Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Kepergiannya dan Harta Peninggalannya (Seri 16)

H. Kepergiannya dan Harta Peninggalannya

1. Tanda-tanda akan akhir hidupnya yang bahagia

Allah menyempurnakan nikmatnya kepada Abdurrahman di dunia, dengan memberikan banyak tanda-tanda dan kabar gembira tentang akhir yang bahagia untuknya. Ditambah dengan apa yang telah disiapkan untuknya berupa nikmat yang kekal di surga sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Fasawi, Ishaq bin Rahawaih, Al-Hakim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh lebih dari satu orang, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf bahwasanya ia berkata, “Abdurrahman pingsan dalam sakitnya sehinga mereka menyangka bahwa ia telah meninggal pada saat itu. Hingga kemudian mereka meninggalkannya dan menutupinya dengan kain. Lalu istrinya Ummu Kultsum bin Uqbah pergi menuju masjid untuk bersandar dan shalat. Mereka berada dalam keadaan demikian sekitar satu jam dan ia tetap dalam keadaan pingsannya. Kemudian ia bangun dan kata pertama yang di ucapkannya adalah takbir, dan keluarganya pun juga turut bertakbir. Lalu ia berkata, “Kalian benar, dalam pingsanku sesungguhnya aku di bawa oleh dua orang laki-laki yang kasar dank eras. Mereka berkata, “Marilah kami akan menghadapkanmu kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Terpercaya untuk dihakimi.” Mereka pun membawaku hingga bertemu seorang laki-laki yang berkata, “Kemanakah kalian membawa orang ini?” merke menjawab, “Kami akan menghakiminya di hadapan yang maha Perkasa dan Maha Terpercaya.” Maka ia berkata, “Kembalikanlah dia, sesungguhnya ia adalah di antara mereka yang telah ditetapkan bagi mereka kebahagiaan dan ampunan sejak mereka masih berada di perut ibu mereka, dan sesungguhnya ia akan tetap berada di tengah keluarganya hingga waktu yang ditentukan Allah.” Setelah itu ia hidup selama sebulan dan kemudian meninggal.”

Kabar lain juga turut datang mengabarkan tentang kebahagiaan yang penuh suka cita tersebut, dan juga kehidupan yang penuh kenikmatan yang akan dinikmati oleh Ibnu Auf. Hal itu terlihat dala mimpi yang dialami oleh seorang shahabat mulia Auf bin Malik tentang tempat kembali dari Abdurrahman dan Abu Darda’.

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Al-Hidayah dari Auf bin Malik, “Bahwasanya ia bermimpi melihat sebuah kubah yang terbuat dari kulit dan dikelilingi oleh padang rumput yang hijau. Di sekelilingi kubah tersebut terdapat banyak domba yang berbaring dan berkembang biak serta mengeluarkan kurma. Ia berkata, aku berkata, “Milik siapakah kubah ini?” dikatakan kepadanya, “Milik Abdurrahman bin Auf.” Ia berkata, “Maka kami menunggunya hingga keluar dalam kubah”, ia berkata, Ibnu Auf berkata, “Wahai Auf, inilah yang diberikan Allah kepada kami berkat Al-Qur’an, jika engkau tetap berada di jalan ini niscaya engkau akan melihat sesuatu yang tak pernah dilihat oleh matamu dan mendengar sesuatu yang belum pernah didengar oleh telingamu. Allah telah menyiapkannya bagi Abu Darda’ karena ia telah menolak kekayaan dunia dengan lapang dada dan kerelaan.”

2. Kelahirannya, Wafatnya, dan Usianya

Ya’qub bin Utbah bin Al-Mughirah dan juga Al-Mada’ini, dan lebih dari satu orang lainnya meriwayatkan bahwa Abdurrahman dilahirkan sepuluh tahun setelah tahun gajah. Dengan demikian ia dilahirkan tiga puluh tahun sebelum kenabian, dan empat puluh tiga tahun sebelum hijrah.

Dan Ya’qub bin Utbah, Khalifah bin Khayyath, Amru bin Ali, dan yang lainnya menuliskan tanggal wafatnya pada tahun 32 H. Dan ditambahkan oleh Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad dan Ya’qub bin Utbah, mereka berkata, “Ia meninggal saat berusia tujuh puluh lima tahun.” Dan ini jelas dilihat dari tahun kelahiran dan tahun wafatnya.

3. Wasiatnya, Shalat atas jenazahnya, dan pemakamannya

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Austah, dan Al-Fasawi serta Ibnu Asakir, dari Urwah bin Zubari, bahwasanya Ibnu Mas’ud, Al-Miqdad, Utsman, Abdurrahman bin Auf, serta Muthi’ bin Aswad, telah berwasiat kepada Zubair bin Awwam.

Dan Zubair bin Awwam adalah orang yang melaksanakan wasiatnya yang begitu banyak dalam memberikan infak dan sedekah, juga membagikan warisannya, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wasiat yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal.

Dan ia dishalatkan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan, sesuai dengan yang diwasiatkannya.

Di antara shahabat yang membawa tandu jenazahnya adalah Sa’ad bin Abu Waqqash. Di dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku melihat Sa’ad bin Malik berdiri di sisi ranjang Abdurrahman bin Auf dan ia berkata, “Duhai gunung!” Lalu ia meletakkan ranjang itu di pundaknya.” Ia dimakamkan di Baqi’ Semoga Allah meridhainya.

4. Harta Peninggalannya

Allah telah membukakan pintu rezeki yang sangat luas bagi Abdurrahman, dan memberkahi pekerjaan tangan dan perniagaannya. Harta pun mengalir di kedua tangannya, dan gudangnya dipenuhi oleh emas dan perak. Ia menyikapinya sebagai seorang mukmin yang memahami kedudukan harta bagi dirinya, dan kegunaannya bagi umat. Ia juga memahami dengan baik kewajibannya dalam kehidupan, dan tujuannya dalam kesempitan dan kesenangan. Maka ia membentangkan tangannya untuk berbagai pemberian, infak, sedekah. Dan setiap kali ia berinfak, hartanya pun terus bertambah banyak. Bagi Ibnu Auf kondisi ini merupakan bukti dan pembenaran dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang shahih, yang diriwayatkan olehnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Aku bersumpah akan tiga hal: Tidak akan berkurang harta karena sedekah, maka bersedekahlah. Dan tidaklah seseorang memaafkan sebuah kezhaliman yang terjadi pada dirinya, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, maka berilah maaf niscaya Allah akan menambah kemuliaanmu. Dan tidaklah seorang laki-laki membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta kepada manusia, melainkan akan di bukakan oleh Allah pintu kemiskinan baginya.”

Dan ketika wafat, ia meninggalkan harta yang sangat banyak dan menjadi pembicaraan para periwayat hadits dan kabar tentang it uterus dinukil di dalam kitab-kitab yang percaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Ibnu Asakir, dan Ibnu Al-Jauzi, dari Muhammad bin Sirin, bahwasanya ketika Abdurrahman bin Auf wafat, diantara yang di tinggalkannya adalah sebongkah emas yang dipotong dengan kapak sehingga tangan orang-orang yang mememotongnya menjadi kasar. Dan ia juga meninggalkan empat istri yang masing-masing mendapatkan bagian sebesar delan puluh ribu (dinar).

Dan diriwayatkan oleh Ibnu sa’ad, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir, dari Utsman bin Asy-Syarid berkata, “Abdurrahman meninggalkan sebanyak seribu ekor unta, dan tiga ribu ekor kambing di Baqi, serta seratus kuda yang digembalakan di Baqi.”

Dan Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shaleh bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Tumadhir binti Al-Ashbagh mendapat bagian seperempat dari seperdelapan, maka dikeluarkan bagiannya sebesar seratus ribu, dan ia adalah satu diantara empat istrinya.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas bin Malik berkata, “Aku telah melihat setiap orang dari istrinya mendapat bagian setelah kematiannya sebesar sertatus ribu dinar.”

Abdurrahman wafat dengan meninggalkan empat istri, sehingga bagian mereka secara keseluruhan berjumlah empat ratus ribu dinar. Satu dinar sama dengan sepuluh dirham, sehingga berarti bagian mereka adalah sebesar empat juta dirham, dan itu merupakan seperdelapan dari keseluruhan. Maka jumlah harta peninggalannya secara keseluruhan adalah 32 juta dirham. Ini di luar dari peninggalannya yang berupa tanah, property, domba, unta, dan kuda.

I. Data-Data Pribadi dan Keturunannya yang Penuh Berkah

Sungguh banyak nikmat dan keutamaan yang Allah karuniakan kepada Abdurrahman bin Auf dan berlimpah di seluruh sisi kehidupannya, baik dirinya secara khusus maupun keturunannya secara umum, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah memberkahi umurnya dengan memberikan hidayah kepadanya semenjak muncul fajar risalah Islam, sehingga dia pun memeluk agama Islam pada usia yang masih belia. Dia sering menemani Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ikut berperang bersama beliau, dan berjihad di bawah panji beliau. Setiap waktu dari umurnya benar-benar diberkahi, dan perjalanan hidupnya benar-benar diliputi kebahagiaan dan kegembiraan.

Semua usaha dan bisnisnya juga diberkahi, sehingga rezeki pun melimpah di tangannya, sampai diibaraatkan seandainya ia mengangkat sebuah batu maka di bawahnya ia bisa mendapatkan sebongkah emas atau perak.

Hartanya diberkahi karena ia gemar mengeluarkan infaq dan sedekah, sehingga hartanya melimpah di dunia, dan tentunya di sisi Allah lebih banyak dan lebih mulia lagi. Ia meninggalkan warisan berupa emas yang harus dipotong-potong menggunakan kapak sebelum dibagikan. Ia juga meninggalkan banyak kuda dan hewan ternak yang memenuhi padang rumput dinegerinya.

Para istri, anak, cucu, dan keturunannya juga diberkahi, di mana mereka menjabat kedudukan yang tinggu dan mulia. Di antara mereka ada yang menjadi ulama, ahli fikih, ahli hadits, hakim, gubernur, menteri, dan lain sebagainya.

Ini merupakan kebahagiaan yang Allah karuniakan kepadanya selama hidup di dunia disamping yang telah Allah siapkan untuknya di akhirat kelak. Namanya akan selalu disebut sepanjang masa dan di berbagai tempat. Sungguh Allah telah memanjangkan umurnya dan melimpahkan pahala kepadanya, di mana ia meninggalkan anak-anak yang shalih dan berprofesi sebagai ualam, serta sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir kepadanya sampai hari kiamat.

1. Ayahnya Auf bin Abdu Auf

Auf bin Abdu Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah, saya tidak menemukan sumber yang menyebutkan tentang dirinya, kemungkinan ia telah meninggal sebelum Islam.

2. Ibunya Asy-Syifa

Dia adalah Asy-Syifa binti Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah putri dari paman suaminya.

Seorang shahabiyah, masuk Islam dan turut hijra, Radhiyallahu Anha.

Ibnu Sa’ad berkata, “Sunnah memerdekakan budak untuk orang yang meninggal muncul karenanya. Ia meninggal pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bisa memerdekakan budak untuk ibuku?” beliau berkata, “Ya.” Maka dia pun memerdekakan budak untuk ibunya.”

3. Saudara-saudaranya

  • Al-Aswad bin Auf: Ia masuk Islam dan berhijrah sebelum penaklukan kota Mekah.
  • Hamman bin Auf, dan Abdullah bin Auf: Kedunya masuk Islam pada saat penaklukan Mekah.
  • Atikah binti Auf: Masuk Islam dan membai’at Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berhijrah. Ia adalah Ibu dari Al-Miswar bin Makhramah.
  • Asy-Syifa binti Auf: Masuk Islam dan hijrah bersama saudarinya Atikah.
  • Dan Demikianlah, Ibu Abdurrahman, dua saudarinya, serta tiga saudaranya, semuanya adalah shahabat.

4. Istri-istrinya

Abdurrahman menikahi enam belas wanita sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan terdahulu yang menulis biografinya, seperti Ibnu Sa’ad, dan Zubair bin Bakkar. Diantara mereka ada yang meninggal pada masa hidupnya atau bercerai. Dan saat wafatnya ia meninggal empat istri.

Diantara istri-istrinya yang paling dikenal antara lain:

  • Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’aith: Seorang shahabiyah, masuk Islam di Mekah, berbai’at, dan berhijrah. Dan berkenaan dengan dirinya, dan wanita-wanita lain seperti dirinya turun firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka).”138
  • Sahlah binti Suhail bin Amru: Ia telah lama masuk Islam di Mekah, berbai’at, dan hijrah ke Habasyah dua kali dengan suaminya Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah. Setelahnya ia dinikahi oleh Abdullah bin Al-Aswad, kemudian dinikahi oleh Syammakh bin Sa’id, dan setelahnya dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf. Ia melahirkan anak untuk seluruh suaminya, dan untuk Abdurrahman bin Auf ia melahirkan putranya, Salim.
  • Ummu Kultsum bin Utbah bin Rabi’ahIa masuk Islam dan berbai’at. Ia melahirkan Salim Al-Akbar untuk Abdurrahman yang meninggal sebelum Islam.
  • Habibah binti Jahsy Ummu Habib (atau Ummu Habibah): Saudari dari Zainab ummul mukminin, dan juga saudari dari Hamnah. Ia adalah seorang shahabiyah Radhiyallahu Anha. Diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya ia berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah binti jahsy yang pernah menjadi istri Abdurrahman bin Auf, mengadukan darah penyakitnya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka beliau berkata, “Tunggulah sampai masa hadihmu yang biasanya berlalu, dan kemudian mandilah.” Dan ia pun mandi setiap akan shalat.139. Dan dalam riwayat lain dari Aisyah, “Bahwasanya Ummu Habibah binti Jahsy menderita darah istihadhah selama tujuh tahun. Ia pernah menjadi istri Abdurrahman bin Auf. Maka ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang penyakitnya tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Itu adalah penyakit bukan darah haidh. Maka mandilah dan kemudian shalat.” Ia berkata, “Dan ia mandi setiap kalia akan shalat.” Ia dan saudarinya Hamnah binti Jahsy sama-sama menderita darah istihadhah ini berdasarkan riwayat yang shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr.
  • Tumadhir bint Al-Ashbagh Al-Kalbiyah
  • Sahlah binti Ashim bin Adi Al-Anshariyah
  • Badiyah atau Badinah binti Ghaylan bin Salamah Ats-Tsaqafiyah
  • Bahriyah binti Hani’ bin Qabishah, dari Bani Syaiban
  • Ummu Hakim binti Qarizh, dari Bani Laits, sekutu bani Zuhrah.
  • Asma binti Salamah bin Makhrabah Ad-Darimiyah
  • Majd binti Yazid bin Salamah Al-Himyariyah
  • Bintu Syaibah bin Rabi’ah bin Abdu Syams
  • Bintu Abu Al-Haysar Anas bin Rafi’ Al-Anshariyah.
  • Ghazal binti Kisra, dari tawanan Mada’in
  • Zainab binti Ash-Shabbah, dan ia dari tawanan Bahra’
  • Ummu Huraits, dan ia dari tawanan Bahra’.

5. Anak-anaknya

Abdurrahman dikaruniai dengan anak yang banyak. Para sejarawan menyebutkan bahwa ia memiliki tiga puluh anak yang terdiri dari 22 orang putra dan 8 orang putri.

Putra nya: 

  • Ibrahim: Seorang Imam, ulama, ahli hadits, dan ahli fikih.
  • Humaid: Seorang imam, ahli hadits, ahli fikih, terhormat, dan mulia.
  • Abu Salamah: Salah seorang ulama Madinah dam lautan ilmu yang dimilikinya. Ia seorang hafizh besar, ahli fikih dan mujtahid.
  • Umar: Seorang ahli ilmu, meriwayatkan hadits dari ayahnya.
  • Mush’ab: Ia memiliki riwayat dari ayahnya.
  • Muhammad: Ia meriwayatkan dari ayahnya dan juga dari Abu Sa’id Al-Khudri.
  • Salim Al-Akbar: Ia meninggal sebelum Islam.
  • Ismail
  • Urwah
  • Salim Al-Ashghar
  • Abdullah Al-Akbar, mereka bertiga meninggal pada saat penaklukan Afrika.
  • Suhail Abu Al-Abyadh.
  • Zaid.
  • Abdurrahman
  • Utsman
  • Abu Utsman Abdullah
  • Al-Qasim
  • Ma’n
  • Abu Bakar
  • Bilal
  • Yahya

Putri-putrinya: 

  • Ummu Al-Qasim: Lahir pada masa jahiliyah
  • Ummu Yahya.
  • Juwairiyah
  • Hamidah.
  • Aminah
  • Maryam
  • Amatur – Rahman Al-Kubra
  • Amatur – Rahman Ash-Shugra

Dan diantara keturunannya:

  • Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf: Seorang imam besar, ahli hadits yang mulia, ahli fikih dan salah soerang ulama besar, ia merupakan hakim di Madinah.
  • Umar bin Abu Salamah bin Abdurrahman: Seorang ahli hadits dan ahli fikih.
  • Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman: Ahli Hadits.
  • Abdul Majid bin Suhail bin Abdurrahman: Ahli Hadits
  • Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman: Imam besar ahli hadits, salah seorang ulama Madinah yang paling banyak meriwayatkan hadits pada masanya.
  • Muhammad bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman: Hakim di kota Madinah pada masa Ja’far Al-Manshur
  • Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman salah seorang ahli hadits terbesar.
  • Ubaidillah bin Sa’ad bin Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman: Ahli hadits.
  • Ahmad bin Abu Bakar Al-Qasim bin Al-Harits bin Zurarah bin Mush’ab bin Abdurrahman: Shahabat dari Imam Malik, dan menjadi Imam Madinah setelahnya.
  • Ahmad bin Sa’ad bin Ibrahim bon sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman: Ahli hadits, salah seorang ahli ilmu, memiliki keutamaan, keshalihan zuhud.
  • Abdul Aziz bin Imran bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman: Salah seorang toko kota Madinah.
  • Harun bin Abdullah bin Muhammad bin Katsir bin Ma’n bin Abdurrahman: Hakim di kota Ar-Riqqah, Baghdad, dan Mesir pada masa Ma’mun.
  • Abdurrahman bin Harun bin Abdullah bin Muhammad bin Katsir bin Ma’n bin Abdurrahman: Hakim di kota Mekah pada masa Al-Mu’tadhid Billah.

Dan banyak lagi selain mereka yang disebutkan oleh para ulama dan sejarawan. Kemasyhuran mereka terus berlanjut hingga setelah tahun 300H. di antara mereka terdapat banyak pemuka masyarakat, tokoh mereka, ulama, dan gubernur. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari kebaikan yang diberikan Allah kepada Abdurrahman. Allah Ta’ala mengekalkan jejaknya di dunia, dan menjadikannya buat tutur yang baik bagi mereka yang datang kemudian, semoga Allah meridhainya.

 

S e l e s a i  . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

4 replies on “Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Kepergiannya dan Harta Peninggalannya (Seri 16)”

Subhanallah… semoga bagi para ulama dan admin website ini diberi pahala jariyah atas ilmunya, pahala yang meringankan di yaum,ul hisab.

subhanalloh … indah … syukran
kalau tidak kberatan … minta di sertakan maraji nya donk .. kitab apa aja ??? syukran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.