Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya (Seri 5)

C. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

Kita telah melihat bagaimana Thalhah senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mengikuti jejak langkah beliau, tetap berada di jalan yang telah digariskan, dan berjihad di bawah panji beliau. Dia berada pada barisan terdepan di medan perang, ia bagaikan singa dan menjadi contoh perang keberanian. Ia berani menembus dasyatnya perang, tanpa takut sedikitpun akan kematian, dan tak peduli akan jumlah musuh yang banyak. Ia mempunyai pendirian yang teguh, fisik yang kuat, sebuah model yang harus dicontoh dalam medan pengorbanan dan pembelaan terhadap Islam, serta mengangkat panji Islam tetap berkibar tinggi.

Dan sekarang, bagaimanakah Thalhah kalau dilihat dari segi perilaku, akhlak, keperibadian, dan pergaulan?

Bagaimana hubungannya dengan Tuhannya, juga dengan keluarga, kerabat, dan saudara-saudaranya?

Apa saja hal-hal yang menjadi kerinduannya, cita-citanya, dan harapan yang ingin digapainya?

Bagaimana keadaan pribadinya, bagaimana ia melihat dunia, dengan harta-harta dan segala macam kesenangannya?

Orang yang memperhatikan perjalanan hidup Thalhah akan mendapati bahwasanya seluruh hal-hal yang menjadi jawaban atas pertanyaan di atas tidak kalah hebat, dan tidak kalah mengagumkan, dilihat dari sisi kedisiplinannya dalam berpegang kepada akhlak-akhlak dan ajaran Islam, dibandingkan dengan kehebatannya dalam medan jihad bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalam kehidupannya, ia tetap menerapkan keseimbangan, dan keadilan sebagaimana yang diajarkan oleh Islam dengan itu ia didik oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Shahabat mulia ini menyaksikan turunnya wahyu dan hidup pada saat turunnya wahyu tersebut sejak detik-detik awal hingga kemudian Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Ia memperhatikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hidup bersama beliau, dan ia mempelajari dengan teliti setiap detik dari kehidupan beliau dan setiap sikap beliau yang merupakan hakikat Islam secara umum maupun detik yang lebih kecil. Maka cahaya wahyu pun mengalir dalam dirinya, jiwa dan kepribadiannya diliputi oleh kemuliaan akhlak kenabian. Thalhah adalah satu di antara shahabat yang mendapatkan didikan langsung di bawah naungan kesucian, kebaikan, dan kebenaran.

Maka jiwanya selalu terikat kepada Tuhannya, senantias merindukan keagungan, dan tak sabar untuk mendapatkan kemenangan yang hakiki di akhirat. Hatinya lembut di tempat yang mengharuskan seperti itu, dan menjadi keran dan teguh ketika berhadapan dengan dahsyatnya pertempuran. Ia sangat rendah hati, mempunyai tutur kata yang terjaga, dan ia merupakan salah satu tokoh Quraisy yang terkenal dengan kelembutan bahasanya. Ia berpegang teguh kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ajaran-ajaran beliau yang ia dapatkan dari hadits-hadits yang didengarnya. Ia mencintai saudara-saudaranya, dan ikut bergembira atas kebaikan yang mereka dapatkan. Ia bersikap lunak kepada mereka, cepat memaafkan, dan berusaha menjauhi pertentangan dengan mereka. Allah telah menganugerahkannya harta yang banyak dan kekayaan yang melimpah, dan memuliakannya dengan jiwa yang pemurah dang sangat dermawan dalam kebaikan. Ia bagaikan angin ketika memberi, dan bagaikan laut dalam hal kedermawanan. Ia mendermakan banyak sekali contoh terbaik dari pemberian dan kedermawanannya. Harta yang terkumpul di tangannya bahkan menyebabkannya tidak bisa tidur, hingga terkadang ketika ia mendapatkan ratusan ribu dinar di tangannya, ia akan memerintahkan para pegawainya untuk membagi-bagikan harta tersebut pada malam itu juga. Maka ketika pagi tiba, tidak ada lagi yang tersisa dari harta tersebut!

Ia selalu terlihat bahagia, selalu tersenyum khususnya bersama anak-anak dan keluarganya. Jika diminta ia akan memberi, dan jika ada yang berbuat baik ia akan berterima kasih dan membalas kebaikan tersebut dan melebihkannya. Jika ia dizhalimi maka ia akan cepat memaafkan, semoga Allah meridhainya, dan sunggu ia telah melakukan semua itu.

1. Gambaran Umum tentang Kepribadian dan Akhlaknya

Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’I, Al-Hakim dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Yahya bin Thalhah bin Ubaidillah, dari ayahnya, bahwasanya Umar melihatnya sedang bersedih, maka ia berkata, “Kenapa engkau bersedih wahai Abu Muhammad? Mungkinkah engkau bersedih karena pemerintahan putra pamanmu yaitu Abu Bakar? Ia menjawab, “Tidak”, dan memuji Abu Bakar, tapi aku telah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada sebuah kalimat yang ia jika diucapkan oleh seorang hamba pada saat kematiannya, maka Allah akan melepaskannya dari bebannya dan mecerahkan warnanya.” Namun aku tidak sempat untuk menanyakannya kepada beliau hingga wafatnya.” Maka Umar berkata, Sungguh aku mengetahuinya!” Thalhah berkata, “Apakah kalimat itu?” Umar menjawab, “Apakah engkau tahu sebuah kalimat yang lebih agung dari apa yang diminta beliau untuk diucapkan oleh paman beliau, La ilaha Illallahi?” Thalhah berkata, “Demi Allah, itulah dia.”

Dan dalam sebuah riwayat lain dari Ahmad dan An-Nasa’I dari Jabi bin Abdullah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khaththab berkata kepada Thalhah bin Ubaidillah, “Kenapa aku melihatmu begitu kusut dan kumal sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, adakah yang tidak engkau sukai dari kepemimpinan putra pamanmu?” Ia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah, aku peringatkan kalian bahwa aku tidak akan pernah begitu. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat jika di ucapkan oleh seorang hamba pada saat kematiannya, niscaya ia akan mendapati ruhnya dalam keadaan tentram pada saat meninggalkan jasadnya, dan pada hari kiamat ia akan mempunyai cahaya.” Namun aku belum sempat menanyakan itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau juga tidak memberitahuku”, ia berkata, “Segala puji bagi Allah, Apakah itu?” Umar menjawab, “Itu adalah kalimat yang diucapkan beliau kepada paman nya, La ilaha Illallah.” Thalhah berkata, “Engkau benar.”

Demikianlah semangat Thalhah yang tinggi dan kegigihannya dalam mencari ilmu serta kesedihannya karena tidak sempat menanyakan tentang sebuah hadits kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan itulah keinginannya yang tertinggi, harapan dan cita-citanya akan rahmat dari Allah jika dunia telah ditinggalkan dan ia berada di gerbang akhirat. Maka hendaklah setiap mukmin senantiasa takut dan mempunyai harapan yang tinggi untuk mendapatkan kematian dengan melafkan kalimat tauhid dengan penuh keikhlasan baik saat di dunia maupun pada saat wafatnya nanti.

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad hasan dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwasanya ia pernah mengimami shalat pada suat kaum, setelah selesai ia berkata, “Sungguh aku lupa untuk mempersilahkan kalian menjadi imam sebelum aku maju tadi, apakah kalian rela dengan shalatku tadi (sebagai imam)? Mereka berkata, “ya, dan siapa yang tak menyukainya wahai pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?!” ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila ada orang yang mengimami suatu kaum, sementara mereka tidak menyukainya, maka shalatnya tidak akan melewati telinganya.”

Sikap Thalhah Radhiyallahu Anhu ini memberikan kepada kita sebuah nuansa lain dalam metode pendidikannya, dan juga memperlihatkannya keteguhannya dalam berpegang kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jika ia berusaha memastikan kerelaan para jamaah akan shalat yang baru saja diimaminya, maka bagaimana mungkin ia akan bersekongkol atas mereka atau mengambil alih kekhalifahan tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin atau tanpa meminta keridhaan dan keputusan mereka bersama?! Dengan metode inilah para shahabat tumbuh, dan dengan ketranspaaranan ini mereka memimpin berbagai wilayah dan mengurus hokum dan perkara rakyat lainnya.

Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dalam Ar-Riqqatu wa Al-Buka’u, “Bahwasanya Thalhah dan Zubair melewati tempat peleburan seorang pandai besi, maka mereka berhenti memandanginya sambil menangis. Lalu mereka melewati tukang buah dan tumbuh-tumbuhan yang wangi, dan mereka pun menangis dan memohon surga kepada Allah.”

Jadi mati hati seorang mukmin harus terbuka, hatinya terjaga, cepat tanggap dalam mengambil hikmah dan pelajaran, ketika ia melihat sesuatu yang mengingatkannya kepada neraka, hatinya menjadi terguncang dan berlindung kepada Allah dari siksa jahannam. Dan ketika ia melewati salah satu kenikmatan dunia, jiwanya menjadi rindu akan surga dan ia meminta keutamaan itu dari Allah Ta’ala.

Sekarang mari kita buka lembaran baru dari kitab perjalanan hidup Thalhah untuk membaca beberapa sikapnya terhadap saudara-saudara dan para shahabatnya. Pada perang Tabuk, ada tiga orang shahabat terkemuka yang tidak ikut berangkat. Dan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka mengakui bahwa mereka tidak mempunyai alas an untuk tidak ikut, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta’ala. Hingga kemudian taubat mereka diterima dan turun dalam bentuk wahyu yang akan tetap dibaca sepanjang zaman, sesuai dengan metode terbaik dalam pendidikan dan dalam meluruskan penyimpangan-penyimpangan dalam masyarakat yang baik yang tidak mungkin luput dari berbagai kekurangan yang meurpakan tabiat dari manusia. Salah satu dari tiga  shahabat tersebut adalah Ka’ab bin Malik Al-Anshari yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Thalhah bin Ubaidillah pada awal hijrah ke Madinah. Ketika taubat Ka’ab diterima, Thalhah segera menyampaikan kabar gembira tersebut, dan berbegas mempercepat langkahnya untuk menyalaminya dan memberikan ucapan selamat.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang dari Ka’ab bin malik berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut. Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kepada kami sehingga rasanya aku hidu di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya hingga lengkaplah lima pulu malam sejak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang orang untuk berbicara dengan kami. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke 50, dan aku sedang duduk dalam keadaan sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Quran, jiwaku telah menjadi sempit, dan bumi yang luas ini juga menjadi sempit bagiku, tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak dari atas sebuah bukit dengan suaranya yang paling keras, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah. Ia berkata, “Maka aku segera luruh bersujud, dan aku yakin bahwa telah ada pembebasan. Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni kami bertiga. Orang-orang pun berbondong-bondong menyampaikan kabar gembira itu kepada kami. Bahkan seseorang datang menemuiku dengan bergegas dan memukul kudanya dengan kedua kakinya agar ia berlari lebih cepat. Seseorang dari Bani Aslam menaiki bukit dan berteriak menyampaikan berita tersebut. Suaranya datang lebih cepat dari pada kuda. Ketika orang yang berteriak itu kemudian mendatangiku, aku membuka kedua pakaianku dan memakaikannya untuknya atas kabar gembria yang dibawanya. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu. Aku mencari pinjaman pakaian dan memakainya. Kemudian aku berangkat untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucap selamat atas diterimanya taubatku oleh Allah. Ketika aku masuk masjid, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk dengan dikelilingi oleh para shahabatnya. Melihat kedatanganku, Thalhah bin Ubaidillah bangkit dan berlari-lari kecil kepadaku dan kemudian ia menyalamiku dan memberikan ucapan selamat. Demi Allah, tidak seorang pun dari Muhajirin yang berdiri selain Thalhah, dan aku tidak akan melupakan itu untuk Thalhah.”

Beginilah seharusnya seorang muslim. Menginginkan kebaikan untuk kaum muslimin dan ikut bergembira atas kegembiraan mereka. Bersedih atas penderitaan mereka, dan jika mereka mendapatkan kebahagiaan ia akan memberi mereka kabar gembira tersebut dan berharap agar kebahagiaan mereka akan berlanjut. Ia menunjukkan kepada mereka bahwa ia turut berbahagia atas kebahagiaan mereka. Dan jika mereka ditimpa oleh kesedihan atau kesempitan hidup, ia akan ikut bersedih dan merasakan penderitaan mereka serta berusaha meringankan beban mereka. Inilah salah satu dari tanda-tanda keimanan, dan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Mari kita merenungkan sebuah kisah yang diabadikan oleh sejarah untuk kita dalam perjalanan hidup shahabat yang mulia ini.

Thalhah berkata, “Antara aku dan Abdurrahman bin Auf pernah mempunyai harta (sebidang tanah), aku berbagi dengannya. Lalu ia ingin membuat jalur air melalui tanahku, namun aku menolaknya dan ia mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengadukanku. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tahanlah, dia adalah seorang yang telah wajib baginya surga.” Lalu ia kembali mendatangiku untuk memberikan kabar gembira tersebut. Aku berkata, “Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukanku kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?!” ia berkata, “Tadinya mememang begitu”, Thalhah berkata, “Maka aku bersaksi kepada Allah, dan bersaksi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa harta itu telah menjadi milikmu.”

Sebuah lisan yang jujur, kepribadian yang bersih, jiwa yang lapang dan dermawan, serta senantiasa menginginkan yang terbaik.

Ia mengungkapkan dengan jujur apa yang ada di dalam dirinya, dan menggambarkan apa yang terjadi dengan jelas. Abdurrahman bin Auf ingin mengalirkan air ke tanahnya melalui tanah Thalhah, namun Thalhah tidak mengizinkannya maka ia mengangkat masalah tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun beliau enggan menerima pengaduan atas seseorang yang telah wajibnya baginya surga! Maka Ibnu Auf bergegas menemui saudaranya untuk memberikan kabar gembira tentang ucapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut, dan memberikannya ucapan selamat atas angerah yang telah diberikan Allah kepadanya. Thalhah melihat kembali sebidang tanah yang telah menyebabkan persengketaan itu, dan ia pun menganggapnya kecil walau seberapa mahal pun harganya. Ia tidak ingin tanah tersebut menjadi penyebab suatu perkara yang harus diangkat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia memandang jauh ke depan sebagaimana yang selalu ia lakukan, maka ia menghibahkan seluruh harta tersebut. Ia bersaksi kepada Allah dan Rasulnya bahwa harta itu adalah hibah untuk saudaranya Abdurrahman, sebagai wujud syukur kepada Allah atas kabar gembira Nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan surga, dan sekaligus sebagai hadiah untuk kebesaran jiwa Ibnu Auf yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya meskipun saat itu ia tengah bersengketa dengannya!

Semoga Allah merahmati jiwa-jiwa itu dan meninggikan kedudukannya di surga.

Sebuah kisah lain yang mirip dengan kisah sebelumnya, dan dari sisi lain bisa dilihat kebalikan dari yang tadi, namun ia menyempurnakan kisah sebelumnya. Kisah ini semakin menguatkan hakiekat bahwa seseorang yang dermawan akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah ia berikan dan bahkan lebih banyak. Ia memberikan hartanya untuk kebaikan dan mempererat hubungan, dan memaafkan orang yang berhutang kepadanya, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik. “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (Qs. Saba’ [34]: 39.

Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir meriwayatkan bahwasanya “Thalhah mempunyai hutang kepada Utsman sebanyak lima puluh ribu dirham. Suatu hari Utsman keluar menuju masjid, di sana Thalhah berkata kepadanya, “Uangmu sudah siap, ambillah”, Utsman berkata, “Uang itu sudah menjadi milikmu wahai Abu Muhammad, sebagai bantuan untukmu atas kedermawananmu.”

Dan sungguh benar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, “Harta yang baik lebih berkah di tangan orang yang baik pula.”

Di antara kelebihan akhlak Thalhah lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab Sirahnya, “Thalhah tidak pernah berdiskusi dengan seorang yang bakhil dalam hal pergaulan, atau seorang pengecut dalam masalah perang, atau seorang pemuda dalam masalah perempuan.

Sifat pemurah, baik hati, dan kedermawanan merupakan sifat-sifat yang mendarah daging dalam dirinya. Ia tidak pernah menunda-nunda dalam memberikan infak, atau membuang waktu dengan diskusi tentangnya, apalagi jika orang yang diajak berdiskusi adalah seorang yang bakhil dan sangat kuat mempertahankan hartanya.

Kemurahan hatinya sama dengan keberaniannya, dan ini adalah dua hal yang tidak terpisahkan darinya. Jika suara kebenaran telah menyerunya untuk berjihad di jalan Allah, dia akan segera memakai besinya, menaiki kudanya, dan menyambut seruan jihad tersebut sebagai mana yang dilakukan oleh para pahlawan yang siap mengorbankan diri di medan tempur. Ia tidak membiarkan suara-suara pengecut menghambat jalannya menyambut seruan jihad.

Bentuk lain dari kdermawanan dan kemurahan hatinya adalah pertolongannya kepada para pemuda untuk menikah, agar kehormatan tetap terjaga dalam masyarakat, dan menyatukan mereka yang telah siap untuk memasuki ikatan yang penuh berkah ini dan memasuki mahligai rumah tangga yang suci dan melahirkan keturunan yang suci. Karena itulah dikatakan bahwa Thalhah tidak berdiskusi dengan seorang pemuda dalam masalah perempuan, karena jika ia telah melihat keinginan nya untuk menikahi seorang wanita, ia akan segera memotong tali-tali yang membuat segala urusan tentang itu menjadi panjang, melangkahi hambatan-hambatan dari berbagai adat, dan mengeluarkan hartanya dengan kedermanannya. Ia menggabungkan keinginan sang pemuda dengan pemudi, dan berusaha menyatukan mereka sesuai dengan hukum Islam dan sekaligus untuk menyambut seruan fitrah yang suci.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai kesempurnaan dalam akhlak perilaku beliau. Di antara kesempurnaan akhlak tersebut adalah sikap rendah hati beliau yang amat tinggi. Para shahabat pun mencontoh sifat tersebut dari beliau, termasuk Thalhah. Ia adalah seorang yang sangat rendah hati, lembut, akrab dan mudah bergaul. Dan dengan segala kelebihan yang dimilikinya, juga berbagai keutamaan yang ada padanya, dan berbagai kontribusi yang telah dipersembahkannya, semua itu justru menambah sikap rendah hati dan tenang dalam dirinya. Ditambah dengan rasa hormat yang ditunjukkan orang-orang kepadanya dan tingginya kedudukannya di tengah-tengah mereka.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Adi dan Ibnu Asakir, dengan sanad lemah dari Musa bin Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Aku memasuki sebuah majelis dengan ayahku, maka mereka melapangkan tempat untuknya di segala sisi, maka ia duduk di tempat yang paling rendah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara sikap tawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla adalah keridhaan untuk berada di tempat yang paling rendah dalam kemuliaan sebuah majelis.”

Thalhah juga dikenal sebagai seorang yang santun dan toleran. Ini adalah sebuah sifat mulia dan terhormat yang menambah kewibawaan dan kemuliaan seseorang. Bahkan orang yang mengenal Thalhah menganggapnya sebagai salah seorang toko Quraisy yang sangat santun. Qais bin Abi Hazim berkata, “Aku mendengar Thalhah bin Ubaidillah berkata, dan dia dianggap sebagai tokoh Quraisy yang santun, “Sesungguhnya aib terkecil bagi seorang laki-laki adalah dengan berdiam duduk di rumahnya.”

Kita akan menutup pembicaraan tentang kepribadiannya dengan menyitir kesaksian dari salah seorang istrinya, wanita ini tidak melebih-lebihkan dalam menggambarkan akhlaknya, dan orang yang paling mengenal seorang laki-laki adalah keluarganya, khususnya istrinya. Wanita ini tidak melebih-lebihkan akhlak Thalhah, namun ia menceritakan apa yang dilihatnya pada diri THalhah, yang bahkan sudah didapatinya sebelum menikah dengannya. Ia juga telah mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Thalhah sebelum memilihnya sebagai suami di antara empat tokoh shahabat yang datang meminangnya saat itu. Ia memilih Thalhah karena ia melihat dalam dirinya sifat-sifat yang dikehendakinya ada dalam diri suaminya dalam rumah tangganya kelak.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari Musa bin Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata, “Umar bin Khathtab Radhiyallahu Anhu datang meminang Ummu Aban binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams, namun ia menolaknya. Dikatakan kepadanya, “Kenapa?” ia menjawab, “Jika ia masuk rumah, ia datang dengan memikirkan masalah, dan jika keluar, oa pun keluar dengan memikirkan masalah. Urusan akhiratnya telah melupakannya dari urusan dunianya, seolah ia telah melihat Tuhannya dengan kedua matanya!”. Lalu ia dilamar oleh Zubair bin Awwam, dan ia pun menolaknya. Dan dikatakan kepadanya, “Kenapa?”, ia menjawab, “Istrinya hanya akan memenuhi kebutuhannya saja, dan ia akan mengatakan begini dan begitu. Kemudian ia dilamar oleh Thalhah, dan ia berkata, “Inilah suamiku yang sejati”, mereka bertanya, “Kenapa demikian?” ia menjawab, “Aku telah mengenal akhlaknya, jika ia masuk rumah ia akan memasukinya dengan tertawa, dan jika keluar, ia akan keluaur dengan tersenyum. Jika aku meminta sesuatu ia akan memberikan, jika aku diam dia akan memulai pembicaraan, jika aku melakukan sesuatu ia akan berterimakasih, dan jika aku berbuat salah aia akan memaafkan.” Ketika mereka telah menikah, Ali berkata, “Wahai Abu Muhammad, jika engkau mengizinkan aku akan berbicara dengan Ummu Aban?” ia berkata, “Berbicaralah kepadanya.” Lalu ditariklah hijab pembatas di rumahnya. Ali berkata, “Assalamualaikum wahai yang menjaga kemuliaan dirinya!” ia menjawab, “Waalaikassalam.” Ali berkata, “engkau telah dilamar oleh Amirul Mukminin dan engkau menolaknya.” Ia menjawab, “Benar demikian”, Ali kembali berkata, “Lalu aku melamarmu, dan engkau telah mengetahu hubungan kekerabatanku dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan engkau pun menolakku.” Ia menjawab, “Benar demikian”. Lalu Ali berkata.” Dan sekarang demi Allah, engkau telah menikahi orang yang paling tampan di antara, dan paling dermawan, ia akan memberikan ini dan itu!!”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.