Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (Seri 3)

B. Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

1. Dari rumah Al-Arqam, Dakwah secara sembunyi hingga terang-terangan dan Hijrah ke Habasyah

Abdurrahman masuk Islam pada awal dakwah, dan bergabung dengan kafilahnya yang penuh berkah. Bersama kelompok yang pertama masuk Islam lainnya ia bergabung dalam madrasah Islam yang pertama di rumah Al-Arqam yang berada di bukit Shafa, dan yang merupakan pusat dakwah dan madrasah pembelajaran risalah. Di sanalah berkumpul nya pemuda-pemuda yang masih memiliki kejujuran dalam hatinya, untuk menjalankan dakwah mereka bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam senyap. Mereka mengikuti agamanya, membenarkan risalahnya, mengikuti petunjuknya, menyokongnya dan juga membantu nya dalam mengemban beratnya dakwah dan menyampaikan risalah mereka adalah pemuda-pemuda kebanggan kaum mereka, dan terhormat, yang telah memeluk akidah tauhid, dan meninggalkan akidah nenek moyang mereka. Mereka pun menjadi tentara dakwah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan brigade penyampai risalahnya. Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka tak ragu mengurangi keras nya hidup setelah sebelumnya menikmati kemewahan di rumah-rumah mereka bersama keluarga masing-masing. Mereka mendengar dan mentaati Rasul yang mulia, dan tak ragu sedikitpun untuk menolongnya dan mewujudkan cita-citanya walaupun itu semua harus dibayar dengan kesenangan dan bahkan hidup mereka.

Metode dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi di rumah Al-Arqam merupakan bentuk dari hikmah Allah Subnahu wa Ta’ala dan Rasul-nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Juga salah satu bentuk dari kebijaksanaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kepemimpinan beliau yang baik terhadap para pengikutnya. Karena beliau berusaha semampunya untuk menghindarkan mereka dari siksaan yang ditimpakan oleh tokoh-tokoh pemimpin Quraisy dan para pelayan berhala, serta mereka yang mengikuti akidah nenek moyang mereka dengan membabi buta dan tanpa mau berfikir.

Sementara itu orang-orang yang beriman terus bertambah setiap harinya. Bunga iman pun mulai merebak mekar, dan pohon Islam mulai tumbuh besar dan mengakar kuat di bumi. Akarnya menancap kuat di bumi dan cabangnya membumbung tinggi di langit. Islam terus menyebar di Mekah, menjadi pembicaraan umum di tempat-tempat berkumpul penduduk Mekah. Banyak kamum laki-laki, pemuda, dan Wanita bergabung di madrasah Al-Arqam. Dan yang terdepan adalah Al-Faruq Umar bin Khaththab, hingga mereka berjumlah sekitar empat puluh orang. Lalu Abu Bakar mengusulkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memperlihatkan keberadaan mereka dan memproklamirkan dakwah mereka di hadapan seluruh Quraisy, dan ia terus mengusulkan hal itu. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabulkan permintaannya. Kaum muslimin mulai menampakkan ibadah mereka secara terang-terangan di hadapan penduduk Mekah. Mereka melaksanakan shalat di Ka’bah juga dengan terang-terangan. Hal ini menjadi kejutan bagi Quraisy dan sekaligus menjadi titik balik dalam sejarah dakwah.

Tindakan ini membuat orang-orang Quraisy menjadi hilang akal. Hati para pelayan berhala dan orang-orang yang mengikuti agama nenek moyang mereka dipenuhi oleh api amarah. Mereka mulai menggunakan cambuk siksaan dan berbagai cobaan. Mereka melampiaskan kemarahan mereka kepada anak-anak mereka, dan siapapun yang menjadi tanggungan mereka yang telah berani mengikuti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beriman kepada dakwah beliau. Berbagai siksaan pun mulai menimpa orang-orang yang beriman tersebut, dan kaum Quraisy menyatakan perang terhadap mereka. Orang-orang yang beriman menghadapi perang yang tak sebanding ini dengan kesabaran, dan bahkan dengan jiwa yang memaafkan dan membalas dengan kebaikan. Seluruh tindakan Quraisy tersebut menjadi penyebab terhalang nya gerakan dakwah dan penyampaian risalah.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyaksikan berbagai siksaan dan cobaan yang menimpa para shahabatnya. Beliau sendiri aman karena kedudukan beliau di sisi Allah dan perlindungan yang diberikan oleh paman beliau. Beliau merasa prihatin dengan keadaan para shahabatnya, sementara beliau tak mampu menyelamatkan mereka dari siksaan tersebut. Lalu terbukalah cakrawalah kegelapan dengan adanya kesemoatan untuk melakukan hijrah bagi mereka yang mau ke Habasyah. Selain untuk menyelamatkan diri mereka, juga untuk menyampaikan dakwah yang di bebankan di pundak mereka dalam mengemban amanah dakwah dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada para shahabatnya, “Jika kalian pergi ke negeri Habasyah, sesungguhnya di sana terdapat seorang raja yang tidak seorangpun terzhalimi di sisinya. Itu adalah negeri kejujuran. Hingga nanti Allah membukakan jalan keluar bagi keadaan kalian saat ini.”

Dan Ibnu Auf adalah salah seorang yang melakukan hirah tersebut.

Dituturkan oleh Ibnu Ishaq, Al-Waqidi, dan yang lainnya bahwasanya Abdurrahman bin Auf melakukan hijrah ke Habasyah sebanyak dua kali, bersama dengan sekelompok shahabat besar lainnya. Di antaranya yang berasal dari bani Umayyah adalah Utsman bin Affan dengan istrinya Sahlah binti Suhail bin Amru. Dari Bani Asad. Darni Bani Makhzum : Abu Salamah bin Abdul Asad bersama istrinya Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Al-Makhzumiyah, dan shahabat-shahabat lainnya.

Hijrah ini merupakan hijrah pertama dalam Islam. Hirah ini bukanlah dalam rangka melarikan diri karena lemah, ataupun karena takut dan sifat pengecut, namum merupakan sebuah perpindahan yang dimaksudkan sebagai sarana untuk menjauhkan diri dari tempat terjadinya fitnah dalam agama, bagi mereka yang tidak bisa melawan permusuhan dengan tetap berpegang kepada kesabaran. Juga untuk menjauhkan diri dari hambatan-hambatan dalam jalan risalah dan menyampaikan dakwah. Karena kebanyakan dari mereka yang berhijrah tersebut berasal dari Quraisy dan juga kabilah arab lainnya secara umum. Sehingga mereka memiliki perlindungan yang cukup untuk menjauhkan siksaan dan tidak menyerah, serta bias melawan penindasan yang mereka hadapi. Hal inilah yang membuat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengkhawatirkan keselamatan para shahabatnya dari satu sisi, dan pada sisi lainnya adalah keberlangsungan jalannya dakwah dan penyebarannya.

Dan mereka pun berangkat menuju tempat yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa serta keimanan mereka, serta tugas dakwah dan keteguhan dalam berpegang kepada prinsip yang mereka yakini. Dan juga dengan berbekal kesabaran dalam menghadapi kondisi sebagai orang asing dan perjalanan yang melelahkan, serta kerinduan yang akan mereka rasakan ketika jauh dari kampong halaman, keluarga dan anak-anak.

Orang yang memperhatikan daftar nama mereka yang melakukan hijrah ke Habasyah, baik yang pertama maupun yang kedua, dia akan mengenal nasab keturunan mereka, keluarga mereka, kondisi social mereka, dan kedudukan mereka yang tinggi di tengah kaum mereka. Dia juga akan yakin bahwa hijrahnya mereka tidak mungkin hanya untuk sekedar melarikan diri dari siksaan dan cobaan yang mereka derita. Namun itu adalah sebuah hijrah yang dilakukan oleh mereka yang beriman kepada Allah sebagai tuhan dan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai rasul. Lalu mereka disiksa sampai pada tahap yang tidak mungkin dapat di tanggung oleh seorang manusia, sementara mereka tidak diizinkan untuk melawannya. Mereka diminta untuk tetap bersabar dan memaafkan. Bukan karena kelemahan, namun merupakan bentuk dari kebijakan dan strategi dakwah.

Dan cukuplah bukti bagi anda dengan fakta bahwa mereka yang hijrah ke Habasyah baik yang pertama maupun yang kedua, berasal dari keluarga dan kabilah arab yang paling terhormat. Dengan jumlah yang cukup banyak tersebut, bukan hal yang mustahil bagi mereka yang memiliki latar belakang keluarga terpandang dan kedudukan sosial terhormat dalam masyarakat mereka untuk berkumpul dan menggalang kekuatan menghadapi permusuhan tersebut dan bahkan mengadakan perlawanan baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Namun ketetapan Allah mengharuskan mereka untuk menghadapinya dengan kesabaran. Lalu pemimpin mereka yang agung Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan kebijakan yang diberikan oleh Allah kepadanya, membukakan solusi melalui hijrah. Dan ini merupakan salah satu dari buah kebaikan bagi dakwah dan bagi para pengembannya.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.