Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (Seri 4)

B. Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

2. Kembali ke Mekah, Mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu Hijrah ke Madinah dan Persaudaraannya dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’

Sebagian dari shahabat yang hijrah ke Habasyah kemudian kembali lagi ke Mekah Al-Mukarrahamah dan bermukim di sana hingga kaum Anshar melakukan dua bai’at Aqabah kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu Allah mengizinkan Nabi-Nya untuk hijrah ke Madinah, dab beliau pun mengarahkan para shahabatnya untuk hijrah ke sana. Mereka pun pergi mendahului beliau baik secara perorangan maupun bersama-sama.

Ibnu Ishaq menukil nama-nama mereka yang kembali dari Habasyah ke Mekah, dan di antara mereka terdapat Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Mush’ab bin Umair, Abu Salamah, dan shahabat lainnya Radhiyallahu Anhum.

Ibnu Auf kembali ke Mekah untuk mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam membawa panji dakwahnya, serta untuk mengikuti petunjuk beliau, dengan berpegang teguh kepada sumpah yang telah diikrarkan di dalam hatinya sejak ia menyatakan keislamannya.

Abdurrahman yang masuk Islam sejak hari-hari pertama kemunculan dakwah, dan merupakan salah seorang dari delapan tokoh yang pertama kali masuk Islam, dan bersegera berpegang teguh kepada risalah nya, dia tak pernah ragu, meski berbagai siksaan yang menimpanya secara bertubi-tubi, sehingga ia berhijrah ke Habasyah sebanyak dua kali, semua itu justru menambah keteguhannya dalam berpegang kepada agamanya, dan juga menambah tekadnya dalam jalan dakwah. Maka sejak awal keislamannya hingga kembali menemui tuhannya, ia merupakan sosok teladan yang mengagumkan bagi seorang mukmin yang mukhlis total dengan keimanannya. Tidak sekalipun ia meninggalkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam peristiwa apapun, dan ia tidak pernah meninggalkan dirinya duduk demi meraih kemuliaan, dan semangatnya tak pernah luntur sedikitpun dalam mempersembahkan yang terbaik demi membela agamanya dan meneguhkan kedudukannya di muka bumi.

Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad meriwayatkan dari ayahnya, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf juga dijuluki hawari (pembela) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi menyebutkan nama-nama pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai berikut : Hamzah, Jafa, Ali, Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, Utsman bin Affan, Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam Radhiuallahu Anhum.

Hari demi hari terus berganti dan tahun demi tahun berlalu. Dakwah telah menempuh jarak yang cukup jauh dalam perjalanannya yang penuh berkah. Pengikut dan pembela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terus bertambah banyak. Kemudian Allah membukakan sebuah negeri yang baru dan bagi kaum muslimin. Sebuah negeri di mana penduduknya bersedia untuk mengemban tugas dalam membelah Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta membantu saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin dalam membawa panji dakwah dan menyampaikan risalah. Merekalah suku Aus dan Khazraj yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk mendapat kehormatan dalam memberikan tempat tinggal dan pertolongan, serta pendirian agama Islam di kota mereka yang penuh berkah. Dan kemudian dari sanalah kafilah iman melebarkan sayapnya. Mekah berhasil ditaklukkan dan diikuti oleh daerah-daerah lainnya, hingga akhirnya seluruh jazirah arab tunduk dalam kekuasaannya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan para shahabatnya untuk lebih dahulu berangkat hijrah ke Madinah. Abdurrahman bin Auf pun berangkat dan bersama sekelompok Muhajirin lainnya ia tinggal di rumah Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari Al-Khazraji Al-Badri yang merupakan salah satu dari dua belas orang yang ikut dalam bai’at Aqabah yang pertama.

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyusul para shahabat nya dan berhijrah ke  Madinah. Beliau menghimpun seluruh potensi yang ada untuk mengokohkan pondasi awal dalam membentuk masyarakat muslim. Beliau membangun masjid Nabi yang menjadi rumah bagi Islam dan seluruh kaum muslimin, rumah bagi masyarakat yang dinaungi hidayah. Serta rumah bagi penggemblengan para da’I yang menyeruh kepada Allah. Dan masjid juga menjadi titik tolak mereka dalam menyebarkan dakwah, berjihad, dan menyebarkan agama Allah.

Setelah itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membentuk pondasi kedua yang kuat dan diberkahi. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dengan berlandaskan kecintaan karena Allah. Beliau mempersaudarakan mereka masing-masing dua orang. Dari dua kelompok yang mulia tersebut beliau membentuk sebuah masyarakat yang berlandaskan iman dan cinta karena Allah dan untuk Allah. Sebuah masyarakat yang mampu berkorban demi mempertahankan akidah mereka, dan berjuang menyebarkan dakwah mereka di cakrawala kehidupan dengan membawa petunjuk, kebaikan, kasih saying, dan keadilan.

Persaudaraan tersebut bukan dimaksudkan untuk sekedar mengamankan kaum Muhajirin yang terusir dari negeri mereka dan terpaksa meninggalkan harta mereka dan menumpang kepada saudara-saudara mereka dari golongan Anshar untuk mendapatkan makanan agar mereka bias bertahan hidup, namun persaudaraan itu dimaksudkan untuk tujuan yang jauh lebih penting dan sasaran yang mendalam. Dan tujuan tersebut dilandasi dengan prinsip-prinsip syariah yang kekal. Dengan persaudaraan tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertujuan membina sebuah masyarakat yang menyatu saling bersaudara dan mencintai dengan kekuatan akidah. Tidak ada lagi ego-ego yang merusak fitrah yang murni, sehingga mereka bisa naik meraih kedudukan para malaikat. Sebuah masyarakat yang tidak lagi menjadikan dunia dan segala kenikmatannya sebagai tujuan, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan harta dunia, karena semua itu adalah sementara, dan semua nya akan sirna. Sudah saatnya seluruh potensi diarahkan untuk mencapai hal yang lebih mulia, bukan justru merendahkan martabat manusia dan mengalihkannya dari tujuan yang sebenarnya. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar telah mampu melihat harta dunia dengan kaca mata tersebut. Jiwa mereka telah jauh tinggi meninggalkan hal-hal itu, sehingga mereka mampu memberikan contoh masyarakat ideal bagi seluruh manusia dengan berbagai kiprah dan perbuatan mereka yang mulia lagi kekal.

Persaudaraan antara Abdurrahman dengan Sa’ad bin Ar-Rabi merupakan salah satu contoh nyata yang mengagumkan dari persaudaraan tersebut dalam mewujudkan tujuan dan maknanya yang tertinggi.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersaudarakanku dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Lalu Sa’ad bin Ar-Rabi’ berkata, “Aku adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan membagi separuh hartaku denganmu, dan pilihlah salah satu dari kedua istriku ini yang engkau sukai, maka aku akan menceraikan nya untukmu. Dan jika masa iddahnya telah usai, aku akan menikahkannya denganmu!” maka Abdurrahman berkata kepadanya “Aku tidak membutuhkan itu, adakah pasar tempat orang berjual beli?” ia menjawab, “Pasar Qainuqa”. Maka Abdurrahman segera menuju kesana dan membeli keju dan mentega, lalu keesokan harinya ia kembali ke pasar untuk berdagang. Dan tak lama kemudian Abdurrahman dating dengan sisa minyak wangi berwarna kuning di tubuhnya, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah engkau telah menikah?” ia menjawab, “Iya, sudah.”Beliau kembali bertanya, “Dengan siapa?” ia berkata, “Dengan seorang wanita dari Anshar.” Beliau bertanya, “Berapa engkau berikan mahar untuknya?” ia menjawab, “Emas seberat biji.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Adakah walimah walaupundengan menyembeli seekor kambing saja.”

Inilah jiwa-jiwa yang telah dibentuk oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan itulah persaudaraan yang beliau ikat di antara para shahabatnya Radhiyallahu An’hum. Seorang Anshar dengan rela menyerahkan seluruh hartanya kepada saudaranya dari Muhajirin agar ia bisa memulai hidupnya dengan harta tersebut. Hal ini mungkin biasa dalam cerita kedermawaan, namun yang luar biasa dan belum pernah terjadi dalam sejarah adalah ketika jiwa para tokoh tersebut sampai kepada tahap dimana mereka bisa mengalahkan rasa cinta kepada istrinya sendiri, serta mengenyampingkan hubungan yang telah dibina di antara mereka berdua. Ia pun harus menaiki tangga kemuliaan dengan menawarkan kepada saudaranya untuk memilih salah seorang istrinya untuk di ceraikan, kemudian menunggu masa iddahnya, dan setelah itu bisa dinikahinya!! Ini adalah derajat orang-orang yang benar imannya yang tidak bisa dicapai kecuali oleh mereka yang di didik langsung oleh Rasu terbaik, yang membentuk mereka menjadi manusia terbaik. Mereka ada lah mukjizat Islam itu sendiri yang belum pernah terulang lagi.

Sikap yang ditunjukkan oleh Sa’ad bin Ar-Rabi’ ini merupakan salah satu keutamaannya yang paling mengagumkan yang ditorehkannya dalam lembaran awal dari sejarah pembelaannya terhadapa agama ini.

Pada sisi lain, kemuliaan sikap sang muhajir Abdurrahman bin Auf pun tak kalah bersinar. Ia menghargai tindak saudaranya, memujinya, menghormati besarnya pemberiannya. Namun jiwanya hanya mau membalasa kemuliaan dengan kemuliaan yang sebanding. Ia adalah seorang laki-laki yang telah meninggalkan negerinya, keluarganya, hartanya. Ia telah mengorbankan itu semua di jalan dakwah, maka ia merasa tidak sepantasnya ia mengambil keuntungan dari harta dan keluarga saudaranya dari kalangan Anshar tersebut. Ia memilih untuk mengambil sikap yang lebih terhormat, dan meninggikan jiwanya dari ketamakan dunia. Ia memberikan contoh terbaik bagi dunia untuk terus berusaha dan bersungguh-sungguh, serta mengadakan perniagaan yang jujur dengan Allah. Ia memberikan contoh untuk tidak bertumpu kepada orang lain dan rela untuk berada di bawah. Ia memberikan contoh tertinggi bagi seorang muslim yang telah berhijrah yang tidak terima kecuali jika tangannya tetap berada di atas! Ia pun pergi kepasar, berdagang setiap hari, dan Allah pun memberkahi usahanya sehingga dunia pun dating kepadanya. Tidak lama kemudian tangannya telah dipenuhi oleh harta, dan kemudian menikah. Dengan demikian saudaranya dari kalangan Anshar tetap seperti sedia kala, dan dengan berdagang ia juga berhasil mendapatkan harta dan keluarganya sendiri.

Dari rajutan yang luar biasa inilah masyarakat Madinah yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar dibentuk. Setiap individu dari mereka berusaha untuk meraih kemuliaan dan mencapai kesempurnaan sebagaiamana yang berusaha dicapai oleh mereka yang sempurna!

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.