Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Bersama Khulafaur Rasyidin (Seri 15)

G. Bersama Khulafaur Rasyidin, Pencalonannya untuk Posisi Khalifah, dan Perannya Dalam Pemilihan Utsman

2. Bersama Al-Faruq Umar

Lalu tibalah masa pemerintahan Umar sang jenius Islam dan kebanggan kemanusiaan. Ia mengikuti jalan yang telah diikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar. Ia memimpin kaum muslimin dari satu kemenangan kepada kemenangan lainnya, dari kemuliaan kepada kemuliaan lainnya, dari keteguhan posisi kepada keteguhan lainnya, dari berbagai kehormatan kepada kehormatan lainnya, dan dari kebahagiaan, kesejahteraan, kesenangan hidup, keadilan, dan kasih sayang kepada situasi yang sama yang membawah kepada ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan, dan kebanggan. Umat Islam pun mendapatkan kebahagiaannya, dan bahkan kemanusiaan secara keseluruhan.

Umar didampingi oleh para menteri-menteri yang tulus, penasehat yang senantiasa menunjukkan kepada kebaikan, para panglima pemenang, mujahid yang ikhlas, gubernur yang adil, guru-guru yang bijak, para kritikus yang adil, yang semuanya mempunyai kepedulian untuk melindungi Negara yang berasaskan kebenaran, dan menjaga keberlangsungan arahnya yang tepat, dan mereka pun bersama-sama menjaga keagungan dan hasil-hasil yang diperolehnya.

Namun terdapat pengaburan kebenaran, juga kezhaliman sejarah, dan menganggap remeh banyak potensi yang dimiliki umat ini, ketika seluruh keberhasilan pada masa pemerintahan Umar itu hanya dianggap sebagai prestasi Umar sendiri secara pribadi, sehingga menutup ribuan nama yang bersinar dengan kemampuan yang mengagumkan. Sehebat apapun kemampuan berfikir yang dimiliki seseorang, dan walaupun ditambah dengan kemampuan kepemimpinan dan ciri-ciri kejeniusan lainnya, takkan mampu mendirikan pondasi sebuat umat, dan memberikan kebanggan kepada mereka seorang diri. Ia pasti membutuhkan otak-otak lain yang akan membantunya serta tangan-tangan yang turut bekerja bersamanyam serta memimpin perjalanan Negara dan melanjutkan pembangunannya.

Abdurrahman bin Auf adalah di antara mereka yang terdepan dalam medan kepemimpinan, kebijakan, dan pembangunan. Hingga hampir tak pernah ia absen dalam mendampingi Umar dalam segala peristiwa. Ia mendampinginya pada saat berada di tempat, menyertainya dalam perjalanan, menasihatinya dan mengarahkannya, mengemukakan pendapat-pendapatnya yang jenuh dengan nasihat yang dilandasi oleh keikhlasan, bersama-sama dengannya dalam membuat keputusan-keputusan dan mengurus Negara dengan keberanian dan kekuatan, dengan pikiran yang tajam, ide yang masak, segar, dan dikuatkan oleh bukti yang jelas. Ia bahkan juga membantunya langsung dalam menangani sejumlah urusan, dan sehingga kontribusinya tidak hanya terbatas dalam ucapan dan ide saja. Al-Faruq sendiri menyadari kebesaran Ibnu Auf dan juga kedudukannya, potensinya, dan latar belakang yang dimilikinya. Maka ia sengaja mendekatkannya, dan mengembankan kepadanya banyak tugas penting. Ia juga mendengarkan ide-ide dan pendapatnya dalam banyak kesempatan.

Maka pada tahun di mana Umar menerima tanggung jawab sebagai khalifah, ia mengutus Abdurrahman untuk memimpin haji. Ia pun membimbing orang-orang dalam menjalankan manasik haji mereka. Dan ia juga menunjuknya pada tahun 23 H, yaitu pada haji terakhir yang dilakukannya bersama, dan ia meminta Ibnu Auf dan Utsman bin Affan untuk mendampingi ummahatul mukminin.

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat dan selesai dimakamkan, Umar mengajak para penasehat dan bersama-sama masuk ke baitul mal milik Abu Bakar. Saat itu ia bersama dengan Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan, serta lainnya. Mereka pun membuka baitul mal tersebut, dan tidak menemukan dinar atau dirham sedikitpun. Lalu mereka menemukan sebuah kantung uang, dan membukanya. Dan mereka hanya menemukan satu dirham di dalamnya. Mereka pun mendoakan Abu Bakar mendapat rahmat Allah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Sekelompok pedagang dating dan menginap di Al-Mushalla.” Maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Apakah engkau bersedia jika kita menjaga mereka mala mini dari pencurian?” maka malam itu mereka pun menjaga mereka dan melakukan shalat.

Dalam bidang jihad dan penaklukan-penaklukan, Umar berperan penting dalam menyempurnakan pekerjaan besar yang perencanaannya telah digariskan langsung oleh tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk dan pengiriman pasukan Usamah. Lalu Abu Bakar pun melanjutkan apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Dan kemudian datanglah Al-Faruq untuk menyempurnakan apa yang telah direncanakan oleh Abu Bakar. Ia pun menyiapkan pasukan, mengangkat bendera perang, mengrim para penaklukan yang terjadi pada masanya. Bendera tauhid berkibar di belahan bumi bagian Timur dan Barat. Dan raja-raja Romawi, Persia, penguasa-penguasa tiran di arab terpaksa tunduk di bawah kakinya. Pajak pun di wajibkan atas mereka, negeri-negeri dibuka, banyak hal-hal baru dimulai, dan administrasi Negara mulai dibukukan.

Di Syam, pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Abu Ubaidah dan disertai oleh banyak komandan pasukan lainnya mulai menaklukkan negeri tersebut, sehingga pasukan Romawi berkumpul di Humsh untuk mengepung Abu Ubaidah. Maka Umar menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash dan memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan di bawah pimpinan Qa’Qa’ bin Amru dan mengirim mereka untuk membantu Abu Ubaidah.

Namun Umar belum merasa tenang dengan itu, dan belum merasa cukup. Dan ia pun keluar langsung untuk membantu Abu Ubaidah. Saat itu Abdurrahman memimpin sayap kiri dari pasukannya. Mereka berjalan hingga sampai di Sargh. Sementara itu Abu Ubaidah telah mulai menyerang pasukan Romawi. Pasukan Romawi pun berhasl dikalahkan dengan telak. Dan itu terjadi tiga malam sebelum kedatangan pasukan bantuan. Lalu Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar dan mengabarkannya tentang kemenangan yang ia peroleh. Umar memuji Allah Ta’ala, dan kembali ke Madinah dengan pasukan yang bersamanya.

Begitu Abu Ubaidah selesai dari penaklukan Damaskus, ia segera menulis surat kepada penduduk Al-Quds dan mengajak mereka kepada Allah dan Islam, atau membayar Jizyah, atau perang. Mereka menolak tawarannya sehingga ia mengepung dan menekan mereka. Hingga akhir nya mereka meminta perjanjian damai, dan mensyaratkan agar Amirul Mukminin Umar sendiri yang dating kepada mereka. Maka Abu Ubaidah menulis surat kepada Umar dan memberitahunya tentang hal itu.

Umar menyambut undangan itu dan berangkat bersama kaum muslimin. Saat itu Abdurrahman bin Auf berada di sisi kanannya. Ia membuat perjanjian damai dengan kaum nasrani di Baitul Maqdis, dan membuat surat jaminan keamanan yang disaksikan oleh Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Abdurrahman bin Auf, dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Sementara di arah Irak pada awal tahun 14 H, Umar mendorong kaum muslimin untuk berjihad. Ini dilakukannya saat ia mendengar terbunuhnya Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi (pada perang Jisr), dan bersatunya pasukan Persia di bawah pimpinan Yazdajir, serta pelanggaran kafir Dzimmi Ira katas perjanjian mereka, dan juga pencampakan mereka atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, dan dikarenakan mereka telah mulai menyerang kaum muslimin dan mengusir para gubernur dari wilayah mereka.

Maka pada awal bulan Muharram dari tahun tersebut, Umar berangkat bersama pasukan kaum muslimin dari Madinah, dan tiba disebuah mata air yang bernama Shirar134. Ia berkemah di sana dengan tekad untuk memimpin langsung penyerangan Irak. Ia menunjuk Ali sebagai penggantinya di Madinah, dan membawa bersamanya Utsman bin Affan dan para tokoh shahabat lainnya. Ia menunjuk Abdurrahman untuk memimpin sayap kanannya dan Zubair bin Awwam di sebelah kiri.

Kemudian Umar mengadakan sebuah pertemuan untuk bermusyawarah  dengan para shahabat tentang tekadnya tersebut. Maka diserukanlah untuk shalat jamaah, Ali pun telah diberitahu, dan ia segera datang. Kemudian Umar bermusyawarah dengan mereka, dan semua sepakat dengan Umar yang akan memimpin langsung pasukan ke Irak kecuali Abdurrahman bin Auf yang berkata, “Aku tidak pernah menebus seseorang dengan kedua orang tuaku setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum hari itu dan sesudahnya. Aku berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan, timpakanlah kelemahan itu kepadaku, siapkanlah, dan berangkatkanlah pasukan. Engkau telah melihat ketetapan Allah padamu melalui pasukanmu sebelum dan sesudahnya. Sungguh kekalahan pasukanmu tidak sama dengan kekalahanmu sendiri, dan sungguh kalau engkau terbunuh atau dikalahkan pada awal dari semua ini, aku khawatir kaum muslimin tidak akan pernah lagi mengucapkan takbir atau mengucapkan la ilaha illallah selamanya!”

Umar menerima pendapat ini. Dan ketika masih mencari siapa yang akan memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, datanglah surat dari Sa’ad di saat pertemuan tersebut masih berlangsung Saat itu Umar tengah menugaskannya untuk mengumpulkan sedekah dari wilayah Nejed. Umar berkata, “Kalau begitu tunjukkanlah kepadaku seorang laki-laki (yang akan memimpin pasukan tersebut).” Abdurrahman berkata, “Aku telah menemukannya” Umar berkata, “Siapa?”, ia menjawab, “Singa yang menyembunyikan cakar, Sa’ad bin Malik!” dan pendapat ini juga disetujui oleh mereka yang hadir.

Pada tahun paceklik, Abdurrahman beserta sekelompok took shahabat lainnya turut membantu Amirul Mukminin dalam memberikan bantuan kepada kaum muslimin, meringankan derita mereka, dan mengangkat kesempitan serta kesusahan hidup mereka.

Suatu hari datanglah sebuah kafilah besar membawa makanan yang dikirimkan oleh gubernur Mesir Amru bin Ash Radhiyallahu Anhu. Ia mengirim bantuan yang sangat besar dimana bagian depannya berada di Madinah, dan bagian belakangnya masih berada di Mesir. Rombongan itu terus berdatangan secara bergantian. Ketika bantuan tersebut diterima Umar, ia membagikannya kepada seluruh penduduk, dan memberikan setiap keluarga di Madinah dan sekitarnya seekor unta lengkap dengan makanan yang dibawahnya. Lalu Umar menugaskan Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhum untuk membagikannya kepada orang-orang. Mereka membagikan kepada setiap rumah satu ekor unta dan makanan yang di bawanya. Sehingga mereka bisa memakan makanan tersebut, dan menyembelih unta agar dagingnya bisa dimakan, menjadikan gajihnya sebagai lauk, dan memanfaatkan kulitnya untuk alas kaki, serta memanfaatkan kantung tempat makanan yang ada di punggung unta untuk kepentingan mereka. Dengan demikian Allah telah memberikan kelapangan untuk orang-orang.

Dan dalam riwayat dari Ibnu Asakir disebutkan, “Umar menerima harta, maka Abdurrahman bin Auf berkata kepada, “Wahai Amirul Mukminin, jika engkau bisa menyimpan sebagian dari harta ini di baitul mal untuk menghadapi musibah atau kejadian yang mungkin akan terjadi nanti.” Maka ia berkata, “Sebuah perkataan yang tidak akan diucapkan kecuali oleh setan. Allah telah membekaliku dengan alas an yang kuat dan menjagaku dari fitnahnya. Apakah aku harus bermaksiat kepada Allah pada tahun ini karena takut pada yang akan datang?! Aku telah menyiapkan bagi mereka ketakwaan kepada Allah. Allah Ta’ala telah berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”135

Penaklukan demi penaklukan terus berlangsung, dan harta-harta terus berdatangan memenuhi baitul mal. Hal ini meresahkan Umar, karena keadaan demikian tak pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam maupun pada masa Abu Bakar sehingga mereka bisa meninggalkan contoh yang baik tentang bagaimana cara membagikan dan menginfakkannya. Maka Umar meminta bantuan Ibnu Auf untuk memberikan pendapatnya dalam masalah tersebut.

Abdurrahman berkata, “Umar memintaku untuk datang maka aku menemuinya. Ketika sampai di pintu aku mendengar teriakannya, maka aku berkata, “Inna Lillahi wa Inna ilaihi raji’un, telah terjadi sesuatu pada Amirul Mukminin!”, lalu aku masuk dan memegang bahunya dan berkata, “Tidak apa-apa wahai Amirul Mukminin.” Ia berkata, “Justru ada masalah besar!” lalu ia memegang tanganku dan memasukanku melalui sebuah pintu, dan ternyata terdapat banyak tas yang saling tumpuk. Ia berkata, “Saat ini keluarga Khaththab telah hina di sisi Allah! Sesungguhnya jika Allah mau, Dia bisa memberikan ini kepada dua shahabatku, Maksudnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, sehingga mereka bisa memberikan contoh yang bisa aku ikuti. Aku berkata, “Marilah kita duduk dan memikirkannya.” Maka kemudian kami memberi ummahatul mukminin masing-masing sebanyak empat ribu, untuk kaum muhajirin masing-masing sebanyak empat ribu, dan seluruh orang lainnya masingmasing mendapat dua ribu, hingga kami berhasil membagikannya seluruh.”

Abdurrahman dan saudara-saudaranya yang duduk di majelis syura bukanlah sekedar pemanis dan sebagai formalitas bagi tugas khalifah dan keputusan-keputusan yang dibuatnya, atau dalam seluruh kebijakan dan tindakannya. Dan Umar sendiri ketika bermusyawarah dengan shahabatnya tidak memaksudkan itu sebagai pertunjukkan drama untuk menipu seluruh umat sehingga mereka mengira bahwa ia telah menunaikan janji yang di ucapkannya atas dirinya untuk menerapkan sistem syura dan patuh terhadap prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya! Namun ia benar-benar mengibarkan bendera syura dan menundukkan kepalanya yang terhormat itu. Wajahnya selalu berseri-seri ketika mendengarkan setiap pendapat yang menentangnya dengan berani dan tulus. Ia menyertakan orang-orang yang bekompeten dalam tanggung jawab hokum dengan rutin. Dan dia adalah orang yang telah meletakkan kebenaran pada hatinya, lisannya, dan bahwa ia adalah orang yang diilhami. Ia mempunyai kecerdasan yang sampai kepada tingkat ilham.

Ini karena Umar benar-benar menghargai tanggung jawab hokum, dan memandang bahwa rakyat harus mendapat tempat dalam kerangka umat. Mereka bebas mengemukakan pendapat mereka untuk mematangkan kedewasaan yang dimilikinya. Ia menyadari bahwa orang yang memaksakan pendapatnya akan celaka, dan bahwa syura merupakan paru-paru bagi setiap hokum yang benar dan tepat.

Dan juga karena ia menydarai bahwa ia memimpin sebuat umat yang terdiri dari singa, bukan sekelompok domba! Ia menginginkan rakyatnya menjadi mata yang terbuka, kritikus yang tajam, pemiki yang cemerlang, dengan gerakan yang dilandasi oleh kesadaran, dan pendapat yang berani dan terbuka. Dan bukan menjadi rakyat yang bisu, buta, tuli, dan bodoh, yang hanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya!!

Khalifah dengan para penasehatnya dan juga seluruh rakyat bisa tetap berada dalam jalan tersebut karena mereka semua telah dibina melalui metode kenabian yang prinsip-prinsipnya telah ditegaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an, “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, Dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.”(Qs-Asy-Syura [42]:38) “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”[Qs-Al-Imran [3]:159). Dab sedujut banyaknya mereka juga telah menyaksikan sendiri praktek syura tersebut dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, padahal beliau ditopang dengan wahyu, dijaga kema’shumannya, seorang yang terpilih dan dilengkapi dengan banyak kesempurnaan manusia. Namun demikian, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sengaja menumbuhkan semangat berbagi ide dan pendapat dalam masyarakat muslim, dan juga dalam menentukan keputusan serta dalam mengemban tanggung jawab dari masalah-masalah yang besar. Dan agar setiap penguasa atau gubernur menjalankan tugas dalam mengurus kaum muslimin dengan system yang telah baku tersebut, sehingga tidak ada yang memaksakan ide dan pemikirannya tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Dan tidak memaksa masyarakat muslim untuk patuh dan tunduk dengan terpaksa kepada pendapat seseorang, bagaimanapun tinggi kedudukannya, dan sehebat apapun pujian-pujian orang-orang dan para penjilat kepadanya.

Dan Ibnu Auf merupakan salah seorang tokoh shahabat yang memahami dengan baik falsafah dari syura, dan juga prinsip-prinsipnya. Ia dan saudara-saudaranya tak pernah menjadi pengekor bagu Umar pada setiap kebijakannya, perintahnya, keputusannya, ataupun sikap-sikapnya yang lain. Namum mereka menyetujui dan terkadang menentang, memberikan nasehat dan petunjuk, dan semua dilakukan dalam bingkai kemaslahatan bersama serta memperhatikan yang terbaik bagi Islam dan kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir, dari Muhammad bin Zaid berkata, “Telah berkumpul Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad. Dan yang paling berani di antara mereka terhadap Umar adalah Abdurrahman bin Auf. Maka mereka berkata, “Wahai Abdurrahman, jika engkau mau berbicara kepada Amirul Mukminin untuk semua orang, dan katakana, bahwa sesungguhnya seseorang datang untuk suatu keperluan, namun rasa takutnya kepadamu menghalanginya untuk membicarakan keperluannya kepadamu, sehingga ia pulang tanpa menceritakan keperluannya!” Maka Ibnu Auf pun masuk untuk berbicara kepadanya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bersikap lembutlah kepada orang-orang, sungguh seseorang ada yang datang kepadamu, namun rasa takutnya kepadamu menghalangi nya untuk menyampaikan kebutuhannya kepadamu, sehingga ia kembali tanpa berbicara kepadamu!” Umar berkata, “Hai Abdurrahman, demi Allah, apakah Ali, Utsman, Thalhah, dan Zubair serta Sa’ad memintamu untuk menyampaikan ini?” ia menjawab, “Iya”. Umar berkata, “Wahai Abdurrahman, sungguh aku telah bersikap lunak kepada mereka sehingga aku takut kepada Allah akan sikap lunakku, kemudian aku bersikap keras sehingga aku takut kepada Allah akan sikap kerasku, Maka bagaimanakah solusinya?” Abdurrahman pun bangkit sambil menangis dan menyeret jubahnya, dan berkata, “Celakalah mereka yang akan menggantikanmu, celakalah mereka yang akan menggantikanmu.”

Dan pada tahun 23 H, pada haji terakhir yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar, Ibnu Auf memiliki peran yang besar bersama. Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas berkata, “Aku sering membacakan Al-Qur’an kepada beberapa orang dari kaum Muhajirin, dan di antaranya termasuk Abdurrahman bin Auf. Saat aku tengah berada di rumahnya di Mina, dan saat itu ia tengah mendampingi Umar bin Khaththab pada haji terakhir yang ditunaikannya, tiba-tiba Abdurrahman kembali menemuiku dan berkata, “Jika saja tadi engkau melihat seorang laki-laki yang mendatangi Amirul Mukminin dan berakata, “Wahai Amirul Mukminin, apa pendapatmuu tentang seorang yang berkata, “Jika Umar telah meninggal maka aku akan membai’at si fulan. Dan demi Allah sesungguhnya pembai’atan Abu Bakar adalalah sebuah kebetulan semata.” Maka Umar marah dan berkata, “Insya Allah, sesungguhnya mala mini aku akan berbicara di hadapan semua orang dan mengingatkan mereka dari orang-orang yang ingin mengacaukan urusan mereka!” Abdurrahman berkata, “Wahai Amirul Mukminin jangan engkau lakukan itu. Sesungguhnya musim haji seperti ini menghimpun orang-orang awam dan bahkan perusuh. Dan jika engkau berbicara nanti maka kebanyakan dari yang berada di dekatmu adalah dari golongan mereka. Aku khawatir engkau akan mengucapkan dan tidak menempatkannya dengan semestinya. Maka tunggulah hingga engkau tiba di Madinah. Sesungguhnya Madinah adalah pusat dari hijrah dan sunnah, maka engkau bisa berbicara kepada para ahli fikih dan para pemuka masyarakat, dan mengutarakan maksudmu dengan baik. Para ulama tersebut akan memahami maksudmu dan meletakkannya pada tempatnya yang semestinya.” Maka Umar berkata, “Kalau demikian, Demi Allah, aku akan melakukan itu pada tempat pertama yang aku datangi di Madinah Insya Allah”, dan hadits ini sangat panjang.

Sikap ini merupakan bentuk dari hidayah, dan ketepatan dari Ibnu Auf, dan bukti yang nyata dari kearifannya, kecemerlangan akalnya, ketepatan pemahamannya, juga pandangannya yang jauh ke depan, kematangannya yang sempurna, dan kepeduliannya yang nyata terhadap hakekat agama dan maslahat kaum muslimin. Di samping itu menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Al-Faruq dimana ia mendengarkan pendapatnya, dan mengerjakan usulannya karena sesuai dengan kondisi, dan strategi yang baik, serta sikap yang bijak, dan memperbaiki suatu masalah dengan bijak serta meletakkannya pada koridor yang benar.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, An-Nasa’I, dan Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik berkata, “Seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah meminum khamar, maka beliau memerintahkan untuk mencambuknya dengan sandal sebanyak empat puluh kali. Lalu Abu Bakar juga pernah dibawakan seseorang yang meminum khamar, maka ia pun melakukan hal yang sama. Lalu Umar dibawakan seseorang yang telah meminum khamar, maka ia bermusyawarah dengan orang-orang tentang itu, Abdurrahman berkata, “Hukuman cambuk yang paling ringan adalah sebanyak delapan puluh kali.” Maka Umar Radhiyallahu Anhu memukulnya sebanyak delapan puluh kali.”

Dan dalam sebuah riwayat, “Maka Umar bermusyawarah dengan orang-orang tentang hukuman cambuk bagi peminum khamar. Abdurrahman bin Auf berkata, “Jika ia meminumnya dan kemudian berbicara sembarangan, maka kami berpendapat hendaknya engkau menghukumnya dengan hukuman cambuk yang paling ringan. Dan orang pertama yang melakukan hukuman cambuk sebanyak delapan puluh kali adalah Umar Radhiyallahu Anhu.”

Mari kita dengarkan sebuah peristiwa antara Abdurrahman bin Auf dengan Amirul Mukminin Umar.

Diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi dari Al-Miswar bin Makhramah, dari Abdurrahman bin Auf berkata, “Suatu malam aku berjaga bersama Umar, lalu kami melihat sebuah cahaya, maka kami mendatanganinya dan mendapati sebuah pintu yang berlubang dengan banyak suara rebut di dalamnya. Maka Umar berkata kepadaku, “ini adalah rumah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf, dan saat ini mereka tengah minum-minum, bagaimana pendapatmu?” ia berkata, “Aku merasa kita telah melakukan sesuatu yang dilarang kepada kita, yaitu memata-matai!” ia berkata, “Kalau begitu ayo pergi.” Dan aku pun pergi bersamanya.”

Inilah kehormatan rumah-rumah di dalam Islam. Seorang khalifah dan seorang shahabatnya keluar untuk menjaga orang-orang, dan memberikan keamanan, ketenangan, dan kenyamanan bagi mereka, serta menjaga rumah-rumah mereka dari pencurian dan serangan. Lalu telinga mereka mendengar perbuatan maksiat dari sebuah rumah yang pintunya berlubang. Mereka berdua tidak mengizinkan diri mereka untuk membuka aib tuan rumah yang telah ditutup oleh Allah. Dan bahkan mereka berpendapat bahwa mereka telah menerobos penjagaan rumah dan memanjat dinding kehormatannya pada malam yang gelap. Maka mereka menghindari apa yang dilarang oleh Islam yaitu memata-matai aib kaum muslimin.

Sungguh, semoga Allah menghidupkan agama ini, dan menghidupkan ajaran-ajaran ini, serta menghidupkan para pahlawan tersebut yang telah membawanya, mempraktekkannya, dan memperjuangkannya.

Maka bagaimana dengan mereka yang menikmati perbuatan mereka dalam mengungkap aib kaum muslimin, dan mencari-cari berita buruk tentang orang-orang shalih, memata-matai orang-orang yang baik dan bersih, melemparkan tuduhan-tuduhan palsu terhadap mereka, dan membuat-buat berita bohong dan kemudian melemparkan tuduhan bohong terhadap mereka. Orang-orang yang membuka tirai-tirai rahasia orang lain, menerobos pagar orang lain, menganggu ketenangan dan menyebarkan ketakutan di hati orang-orang yang membuka tirai-tirai rahasia orang lain, menerobos pagar orang lain, menganggu ketenangan dan menyerbarkan ketakutan di hati orang-orang yang senang berada di rumah mereka umntuk mengerjakan amal-amal shalih, tanpa melakukan kemungkaran dan keburukan apapun dan tidak membawa kerusakan di muka bumi?! Celakalah orang-orang yang menakut-nakuti mereka dan kemudian menjatuhkan mereka. Dan celakalah mereka pada saat menyaksikan hari yang agung kelak!!

Abdurrahman tetap berada di kalangan pembantu dan penasehat Umar yang terpilih, ia tidak pernah meninggalkannya dalam perkara-perkara besar, dalam banyak peristiwa, dan juga dalam menangani masalah-masalah pelik. Bahkan di dalam shalat, ia selalu berada di shaf terdepan bersamanya. Karena itulah ia yang menggantikannya sebagai imam ketika ia ditikam oleh si fasik Abu Lu’lu’ah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, dan yang lainnya, riwayat tentang pembunuhan Umar Radhiyallahu Anhu, dari Amru bin Maimun berkata, “Dan ketika ia, Umar telah mengucapkan takbir aku mendengarnya berkata, “Dia telah membunuhku atau itu telah memakanku, saat ditikam. Lalu orang kafir tersebut berlari dengan pisaunya yang mempunyai dua mata, tidak ada seorangpun yang dilewatinya baik di kanan maupun di kiri melainkan ditikamnya. Hingga ia berhasil menikam sebanyak tiga belas orang dan tujuh diantaranya meninggal! Ketika melihat itu, salah seorang dari kaum muslimin melemparkan jubahnya kepadanya. Dan ketika orang kafir itu merasa bahwa ia telah terperangkap, ia pun menikam dirinya sendiri. Lalu Umar memang tangan kanan Abdurrahman dan menariknya maju.”

Dan dalam riwayat dari Ibnu Sa’ad, “Maka ia memegang tangan Abdurrahman dan menariknya maju. Lalu orang-orang pun shalat subuh pada hari itu dengan shalat yang ringan.’

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.