Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Pembai’atan dan Sifat Mulia nya Ali (Seri 6)

E. PETUNJUK IMAM DALAM KEKHALIFAHANNYA, TERJANGAN FITNAH DAN KEBENARAN YANG TERUNGKAP

1. Pembai’atan Ali dan tata caranya
Bagi yang memperhatikan berbagai hadits shahih yang disebutkan di atas akan memahami tanpa menyisakan keraguan sedikitpun bahwa tidak ada wasiat yang disangkakan terhadap Ali dan tidak juga terhadap yang lainnya, bahwa para shahabat yang mulia telah berada di jalan yang benar dalam memilih para khalifah secara berurutan, bahwa Ali telah diposisikan pada kedudukan yang seharusnya sebagaimana diakui sendiri olehnya, bahwa memang tepat Ali menjadi khalifah yang keempat, tidak didahulukan dan tidak juga diakhirkan, bahwa setelah Utsman dibunuh, tidak ada dimuka bumu ini yang lebih pantas dari pada Ali untuk menjadi khalifah, maka kekhalifahan itu pun menemuinya sesuai takdirnya.

Dengan kepastiannya, Ali memang pantas untuk menjadi pemimpin umat Islam dan menjadi khalifah kaum muslimin.

Pada awalnya, saat diminta untuk menjadi khalifah, Ali merasa ragu untuk menerimanya. Mengingat baru terjadi peristiwa mengerikan yang dilakukan oleh para pemberontak yang membunuh khalifah Utsman dengan cara biadab dan semena-mena. Mereka kemudian menguasai keadaan di Madinah sementara tangan mereka belum lagi kering dari darah Khalifah yang syahid, Utsman bin Affan. Ali berfikir keras dan berusaha untuk menimbang-nimbang, sementara waktu terus berjalan dan terjadi kekosongan pada posisi khalifah yang dapat berakibat fatal bagi kelangsungan Islam, baik negara maupun masyarakatnya. Maka dia pun memutuskan untuk menerima kekhalifahan yang penuh dengan pertumpahan darah dan kejadian berat, tidak ada yang sanggup memikulnya kecuali orang yang seperti dirinya.

Baru saja Utsman terbunuh, semua orang termasuk para shahabat Nabi- mendesak Ali untuk menjadi khalifah. Mereka berkata, “Amirul mukminin Ali!” Bahkan mereka mendatangi rumahnya dan berkata padanya, “Kami akan membai’atmu, ulurkanlah tanganmu, engkau paling berhak atas kekhalifahan ini.” Ali lantas menjawab, “Bukan kalian yang memutuskan itu, akan tetapi mereka yang ikut serta dalam perang Badar lah yang memutuskan. Siapa yang mereka ridhai, dialah yang akan menjadi khalifah.”

Muhammad bin Al-Hanafiyah menceritakan, “Saat Utsman Radiyallahu ‘Anhu terbunuh, saya sedang bersama ayah saya (Ali). Dia lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah. Para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam datang menemuinya dan berkata, “Orang ini (Utsman) telah terbunh, kaum muslimin harus memiliki iman, saat ini kami tidak menemukan orang yang pantas menempati posisi itu selain engkau, yang paling dahulu masuk Islam dan paling dekat dengan Rasulullah.” Ali menjawab, “Jangan lakukan itu. Menjadi menteri lebih aku sukai dari pada menjadi khalifah.” Mereka berkata, “Tidak, Demi Allah, kami tidak akan membai’at orang lain selain engkau!” Ali pun berkata, “Kalau begitu lakukan di masjid. Pembai’atan terhadap diriku jangan dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan hendaknya atas kerelaan kaum muslimin.”

Ibnu Abbas menyatakan, “Waktu itu saya tidak ingin Ali pergi ke masjid, khawatir dia akan diserang. Namun dia bersikeras agar dilakukan di masjid. Maka ketika dia masuk masjid, para shahabat dari Muhajirin dan Anshar ikut masuk bersamanya, lalu merekamereka membai’atnya diikuti oleh semua orang.

Terjadilah pembai’atan Ali Radiyallahu ‘Anhu secara umum dari kaum Muhajirin dan Anshar serta seluruh yang hadir. Hal itu terjadi pada hari Sabtu tanggal 19 Zulhijjah tahun 35 Hafshah, satu hari setelah syahidnya Utsman.

Lalu Ali segera mengirim surat kepada seluruh wilayah memberitahukan tentang pembai’atan atas dirinya. Mereka pun tunduk pada Ali kecuali Muawiyah bin Abi Sufyan bersama penduduk Syam.

Kekhalifahan Ali sesuai dengan manhaj kenabian dan petunjuk risalah, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Safinah, pelayan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, bahwa beliau Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Kekhalifahan pada umatku berlangsung selama tiga puluh tahun, kemudian berganti menjadi sisitem kerajaan.” Safinah berkata, “Ketika kami hitung, jangka waktu itu mencakup masa kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.”

2. Kebijakan Ali dalam kekhalifahannya

  • Terkait para gubernur
    Ali memerintahkan para gubernurnya untuk berlaku baik terhadap rakyat. Di antara wasiat yang selalu diulangnya, “Dahulukan rakyat daripada diri kalian, bersabarlah atas tuntutan mereka.”Ali menulis surat kepada gubernurnya sebagai berikut: “Amma ba’du, janganlah kalian tinggikan tembok kalian sehingga menghalangi rakyat kalian, sesungguhnya gubernur yang membatasi dirinya dari rakyat menunjukkan kekerdilan diri dan kebodohan.”

    Jika mendengar adanya pengkhianatan dari salah seorang mereka, Ali akan mengirimnya surat berisi ungkapan, “Jika suratku ini sampai padamu, jagalah tanggungjawab yang ada padamu hingga kami mengutus orang yang akan menerimanya darimu.” Kemudian Ali mengangkat tangan ke atas seraya berdo’a, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa saya tidak mengangkat mereka sebagai pemimpin dengan niat menzhalimi makhluk-Mu dan tidak juga meninggalkan hak-Mu.”

    Ali melarang para gubenurnya membangun kedekatan dengan mereka yang berperangai buruk. Di antara wasiatnya kepada Muhammad bin Abu Bakar, “Jangan ikut sertakan dalam majlis permusyawaratanmu orang yang bakhil, karena dia akan memalingkanmu dari keutamaan dan menakuti-nakutimu dengan kemiskinan, jangan ikut sertakan juga orang penakut karena dia akan melemahkanmu dalam berbagai urusan, dan jangan ikut sertakan orang yang tamak karena kerusakannya akan menyebabkan kedzaliman.”

    Di samping itu Ali juga berupaya untuk memantau para gubernurnya dan mengikuti kabar mereka. Di antara yang menunjukkan hal itu adalah suratnya kepada Utsman bin Hunaif Al-Anshari, gubenurnya untuk Bashrah. Dia berkata, “Amma ba’du, wahai Ibnu Hunaif, sampai pada saya berita bahwa salah seorang pemuda dari penduduk Bashrah mengundangmu pada suatu jamuan, lalu engkau tergesa-gesa menghadirinya. Dihadirkanlah untukmu berbagai macam makanan. Saya tidak mengira bahwa engkau memenuhi undangan jamuan yang hanya mengundang kalangan kaya dan menghalangi fakir miskin! Maka perhatikanlah apa yang engkau gigit, jika ada yang ragukan muntahkanlah, jika engkau yakin akan kebaikannya, telanlah.”

  • Keadilannya
    Amirul mukminin sangat mengerti bahwa keadilan merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan merupakan tanggungjawab terbesar yang harus diembannya. Ali Radiyallahu ‘Anhu memutuskan perkara di antara manusia dengan adil. Semua orang mendapat hak yang sama, tidak ada keberpihakan terhadap yang kuat dan tidak ada hak orang lemah yang diabaikan.Ja’dah bin Hubairah datang padanya dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, jika datang padamu dua orang, salah satunya sangat mencintaimu sementara yang lain sangat memusuhimu, apakah engkau akan berpihak pada yang pertama dalam memutuskan perkara?” Ali lantas menepuk dada Ja’dah dan berkata, “Itu kalau aku melakukannya untuk diriku, akan tetapi aku hanya melakukan karena Allah!

    Dua orang perempuan datang kepadanya, seorang wanita Arab dan seorang wanita pelayan. Maka Ali memerintahkan untuk memberi masing-masing mereka sejumlah makanan dan uang sebanyak 40 dirham. Wanita pelayan itu lantas mengambil bagiannya dan pergi. Sementara si wanita Arab bertanya, “Wahai Amirul mukminin, engkau memberi hal yang sama dengan orang itu, padahal aku wanita Arab dan dia wanita pelayan!” Ali menjawab, “Saya melihat kitabullah, tidak saya dapati di dalamnya kelebihan keturunan Isma’il atas keturunan Ishaq Alaihissalam.

    Amir Asy-Sya’bi meriwayatkan, “Ali pergi ke pasar, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang Nasrani yang menjual baju besi. Ali lantas mengenali baju besi tersebut, maka dia berkata pada orang itu, “Ini adalah baju besi milikku. Urusan antara saya dan kamu akan diputuskan oleh hakim kaum muslimin.” Waktu hakim kaum muslimin di jabat oleh Syuraih. Keduanya lalu pergi ke pengadilan. Ali mengatakan di depan hakim, “Ini adalah baju besi saya yang hilang sejak lama.” Syuraih bertanya pada orang Nasrani itu, “Apa pendapatmu wahai orang Nasrani?” Orang Nasrani itu menjawab, “Saya tidak ingin mendustakan Amirul mukminin, tapi baju besi ini milikku.” Syuraih berkata, “Saya tidak punya alasan mengambil baju besi itu dari tangannya. Apakah ada bukti?” Ali berkata, “Syuraih benar, saya tidak punya bukti.” Tiba-tiba orang Nasrani itu berkata, “Adapun saya, sungguh menyaksikan bahwa ini adalah hukum para Nabi. Seorang Amirul mukminin datang menuntut kepada hakim bawahannya lalu si hakim mengalahkan tuntutannya. Baju besi itu, demi Allah, adalah milikmu wahai Amirul mukminin. Saya mengikutimu, lalu baju besi itu jatuh dari untamu Al-Awraq, saya pun mengambilnya. Maka saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” Ali berkata, “Jika engkau masuk Islam, maka baju besi itu menjadi milikmu.”

  • Kebijaksanaan soal harta
    Kebijakan Ali terkait harta umat Islam didasarkan pada sifat adilnya. Dia membagi-bagikan harta tersebut kepada semua orang dengan kedua belah tangannya hingga tidak tersisa sedikitpun.Diceritakan bahwa dalam satu tahun Ali telah membagikan harta sebanyak tiga kali. Lalu datang kepadanya harta dari Ashbahan, Ali pun berkata, “Pergilah bagikan untuk keempat kalinya. Saya bukan penyimpan harta kalian.” Maka dibagikan harta tersebut, hingga tali pun ikut dibagikan. Ada yang menerima dan ada juga yang menolak.

    Mujammi’ At-Taimi meriwayatkan, “Ali Radiyallahu ‘Anhu menyapu baitul mal dan shalat di dalamnya. Dia berharap baitul mal itu akan menjadi saksi pada hari kiamat nanti bahwa dia tidak menahan di sana harta milik kaum muslimin.

  • Hubungan dengan rakyat
    Tanggungjawab yang banyak tidak membuat Ali mengabaikan urusan rakyat dan menelantarkan mereka. Ali tetap memantau kondisi rakyatnya dan berupaya menyelesaikan persoalan mereka. Ali biasa berjalan di pasar sendirian untuk meluruskan orang yang bertindak salah, menolong kaum yang lemah, lewat di hadapan para penjual dan pedagang lalu membuka mushaf dan membaca ayat, “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash [28]: 83).Ali juga selalu melakukan amar makruf nahi munkar, mengecam tindakan penipuan. Abu Mathar menceritakan, “Saya keluar dari masjid, tiba-tiba seseorang memanggil dari belakang, “Angkat sarungmu, sesungguhnya perbuatan itu lebih bertakwa di sisi Tuhanmu, lebih bersih untuk pakaianmu. Dan potonglah sebagian rambutmu jika engkau seorang muslim.” Ternyata orang itu adalah Ali yang sedang membawa kantong susu. Ali lalu sampai ke tempat penjualan unta, dia pun berkata, “Berjual-belilah dan jangan bersumpah, sesungguhnya sumpah itu menghabiskan barang dagangan namun menghapus keberkahan.” Lalu dia lewat di depan para penjual kurma, maka dia berkata, “Beri makanlah orang miskin, penghasilan kalian akan bertambah.” Kemudian dia lewat di depan para penjual ikan, dan berkata, “Tidak dijual di pasar kita ini ikan yang telah mati mengambang di air.”

    Sebagaiman Ali kerap memberi pengarahan dalam urusan dunia mereka, Ali pun sering menganjurkan kepada mereka untuk cenderung pada kehidupan akhirat dan mengingatkan mereka akan bahayanya kehidupan dunia. Ali berkhutbahdi hadapan kaum muslimin:

    “Wahai hamba Allah sekalian. Janganlah kalian terperdaya oleh kehidupan dunia karena sesungguhnya dunia itu di kelilingi oleh bala bencana, dikenal tidak kekal, bersifat menipu, dan semua yang ada di atasnya akan musnah. Orang yang mencintai kehidupan dunia itu ibarat ember dan timba, tidak akan selamat dari keburukannya orang yang turun ke dalamnya. Ketika pecinta dunia meresa senang dan bahagia, ternyata mereka dalam bencana dan tipuan. Kehidupan di dalamnya tercela, kebahagiaan di sana tidak berlangsung lama. Pecinta justru menjadi target yang dilempari panahnya dan dipatahkan oleh kematiannya.”

3. Sifat wara’ Ali
Ali dikenal sangat wara’ dan bertakwa, baik ketika dia hanyalah seorang muslim biasa, maupun saat dia menjabat sebagai khalifah. Bahkan saat menjadi khalifah, Ali semakin wara’ dan zuhud.

Abu Mutharrif menceritakan, “Saya melihat Ali mengenakan sarung dan memakai pakaian sambil membawa kantong susu sehingga ia nampak seperti orang Arab badui. Dia berkeliling hingga sampai ke tempat penjualan baju katun. Seorang penjual berkata, “Wahai syaikh, belilah baju ini seharga tiga dirham.” Ketika Ali mengetahuinya, dia tidak membeli apa-apa dari orang itu. Lalu Ali mendatangi seorang anak muda dan membeli darinya sehelai baju seharga tiga dirham.”

Ali mengajak keluarganya untuk tidak tampil lebih dari rakyat pada umumnya. Ibnu Abi Rafi’, pegawai baitul mal pada masa Ali, menceritakan, “Suatu hari Ali masuk dan putrinya telah dirias. Ali lantas melihat pada anaknya perhiasan yang diketahuinya berasal dari baitul mal. Ali pun bertanya, “Dari mana kau dapatkan perhiasan ini? Demi Allah saya harus memotong tangannya!” Ibnu Abi Rafi’ berkata, “Ketika saya meliahat keseriusannya dalam ucapannya itu, saya berkata, “Demi Allah, wahai Amirul mukminin, saya merias putri saudaraku dengan perhiasan itu. Dari mana dia mampu mendapatkannya jika tidak saya berikan padanya?” Maka Ali pun diam.

4. Sifat Tawadhu’ Ali
Ali merupakan sosok yang sangat tawadhu’ dan rendah hati, hingga dirinya menyamakan kedudukannya –padahal seorang Amirul mukminin- dengan pembantunya, bahkan dalam hal berpakaian. Abu An-Nuwar, seorang penjual pakaian katun, menceritakan, “Ali bin Abi Thalib datang ke kiosku bersama pelayannya dan membeli dua potong pakaian. Lalu Ali berkata pada pelayannya, “Pilih mana yang kau suka.” Pelayan itu lalu mengambil satu pakaia, lalu Ali mengambil yang satunya lagi dan mengenakannya. Ketika dia menjulurkan tangannya di dapatinya baju itu agak kepanjangan. Maka dia berkata, “Potonglah bagian yang lebih dari lengan bajuku.” Pelayan itu lalu memotongnya dan menjahitnya. Kemudian Ali mengenakannya dan pergi.”

Untuk membeli keperluannya sehari-hari, Ali melakukannya sendiri dan mengangkatnya di atas pundaknya tanpa merasa gengsi dengan kedudukannya sebagai khalifah. Pada suatu hari Ali masuk ke pasar dan membeli kurma seharga satu dirham. Maka dia membawanya di balik mantelnya. Seorang berkata padanya, “Biar saya bawakan wahai Amirul mukminin.” Ali menjawab,”Tidak, bapak keluarga lebih berhak membawanya.”
Ali juga kerap menunggangi seekor keledai dan menggantungkan kedua kakinya di satu tempat seraya berkata, “Saya adalah orang yang menghinakan dunia.”

5. Sifat Zuhud Ali
Mari kita perhatikan Abdullah bin Razin menggambarkan bagaimana makanan Amirul mukminin. Dia berkata, “Kami masuk menemui Ali pada hari Idul Adha, maka dia menghidangkan untuk kami khazirah . Kami berkata, “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu. Mengapa engkau tidak menghidangkan untuk kami daging angsa, sesungguhnya Allah telah memperbanyak kebaikan!” Ali berkata, “Wahai Ibnu Razin, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang khalifah dari harta Allah kecuali dua mangkuk, satu untuk dimakannya bersama keluarganya, satu lagi untuk menjamu orang-orang.”

Petunjuk terkait pakaian dapat dilihat dari ucapannya kepada orang yang mempermasalahkan pakaian, “Apa urusanmu dengan pakaianku, sesungguhnya pakaianku ini lebih menjahukanku dari sifat sombong dan lebih pantas untuk diikuti oleh kaum muslimin.

Ali memberi pakaian tersebut dari harta miliknya. Dia tidak ingin mengurangi baitul mal kaum muslimin meski hanya tiga dirham seharga baju yang dikenakannya. Suatu hari, seseorang pernah melihatnya menggigil kedinginan, dia menutupi tubuhnya dengan kain beludru yang telah usang. Orang itu berkata padanya, “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah memberimu dan keluargamu jatah dari harta ini, lalu kenapa engkau rela menggigil kedinginan?” Ali menjawab, “Demi Allah, saya tidak ingin mengurangi harta kalian sedikitpun. Kain beludru ini adalah milikku yang saya bawa dari rumah.”

Pada suatu kesempatan Ali berkhutbah di hadapan khalayak, “Wahai jamaah sekalian, demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, saya tidak mengurangi dari harta kalian, sedikit atau banyak, kecuali ini –dia lalu mengeluarkan sebuah botol yang berisi minyak wangi dari kantung bajunya- yang dihadiahkan oleh Dihqan kepada saya.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.