Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya (Seri 6)

C. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

2. Perniagaannya, kekayaannya, dan kedermawanannya

Thalhah Al-Khair, Thalhah Al-Fayyadh, Thalhah Al-Jud (Tiga kata yang disebutkan merupakan ungkapan tentang kedermawanan seseorang), demikian lah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjuluki Thalhah. Beliau menyematkan untuknya tiga sifat mulia yang menjadi idaman orang lain walaupun salah satunya saja, namun Thalhah mendapatkan ketiganya sekaligus!

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya kehormatan dengan kemuliaan yang tinggi ini sebagai penghargaan atas pemberiannya yang banyak dan kedermawanannya yang melimpah.

Sebatang pohon yang baik diciptakan untuk senantiasa memberiakan manfaat kepada manusia dengan buah-buahnya yang ranum. Laut takkan pernah bosan untuk memberikan kebaikannya kepada seluruh dunia selama ia masih menyimpan air. Dan sebuah mata air tidak akan berhenti mengalirkan airnya yng jernih dan elzat untuk siapapun yang meminumnya, dimanapun ia, dan siapapun ia dan begitulah Thalhah.

Kebaikan adalah tabiat asli dalam dirinya, kemurahan hati yang dimilikinya seolah juga telah menjadi fitrah dirinya, dan pemberian yang begitu banyak sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam kepribadiannya. Ia tidak bisa menghindari sifat-sifat tersebut bahkan kalaupun ia menginginkannya. Namun itu bagaimana mungkin sementara kepribadiannya telah dicelup dengan pendidikan Islam dalam naungan kenabian?! Ia memperhatikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memberikan hartanya dalam kebaikan tanpa perhitungan, jika beliau mendapatkan harta yang banyak maka beliau akan segera menginfakkannya dan tak pernah membiarkan harta tersebut bermalam di rumahnya. Beliau akan menugaskan Bilal dan berkata, “Infakkanlah ini wahai Bilal, dan jangan takut akan sedikitnya harta di hadapan Sang Pemilik Arsy.” Bagaimana mungkin Thalhah tidak mencontoh ini dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk dapat meningkatkan dirinya pada derajat yang lebih tinggi dengan berinfak, dan memberikan hartanya, serta meletakkannya di bingkai yang tepat sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam. Dengan demikian ia bisa mengumpulkan harta dengan halal, mengembangkannya sesuai syariat, dan tangannya tidak pernah ragu untuk mengeluarkannya di jalan Allah.

Thalhah adalah contoh terbaik dari didikan dan gemblengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para shahabatnya, baik dari segi keteguhannya dalam berpegang kepada Islam, konsistensinya dalam menerapkannya dalam hidup, dan juga kepahlawanannya dalam membela agamanya.

Harta merupakan salah satu pondasi untuk tegaknya Negara Islam dengan sempurna. Maka Thalhah pun berusaha untuk menempatkannya pada posisinya dengan sebaik-baiknya. Ia tak pernah ragu untuk melakukan perjalanan kemanapun, masuk ke pasar-pasar, melakukan bisnis property, menginvestasikan hartanya di banyak tempat, mengupah seseorang untuk bekerja dengannya dalam perniagaannya, hingga pemasukannya perhari mencapai seribu wafi, harta pun mengalir kepadanya, hingga ia menjadi salah satu orang terkaya. Dengan kekayaan itu ia menginfakkan ini dan itu di jalan Allah tanpa perhitungan, sehingga Allah pun mengganjarnya dengan tanpa perhitungan pula, dan Allah melipatgandakan ganjarannya hingga hari kiamat kelak, dimana tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah Ta’ala.

Kisah-kisah kedermawanan dan kemurahan hatinya dalam memberi telah diketahui dengan baik oleh setiap musafir, dan kaum muslimin secara umum, dan khususnya kedermawanannya kepada keluarga dan kaum kerabatnya serta para Ummul mukminin.

Kemurahan hatinya semakin menjadi-jadi dan mendapat dukungan yang kuat karena di antara istrinya ada yang selalu mendorongnya untuk berinfak dan memberi, dan bahkan menunjukkan kepadanya tempat-tempat serta pihak-pihak yang layak untuk diberi bantuan.

Ia pernah bersedekah di sebuah majelis sebanyak seratus ribu dirham sementara bajunya sendiri membutuhkan perbaikan. Ia membagikan tujuh ratus ribu dirham kepada orang-orang dan hanya menyisakan seribu dirham untuk keluarganya. Ketika ia menerima uang yang banyak, ia justru tidak bisa tidur hingga ia membagi-bagikannya dan tidak menyisakan sepeserpun di rumahnya.

Itulah beberapa peristiwa, dan sikap Thalhah yang menakjubkan, dan patut mendapat pujian yang baik, serta layak untuk selalu dikisahkan sebagai teladan yang baik.

Sekarang mari kita lihat hartay ang dimiliki Thalhah, sumbernya, dan perkiraan jumlahnya.

Al-Waqidi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Muhammad bin Ibrahim, dari ayahnya berkata, “Thalhah mendapat pemasukan di Irak antara empat ratus ribu hingga lima ratus ribu dirham, di Sarat. Ia mendapat pemasukan sebesar kurang lebih sepuluh ribu dirham, dan di A’radh ia juga mendapat banyak pemasukan.”

Dan diriwayatkan dari Musa bin Thalhah, ia berkata, “Setiap tahun Thalhah mendapat pemasukan dari IRak sebesari seratus ribu dirham, diluar pemasukannya dari Sarat dan tempat lainnya. Untuk kebutuhan keluarganya di Madinah setiap tahunnya di ambil dari ladangnya di Qanah, ia mempekerjakan hingga dua puluh pekerja di ladangnya, dan dialah orang pertama yang menanam gandum di Qanah.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Isa bin Thalhah, ia berkata, “Abu Muhammad Thalhah mendapat pemasukan dari Irak setiap harinya sejumlah seribu wafi.”

Ia mempunyai banyak tanah yang digunakan untuk berladang, ia memperdagangkannya, menjual, dan membeli, dan ia mengembangkan hartanya dalam banyak bentuk perdagangan. Maka sumber pendapatannya pun menjadi bermacam-macam, dan harta pun datang melimpah ke tangannya, dan ia menginfakkannya tanpa perhitungan.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggambarkan kedermawanan dan kemurahan hati Sa’ad dalam beberapa kejadian yang diriwayatkan kepada kita oleh para biografer dan sejarawan.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir dari Musa bin Thalhah, dari ayahnya Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutku pada perang Uhud: Thalhah Al-Khair, dan pada perang Al-Usyairah: Thalhah Al-Fayyadh, dan pada perang Hunain: Thalhah Al-Jawwad.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim dalam Al-Ma’rifah, dan Ibnu Asakir dari Salamah bin Al-Akwa’ Radhiyallahu Anhu berkata, “Thalhah membeli sebuah sumur di dekat sebuah gunung, kemudian menyembelih seekor unta, dan mengundang orang banyak untuk memakannya, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Engkau adalah Thalhah Al-Fayyadh”.

Dan sebuah riwayat yang disebutkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrakdari Musa bin Thalhah, “Bahwasanya Thalhah menyembeli seekor unta dan menggali sumur pada perang Dzu Qarad, kemudian ia memberi makan dan minum untuk orang-orang, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Wahai Thalhah Al-Fayyadh.”. Maka ia pun dinamakan Thalhah Al-Fayyadh.”

Qabishah bin Jabir adalah seorang tokoh tabi’in dan salah seorang dari ahli fikih di kota Kufah. Ia telah bergaul dengan banyak tokoh shahabat terkemuka, di antaranya Umar, Thalhah, Al-Mughirah, Mua’awiyah, dan ia menyebut mereka dengan kelebihan dan keistimewaan mereka masing-masing.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Abu Nu’aim, Ath-Thabrani, dan yang lainnya dari Qabishah bin Jabir berkata, “Aku telah mendampingi Umar bin Khaththab, dan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak membaca kitabullah, atau lebih memahami agama Allah, dan yang lebih baik dalam mempelajari darinya. Dan aku juga telah mendampingi Thalhah bin Ubaidillah, dan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak memberikan harta yang banyak dan tanpa diminta darinya.”

Seorang shahabat As-Saib bin Yazid menggambarkan sebuah peristiwa tentang luasnya pemberian Thalhah dan tingginya kedermawanannya. Thalhah tidak hanya memberi pada saat bermukim, namun juga saat dalam sebuah perjalanan, dan tidak terbatas pada pemberian yang berbentuk dinar atau dirham, namun juga  kebutuhan hidup lainnya seperti makanan dan pakaian.

As-Saib berkata, “Aku mendampingi Thalhah bin Ubaidillah dalam perjalanan dan pada saat bermukim, dan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih dermawan dari Thalhah dalam memberikan dirham, pakaian, dan makanan.”

Sekarang kita akan melihat beberapa kejadian dan peristiwa lainnya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwasanya ia mendapatkan uang sejumlah tujuh ratus ribu dirham dari Hadhramaut, dan malam itu ia terlihat amat gelisah. Istrinya bertanya, “Wahai Abu Muhammad, kenapa aku melihatmu sangat gelisah mala mini, adakah sesuatu yang tidak engkau sukai dari kami agar kami bisa menyenangkanmu?” ia berkata, “Demi Allah tidak, engkau adalah istri yang baik, namun mala mini aku terpikir akan suatu hal, dan aku bertanya-tanya, “Apakah persangkaan seorang laki-laki kepada Tuhannya sementara ia tidur dengan sejumlah uang ini dirumahnya?” Istrinya berkata, “Apakah engkau telah melupakan sebagian kebiasaanmu?!” Ia berkata, “Apakah itu?” Istrinya menjawab, “Oagi besok, masukkanlah uang-uang itu kedalam pundi-pundi besar dan kecil lalu bagikanlah ke rumah-rumah kaum Muhajirin dan Anshar sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing.” Ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya engkau sepanjang pengetahuanku adalah seorang yang diberikan petunjuk oleh Allah, dan putri dari orang yang juga memperoleh petunjuk dari Allah.” Dia adalah Ummu Kultsum binti Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan pada pagi harinya, ia memasukkan uang tersebut ke dalam pundi-pundi besar dan kecil dan membagikannya di antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan ia juga tidak lupa mengirimkan satu pundi ke rumah Ali bin Abu Thalib. Istrinya berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, apakah kami memiliki bagian dari harta ini?” ia berkata, “Kemana saja engkau hari ini? Bagianmu adalah apa yang tersisa.” Ia berkata, “Saat itu tersisa satu kantong yang berisi sekitar seribu dirham!”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Ath-Thabrani, Al-Hakim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya dari Su’da binti Auf Al-Murriyyah istri Thalhah Rahdiyallahu Anha berkata, “Suatu hari Thalhah masuk rumah dengan lesu, aku bertanya, “Kenapa engkau begitu lesu? Adakah sesuatu dari kami yang menyusahkanmu agar kami bisa menghiburmu?” ia berkata, “Tidak ada yang meragukanku tentangmu, dan engkau adalah istri yang sangat baik bagi seorang muslim, namun ada harta yang banyak terkumpul di baitul mal dan itu menyusahkanku.” Ia berkata, maka aku berkata kepadanya. “Apa yang menyusahkanmu tentang itu, kirimlah uang itu kepada kaummu dan bagikan di antara mereka.” Maka ia pun mengirimkan uang itu kepada kaumnya, dan membagikanny di antara mereka. Su’da berkata, “Aku bertanya kepada penjaga baitul mal berapa jumlah uang tersebut? Ia menjawab, “Empat ratus ribu!”

Beginilah seharusnya wanita, mendorong suaminya untuk berbuat baik, menunjukkannya jalan kebaikan tersebut yang memberikan manfaat dan dukungan bagi kaum muslimin dan kaum kerabat. Senantiasa berdiri di sampingnya untuk menguatkannya, dan meyakinkannya akan keseriusannya dalam mberikan nasihat, dan keridhaannya atas perbuatan baiknya.

Istri yang pertama adalah Ummu Kultsum bin Abu Bakar, seorang putri yang meniru ayahnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thalhah, “Seorang yang mendapatkan petunjuk, dan putri dari orang yang mendapatkan petunjuk” dan yang lebih mengagumkan adalah bahwa ia menunggu hingga suaminya selesai membagikan hartanya dan kemudian bertanya, “Apakah kami memiliki bagian dari harta ini wahai Abu Muhammad?!” perbuatan baik yang dilakukannya serta kecintaannya untuk memberikan hartanya kepada kaum muslimin telah melupakan nya dari keluarganya sendiri, tidak ada lagi yang tersisa di tangannya kecuali seribu dirham saja. Ketika istrinya mengingatkannya, ia pun menyimpannya untuk mereka!

Istri yang kedua adalah seorang shahabiyah yang mulia, dan sikapnya menunjukkan asal keturunannya yang baik serta terhormat, dan kemuliaan akhlaknya.

Kedua wanita yang mulia ini sungguh layak menjadi istri dari Thalhah, dia adalah seorang suami yang baik, dan mereka adalah istri-istri yang baik pula, semoga Allah meridhai mereka semua.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir dan yang lainnya dari Al-Hasan Al-Bashri, ia mengatakan “Thalhah bin Ubaidillah menjual tanah miliknya kepada Utsman bin Affan dengan harga tujuh ratus ribu, dan Utsman membawa uang itu kepadanya. Ketika Utsman datang dengan uang tersebut, Thalhah berkata, “Sesungguhnya seseorang yang tidur dengan harta ini di rumahnya tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya, sungguh dia adalah orang yang sombong kepada Allah.” Maka malam itu orang-orang suruhannya berjalan di lorong-lorong kota Madinah membagikan uang tersebut, dan ketika waktu Subuh tiba, tidak ada lagi satu dirham pun yang tersisa padanya!”

Al-Fasawi meriwayatkan sebuah peristiwa lain dari Al-Hasan Al-Bashri, ia berkata, “Thalhah menjual tanah miliknya dengan harta seratus ribu dirham, dan ia menyedekahkan semuanya.”

Dan sampai-sampai shahabat yang mulia ini mendahulukan kaum muslim dalam hartanya, dan bahkan dari dirinya sendiri, sehingga seolah mereka lebih berhak dari dirinya atas hartanya tersebut. Ia menginfakkan apa yang dicintainya, sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Ia tak ragu mengeluarkan hartanya untuk mendapatkan pahala dan sebagai tabungannya di akhirat kelak, dengan berharap ia termasuk di antara mereka yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta’ala “Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya dia melipatgandakan (balasan) untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penantun.” (Qs.At-Tqghabun [64]:17). Harta-hartanya yang ia miliki telah menjadi kecil baginya, ia ikhlaskan kepada Allah dengan berinfak baik secara terang-terangan maupun secara bersembunyi, ia tidak takut untuk jatuh dalam riya’ maupun kebanggaan harta. Setan telah putus asa untuk mendekatinya, dia termasuk di antara mereka yang dipuji oleh Allah dalam firmannya, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka tidak bersedih hati. (Qs. Al-Baqarah [2]: 274).

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan Ibnu Al-Jauzi dari Su’da binti Auf Istri Thalhah berkata, “Suatu hari Thalhah bersedekah sejumlah seratus ribu, lalu ia terpaksa tidak pergi ke masjid karena aku masih menjahit bajunya yang robek.”

Kebaikan yang terbaik dan sedekah yang paling utama adalah yang diperuntukkan bagi keluarga dan kerabat. Banyak sekali hadits-hadits shahih yang menerangkan tentang itu, di antaranya yang diriwayatkan oleh An-Nassa’I dan Ibnu Hibban dari Thariq bin Abdullah Al-Muharibi Radhiyallahu Anhu, ia berkata. “Ketika kami tiba di Madinah Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau bersabda, “Tangan orang yang memberi lebih tinggi, dan mulailah dari orang yang engkau tanggung: Ibumu, ayahmu, saudarimu, saudaramu, kemudian yang terdekat dan terdekat.

Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani dan yang lainnya dalam kisah Abu Thalhah Al-Anshari ketika ia menginfakkan harta yang paling dicintainya yang berupa sebidang tanah yang bernama Bairuha, ia berkata, “Sesungguhnya itu telah aku sedekahkan untuk Allah, aku mengharap kebaikan dan simpanan yang baik di sisi Allah, maka pergunakanlah wahai Rasulullah sesuai dengan yang ditunjukkan Allah kepadamu.” Rasulullah berkata, “Bagus, itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakana, dan aku berpendapat hendaklah engkau membagikannya kepada sanak kerabatmu.” Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikan kebun tersebut kepada kerabatnya dan anak-anak pamannya.”

Thalhah sangat memahami makna ini dan menerapkannya dengan baik dalam bentuk yang mulia. Ia menginfakkan hartanya untuk anak-anak yatim dari Bani Taim, mengawinkan janda-janda mereka, membayar hutang-hutang mereka, membantu keluarga mereka, dan melimpahkan kebaikan kepada mereka yang mempunyai hubungan dengannya, atau dekat dari segi kekerabatan.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi ia berkata, “Thalhah tidak membiarkan seorangpun dari Bani Taim dalam keadaan miskin melainkan ia cukupkan kebutuhan keluarganya, ia nikahkan janda-janda mereka, ia bantu keluarga mereka, dan membayarkan hutang siapapun yang berhutang dari mereka. Setiap kali menerima pemasukan hartanya setiap tahun, ia mengirimkan untuk Aisyah sebanyak sepuluh ribu dirham. Dan ia telah membayarkan hutang milik Shuhaibah At-Taimi sebanyak tiga puluh ribu dirham.”

Dalam Tarikh Ibnu Asakir, “Ubaidillah bin Ma’mar dan Abdullah bin Amir bin Kuraiz membeli seorang budak dari tawanan perang dari Umar bin Khththab, namun uang mereka masih kurang untuk membayar harganya sebanyak delapan puluh ribu dirham. Maka Umar memerintahkan mereka untuk tetap berada di dekatnya. Thalhah keluar untuk menuju masjid Nabawi, dan ketika ia melewati mereka ia bertanya, “Ada apa Ibnu Ma’mar berada di sini?” ia pun menceritakan masalahnya. Maka Thalhah memerintahkan untuk memberikan empat puluh ribu dirham guna melunasi hutangnya. Namun Ubaidillah bin Ma’mar berkata kepada Abdullah bin Amir, “kalau aku melunasi hutangkum engkaua akan tetap berada disini, namun jika aku membayarkan hutangmu, pastilah Thalhah tidak akan membiarkanku di sni hingga ia membayarkan hutangku.” Maka ia memberikan empat puluh ribu tersebut kepada Abdullah bin Amir dan mendapatinya masih berada di sana, ia berkata, “ada apa Ibnu Ma’Mar, bukankah aku sudah memerintahkan untuk melunasi hutangnya?!” lalu ia diberitahu tentang apa yang telah dilakukannya, Maka ia berkata, “Ibnu Ma’mar tahu bahwa ia memiliki seorang sepupu yang tidak akan menyerahkannya.” Mereka pun melakukannya dan Ubaidillah bin Ma’mar pun bisa pergi bebas.”

Ali bin Zaid berkata, “Seorang badui datang kepada Thalhah, dan meminta kepadanya dengan memelas. Ia berkata, “Sesungguhnya belum pernah ada yang datang meminta kepadaku dengan memelas seperti ini, aku memiliki sebidang tanah pemberian Utsman bin Affan seharaga tiga ratus ribu, ambillah itu, atau kalau engkau mau aku akan menjualnya dari Utsman dan memberikan uangnya untukmu”, ia berkata, “Aku akan mengambil uangnya”, maka Thalhah pun memberikan uangnya.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.