkan Madinah untuk menyusul Rasulullah. Mereka menemui beliau di Turban, yang terletak antara Malal dan As-Sayalah dalam perjalanan pulang dari Badar. Jadi Thalhah dan Sa’id tidak sempat mengikuti pertempuran. Namun demikian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tetap menghitung bagian dan pahala mereka di Badar. Sehingga seolah mereka ikut dalam perang tersebut.

Begitu juga riwayat dari Urwah bin Zubair dan Az-Zuhri, Musa bin Uqbah, Ibnu Ishaq dan lainnya, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menghitung bagiannya dan juga pahalanya dalam perang Badar.

Thalhah dan Zubair bukan meninggalkan kemuliaan ikut dalam perang yang menentukan itu. Juga bukan karena kesibukan mereka dalam perdagangan ataupun urusan dunia lain. Mereka pergi sebagai mata-mata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk menyelidiki berita tentang kafilah Quraisy dan kekuatan militer mereka. Sebagai bukti, cukuplah bagian yang diberikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan pahala yang mereka terima dalam perang tersebut. Maka tidak heran kalau para sejarawan sepakat bahwa Sa’id adalah termasuk ahli Badar. Dan itu adalah sebuah kehormatan yang mungkin hanya bisa dilampaui oleh kedudukannya sebagai orang yang lebih dahulu masuk Islam.

Ath-Thabrani, Al-Hakim, Ibnu Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah bin Zubair dalam kitab Tasmiyatu Ahli Badr, ia berkata, “Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail kembali dari Syam setelah kepulangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dari Badar. Ia pun berbicara dengan beliau, dan beliau menghitung bagiannya, dan kemudian ia bertanya, “Dan termasuk pahalaku wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dan termasuk pahalamu.”

Ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya, namun sesuai. Dan sekaligus menjelaskan arah yang dituju oleh Thalhah dan Zubair untuk menyelidiki berita tentang kafilah itu, yang ternyata berada di jalan yang menuju ke Syam.

Al-Imam Ath- Thabari berkata, setelah sebuah pembicaraan panjang tentang perang Badar, “Sebelum keluar Madinah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, ke jalan yang menuju Syam untuk menyelidiki berita tentang kafilah. Kemudian mereka kembali ke Madinah, dan sampai di sana pada hari terjadinya perang Badar. Mereka kemudian menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam di Turbanm yang merupakan sebuah lembah, dalam perjalanan dari Badar menuju Madinah.”

5. Keikut sertaannya dalam semua peperangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr, An-Nawawi, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, dan imam-imam lainnya berkata, “Dan Sa’id juga turut dalam perang Uhud, perang Khandaq, dan seluruh peperangan lainnya bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.”

Jadi, Sa’id Radhiyallahu Anhu merupakan shahabat yang ikut dalam perang Badar, ikut dalam perang Uhud, melakukan Bai’atur Ridhwan, dan termasuk di antara mereka yang ikut dlam perang yang terjadi saat masa susah, dan menerima kemuliaan dari keterlibatannya dalam seluruh peristiwa tersebut. Sementara keterlibatan dalam setiap peristiwa mempunyai keutamaannya tersendiri yang sangat tinggi. Walaupun buku-buku sejarah tidak mencatan peran dan kiprahnya pada perang tersebut, namun ia akan selalu termaktub dalam catatan para Malaikat yang bertugas untuk mencatat. Sa’id akan menemui Tuhannya dan lembaran-lembaran yang penuh cahaya tersebut, dan selamat untuknya.

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

2 replies on “Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid: Bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam (Seri 3)”

Ass….
Biografi Sahabat2 Nabi sangat bagus sekali untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang sejarah Islam. Apakah ada laNjutan Sahabat Sa’id Bin Zaid yang ke 4? Dan bagaimana saya mencari Biograpi Sahabat NAbi selain dari 9 nama di atas. Terimakasih

Wa’alaikumussalam,

Insya Allah terus berlanjut sampai dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Mohon di tunggu updatenya. Semoga bermanfaat. Barakallahu Fiikum

Leave a Reply to indra mr Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.