Categories
Zubair bin Awwam

Biografi Sahabat Nabi, Zubair bin Awwam : Bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam (Seri 3)

B. Bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

4. Hijrah ke Habasyah dan kembali ke Mekah

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menjadikan rumah Al-Arqam bin Abil Arqam sebagai basis dakwahnya. Dan menjadikannya titik pertemuan para shahabatnya yang telah lebih dahulu masuk Islam. Lalu berdatanglah kepadanya para pencari kebenaran, baik yang berasal dari putra-putra Quraisy ataupun yang bukan untuk membenarkan risalahnya dan mengikuti petunjuknya. Kaum Quraisy merasakan ini sebagai ancaman. Bumi Mekah pun bergoyang. Para pemuka kaum mulai menimpakan berbagai macam siksaan kepada putra-putra mereka yang mengikut Muhammad Shallallahualaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pun merasakan beratnya penderitaan dan siksaan yang menimpa shahabat-shahabatnya. Namun mereka tetap sabar dalam keimanan mereka. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengarahkan mereka untuk hijrah di jalan Allah dan pindah dari Mekah ke Habasyah. Beliau bersabda, “Seandainya kalian hijrah ke negeri Habasyah, niscaya di sana ada seorang raja yang tidak seorangpun dizhalimi di sisinya. Itu adalah tempat yang aman. Sampai nanti Allah membukakan jalan keluar atas apa yang kalian hadapi saat ini.”

Zubair termasuk di dalam rombongan pertama ini yang meninggalkan keluarga, rumah dan negerinya demi hijrah di jalan Allah Ta’ala.

Pertama kali mereka menuju Jeddah yang merupakan daerah pantai dari Mekkah, dari sana mereka menyebrang ke Habasyah.

Ibnu Ishaq dan para penulis kitab sejarah yang lain telah menuturkan nama-nama mereka yang hijrah ke Habasyah, mereka mengatakan, “Dari Bani Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay: Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad”

Hijrah ini bukanlah sekedar pelarian dari penindasan dan siksaan yang menimpa mereka. Itu merupakan sebuah hijrah dari satu kaum yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, namun mendapat siksaan yang tidak mampu ditanggung oleh siapapun. Di tambah lagi dengan tidak adanya carauntuk membela diri karena mereka belum diizinkan untuk melawan. Tapi mereka diperintahkan untuk bersabar dan memaafkan. Jadi hijrah tersebut sekaligus sebagi media untuk menyebarkan agama dan meluaskan dakwah dengan aman. Ini terlihat jelas dalam dialog yang dilakukan oleh Ja’far bin Abi Thalib atas nama seluruh kaum Muhajirin. Najasyi pun memberikan tempat tinggal dan menjamin keamanan mereka di sana.

Ketika kaum Muhajirin telah tenang dalam perlindungan Najasyi, suatu hari Najasyi harus menghadapi peperangan melawan pemberontak. Kaum Muhajirin merasa sedih dan khawatir kalau-kalau Najasyi kalah dan raja yang baru akan menzhalimi mereka atau mengusir mereka keluar dari negeri itu. Mereka pun berkeinginan untuk mengetahui hasil dari pertempuran. Dan mereka mengutus seseorang untuk mendapatkan berita dari medan tempur. Untuk itu mereka mengutus seorang laki-laki yang brilian dalam menghadapi situasi seperti itu, dialah Zubair bin Awwam.

Ibnu Ishaq dan Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ummu Salamah Radhiyallah Anha, “Ketika kami tinggal di Habasyah, kami mendapatkan tetangga yang sangat baik pada diri Najasyi. Kami merasa aman menjalankan agama, berbadah kepada Allah tanpa disakiti atau mendengar sesuatu yang tidak kami sukai. Demi Allah, sungguh demikianlah keadaan kami. Lalu tiba-tiba ada pemberontakan yang mengancam singgasana Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat kami merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Karena takut kalau-kalau pemberontak tersebut menang, dan memerintah tanpa memberikan kami hak sebagaimana yang diberikan oleh Najasyi.” Ummu Salamah melanjutkan, “Najasyi pun bergerak menuju musuhnya, dan mereka terpisahkan oleh lebarnya sungai Nil.” Dia berkata, “Para shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapakah yang bersedia untuk pergi melihat pertempuran dan kemudian kembali membawa berita?” Zubair bin Awwam menjawab, “Saya”, dan para shahabat yang lain berkata, “Kamu akan pergi.” Saat itu ia termasuk yang termuda di antara kami. Kemudian mereka meniupkan sebuah kantong dari kulit untukknya dan meletakkannya di bagian dadabnya, dan dengan itu ia berenang hingga sampai ke bagian lain dari sungai di mana pertempuran terjadi. Lalu ia melanjutkan perjalanan hingga berada di tengah mereka. Kami berdoa untuk kemenangan Najasyi atas musuhnya, dan berkuasa penuh di negerinya. Demi Allah sungguh kami mengharapkan itu sambil terus menunggu apa yang terjadi. Tiba-tiba Zubair muncul sambil berlari, dengan melambaikan bajunya dan berkata, “Bergembiralah, Najasyi telah menang, dan Allah telah menghancurkan musuhnya, dan menetapkan kekuasaan Najasyi di negerinya.” Demi Allah, aku tidak pernah melihat kami merasakan kegembiraan yang seperti itu sebelumnya. Kemudian Najasyi kembali dan Allah telah menghancurkan musuhnya, serta menetapkan kekuasan Najasyi di negerinya. Dan Habasyah menyatu di bawah kekuasaannya. Kami mendapat kesempatan yang sangat baik disampingnya, hingga kemudian kami kembali kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di Mekah.”

Dan begitulah Zubair mengambil resiko dan berenang di tengah sungai nil yang bagaikan laut, tidak mempedulikannya bahaya dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul. Ia hanya yakin bahwa apa yang dilakukan adalah di jalan Allah. Berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi dan pastinya akan berpengaruh kepada nasib saudara-saudaranya dan keberlangsungan dakwah di negeri itu. Ia pun menceburkan dirinya di sungai dan berenang di permukaannya. Bukankah ia putra dari Al-‘Awwam (yang pandai berenang)?! Ia pun sampai di tempat perkemahan tentara dan menghadiri pertemuan mereka. Dan ketika situasi dianggap telah menggembirakan bagi kaum muslimin ia segera kembali. Bahkan kegembiraannya telah mendahului kedatangannya dengan melambaikan bajunya dari jauh mengabarkan kabar gembira tersebut. Sungguh Zubair adalah seseorang penolong dan pemikul banyak harapan.

Namun keberadaannya di Habasyah tidak berlangsung lama, tersiar kabar bahwa penduduk Mekah telah masuk Islam. Sehingga Banyak yang termotivasi untuk kembali ke Mekah, termasuk Zubair. Keinginan untuk kembali ke kampong halamannya semakin menjadi-jadi dengan semakin besarnya rasa rindunya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan hasrat untuk selalu bersamanya. Untuk kembali mendapatkan pencerahan dari cahaya petunjuk dan ajarannya, serta menjadi penolong yang setia baginya. Zubair pun bergegas kembali ke kampong halamannya. Ketika Mekah semakin dekat, mereka baru mengetahui bahwa berita tentang masuk Islamnya penduduk Mekah adalah bojong. Sebagian tidak jadi memasuki Mekah, dan sebagian yang lain tetap memasukinya, termasuk Zubair.

5. Mendampingi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan Hijrah ke Madinah

Zubair kembali ke Mekah dan segera mengambil tempat di barisan terdepan di antara para shahabat. Selalu mendampingi Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan hamper tak pernah berpisah darinya. Senantiasa menghadiri majelisnya, dan hadir dalam kehidupannya sehari-hari. Ia persembahkan seluruh kemampuannya untuk Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang paling dekat dan penolong yang sangat loyal.

Dari Habasyah ia membawa sebilah tongkat dengan panjang kurang lebih setengah tombak pada umumnya. Ia menghadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang kemudian selalu dibawa pada saat Shalat.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam melaksanakan dua Shalat hari raya sebelum khutbah tanpa adzan atau iqamah. Dengan membawa tombak ditangannya. Tombak tersebut merupakan milik Zubair bin Awam yang dibawanya dari Habasyah, dan dihadiahkan kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.”

Imam Ath-Thabrani mengatakan pada kejadian-kejadian tahun 244H dari kita Tarikh nya, “Dan pada tahun itu Khalifah Al-Mutawakkil di hadiahi sebuah tongkat yang dulunya kepunyaan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan bernama tombak. Disebutkan bahwa itu adalah milik Najasyi yang dihadiahkan kepada Zubair bin Awwam, Zubair menghadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Digunakan oleh para muadzin, dan dibawa oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pada dua shalat hari raya. Digunakan sebagai penopang tubuh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di saat shalat. Maka Mutawakkil memerintahkan agar itu dibawa di depannya oleh seorang petugas.”

Dan di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya dari Abdullah bin Zubair, “Aku berkata, wahai ayah, riwayatkanlah hadits dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepadaku agar aku bisa meriwayatkan darimu. Karena putra-putra shahabat selalu meriwayatkan hadits dari ayah-ayah mereka. “Zubair berkata, “Wahai anakku, tidak ada yang menemani Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, kecuali aku telah menemani beliau seperti itu dan bahkan lebih baik.”

Dan dalam riwayat lain dari Abdullah bin Zubair dari ayahnya, “Aku tidak pernah berpisah dengannya – Shallallahualaihi wa Sallam – sejak aku masuk Islam.”

Maksudnya adalah dalam kondisinya secara umum. Karena ia telah berpisah dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam saat hijrah ke Habasyah, juga saat ia mencari nafkah dan melakukan urusan perniagaannya. Namun selama ia berada di Mekah atau Madinah, ia tidak melepaskan peluang untuk bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan tetap berada di dekatnya.

Ketika Allah mengizinkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk hijrah ke Madinah, dan didahului oleh banyak shahabat, kemudian menyusul bersama dengan shahabatnya Ash-Shiddiq, dalam perjalanan hijra terdapat sebuah momen yang indah antara Zubair dengannya.

Di sebuah hadits panjang tentang hijrah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah Ummul Mukminin, Ibnu Syihab berkata, “Urwah bin Zubair mengabarkan kepadaku, bahwasanya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bertemu dengan Zubair di sebuah kafilah kaum muslimin yang baru kembali berdagang dari negeri Syam. Maka Zubair memakaikan pakaian putih kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan Abu Bakar.”

Setelah itu barulah Zubair keluar dari Mekah dan Menyusui Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam ke Madinah. Dan ia mengambil resiko dengan berhijrah sendirian tanpa teman.

Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa’ad serta yang lainnya menuturkan bahwasanya Zubair ketika Hijrah dari Mekah ke Madinah singgah di rumah Al-Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin Al-Julah di perkampungan Bani Jahjaba.

Di madinah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam membentuka sebuah masyarakat muslim dan mensinergikan seluruh unsur yang ada dalam satu kesatuan yang saling menguatkan. Kaum Muhajirin yang telah didik dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan untuk saling mengasihi, dan Anshar yang telah memberikan sumpah setia untuk menjadi pembela bagi dirinya dan dakwahnya. Beliau membentuk sebuah masyarakat muslim yang terdiri dari unsur-unsur yang memiliki kesatuan dalam akidah serta iman yang kokoh. Kemudian menghilangkan perbedaan yang ada dalam sarana hidup dan tempat tinggal dengan memperkuat hubungan persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Dengan begitu beliau telah mendirikan sebuah bangunan social yang kokoh dengan meleburnya seluruh unsur baik moril ataupun materil menjadi satu. Satu kesatuan dalam akidah, ibadah, hukum-hukum politik, sosial, ekonomi, akhlak, dan pendidikan yang bersumber dari wahyu ilahi dan hikmah kenabian.

Persaudaraan tersebut mencakup banyak di antara kaum Muhajiirin dan Anshar yang merupakan perinti bagi masyarakat Muslim. Terlihat dengan persaudaraan ini tingginya kecintaan kaum Anshar kepada saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin dan kemuliaan hati mereka. Mereka mempersembahkan seluruh yang mereka punya dengan kemurahan hati dan penghormatan. Jiwa mereka begitu mulia dengan bantuan moril maupun materil dengan keikhlasan yang mengharukan.

Dan dibentuklah persaudaraan antara Muhajirin dengan Anshar yang masing-masing terdiri dari seorang Muhajir dan seorang Anshar. Ibnu Ishaq dan lainnya menuturkan nama-nama mereka, dengan menyebutkan seorang Muhajir lalu saudaranya dari golongan Anshar, mereka menyebutkan, “Dan Zubair bin Awwam dengan Salamah bin Salaamah bin Waqsy dari Bani Abdul Asyhal adalah bersaudara.”

Dan usia Zubair saat hijrah ke Madinah adalah sekitar dua puluh delapan tahun. Karena pada masa awal kenabian ia berusia enam belas tahun, sementara Nabi Shallallahualaihi wa Sallam berada di Mekah selama tiga belas tahun, jadi usia Zubair pada tahun hijrah adalah dua puluh delapan tahun” (Ada sebuah riwaat di kitab Hilyah dan Tarikh Ibnu Asakir dan lainnya, bahwasanya ketika hijrah usia Zuabir adalah 18 tahun, dan itu adalah pendapat yang lemah.

6. Perhatian Nabi Shallallahualaihi wa Sallam kepada Zubair, Kecintaannya, dan Menjadikannya penulis Wahyu

Pada masyarakat yang baru terbentuk di Madinah Al-Munawwarah itu kemudian ayat-ayat Al-Qur’an turun secara kontinyu ke dalam hati Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dan syariat pun mulai mengatur kehidupan kaum muslimin. Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menerapkannya dalam perbuatan an terus menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an. Menuntun pengikutnya untuk mencontoh dan mematrikan ajarannya kedalam jiwa-jiwa yang bersih suci tersebut. Menarik mereka yang ikut mengokohkan pondasi dakwah dan menyokongnya dalam menyampaikan risalah sejak kemunculannya. Menularkan kemuliaan akhlak dan keutamaan perilakunya kepada mereka. Dan Zubair bin Awwam adalah satu di antara golongan yang terpilih itu dan terdekat dengan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, bahwasanya ketika Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallami membagi tanah di Madinah, beliau memberikan untuk Zubair satu bidang yang luas.

Di Madinah pun terdapat beberapa bidang tanah dan rumah-rumah yang dikenal dengan nama: Baqi’uz Zubair (Properti Zubair)

Dalam riwayat lain oleh Ibnu Sa’ad dari Urwah bin Zubair, dari Ibu nya Asma binti Abu Bakar, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan Zubair sebuah kebun kurma.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menghadiahkan kepada Zubair sebidang tanah dengan kebun kurma dari harta Bani Nadhir.” Dan di dalam riwayat lain Ibnu Sa’ad menanamkannya Al-Buwailah.

Lalu Ibnu sa’ad dan lainnya menyebutkan beberapa nama lain yang juga mendapat bagian dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dan berkata, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menulis, “Bsmillahirrahmanirrahim, ini adalah surat dari Muhammad Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada Zubair bin Awwam bahwasanya aku menghadiahkannya tanah Suwariq, bagian atas dan bawahnya, dan tidak ada yang akan menuntutnya” lalu Ali menulisnya.”

Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan Zubair tanah sejauh lari kudanya di sebuah tempat bernama Tsurair. Ia pun mengendarai kudanya sampi berhenti, kemudian melemparkan cambuknya. Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Berikan kepadanya sampai sejauh cambuk yang dilempar itu.”

Ketika Allah membukakan Khaibar bagi Rasul-Nya Shallallahualaihi wa Sallam, beliau memberikan Zubair sebidang tanah. Dalam kitab Al-Amwal” karangan Abu Ubaid diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan Zubair sebidang tanah di Khaibar, yang mempunyai pepohonan dan kurma.”

Harta berupa tanah-tanah inilah, dan hal-hal lainnya yang akan kami sebutkan kemudian yang menjadikan Zubair Radhiyallahu Anhu kaya dan mempunyai harta yang banyak.

Suatu ketika Zubair ditimpa sakit gatal di sekujur tubuhnya sehingga merasa sakit ketika mengenakan pakaian. Maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengizinkannya untuk memakai sutera.

Ahmad dan Asy-Syakhani (Al-Bukhari dan Muslim) juga Ibnu Hibban dan lainnya meriwayatkan dari Qatadah, bahwasanya Anas bin Malik mengabarkan, bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan rukhshah (keinginan) untuk Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam untuk memakai sutera dalam perjalanan, dikarenakan penyakit gatal yang mereka derita.

Dalam sebuah riwayat dari Anas, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam mengadukan kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam – penyakit gatal – maka beliau memberikan rukhshah bagi mereka untuk memakai sutera, dan aku melihat mereka memakainya dalam sebuah peperangan.”

Bahkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pernah menghadiahkan kepada Zubair pakaian dari sutera, sebagai imbalan, karena Zubair pernah memakaikannya pakaian putih pada saat hijrah. Dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam selalu membalas kebaikan dengan yang lebih baik.

Ahmad meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, “Aku memiliki dua sarung tangan dari sutera kepunyaan Zubair, hadiah dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, dan ia menggunakannya berperang.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, “Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memberikan kepada Zubair sebuah pakaian pelapis dari sutera dan dihiasi dengan benang sutera, dan ia berperang dengan menggunakannya.”

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam terus menambah kedekatan Zubair kepadanya, dan mengandalkannya dalam menyampaikan risalah, dengan menjadikannya salah satu orang kepercayaannya dalam menulis Al-Qur’an. Juga menulis surat-surat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan menjadi saksi atas surat-surat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk ditulis. Ini adalah sebua keududukan yang sangat tinggi dan hanya didapatkan oleh shahabat-shahabat besar Radhiyallahu Anhum.

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam Zadul Ma’ad, dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, juga Mughalthay dalam Al-Isyarah ila Siratil Mushthafa, nama-nama shahabat yang menuliskan wahyu untuk Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, mereka menyebutkan: Khalifah yang empat, Zubair, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan lainnya.

Ibnu Sa’ad dan lain meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengirimkan surat-suratnya kepada para raja dan mengajak mereka kepada Islam. Kemudian mereka menyebutkan teks surat-surat tersebut dan nama-nama shahabat yang menulisnya, diantaranya :

“Bismillahirrahmanirahim . . . Ini adalah surat dari Muhammad, seorang Nabi, kepada Bani Muawiyah bin Jarwal Ath-Thaiyyin “Bagi siapa yang masuk Islam, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya, memberikan seperlima rampasan perang untuk Allah dan Rasul-Nya, memisahkan diri dari orang-orang musyrik, dan menyatakan keislamannya, maka ia mendapati kemanan dari Allah dan Rasul-Nya. Dengan keislamannya mereka berhak atas tanah dan air mereka, dan negeri mereka akan dilindungi. Di tulis oleh Zubair bin Awwam.”

Dan dalam surat perjanjian Nabi Shallallahualaihi wa Sallam dengan umat nasrani, “Bismillahirrahmanirrahim dan dengannya memohon pertolongan . . . surat perjanjian, yang ditulis oleh Muhammad bin Abdullah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada seluruh umat nasrani, ini adalah surat yang ditulis oleh Muhammad bin Abdullah kepada seluruh manusia, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menjamin risalah Allah kepada manusia supaya tidak ada alas an bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana . . . Ditujukan kepada seluruh pemeluk agamanya dan semua yang mengikuti agama nasrani di timur dan di barat.”

Surat ini panjang dalam dua halaman, dan di akhir surat disebutkan, “Perjanjian yang ditulis oleh Muhammad bin Abdullah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepada seluruh umat nasrani ini, dan kewajiban mentaati seluruh kentutan yang dibuat bagi mereka di dalamnya, disaksikan oleh mereka yang tercantum namanya sebagai berikut: Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar bin Abi Quhafah, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Abu Darda’, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abbas bin Abdul Muthalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam.” Kemudian menyebutkan nama-nama shahabat lainnya. Di akhir perjanjian disebutkan : “Perjanjian ini ditulis oleh Ali bin Abi Thalib di Masjid Nabi Shallallahualaihi wa Sallampada tanggal tiga Muharram tahun ketika Hijrah.

7. Peristiwa-peristiwa lain bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Di Mekah ataupun Madinah, Zunair menyaksikan turnnya ayat-ayat suci Al-Qur’an. Menerimnya langsung dari lisan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, mendengar langsung darinya, dan membuka hatinya menerima ayat-ayat tersebut. Seluruh jiwa dan raganya seolah berlomba untuk menerapkan apa yang didapatnya. Setiap kali ada ayat yang membutuhkan penjelasan dari makna dan maksud yang terkandung di dalamnya, ia tidak ragu sedikit pun untuk bertanya langsung kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Dengan meniatkan itu sebagai ibadah. Ini menjadi pelajaran bagi mereka yang datang setelahnya dalam memahami maksud dari suat ayat, atau bertanya kepada orang yang lebih berilmu dalam hal yang sulit untuk dipahami.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi yang berkata, hasan shahih juga Al-Hakim dan dia menyatakan hadits shahih, dan dikuatkan oleh Adz-Dzhabi, dari Abdullah bin Zubair, dari Zubair bin Awwam,  dia berkata, “Ketika turun ayat ini kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu (QS. Az-Zumar [39]: 30-31). Zubair berkata, “Duhai Rasulullah apakah akan diulang kembali apa yang terjadi di antara kami di dunia tentang dosa-dosa? Beliau menjawab, “Ya, semuanya akan diulang kepada klian, sehingga setiap orang mendapatkan haknya.” Zubair berkata, “Demi Allah, Sungguh Urusan itu sangat berat.”

Al-Qurthubi menukil dalam tafsirnya dari Abdullah bin Umar, bahwa ia berkata, “Kami hidup dalam suatu masa dan merasa bahwa ayat ini turun untuk kami dan ahli kita, “Kemudian sesunguhnya kamu pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu (QS. Az-Zumar [39]: 31). Maka kami berkata, “Bagaimana mungkin kami berselisih sementara Nabi kami satu dan agama kami satu?! Hingga aku menyaksikan sebagian dari kami memukul wajah sebagian yang dengan pedang (ini terjadi pada perang jamal dan shiffin dan lainnya) maka aku sadar bahwa ayat itu diturunkan untuk kami.”

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi serta Ibnu Majah, dari Abdullah bin Zubair, bahwa ayahnya berkata, “Ketika turun ayat “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu) QS. At-Takatsur [102]:8). Ia berkata, “Wahai Rasulullah, nikmat yang mana yang akan ditanyakan? Bukankah hanya ada dua ‘hitam’ : kurma dan air? Rasulullah menjawab, “Bahkan kalaupun hanya itu, maka akan ditanyakan.”

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memimpin kaum muslimin dengan bijaksana dan penuh kasih sayang. Menarik hati mereka dengan keindahan budi pekertinya dan kepribadiannya yang mulia. Membimbing mereka menuju jalan kebenaran, memutuskan perkara di antara mereka dan menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Memunculkan potensi-potensi kebaikan pada diri mereka, mendidik dengan memberikan teladan dalam memaafkan dan saling memahami satu sama lain. Mengenyampingkan kesalahan-kesalahan kecil dan kekhilafan sehingga hati mereka bersih dari rasa dengki. Menyucikan lisan mereka dari perkataan keji dan sia-sia. Sungguh mereka adalah sebaik-baik pengikut bagi Rasul teragung teragung Shallallahualaihi wa Sallam.

Hanya saja lingkungan sosial mereka belum terlepas sepenuhnya dari beberapa noda yang terkadang mengotori kehidupan masyarakat di sana. Juga tidak lepas dari beberapa kekhilafan dan kesalahan. Bagaimanapun mereka adalah manusia, yang tidak mungkin lepas dari segala kesalahan. Dan tidak ada yang mengharap agar mereka semua menjadi Malaikat. Merupakan tugas dari wahyu dan Rasul untuk memperbaiki berbagai kesalahan tersebut. Serta menjadi pelajaran bagi keseluruhan kaum muslimin baik saat wahyu diturunkan maupun yang datang setelah mereka sampai hari kiamat kelak. Dan sudah menjadi tabiat para shahabat yang mulia, jika mereka diingatkan akan Allah, mereka segera sadar dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dan apabila dihadapkan kepada kebenaran, mereka akan berpegang teguh kepadanya.

Dalam perjalanan hidup Zubair, terdapat satu kejadian yang dapat menjadi contoh akan sebuah kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masyarakat muslim saat itu. Yaitu ketika ia bertikai dengan salah seorang Anshar yang ikut dalam perang Badar dalam hal mengairi kebun kurma mereka. Perkara inipun diangkat kepada Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan beliaupun memutuskannya di antara mereka. Beliau meminta Zubair untuk mundur dari sedikit haknya demi saudaranya yang dari golongan Anshar tersebut. Namun justru shahabat Anshar tersebut membuat sebuah kekeliruan yang fatal dan merasa kecewa dengan keputusan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam. Ia menganggap bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam telah berat sebelah dalam keputusannya. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sangat dan memerintahkan Zubair untuk kembali mengambil haknya secara penuh. Lalu beliau memaafkan shahabat Anshar tadi dan menyelamatkannya dari jurang yang digali setan untuknya. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tidak memaafkannya, beliaulah yang telah memaafkan Hathib bin Abi Baltha’ah yang mengirimkan surat secara rahasia kepada kaum Quraisy mengabarkan kepada meeka bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam tengah mempersiapkan pasukan untuk menaklukkan Mekah. Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam memaafkannya karena ia ikut dalam perang Badar. Dan shahabat Anshar yang bertikai dengan Zubair pun jugai kut dalam perang Badar. Jatuh ke dalam maksiat adalah bagian dari tabiat manusia, dan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam adalah seorang pendidik yang menenteramkan jiwa dan pembawa kepada kebaikan.

Ahmad dan enam perawi hadits (dikenan dengan As-Sttah (enam), yang terdiri dari enam imam perawi hadtis yang termasyhur, yaitu : Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, imam An-Nasa’I, dan Imam Ibnu Majah) juga Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, Zubair bin Awwam menceritakan bahwasanya dia bersengketa dengan seorang laki-laki dari Anshar yang ikut dalam perang Badar bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, di hadapan Rasulullah dalam masalah Syiraj Al-Harrah, yang mereka gunakan sama-sama untuk mengairi kebun kurma mereka. Orang anshar tersebut berkata, “Bukalah air itu agar bisa mengalir” Namun Zubair tidak mengindahkannya. Maka Rasulullah berkata, “Alirkanlah air itu wahai Zubair, kemudian biarkan ia mengalir kepada tetanggamu.” Shahabat Anshar tersebut marah dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah karena ia anak bibimu?” wajah Rasulullah pun memerah dan berkata, “Alirkanlah air itu di kebunmu hai Zubair, kemudian tahan hingga kembali memenuhi dinding.” Di sini Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam mengembalikan kepada Zubair haknya. Dan sebelum itu Rasulullah memberikan solusi yang memberikan kebaikan bagi Zubair dan shahabat Anshar itu. Mengembalikan hak Zubair dengan hukum yang jelas. Zubair berkata, “Aku merasa bahwa ayat ini tidaklah diturunkan melainkan karena perkara itu. “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (QS. An-Nisa’ [4]:65).

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.