Categories
Zubair bin Awwam

Biografi Sahabat Nabi, Zubair bin Awwam : Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya (Seri 8)

D. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

3. Suaminya, Infaknya, dan Sedekah-sedekahnya Sumber Kekayaannya

Dunia seolah datang menghapiri Zubair, dan harta pun mengalir deras ke tangannya. Itu adalah hasil dari pembagian tanah yang diberikan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan tiga khalifah yang datang setelahnya dari harta fai’, dan dari apa yang didapatnya dari harta rampasan perang dalam banyak peperangan yang diikutinya. Juga dari kesibukannya dalam berdagang dan menginvestasikan hartanya. Dan apapun hasil yang datang kepadanya dari budak-budak yang dimilikinya, ia telah memiliki seribu budak yang bertugas menyetorkan pajak dari tanah-tanahnya. Seluruh pemasukan tersebut terkumpul dan membanjiri tangannya. Dan ia termasuk diantara shahabat yang terkaya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Urwah, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberi Zubair sebidang tanah dengan kebun kurma, yang merupakan harta ramapasan dari Bani Nadhir. Dan Abu Bakar memberi Zubair sebuah lereng yang merupakan tanah mati. Dan Umar memberi Zubair sebidang lembah sempit.

Telah kami ceritakan sebelumnya bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberi Zubair sebidang tanah di khaibar, di Suwariq, dan di Tsurair di mana beliau memberikannya tanah sejauh kudanya dapat berlari. Ia pun menunggang kudanya sampai kuda tersebut berhenti karena keletihan, setelah itu dia pun melempar anak panahnya, dan mereka memberinya sampai batas jatuhnya anak panah tersebut.

Ibnu Asakir dan yang lainnya menceritakan bahwa dalam pembagian harta rampasang perang, Zubair mendapatkan empat bagian, satu bagian untuknya, dua bagian untuk kudanya, dan satu lagi untuk keluarganya yaitu ibunya.

Dalam Musnad Ahmad diceritakan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberi Zubair satu bagian, ibunya satu bagian, dan untuk kudanya dua bagian.”

Abu Ubaid menyebutkan dalam Al-Amwal, dari Musa bin Thalhah, ia mengatakan, “Utsman membagikan tanah untuk lima shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, Zubair, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Usamah bin Zaid, dan Khabbab bin Al-Arat.”

Diceritakan bahwa di Irak banyak terdapat tanah yang telah kosong ditinggalkanya pemiliknya, tidak ada lagi yang menempati atau memanfaatkannya. Tanah seperti ini hukumnya dikembalikan kepada khalifah. Utsman berpendapat dan begitu juga Umar sebelumnya, bahwa memanfaatkannya lebih baik bagi umat Islam, dan pajak tanahnya pun lebih bermanfaat bagi mereka. Maka Utsman memberikannya kepada yang ia anggap berhak, untuk dimanfaatkan sebagaimana tanah-tanah lain yang dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya, dan mengeluarkan kewajiban mereka atas kaum muslimin (Ini merupakan bagian perkataan Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwal).

Ibnu Sa’ad dan yang lainnya meriwayatkan, dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan “Ketika Umar terbunuh, Zubair bin Awwam mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pegawai khalifah.”

Zubair senantiasa memimpin langsung perniagaannya, sehingga ia sering pulang pergi ke Syam. Ibnu Abdil Barr menceritakan dalam Al-Isti’ab, “Zubair adalah orang yang sangat beruntung dalam perniagaannya. Suatu ketika ditanyakan kepadanya, “Dengan apa engkau mendapatkan apa yang telah engkau peroleh dalam perniagaanmu?” dia menjawab, “Itu karena aku tidak pernah berbelanja dengan curang, tidak menolak suatu keuntungan, dan Allah memberikan keberkahan bagi siapa yang dikehendakinya.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dair Urwah bin Zubair, “Zubair mempunyai beberapa bidang tanah di Mesir, beberapa bidang tanah di Iskandariyah, juga beberapa bidang tanah di Kufah dan Bashrah, dan dia juga mempunyai pemasukan dari propertinya yang ada di Madinah.”

Dan dalam riwayat tentang harta warisannya yang panjang, disebutkan bahwa ia mempunyai Tanah yang luas di Al-Ghabah ( sebuah tempat di barat laut Madinah Al-Munawwarah, dengan jarak sekitar 6km dari pusat kota), sebelas rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, dua rumah di Kufah, dan satu rumah di Mesir.

4. Kedermawanan dan Kebaikannya

Hakim bin Hizam Radhiyallahu Anhu berkta, “Sesungguhnya Zubair berpacu dengan angin.”

Ibnu Asakir serta Ibnul Jauzi meriwayatkan dari Juwariyah bin Asma’, ia berkata, “Zubair menjual sebuah rumahnya dengan harta enam ratus ribu dirham, maka dikatakan kepadanya, “Hai Abu Abdullah, engkau telah ditipu! Dia menjawab, “Sekali-kali tidak, demi Allah kalian akan mengetahui bahwa aku tidak ditipu, itu kuniatkan di jalan Allah.”

Ya’qub bin Sufyan serta Abu Nu’aim, Ibnu asakir, dan yang lainya meriwayatkan dari Sa’id bin Abdul Aziz, “Zubair memiliki seribu budak yang bertugas menyetorkan pajak tanahnya, dan tidak sepeserpun dari harta itu yang masuk kerumahnya, semuanya ia sedekahkan!”

Di dalam riwayat lain dari Sa’id bin Abdul Aziz, ia berkata, “Zubair memiliki seribu budak yang bertugas menyetorkan pajak tanahnya, dan ia membagi-bagikannya setiap malam, kemudian ia pulang ke rumahynya tanpa membawa apa-apa lagi.”

Di dalam kitab Ar-Riyadh An-Nadhirah diceritakan bahwa bahwa ia mengirimkan untuk ummul mukminin Aisyah dua kantung uang yang berjumlah seratus delapan puluh ribu dirham.

5. Dan di antara bentuk kedermawanannya adalah infaknya kepada putra-putra sahabat yang diwasiatkan kepadanya

Di dalam sebuah hadits yang panjang tentnag harta warisan Zubair dan hutang-hutangnya, Al-Bukhari dan yang lain meriwayatkan, “Seseorang akan mendatanginya dengan memabawa harta dan menitipkannya kepada Zubair, namun Zubair berkata, “Tidak, namun ini adalah hutang, sesungguhnya aku takut akan menghilangkannya.”

Adapun maksud dari perkataannya, “Tidak, namun ini adalah hutang” bahwa ia tidak ingin memegang sebuah titipan kecuali kalau orang tersebut rela menjadikan harta tersebut menjadi tanggungannya sepenuhnya/ Maksudnya, bahawa ia takut seandaonya harta tersebut hilang, sehingga ia akan di anggap tidak cermat dalam menjaganya. Maka ia memilih menjadikannya sebagai tanggungannya, sehingga lebih nyaman bagi pemilik harta, dan lebih menjaga kehormatannya.

Di sini kita melihat bagaimana sikap Zubair yang sangat berlebihan dalam berbuat baik kepada para shahabatnya. Ia bersedia menjaga harta – harta mereka sepeninggal mereka, dan kemudian menunaikan wasiat-wasiat merek a kepada anak-anak mereka. Dan tidak cukup demikian, ia sangat berhati-hati dalam menjaga harta mereka, baik itu titipan atau wasiat – dengan menjadikan harta-harta tersebut menjadi tanggungan-tanggungannya, walaupun sebenarnya ia tidak membutuhkannya. Namun ia mejadikan itu semua dalam tanggungannya sebagai bentuk dari keseriusannya dalam menajga harta mereka (ini adalah perkataan dari Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam karya terbesarnya, Fathul Bari).

Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi, dan Ath-Thabrani, serta Al-Baihaqi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, ia berkata “Kalau aku ingin meninggalkan suatu warisan, atau menitipkan suatu titipan kepada seseorang, niscaya akan aku titipkan kepada Zubair bin Awwam, sesungguhnya dia adalah salah seorang pembela agama!”

Dan Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh Al-Ausath, dan juga Al-Fasawi, Mush’ab Az-Zubairi, Al-Baihaqi, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya berkata, “ Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, Al-Miqdad bin Al-Aswad, dan Muthi’ bin Al-Aswad, berwasiat kepada Zubair Radhiyallahu Anhu. Maka ia berkata kepada Muthi’, “Aku tidak dapat menerima wasiatmu.” Maka Muthi’ berkata, “Aku mohon kepadamu dengan nama Allah dan atas nama kasih sayang, demi Allah aku hanya mengikuti pendapat Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, sungguh aku mendengar Umar berkta, “Kalau aku ingin meninggalkan suatu warisan, atau menitipkan suatu titipan kepada seseorang, niscaya akan aku titipkan kepada Zubair bin Awwam, sesungguhnya dia adalah seorang pembela agama!”

Dan dalam riwayat dari Mush’ab Az-Zubairi, “Maka Muthi’ berkata kepadanya, “Hai Abu Abdullah, terimalah wasiatku, sungguh aku mendengar Umar berkata, “Zubair adalah sebaik-baik tempat menitipkan wasiat, kalau aku ingin meninggalkan suatu barang,  maka pastilah aku wasiatkan kepada Zubair.” Zubair berkata, “Demi Allah, apakah engkau mendengar ini dari Umar?” Ia menjawab, “Demi Allah aku telah mendengar ini dari Umar”. Dan Zubair pun menerima wasiatnya.”

Ibnu Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dia berkata, “Tujuh orang dari shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah berwasiat kepada Zubair, diantaranya Utsman, Al-Miqdad, Abdurrahman bin Auf, dan Ibnu Mas’ud. Zubair menjaga harta wasiat mereka, dan memberikan nafkah kepada anak-anak mereka dari hartanya pribadi!”

Ibnu Sa’ad dan Al-Fasawi, juga Al-Baihaqi meriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Zubair, “Abdullah bin Mas’ud berwasiat, dan ia menulis, “Sesungguhnya aku menyerahkan wasiatku kepada Allah, kepada Zubair bin Awwam, dan keapada anaknya Abdullah bin Zubair, dan sesungguhnya mereka berdua berhak sepenuhnya atas apa yang diwasiatkan kepada mereka dari harta warisanku, dan tidak seorangpun dari putri-putriku yang dinikahkan, kecuali dengan izin mereka berdua, dan janganlah Zainab menghalangi hal tersebut (Zainab adalah istri dari Ibnu Mas’ud).”

Dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Qais bin Abu Hazim, “Zubair mendatangi Utsman setelah Abdullah bin Mas’ud wafat, dan berkata, “Berikan kepadaku pemberian dari Abdullah. Sungguh keluarga dari Abdullah lebih berhak atasnya dari baitul mal. Maka ia memberikannya lima belas ribu dirham (sebelumlah Abdullah bin Mas’ud telah meninggalkan pemberiannya).”

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.