Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Bersama Khulafaur Rasyidin (Seri 14)

G. Bersama Khulafaur Rasyidin, Pencalonannya untuk Posisi Khalifah, dan Perannya Dalam Pemilihan Utsman

Setelah wafatnya Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abdurrahman memasuki fase baru dalam hidupnya, ia membawa serta seluruh kontribusinya yang kekal, dan pengalamannya yang sangat berguna untuk membela Islam dan mengemban tanggung jawab, serta menanggung beban dakwah. Ia juga bertanggung jawab, serta menanggung beban dakwah. Ia juga bertanggung jawab untuk mengurus administrasi hartanya dalam perniagaan dan pertaniannya, serta membina keluarganya sesuai dengan ajaran-ajaran yang turun kepada mereka dari langit yang tinggi untuk mengangkat mereka kepada tangga kesempurnaan.

Ibnu Auf meneruskan jalan yang telah ditempuhnya bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam keikhlasan kepada agamanya, kejujuran kepada umatnya, dan kegigihan dalam menjaga keutuhan Negara kesatuan umat, dan  ketinggian wibawanya. Juga untuk menjaga akidahnya dan berupaya dengan teguh untuk menjaga eksistensi dan akhlaknya. Maka ia pun tetap berada di barisan terdepan dari para shahabat pilihan yang membentuk majelis syura untuk membantu para khilafah.

Abu Muhammad merupakan salah satu dari tokoh shahabat dan pemuka kaum muslimin yang dibutuhkan pendapatnya, diminta arahannya dan juga diikuti petunjuknya. Ini karena kedudukan yang diberikan Allah kepadanya di sisi Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga karena berbagai kiprah dan amal mulianya yang terdahulu, serta idenya yang cemerlang. Semua itu ditambah dengan kedudukan nya yang tinggi di sisi para shahabat, baik secara khusus maupun secara umum.

Kemudian para khalifah sendiri, dengan mendekatkan Abdurrahman serta tokoh-tokoh lain yang sepertinya yang memiliki keutamaan, nasehat, sifat amanah, dan banyak kontribusi mulia. Bukanlah untuk sedekar menguatkan posisi mereka dalam segala keputusan yang mereka ambil, juga bukan sedekar untuk mengambil untung dari pendapat dan musyawarah mereka. Namun karena Ibnu Auf dan rekan-rekannya yang lain yang merupakan penasehat sekaligus berperan dalam pengambilan keputusan, bersama-sama dengan khalifah, berhasil membentuk sebuah kelompok elit yang terpilih dari umat yang mendapat kalungan tanggung jawab di leher mereka. Di pundak merekalah bergantung perjalanan Negara. Dan bersama-sama mereka mengemban amanah berat yang harus ditunaikan dengan semestinya tersebut. Dan melakukan wawancara yang detil dan terbuka dengan seluruh kaum muslimin untuk melihat permasalahan mereka dan mengatasinya. Sebuah tanggung jawab total yang tidak dapat disembunyikan dari Allah Ta’ala yang telah memilih mereka untuk mengurus perkara umat, dan mengembankan amanah khalifah di pundak mereka. Dan Allah pasti akan menanyakan apa yang telah diamanahkan kepada mereka, apakah mereka menjaganya atau menyia-nyiakannya.

Jadi para khalifah dalam perkara yang besar dan mulia ini, serta dalam kewajiban yang sangat berat ini, melihat kepada permasalahan khilafah dan kepemimpinan umat denga kaca mata tanggung jawab dan beban amanah, bukan dengan dengan kebanggan dan kehormatan! Maka mereka memilih tokoh-tokoh umat yang kuat dan terpercaya untuk membantu mereka dalam mengemban beban yang berat tersebut, dan turut meringankan beban dalam mengurus Negara dan rakyat. Dan sebelum dan sesudahnya para khalifah itu juga bertanggung jawab dalam memilih para pembantu mereka, para menteri, anggota majelis syura, dan para penasehat mereka. Apakah mereka telah memilih mereka untuk kebaikan Islam dan kaum muslimin? Atau para khalifah memilih dengan dorongan hawa nafsu yang didasarkan kepada hubungan kekerabatan, atau kecenderungan-kecenderungan yang lain tanpa berdasarkan kebenaran?!

Mereka sangat menyadari beratnya tanggung jawab dan beban yang harus ditanggung dalam memikulnya. Maka merea pun berhenti untuk waktu yang cukup lama dan memohon dengan sangat untuk dapat melaksanakannya dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Di hadapan Maha Raja yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa-apa yang tersembunyi di dalam dada! Mereka pun menjadikan kesabaran sebagai tameng, menghiasi diri dengan sifat amanah, dan bersikap bijak, lalu berangkat dengan berlandaskan sendi-sendi keikhlasan dan wara’. Dengan demikian Allah menuntun mereka kepada kebenaran yang mereka tuju, dan memudahkan mereka untuk mendapatkan petunjuk dan ketepatan dalam hokum sebagaimana yang mereka harapkan.

Maka tidak heran jika Abdurrahman menjadi salah satu dari penasehat dan tokoh terkemuka dalam majelis syura. Dan menjadi salah satu sendi Negara yang turut menentukan kebijkanannya dan memimpin perjalanannya, dalam naungan tiga khulafaur rasyidin di mana ia hidup bersama mereka pada masa pemerintahan mereka, Semoga Allah meridhai mereka semua.

1. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, “Bahwasanya jika Abu Bakar memiliki suatu masalah dan ingin bermusyawarah dengan para penasehat dan ahli fikih, ia mengundang beberapa toko dari Muhajirin dan Anshar. Ia mengundang Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan begitulah Abu Bakar selama pemerintahannya, dan ketika Umar menjabat ia pun memanggil tokoh-tokoh tersebut.

Tidak lama sebelum meninggal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyiapkan pasukan dengan tujuan Syam di bawah komando Usamah bin Zaid. Beliau memerintahkannya untuk membawa pasukannya hingga Al-Balqa’ dan Ad-Darum. Ia mengirimnya dengan tujuh ratus tentara kaum muslimin. Pasukan pun bergerak hingga sampai di Al-Jurf, namun keberangkatan mereka tertunda karena wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Abu Bakar memulai kepemimpinannya dengan melanjutkan pengiriman Usamah, demi menjalankan perintah Rasululla Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah menyiapkan pasukan tersebut dan menyerahkan panji perang dengan tangan beliau sendiri. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwasanya Ash-Shiddiq keluar menuju Al-Jurf, untuk menemui pasukan dan memotivasi mereka. Ia menemani mereka dengan berjalan kaki sementara Usamah menunggang kudanya, dan Abdurrahman bin Auf membawa kendaraan Abu Bakar. Maka Usamah berkata kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, engkau yang akan mengendarai tungganganmu atau aku yang akan turun?!” maka dia berkata, “Demi Allah, engkau tidak akan turun, dan aku tidak akan naik kendaraanku, tidaklah masalah bagiku untuk mengotori kakiku di jalan Allah untuk beberapa saat!”

Demi Allah betapa mengangumkan Abu Bakar dan Ibnu Auf.

Abu Bakar adalah khalifah kaum muslimin dan tokoh terbesar di dalam Islam setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia mendapingi pasukan dengan berjalan kaki sementara panglima pasukannya Usamah bin Ziad mengendarai kudanya padahal ia sama dengan salah satu anaknya dan salah satu dari tentaranya! Ya, apa yang menghalangi khalifah untuk mengotori kakinya di jalan Allah, dan menjadi teladan bagi mereka yang memagang urusan umat dengan sifat tawadhu’, penuh kasing sayang, tidak sombong, serta jauh dari kekejian dan merusak di muka bumi.

Dan Ibnu Auf dengan kebesarannya, keutamaannya, dan keistimewaannya yang begitu banyak, menuntun tali kekang unta Abu Bakar. Inilah akhlak orang-orang besar yang mengetahu keutamaan orang-orang mulia, dan tidak ada tempat bagi kesombongan di hati mereka.

Abu Bakar memimpin kaum muslimin dalam kehidupan mereka, dan mereka mengikutinya bersama-sama untuk mengokohkan sendi-sendi Negara, mengemban risalah, dan menanggung beban untuk menyampaikannya kepada seluruh dunia. Lalu Abu Bakar bertekad untuk memerangi Romawi dan menaklukan negeri Syam, namun sebelum mengirim pasukan ia mengumpulkan pendapat dari shahabat-shahabat dan para penasehatnya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Abdullah bin Abu Aufa Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika Abu Bakar berencana untuk memerangi Romawi, ia mengundang Ali, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Jarrah, serta para pemuka Muhajirin dan Anshar, baik para pejuang badar maupun yang lainnya. Dan mereka pun masuk menemuinya. Abdullah bin Abu Aufa berkata, “Dan aku termasuk diantara mereka.” Lalu Abu Bakar berbicara, diantara yang dikatakannya adalah sebagai berikut.

“Aku berkeinginan untuk mengerahkan kaum muslimin untuk berjihad menghadapi Romawi di Syam, agar Allah menguatkan kaum muslimin, dan menjadi kalimatnya yang tertinggi. Maka silahkan siapa saja untuk mengemukakan pendapatnya tentang hal ini.”

Umar berdiri dan mengemukakan pandangannya. Kemudian Abdurrahman berdiri dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, mereka adalah Romawi, berkulit kuning, kuat bagai besi, dan sangat tangguh. Aku tidak berpendapat kita harus menyerang mereka dengan sebuah serangan yang besar. Namun kita bisa mengirim pasukan berkuda untuk menyerang daerah-daerah yang terletak di perbatasan mereka, lalu kembali. Jika ini bisa dilakukan secara terus menerus tentu akan melemahkan mereka, dan bisa menguasai wilayah-wilayah terluar mereka. Kemudian engkau bisa mengirim utusan ke wilayah Yaman dan kabilah-kabilah Rabi’ah dan Mudhar, serta menghimpun mereka semua di bawah komandomu. Dan setelah itu jika engkau mau, engkau bisa memimpin langusng untuk menyerang mereka, atau jika engkau mau, engkau bisa menunjuk orang lain.” Lalu ia diam, dan yang lain pun diam.”

Abu Bakar tetap berada di jalannya yang penuh petunjuk dalam mengokohkan sendi-sendi Negara dan menyebarkan kebenaran dan keadilan. Lalu ia menutup masa kepemimpinannya dengan sebuah tindakan yang mulia, di mana ia menunjuk Umar bin Khaththab untuk menjadi khalifah. Ia tidak memaksakan kehendaknya dalam hal itu, namun ia telah mengundang tokoh-tokoh terkemuka dari kaum Muhajirin dan anshar dan bertanya kepada mereka tentang Umar, walaupun ia lebih mengetahui tentang Umar.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman dan yang lain, “Bahwasanya ketika Abu Bakar menderita sakit yang sudah parah, ia memanggil Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Katakan kepadaku tentang Umar bin Khaththab?” Abdurrahman berkata, “Engkau tidak bertanya kepadaku tentang satu hal yang engkau lebih mengetahuinya dariku.” Abu Bakar berkata, “Meskipun demikian.” Maka Abdurrahman berkata, “Demi Allah dia adalah orang terbaik yang dapat engkau lihat.”

Kemudian ia bermusyawarah dengan Utsman, Sa’id bin Zaid, Usaid bin Al-Hudhair, dan yang lainnya. Lalu Allah menguatkan tekad Ash-Shiddiq untuk menunjuk Umar. Dan itulah yang terjadi, dan kaum muslimin pun membai’tanya dan berbagaia dengan kepemimpinannya.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.