Categories
Abu Ubaidah

Biografi Sahabat Nabi, Abu Ubaidah : Hari-Hari Terakhir Dan Kepulangan nya Menuju Keabadian (Seri 17)

G. Hari-Hari Terakhir Dan Kepulangan nya Menuju Keabadian

4. Kepergiannya ke Baitul Maqdis untuk shalat di sana, Ajalnya dalam perjalanan, serta wasiatnya kepada Amirul Mukminin dan semua orang tentang pemakamannya.

Jiwa sang shahabat penakluk besar terus terika kepada tempat Isra’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang juga merupakan kiblat pertama. Di mana ia dan juga Umar diberikan kehormatan oleh Allah untuk membebaskan masjid tersebut dari cengkeraman orang musyrik. Maka langkah-langkah terakhir yang diayunkannya di negeri Syam adalah perjalanannya ke sana, untuk melaksanakan shalat dan mendapatkan pahala yang besar. Namum ajal mendahuluinya saat ia berada dalam perjalanan.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Urwah bin Ruwaim, ia berkata, “Abu Ubaidah berangkat untuk melaksanakan shalat di Baitul Maqdis, namun ajal mejemputnya saat tiba di Fihl, dan ia pun meninggal di sana.”

Mari kita mendengarkan riwayat lainnya untuk mengetahui wasiat-wasiat yang disampaikannya :

“ia berwasiat, “Sampaikanlah salamku kepada Amirul Mukminin. Sampaikanlah kepadanya bahwa tidak ada lagi amanat yang diembankan kepadaku melainkan telah kutunaikan semuanya. Kecuali perkara seorang wanita yang menikah sementara masa iddahnya masih tersisa dan aku belum sempat memutuskan perkara tersebut dengan bijaksana.”

Betul wahai pemegang amanat, tidak keraguan bahwa telah engkau tunaikan amanatmu dengan sebaik-baiknya. Namun tersisa perkara yang belum sempat diputuskan ini. Ini bukanlah karena kesengajaannya dalam menyia-nyiakan amanah, atau menunda-nunda kewajiban, ataupun meremehkan sebagian tanggung jawabnya. Sungguh seluruh tenaga dan perhatiannya tercurahkan sepenuhnya dalam pekerjaannya yang ingin ia selesaikan secepatnya dan dengan cara yang sebaik-baiknya. Namun ajal mendahuluinya sehingga perkara tersebut tetap tersisa menggelantung di lehernya. Maka ia pun memberitahukan hal tersebut kepada Amirul Mukminin yang merupakan panglima tertinggi dari seluruh panglima perang dan pemimpin bagi seluruh kaum muslimin secara umum. Dengan demikian ia memberikan tanggung jawab tersebut kepada Umar dan agar ia menyelesaikannya untuknya. Dan dengan pengumuman ini ia ingin agar amirul mukminin dan seluruh kaum muslimin mengetahui bahwa Abu Ubaidah (yang terpercaya) telah menunaikan amanahnya, dan bahwasanya ia benar-benar layak mendapat gelar (Orang yang sangat terpercaya) langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Salla.

Alangkah indah permulaan sang panglima yang terpercaya saat ia menjadi salah seorang yang pertama masuk Islam, dan alangkah indah akhir perjalanannya ketika ia menutupnya dengan sikap tersebut. Allah Ta’ala menutup perjalanannya dengan kemuliaan tersebut. Ia wafat karena penyakit tha’un sebagai syahid saat hendak melaksanakan shalat, dan berusaha untuk mendapatkan pahala dalam sebuah perjalanan panjang menuju Baitul Maqdis. Setiap langkah kakinya akan tercatat sebagai amal kebaikan baginya, dan meninggikan derajatnya disurga! Sungguh permulaan yang indah dalam hidup Abu Ubaidah juga ditutup dengan sebuah akhir yang indah dalam sebuah narasi yang mengagumkan.

Amanat kedua yang ia sampaikan kepada Amirul Mukminin adalah, ia berakat, “Ia (Umar) pernah mengirimkan seratus dinar kepadaku, maka kembalikanlah itu kepadanya”. Orang –orang berkata, “Sesungguhnya kaummu berada dalam kemiskinan dan membutuhkannya.” Maka Abu Ubaidah berkata, “Kembalikanlah kepadanya.”

Apakah yang saat ini kit abaca, kita dengar, dan kita saksikan?! Apakah para shahabat tersebut manusia? Iya, namun tidak diragukan lagi bahwa mereka istimewa. Mereka terdidik dalam cahaya ketuhanan saat mereka terdidik dalam naungan kenabian. Sehingga mereka menjadi sosok-sosok yang tegas dalam menegakkan kebenaran, dan mampu mengemban risalah Rasul teragung. Sebab, seorang Rasul agung Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak selayaknya didampingi dan risalahnya diemban dan dilanjutkan setelahnya kecuali oleh sosok-sosok seperti para shahabat besar tersebut. Atau orang yang mampu mengikuti jejak mereka atau mendekati kehebatan kontribusi mereka.

Seratus dinar dikembalikan oleh panglima penakluk negeri Syam ke kas kaum muslimin! Bagaimana tidak, bukankah Umar telah mengirim untuknya agar digunakannya untuk keperluan hidupnya. Namun saat ini ajal telah menjemputnya, maka tidak adalagi haknya pada harga tersebut! Ini adalah amanah dalam bentuknya yang tertinggi.

Abu Ubaidah adalah penakluk Syam. Orang yang mempunya hak dari baitul mal, dan juga mempunyai bagian yang sangat banyak dari hasil rampasan perang yang diperolehnya. Dan penduduk negeri Syam mengakan kepadanya, “Sesungguhnya kaummu berada dalam kemiskinan membutuhkannya!” dimanakah harta-harta bagian-bagianmu dari rampasan perang wahai orang yang terpercaya? Ia telah menginfakkan nya di jalan Allah, dan kemudian ia hidup bersama keluarganya dalam keadaan yang sebagaimana keadaan yang dijalani oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia hidup dalam keadaan demikian dengan khalifah kaum muslimin Umar sementara emas mengalir deras di depan pintu pemerintahannya. Maka bagaimana mungkin sang pemegang amanah tidak mengikut jalan mereka?! Semoga Allah merahmati jiwa-jiwa yang mulia ini yang memiliki tekad yang begitu tinggi.

Wasiatnya yang ketiga memberi nuansa lain dari sifat amanahnya. Amanahnya dalam agamanya, prinsip-prinsipnya, dan dalam mengikuti sunnah Nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berkata, “Kuburkanlah aku di sisi Barat sungai Yordania yang mengarah ke tanah suci.” Namun kemudian ia berkata, “Kuburkanlah aku di tempat aku wafat, aku khawatir itu lebih dekat dengan sunnah.”

Abu Ubaidah dalam perjalanan untuk shalat di Masjid Al-Aqsha, dan ajal menjemputnya sebelum sampai di sana. Maka ia ingin agar makamnya deket dengannya. Karena itulah ia berwasiat agari dipindahkan ke tempat yang lebih dekat, dan agar tempat peristirahatan terakhirnya adalah sisi barat sungai Yordania. Namun ia membatalkan permintaan tersebut karena khawatir kalau permintaan tersebut menyalahi sunnah, dan kemudian orang-orang mengikut hal tersebut. Karena itu lah berwasiat kepada para shahabatnya, “Kuburkanlah aku di tempat aku wafat.”

Dengan semangat tinggi dan konsistensi yang sempurna inilah Abu Ubaidah menjaga penghormatan tertinggi yang disematkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya ketika beliau berkata, “orang yang paling terpercaya dari kalian wahai umatku adalah Abu Ubaidah.” Maka ia pun memperlihatkan makna tertinggi dari sebuah amanah selama perjalanan hidupnya, mulai dari permulaan hidupnya hingga akhirnya. Permulaan dimana ia mendahului orang lain dalam masuk Islam. Dan dengan itu ia adalah orang yang memegang amanah bagi dirinya, akalnya, jiwanya, dan juga raganya. Ia meletakkan semuanya pada tempat yang diridhai oleh penciptanya. Sedangkan akhir dari catatan hidupnya tercermin dari beberapa kalimat dan wasiatnya yang mulia. Dan antara permulaan dan akhir tersebut terbentang begitu banyak kiprah dan kontribusi besar yang memperlihatkan makna hakiki dan tertinggi dari sebuah amanah dalam dirinya.

5. Tempat pemakamannya dan orang yang menguburkannya

Abu Ubaidah wafat di Fihl sisi Timur sungai Yordania dekat dari Baisan yang terletak di sisi Barat dan ia pun dimakamkan di sana di sisi Timur di dataran rendah Yordania, pada jalan umum yang memotong dataran rendah dari Utara ke Selatan, dengan jarak sekitar 40 Km dari kota As-Salth di Yordania.

Dan mereka yang melewati dataran tersebut hari ini akan menemukan banyak rambu dan tanda-tanda yang menunjukkan makam-makam dari beberapa toko shahabat seperti Abu Ubaidah, Syurahbil, Muadz bin Jabal dan putranya Abdurrahman.

Disanalah, dibawah tanah dataran rendah Yordania jasad Shahabat mulai itu bersemayam, seorang pahlawan mujahid, penakluk besar, yang terpancar darinya sinar keimanan, keihkhlasan, wara’, ketakwaan, dan amanah. Ia diliputi oleh ketenangan dan sikap tawadhu’, seperti tawadhu’nya sebuah datara rendah dari permukaan laut yang lebih tinggi. Namum ia bersauaha menggapai langit yang mengukir namanya di permukaannya dengan kisah kepahlawanan yang mengangumkan dan cerita tentang jihad serta berbagai penaklukan yang menghancurkan gelapnya kemusyrikan dan menyapu kebathilannya. Dan kemudia menggantinya dengan cahaya kebenaran Islam di tangan sosok-sosok yang terbaring di sana.

Maka jika anda melewati dataran rendah Yordania, maka berhentilah sejenak dan arahkan wajahmu ke makam sang pemegang amanah umat, dan ingatlah dengan cepet kilas balik dari penaklukan penuh berkah yang mengeluarkan ngeri tersebut dan juga penduduknya dari kemusyrikan kepada tauhid, dan dari kegelapan menuju keadilan, serta dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat. Tegaklah dengan penuh pengharaan dan penghormatan, serta berikanlah salam kepada Abu Ubaidah dan saudara-saudaranya, sebuah salam yang paling indah!

Jangan pernah engkau merasa ragu bahwa toko yang terbaring di sana benar-benar layak mendapatkan pujian, penghormatan dan penghargaan tersebut. Bahkan ia lebih layak dari sekedar yang terlintas dalam fikiran, atau yang terbetik di hati, maupun yang digoreskan oleh pena. Dan jika engkau tak mampu memberikan pujian yang layak, maka bacakanlah kembali ungkapan shahabat mulai yang menangani pemakamannya, lalu berdiri di atas makamnya dan mengungkapkan pujian yang begitu jujur setelah hidup bersamanya selama tahun-tahun yang panjang sejak bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berbagai penaklukan. Bacakanlah pujian Mu’adz bin Jabal kepadanya saat ia berkata.

“Wahai Abu Ubaidah, aku akan memberikan pujian kepadamu dan aku tidak akan mengatakan suatu kebathilan karena aku takut akan mendapat kemurkaan Allah karenanya. Demi Allah, engkau adalah seorang yang aku kenal sebagai sosok yang banyak mengingat Allah. Dan termasuk diantara mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan jika orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina) mereka mengucapkan “salam”. Dan termasuk mereka yang apabila menginfakkan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, namun diantara keduanya secara wajar. Dan demia Allah, sungguh engkau termasuk mereka yang senantiasa tunduk dan tawadhu, yang menyayangi anak-anak yatim dan orang miskin, serta membenci orang-orang yang berkhianat dan sombong.”

6. Tahun wafatnya dan usianya

Abu Ubaidah Radhiyallahu Anhu wafat karena tha’un di Amawas pada tahun 18 H, menurut perkataan orang-orang yang berasal dari kaum Abu Ubaidah. Dan inilah yang dipilih oleh mayoritas sejarawan. Dan sebagian menulisnya pada tahun 17H, namun itu adalah pendapat yang jarang.

Dan pada saat wafatnya ia berusia lima puluh delapan tahun. Dengan demikian berarti ia lahir 40 tahun sebelum hijriah. Dan pada awal masa kenabian ia berusia dua puluh tuju tahun. Jadi ia lebih muda tiga belas tahun dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.