Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Masa Kecil, Remaja, dan Masuk Islam (Seri 2)

A. Masa Kecil, remaja, dan Masuk Islam

2. Ciri-ciri dan Karakternya

Di samping kemuliaan garis keturunan yang di anugerahkan Allah kepada Abdurrahman, ia juga dikaruniai dengan ketampanan dan social yang berwibawa. Sehingga ciri fisik yang menonkol ini memberikan nilai tambah kepada kebersihan jiwanya, dan memperlihatkan apa yang ada dalam hatinya. Orang yang pertama kali bertemu dengannya akan terpesona oleh ketampanannya, dan keindahan bentuknya, serta wajahnya yang berseri-seri. Juga matanya yang indah, dengan tubuh yang tinggi, terlihat elok dari jauh, dan indah dipandang dari dekat. Orang-orang merasa segan dengan wibawanya, dan banyak mata yang mencuri pandang kepadanya. Semoga Allah meridhainya.

Sahlah binti Ashim mencoba menggambarkannya dengan berkata “Abdurrahman bin Auf seorang yang putih, memiliki mata yang lebar dan indah, dan bulu matanya panjang. Hidung mancung, dua gigi taring bagian atasnya panjang sehingga seolah bias melukai bibirnya. Ia mempunyai rambut yang panjang di bawah kedua telinganya. Lehernya panjang, berbahu lebar, dan memiliki jari-jari yang kasar.

Dan Ya’qub bin Utbah juga menggambarkannya dan berkata, “Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang tinggi, berwajah tampan, dan berkulit tipis. Punggungnya agak membungkuk (karena tingginya), putih kemerah-merahan, ia tidak mengubah jenggotnya autaupun rambut di kepalanya.

Ketika usianya semakin bertambah, ia mulai di tumbuhi uban. Ia tidak merubah rambut tersebut dan membiarkannya sebagai bukti dari perjalanan hidup yang mengambil dan juga memberi kepada manusia. Ubannya menambah kewibawaannya, dan untuk mengingatkan bahwa ia telah dekat dengan akhir perjalanannya di dunia. Agar ia mulai bersiap menjejakkan langkahnya yang pertama dalam perjalanan hidup yang abadi dan kenikmatan yang tak pernah habis.

Berbagai peperangan yang diikutinya dalam islam juga telah merenggut sebagian dari ketampanannya, namun itu semua justru semakin menambah kewibawaan dan keagungannya. Karena itu semua adalah lencana dari keabadian, dan keagungannya. Karena itu semua adalah lencana dari keabadian, dan tanda kebanggan atas kepahlawanannya, juga bukti dari perjalanan jihadnya, dan cobaan yang pernah dihadapi nya. Semua itu seolah bersinar di mata orang yang memandangnya, dan mereka akan mengetahui bahwasanya ia mendapatkan semua itu dalam medan jihad dalam rangka mempertahankan akidah kebenaran.

Diriwayatkan oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakka’I dari Muhammad bin Ishaq, “Bahwasanya Abdurrahman bin Auf memiliki dua gigi seri yang patah, dan sedikit cacat yang membuatnya kesulitan. Pada perang Uhud ia terkena pukulan yang mematahkan giginya, dan mendapat sebanyak dua puluh luka atau lebih. Sebagian luka tersebut mengenai kakinya hingga ia pincang.”

Abdurrahman mempunyai kekayaan yang sangat berlimpah. Maka ia membiasakan dirinya untuk membelanjakan harta tersebut pada jalan kebenaran, ia menginfakkannya siang dan malam, secara sembunyi dan terang-terangan. Ia pun tidak melupakan bagian untuk dirinya dari harta tersebut. Ia mengambil apa yang telah disyariatkan Allah dalam firman-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba Nya dan rezeki yang baik-baik?” Katakanlah, “semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.”110dan juga apa yang telah dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru yang berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin melihat jejak nikmat yang ia berikan kepada hamba-Nya.”

Sa’ad bin Ibrahim berkata, “Abdurrahman bin Auf biasa memakai pakaian yang seharga lima ratus atau empat ratus.”

Dan ia juga biasa memakai selendang hitam yang menambah ketampanan dan keanggunannya. Dan yang menambah kebahagiaan dan sukacita yang dirasakannya adalah bahwa selendang tersebut dipakaikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya, dan diingkarkan oleh beliau di kepalanya dengan tangan beliau yang mulia!

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Amru, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakaikan Abdurrahman sebuah selendang hitam dan berkata, “Pakailah selendangmu seperti ini.”

Suatu saat Abdurrahman menderita penyakit gatal di tubuhnya, maka ia minta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memakai sutera, dan beliau mengizinkannya. Dalam Ash-Shahihain dan kita-kitab lainnya, dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai sutra karena penyakit gatal yang mereka derita.”

3. Masa Kecilnya dan Masuk Islam

Abdurrahman dilahirkan di Bani Zuhra dan tumbuh di bawah pengawasan kedua orang tuanya. Ia tumbuh dilingkungan Mekah dan terdidik sebagaimana remaja dan pemuda Quraisy lainnya. Mereka menyaksikan berhala-berhala dan penyembahan manusia kepadanya, walaupun semua itu justru merendahkan martabat dan kehormatan manusia karena sujud kepada berhala yang terbuat dari batu, tanah atau bahkan kurma. Juga kebiasaan jahiliyah lainnya seperti mengundi nasib dengan burung, dengan menggunakan anak panah, dan meminta nasehat kepada berhala-berhala tersebut dalam pernikahan, bepergian, peperangan, perniagaan, dan hal-hal lainnya. Dan juga merendahkan hak wanita dengan meniadakan harga dirinya, serta mewariskannya seperti barang warisan lainnya, atau menguburkannya hidup-hidup. Dan kemudian perbuatan-perbuatan yang jauh dari akhlak terpuji seperti kebiasaan minum khamar, melakukan zina, bertransaksi dengan system riba, memakan orang lain dengan bathil, dengan kezhaliman yang merajalela, pertumpahan darah, kebiasaan balas dendam, dan berbagai keburukan jahiliyah lainnya.

Itu semua bercampur aduk dengan beberapa akhlak mulia dan kebiasaan terpuji yang menjadi kebanggan orang arab dan mereka dikenal dengan berbagai kemualian tersebut. Lalu Islam datang untuk menetapkan hal-hal terpuji tersebut setelah meluruskannya serta mengarahkan nya kepada bingkainya yang benar. Di antaranya adalah cinta kebebasan benci kepada kezhaliman, penolakan terhadap kehinaan, keberanian yang luar biasa, kedermawaan yang tinggi, harga diri dan kesediaan untuk menolong yang tertindas, menepati janji, memberi maaf pada saat mampu, melindungi orang yang meminta perlindungan, membela tetangga, mempertahankan harga diri, sikap qana’ah, ridhan terhadap yang sedikit, harga diri yang tinggi, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, kegigihan dalam menjaga kehormatan yang terkadang berlebihan hingga sampai pada tahap mengubur anak perempuan hidup-hidup, dan tidak menerima siapapun yang menghina kehormatan dirinya atau kehormatan kabilahnya, dan berbagai akhlak mulia lainnya yang tercampur aduk dengan berbagai keburukan jahiliyah dalam sebuah rajutan yang tak seirama, namun sangat sulit untuk dibedakan dan dipisahkan, untuk dibimbing kepada jalan yang benar yang tidak dinodai oleh kebathilan, atau keindahan yang tidak ternodai oleh keburukan. Semua itu sangat mustahil untuk dilakukan kecuali dengan izin dari Tuhan langit dan bumi yang menyiapkan untuk umat ini dan untuk seluruh manusia seorang manusia yang sempruna, ayang akan menjadi pemimpin bagi seluruh alam, yaitu Muahmmad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah telah memilihnya untuk menjadi Rasul bagi umat tersebut dan menjadi penunjuk jalan bagi mereka. Beliaulah yang bertugas memisahkan mereka dari keburukan mereka dan menanamkan kembali kebaikan yang mereka miliki dengan mendidik dan mengarahkannya serta meninggikannya dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dan dengan sunnah yang menjadi pegangan bagi manusia sehingga mereka bias menggapai derajat malaikat. Baik dalam sisi akidah, akhlak, maupun pergaulan mereka, hingga akhirnya beliau mampu membentuk mereka menjadi sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.

Dilingungan itulah Ibnu Aur lahir, tumbuh, dan beranjak dewasa. Dengan akalnya yang cerdas ia menyaksikan seluruh kebiasaan kaumnya mulai dari akidah, perilaku dan ritual-ritual keagamaan. Dengan kecerdasan itu pula ia merenungkan berbagai kebobrokan yang hanya menjerumuskan manusia ke tempat yang paling rendah. Bersama yang lainnya, ia menunggu seorang penyelamat yang akan menjadi pembimbing dan penunjuk bagi mereka.

Pada tahun keempat puluh setelah peristiwa serangan tentara gajah, Mekah di guncang oleh sebua berita yang luar biasa. Berita tersebut menjadi pembicaraan tokoh-tokoh dan pemuka masyarakat, lalu terus menyebar diantara masyarakat umum dan sedikit demi sedikit mulai berhembus keluar kota Mekah. Sebuah berita yang menyatakan bahwa Nabi umat ini telah memproklamirkan namanya, suaranya telah menggema, dan dakwahnya telah muncul di langit Mekah. Nabi itu telah mengajak pelayan Ka’bah dan pemimpin Quraisy untuk mengikuti dakwahnya, dan meraih kehormatan untuk turut mengemban dakwahnya, sehingga bias mempimpin dunia menuju kebaikan, hidayah dan kebenaran. Juga membawa kebaikan bagi negeri dan seluruh manusia, serta kebaikan dunia dan akhirat. Dialah Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ketika berita yang mengguncang akidah orang-orang Mekah tersebut muncul, dan menggoyangkan pondasi kekuasaan para penguasa Quraisy serta menggetarkan nyali mereka, saat itu Abdurrahman telah berusia tiga puluh tahun. Sebuah usia dimana kedewasaannya telah sempurna, dan akal serta keinginan hatinya telah tumbuh dengan sempurna pula. Ia telah memiliki pengetahuan yang cukup, pengalaman dan pemikiran yang memungkinkannya untuk menimbang-nimbang masalah tersebut dengan tenang. Juga memperhatikan berbagai pendapat serta bertukar pikiran dengan orang-orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman ataupun lebih memiliki pengetahuannya darinya, untuk sampai kepada sebuah kesimpulan yang tepat dalam perkara yang sangat penting tersebut.

Dan begitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumumkan dakwahnya, maka keluarganya segera beriman kepada beliau, dan juga Ash-Shiddiq Abu Bakar yang tidak memerlukan waktu untuk berfikir dan mengambil keputusan. Ia juga tidak ragu sedikitpun untuk mengikuti beliau, karena bukti kebenaran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam begitu banyak ditangannya, dan tersimpan jauh di dalam jiwanya, membaur dalam perasaan, dan memenuhi hatinya, jiwanya, fikirannya, dan seluruh perasaannya.

Abu Bakar tak ragu memperlihatkan keislamannya, dan bangkit membawa bendera dakwah dalam naungan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia menyisingkan lengan bajunya untuk menyampaikan risalah tersebut. Maka ia pun mengajak orang-orang yang akan menjadi kelompok pertama masuk Islam. Orang-orang yang ia percaya akan menyambut dakwahnya karena ia telah mengetahui kesiapan mereka dalam menerima hidayah. Dalam hal ini Abu Bakar memiliki modal untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang dengan kecerdasan akal nya, kebersihan latar belakangnya, dan pengetahuannya yang luas. Abu Bakar, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Ishaq adalah seorang yang akrab di kalangan masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Paling mengenal nasab mereka, memiliki akhlak dan kelebihan di kaumnya dan di negerinya. Orang-orang dari kaumnya sering mendatanginya dan menarik simpatinya, serta meminta pendapat untuk masalah yang berbeda-beda. Mereka menghormatinya karena ilmunya, perniagaannya, ataupun juga karena keramahannya dalam bergaul. Maka ia pun mengajak mereka ya ia percaya dari kaumnya kepada Islam. Ia memilih mereka dari berbagai keluarga yang berbeda. Dan mereka pun menyambut dakwahnya tanpa ragu, sehingga masuk Islam lah di tangannya lima orang permuda dari keluarga terkemuka di Quraisy. Merekalah yang menjadi pondasi dakwah dan tiang awal dari penyampaian risalah. Dan Abdurrahman adalah satu dari mereka.

Ibnu Ishaq dan yang lainnya menceritakan, “Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk Islam, ia menunjukkan keislamannya. Lalu ia menyeru mereka yang ia percaya dari kaumnya dan yang sering bergaul dengannya kepada Allah dan Islam, sehingga masuk Islamlah di tangannya : Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Lalu mereka semua mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar. Beliau menawarkan tentang kebenaran Islam, maka mereka pun membenarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beriman kepada apa yangd dibawa beli dari Allah.

Lima orang toko pahlawan tersebut merupakan buah pertama dari dakwah Abu Bakar. Ia mengajak mereka kepada Islam dan mereka pun menyambutnya. Ia membawa mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga mereka menyatakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga mereka menyatakan Islam langsung di hadapan beliau, merekalah pondasi awal yang menopang bangunan islam dan mengembang dakwanya yang baru tumbuh. Merkea jugalah yang pertama kali menyokong Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah menguatkan beliau dengan keberadaan mereka dan mengokohkannya, dansetelah mereka, orang-orang mulai berdatangan untuk masuk agama Allah hingga akhirnya Islam menjadi dikenal di Mekah, dan menjadi bahan pembicaraan baik secara rahasia maupun dengan terang-terangan.

Abdurrahman dan saudara-saudaranya tersebut adalah yang paling pertama masuk Islam, dan bergabung dengan kafilah dakwah pada hari-hari pertamanya, dan sebelum masuknya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ke rumah Al-Arqam.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Ruman berkata, “Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abu Al-Asad, dan Abu Ubaidah bin Jarrah berangkat menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau menawarkan Islam kepada mereka dan memberitahu mereka tentang syariat-syariatnya. Saat itu juga mereka semua menyatakan masuk Islam, dan itu terjadi sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk rumah Al-Arqam dan berdakwah di sana.”

Orang yang mempeehatikan dengan baik daftar nama kelompok yang pertama kali masuk Islam ini, yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan tanpa kesulitan ia akan menemukan dengan jelas bahwa tidak semua dari mereka, dan bahkan tidak banyak dari mereka yang berasal dari kaum lemah, kaum fakir dan papa, maupun dari keluarga-keluarga yang terpinggirkan di Mekah sebagaimana banyak diceritakan oleh para penulis dan peneliti yang hanya menuruti hawa nafsu mereka. Justru kebanyakan dari kelompok pertama ini merupakan pemuda-pemuda yang terkemuka di Quraisy, yang berasal dari keluarga dan kabilah terhormat dan terkemuka di Mekah.

Banyak dari mereka yang berasal dari Bani Abdu Manafa, Bani Umayyah, Bani Taim, Bani Zuhrah, Bani Fihr, Bani Asad, Bani Adi, Bani Makhzum, dan yang lainnya.

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang yang pertama kali menyambut seruaan dakwah dan beriman kepada dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengikuti agama beliau serta membenarkan risalahnya berasal dari pada budak, kaum lemah dan yang terpinggirkan, adalah pendapat yang keliru. Hal ini tidak dapat dipegang sepenuhnya hanya demi menonjolkan kepedulian Islam terhadap kaum lemah, dan pembebasan budak dari perbudakannya, serta membebaskan kaum fakir miskin dari penjajahan social! Namun dengan tidak mengurangi keyakinan kita bahwa Islam yang dipilih Allah sebagai penutup seluruh risalah langit sebelumnya, dating dengan prinsip-prinsip dan syariatnya untuk mengimplementasikan keadilan social, menolong mereka yang terzhalimi, membebaskan kemanusiaan, serta mempersembahkan kehidupan yang terhormat bagi seluruh manusia di bumi Allah. Selain itu juga untuk meletakkan semuanya di dalam satu timbangan, yaitu ketakwaan. Dengan dasar itulah manusia dapat dibedakan.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.