Categories
Abu Ubaidah

Biografi Sahabat Nabi, Abu Ubaidah : Hari-Hari Terakhir Dan Kepulangan nya Menuju Keabadian (Seri 16)

G. Hari-Hari Terakhir Dan Kepulangan nya Menuju Keabadian

1. Bertahan bersama pasukannya menghadapi wabah tha’un dan seruannya kepada mereka untuk tetap sabar dan beriman

Amirul mukminin umar ingin menarik abu ubaidah dan membawanya kembali bersamanya di madinah karena ia membutuhkan tenaganya dalam mengatur urusan negara dan memimpin penaklukan-penaklukan lainnya serta menyebarkan islam. Namun abu ubaidah memilih untuk bersabar bersama pasukannya dalam menghadapi ujian, agar ia menjadi pemimpin sekaligus teladan yang baik bagi mereka dalam susah maupun senang, dalam kelapangan dan kesulitan, dan dalam menghadapi pertempuran ataupun cobaan yang lainnya. Ia mengharapkan syahid yang jika tidak mendatangi melalui dentingan pedang maka ia mengharapkan takdir akan membawakannya melalui wabah penyakit yang korbannya pun terhitung sebagai syahid. Maka ia memohon maaf kepada amirul mukminin dan memintanya untuk membebaskannya dari perintahnya untuk mendatanginya. Ia menulis surat kepadanya, “saat ini aku berada ditengah pasukan kaum muslimin dan aku tidak akan mementingkan diriku dari mereka. Sesungguhnya aku telah memahami kebutuhan yang engkau maksud dari permintaanmu, dan bahwa engkau ingin mempertahankan seorang yang tidak akan kekal. Maka jika suratku ini sampai ke tanganmu maka bebaskanlah aku dari perintahmu dan izinkanlah aku untuk tetap menetap disini.”

Lalu abu ubaidah berdiri dihadapan pasukannya dan memotivasi mereka untuk tetap bersabar dalam menghadapi wabah tersebut. Ia menghibur mereka atas musibah yang menimpa mereka, dan member mereka kabar gembira bagi mereka yang menjadi korban karena wabah penyakit tersebut.

Dari syahar bin hausyah al-asy’ari, dari ayah tirinya –seorang laki-laki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya ikut dalam pasukan yang menghadapi tha’un amawas- ia berkata, “ketika wabah penyakit sedang mengganas, abu ubaidah berdiri di depan pasukan dan berkhutbah, ia berkata, “wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini adalah rahmat bagi kalian, dan merupakan doa dari nabi kalian, serta kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Sesungguhnya abu ubaidah memohin kepada allah untuk memberinya sedikit dari bagiannya.” Ia berkata, “dan ia pun terkena penyakit tersebut dan wafat, semoga allah merahmatinya.”

2. Ditimpa penyakit tha’un dan dirawat oleh istrinya

Penyakit tha’un terus menyebar di pasukan kaum muslimin, virus nya menjangkiti mereka, dan merenggut banyak korban dari mereka. Ajal pun semakin dekat kepada penakluk besar negeri Syam Abu Ubaidah. Wabah tersebut mulai menyerangnya, dan memasuki tubuhnya melalui telapak tangannya. Wabah tersebut terus menyebar, dan tidak ada cara untuk menghindarinya!

Diriwayatkan dari Syahar bin Hausyab ia berkata, Abdurrahman bin Ghanim menceritakan kepadaku dari Al-Harits bin Amirah, “Bahwasanya Mu’adz bin Jabal memegang tangannya dan mengirimnya kepada Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menanyakan kabarnya, dan saat itu mereka berdua telah menderita penyakit tersebut. Lalu Abu Ubaidah memperlihatkan kepadanya luka yang telah menyerang telap tangannya. Keadaan tersebut sangat berat bagi Al-Harits dan merasa prihatin atas apa yang dilihatnya. Namun Abu Ubaidah bersumpah bahwa keadaan tersebut lebih ia sukai daripada unta merah!”

Dalam sakit yang merenggut nyawanya tersebut ia berdiam di tempat istrinya beberapa lama, sambil menunggu kepergiannya menuju keabadian, dan bertemu dengan orang-orang yang dicintainya, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya yang telah mendahuluinya menuju kemuliaan. Abu Ubaidah melihat kembali kehidupan yang telah dilaluinya dengan berbagai amal yang agung, dan kehidupan yang telah dilaluinya dengan berbagai amal yang agung, dan berharap Allah akan menerima amal-amal tersebut. Ia khawatir kalau-kalau amal tersebut dicemari oleh penyakit riya’ yang akan mengurangi pahalanya dan bahkan menghilangkannya. Ia juga memeriksa dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Hatinya bergetar takut membayangkan hari perhitungan dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepadanya kelak. Namun ia kembali merasa tenang karena yakin bahwa cobaan yang menimpanya saat itu akan menghapus dosa-dosanya dan menjadi pengampunan baginya!

Diriwayatkan  oleh Al-Walid bin Abdurrahman, dari Iyadh bin Ghuthaif ia berkata, “Kami mendatangi Abu Ubaidah bin Al-Jarrah pada sakitnya, istrinya Tuhaifah sedang duduk di dekat kepalanya, sementara wajahnya melihat ke arah dinding. Aku berkata, “Bagaimanakah Abu Ubaidah menghabiskan malamnya dengan pahala.” Maka Abu Ubaidah berkata, “Demi Allah, sungguh aku tidak menghabiskan malamku dengan pahala.” Dan ia merasa bahwa perkataannya tidak mengenakkan bagi tamu-tamu nya, maka ia berkata, “Tidakkah kalian bertanya tentang ucapanku?” mereka berkata, “Kami tidak merasa kaget dengan ucapanmu, kenapa kami harus bertanya?!” ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “siapa yang meninfakkan hartanya di jalan Allah, maka dibalas dengan tujuh ratus kali lipat, dan barang siapa yang menginfakkan hartanya untuk keluarganya, atau mengunjungi orang yang sakit atau memilih untuk menanggung penyakit, maka satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Puasa adalah tameng selama ia tidak merusaknya. Dan siapa diuji Allah dengan sebuah cobaan di tubuhnya, maka itu terjadi penghapus atas dosa-dosanya.”

Demi Allah, wahai Abu Ubaidah! Setelah catatan yang penuh dengan pekerjaan yang mulia tersebut, bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lebih dari dua puluh tahun, kemudian diikuti dengan tujuh tahun yang diisi dengan jihad yang tak pernah putus dan berbagai penaklukan yang terus menerus, dan juga jaminan surge untuknya, dan kesaksian Rasulullah bahwa ia adalah orang yang paling percaya dari umat ini, setelah akan mengampuni apa yang tidak diketahuinya dan juga tidak diketahu oleh orang lain. Dan ia masih berharap Allah menjadikan penyakit tha’un tersebut sebagai syahid baginya dan pengampunan atas dosa-dosanya!

Inilah jiwa seorang mukmin. Jiwa yang takwa dan suci, yang tunduk dan merendahkan hatinya. Yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, serta menghoarmati Allah dengan semestinya. Adapun orang-orang yang telah tertipu dan tidak mengenal Allah kecuali amat sedikit, dan tidak menyadari berapa banyak keikhlasan mereka dalam hal yang sedikit tersebut, lalu berani menguntai banyak harapan bahwa mereka akan di panggil melalui pintu surge yang delapan; sesungguhnya mereka berada dalam bahaya yang amat besar. Adapun Abu Ubaidah dan saudara-saudaranya yang terdidik dalam madrasah kenabian, maka mereka mempunyai kedudukan yang berbeda, dan kisah yang menakjubkan.

3. Wasiatnya kepada pasukannya pada saat terakhir dan penangkatannya terhadap Mu’adz sebagai penggantinya

Abu Ubaidah merasa bahwa ajalnya sudah dekat, maka di saat-saat terakhir yang mengharukan tersebut ia kembali menorehkan kiprah yang mulia yang menghiasi perjalanan hidupnya yang penuh dengan nasihat dan jiwanya yang tinggi dan penuh ketakwaan serta akhlaknya yang mulia. Dan ia juga menambahkan bukti lain akan kepeduliannya terhadap kaum muslimin, dan kesibukannya dalam memikirkan yang terakhir dari catatan kehidupannya yang penuh dengan kemuliaan dan peran yang takkan terlupakan. Sehingga judul dari buku kehidupannya akan senada dengan pembukaannya, dan seirama dengan kisah akhir yang menjadi penutupnya. Ia memberikan wasiat kepada seluruh mujahidin dan mengingatkan mereka akan hal-hal yang akan menjadi penyebab utama bagi kemenangan mereka, dan juga mengingatkan mereka akan hakekat tertinggi yang mereka dambakan dan merupakan alas an utama dari perjalanan jihad mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Sa’id bin Abu Sa’id Al-Maqburi ia berkata, “Ketika Abu Ubaidah terjangkit wabah penyakit di Yordania, dan disanalah ia dikuburkan, ia memanggil seluruh kaum muslimin yang ada bersama nya dan berkata, “Sesungguhnya aku akan menyampaikan wasiat kepada kalian semua, dan jika kalian menerimanya niscaya kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan : Dirikanlah Shalat, bayarkanlah zakat, dan berpuasalah pada bulan Ramadhan. Bersedekahlah dan nasihatilah pemimpin kalian, dan janganlah mencurangi mereka. Jangan sampai dunia menghancurkan kalian. Sesungguhnya walaupun ada seseorang yang hidup hingga seribu tahun, ia pasti akan sampai pada keadaan seperti keadaanku saat ini sebagaimana yang kalian lihat sendiri. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian bagi anak cucu Adam, maka mereka semua akan mati. Orang yang terbaik dari mereka adalah yang paling taat kepada Tuhannya, dan yang paling banyak bekerja mempersiapkan hari dimana ia kembali pada Tuhannya. Wassalamu Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Wahai Mu’ad bin jabal, shalatlah bersama mereka.” Dan Kemudian ia pun meninggal.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.