Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Berpalingnya penduduk Irak dari Ali (Seri 7)

6. Hadits-hadits Nabi terkait peristiwa yang akan terjadi pada masa Ali
Imam Ali menghadapi ujian yang sangat berat pada masa kekhalifahannya. Namun dia menghadapinya dengan tegar sebagai hasil pendidikan yang diperolehnya dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia pun melewati berbagai ujian itu setelah darahnya yang suci tertumpah dan menyerahkan ruhnya sebagai syahid.

Cukup banyak isyarat Nabi terkait apa yang akan dihadapi oleh khalifah yang sabar ini pada masanya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Ali, “Adapun engkau akan menghadapi sesuatu yang sulit sesudahku.” Ali bertanya, “Apakah agamaku terjaga?” Nabi menjawab, “Agamamu terjaga.”

Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan, “Waktu itu kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu sandal beliau putus, maka Ali pun agak tertinggal karena dia memperbaiki sandal tersebut. Setelah jalan beberapa langkah, beliau berkata, “Sesungguhnya diantara kalian ada yang berperang karena takwil Al-Qur’an sebagaimana saya berperang karena turunnya Al-Qur’an.” Para shahabat pun bertanya-tanya, termasuk Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar bertanya, “Apakah orang itu saya?” Jawab Nabi, “Bukan.” Umar juga bertanya, “Apakah orang itu saya?” Nabi menjawab, “Bukan, akan tetapi orang yang memperbaiki sandal.” Maksud beliau adalah Ali. Maka kami pun mendatangi Ali untuk memberitahukannya berita tersebut. Namun Ali tidak mengangkat kepalanya, nampak dia telah mendengarnya dari Radiyallahu ‘Anhu Shallallahu Alahi wa Sallam.

7. Penerimaan Ali atas jabatan khalifah dan permulaan fitnah
Berbagai persoalan tidak berjalan mulus pada masa Ali. Setelah peristiwa pembunuhan Utsman, An-Nu’man bin Basyir pergi meninggalkan Madinah membawa baju Utsman yang berlumuran darah dan jari-jari Na’ilah binti Furafishah yang putus saat menghalangi suaminya yaitu Utsman dari serangan pemberontak. Nu’man pun menyerahkan semua itu kepada Mu’awwiyah bin Abi Sufyan di Syam. Lalu Mu’awiyah menggantung baju tersebut di atas mimbar dan meletakkan di atasnya potongan jari-jari.

Mu’awiyah dan beberapa orang shahabat seperti Abu Umamah dan Amr bin Abasah menggerakkan massa untuk menuntut bela atas kematian Utsman dan agar para pembunuhnya segera dibunuh.

Baru saja bai’at terhadap Ali selesai dilakukan, datang Thalha, zubair, dan beberapa pemuka shahabat menuntut penegakan hukum atas kematian Utsman dengan menghukum para pembunuh sebelum urusan mereka menjadi genting dan bahaya yang mereka timbulkan semakin besar. Ali sendiri sangat memahami hal tersebu, namun dia memilih menangguhkan persoalan itu hingga situasi kembali tenang dan kewibawaan negara kembali menguat, serta menunggu kekuatan para pemberontak melemah dan mereka kembali ke kabilah-kabilah masing-masing. Pada saat itulah akan dilakukan pengusutan. Ali melihat bahwa saat itu para pemberontak masih sangat kuat, memiliki banyak materi dan pendukung. Pernah dia mencoba mencari tahu tentang pembunuh Utsman, lalu sepuluh ribu orang dari mereka, diantaranya pembuat tombak, mengaku bahwa mereka semua adalah pembunuh Utsman!

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari Ali, bahwa dia berkata kepada para shahabat itu, “Wahai saudara sekalian, bukannya saya tidak mengetahui apa yang kalian katakan, akan tetapi bagaimana saya dapat melakukan itu terhadap sekelompok orang yang menguasai kita dan kita tidak bisa mengatasi mereka, kaum Arab badui bergabung dengan mereka, bahkan mereka berada di antara kalian, mengganggu kalian semuanya. Apakah menurut kalian masih tersisa kemungkinan untuk merealisasikan apa yang kalian inginkan?” Para shahabat menjawab, “Tidak.” Ali melanjutkan, “Demi Allah, saya pun berpandangan yang sama dengan kalian Insya Allah. Sesungguhnya urusan ini seperti urusan jahiliyah. Komplotan itu memiliki materi, yang demikian itu karena sesungguhnya setan apabila memulai sesuatu, maka orang yang mengikutinya tidak akan meninggalkan bumi selamanya. Sesungguhnya orang-orang seperti ini apabila bergerak untuk suatu perkara, maka satu kelompok akan berpandangan seperti kalian, kelompok lain akan memiliki pandangannya yang berbeda dengan kalian, sedangkan kelompok ketiga tidak mendukung yang ini dan tidak juga yang itu, hingga orang-orang menjadi tenang dan hati menempati tempatnya yang seharusnya, barulah hak dapat diambil. Maka tenanglah kalian, perhatikan apa yang datang pada kalian, lalu kembalilah.”

Ali bermaksud mengganti para gubenur yang menjabat pada masa kekhalifahan Utsman. Al-Mughirah bin Syu’bah dan Abdullah bin Abbas berusaha menasihatinya agar membiarkan gubernur yang sedang menjabat hingga keadaan menjadi tenang, terutama menetapkan Mu’awiyah untuk wilayah Syam. Namun Ali menolak mengikuti nasihat tersebut. Dia tetap mengangkat gubernur yang baru untuk setiap wilayah, dan mengangkat Sahal bin hunaif untuk wilyaha Syam. Sahal bin hunaif pun berangkat ke Syam. Namun sesampainya di daerah Tabuk, dia dihadang oleh pasukan berkuda dan disuruh kembali ke tempat asalnya. Penduduk Syam pun menolak berbai’at kepada Ali. Melihat situasi tersebut Ali berusaha memerangi mereka. Dia pun mempersiapkan pasukan untuk itu. Ketika semua sudah siap dan tinggal menunggu keberangkatan menuju Syam, muncul persoalan yang membuatnya beralih dari urusan keberangkatan ke Syam.

8. Perang Jamal
Ummul mukminin Aisyah berangkat ke Basyrah bersama Thalhah dan Zubair. Pada peristiwa itu Aisyah berda dalam sekedup yang diletakkan di atas unta (jamal) bernama Askar. Ketika Ali mendengar kabar tentang hal itu, dia segera merubah rencana keberangkatan ke Syam dan mengalihkan pasukan untuk menghadang pasukan Jamal. Namun Ali terlambat, karena pasuka jamal telah lebih dahulu sampai ke Basyrah. Singkat cerita, terjadilah perang Jamal pada tahun 36 H yang dikobarkan oleh sekelompok orang yang berpikiran picik dari kedua pihak. Terbunuh dalam perang itu sekitar 10 ribu orang. Perang berakhir dengan kemenangan pasukan Ali. Dalam perang itu Zubair tebunuh secara licik, sedangkan Thalhah terbunuh di kancah pertempuran terkena anak pananh yang tidak diketahui pelemparnya. Sementara Aisyah, dikembalikan oleh Ali ke Madinah dengan diiringi 40 orang perempuan dan dikawal oleh saudaranya Muhammad bin Abu Bakar.

Ali pernah ditanya mengenai pasukan Jamal, maka Ali mengatakan, “Mereka adalah saudara-saudara kami yang memberontak terhadap kami lalu kami perangi. Mereka telah sadar dan telah kami terima kembali.” Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Ali pernah berkata, “Saya berharap bahwa saya, Thalhah, Zubair, Utsman termasuk sekelompok orang yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , “Dan lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”(QS> Al-Hijr [15]: 47).

9. Perang Shiffin
Kemudian terjadi perang Shiffin antara tentara Syam dibawah komando Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan tentara Irak di bawah komando Ali bin Abi Thalib. Penyebabnya adalah Mu’awiyah menolak berbai’at kepada Amirul mukminin Ali Radiyallahu ‘Anhu sampai Ali membunuh para pembunuh Utsman yang menyusup di antara pasukan Ali.

Sementara Ali memiliki alasan untuk tidak tergesa-gesa dalam menghukum mereka, karena mereka telah menetap di Irak dilindungi oleh kekuatan mereka dan dukungan kabilah mereka, serta banyaknya pendukung dan materi yang mereka miliki. Mengajak mereka berperang akan mengakibatkan keburukan yang terus menerus. Menenangkan suasana adalah solusi terbaik dalam situasi seperti itu. Ali lalu menyeru Mu’awiyah untuk berbai’at seperti yang dilakukan oleh penduduk Mekah, Madinah, Bashrah, Kufah, Yaman, Mesir, Bahrain, Yamamah, dan lainnya. Setelah itu barulah khalifah akan menegakkan hukum dan memutuskan qishash atas para penjahat.

Dengan demikian, mereka yang menuntut penegakan hukum atas para pembunuh Utsman memiliki alasan yang benar, karena mereka menuntut hak, baik yang dilakukan oleh pasukan Jamal (unta) maupun oleh penduduk Syam. Begitu juga Ali, memiliki alasan yang benar dalam menunda penegakan hukum Allah, karena hal itu didasarkan pada kondisi darurat yang tidak mungkin dihindari.

Ketika Ali mengetahui bahwa Mu’awiyah berusaha mempengaruhi penduduk Syam agar mendukung pendapatnya, Ali pun mempersiapkan pasukan dan berangkat menuju Syam. Saat berita berangkatnya Ali samapi ke telinga Mu’awiyah, dia lantas bermusyawarah dengan penduduk Syam menanyakan tindakan apa yang harus diambilnya. Mereka lalu menyarankan agar Mu’awiyah pun berangkat dari Syam untuk menyongsong pasukan Ali.
Pasukan Syam pun berangkat menuju sungai Efrat dari arah Shiffin , jumlah mereka mencapai 90 ribu pasukan. Ali dan pasukannya yang berjumlah 120 ribu orang juga bergerak ke arah sana. Bertemulah dua pasukan dan mereka berkemah lama di Shiffin pada permulaan Dzulhijjah.

Ali dan Mu’awiyah saling bertukar utusan. Semua orang menahan diri untuk berperang hingga lewat bulan Muharram tahun 37 H. setelah itu, Ali pun menyiagakan pasukannya, begitu juga Mu’awiyah. Mereka mengawali perang pada hari pertama Shafar. Mereka berada di Shiffin selama 110 hari, dalam jangka waktu tersebut terjadi sembilan kali pertempuran. Perang berhenti ketika pasukan Syam mengangkat mushaf di atas tombak dan menyeruh pasukan Irak, “Kami mengajak kalian untuk berhukum dengan kitabullah.” Maka terjadilah peristiwa Tahkim.

10. Peristiwa Tahkim (Arbitrasi)
Ali mengutus Abu Musa Al-Asy’ari sebagi wakil dalam perundingan, sementara Mu’awiyah mengutus Amr bin Ash. Kedua juru runding itu sepakat untuk menurunkan Ali dan Mu’awiyah dari jabatannya masing-masing, lalu urusan kekhalifahan diserahkan pada musyawarah kaum muslimin, agar mereka menyepakati mana yang lebih baik di antara dua orang itu, atau mengambil pemimpin baru dari selain mereka. Keputusan diserahkan kepada shahabat inti. Inilah yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa Tahkim, bukan seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang yang menyatakan bahwa Amr menipu Abu Usama, lalu menetapkan Mu’awiyah sebagai khalifah.

Setelah peristiwa itu, kaum muslimin pun terpecah menjadi tiga kelompok. Penduduk Irak tetap pada bai’at mereka terhadap Ali, sementara penduduk Syam membai’at Mu’awiyah, sedangkan kelompok ketiga merepakan kelompok Ali yang membelot karena tidak setuju atas sikap Ali yang menyetujui tahkim. Mereka lalu dinamakan Khawarij karena sikap mereka itu. Mereka berlebihan dalam menyalahkan Ali hingga mengkafirkannya. Mereka melakukan berbagai kerusakan, hingga akhirnya Ali disibukkan oleh upaya memerangi mereka.

11. Sikap Ali terhadap kaum Khawarij
Kaum Khawarij menjadikan sebuah desa di dekat Kufah bernama Hurura’ sebagai basis pertahanan, sehinga mereka pun dikenal dengan sebutan Al-Haruriyah. Jumlah mereka lebih dari delapan ribu orang. Abdullah bin Abbas pernah mendatangi mereka untuk berdebat dengan mereka dan mengajak mereka kembali, sehingga 4000 diantaranya bertaubat dan kembali bergabung dengan Ali di Kufah, sedangkan sisanya tetap pada pendirian dan kesesatan mereka. Lalu mereka keluar dari Kufah secara sendiri-sendiri agar tidak dicurigai oleh kaum muslimin. Kemudian mereka berkumpul di Nahrawan, sebuah wilayah yang cukup luas di antara Baghdad dan wasith. Seiring waktu kelompok ini membangun kekuatan dan pertahanan mereka. Mereka lalu membelokkan takwil Al-Qur’an, memaksakan pendapat mereka pada orang lain, dan menampakkan diri sebagai orang yang zuhud dan khusuk dalam beribadah.

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dalam Musnad Ali di kitab Tahdzibul Atsar dari jalur Bukair bin Abdullah bin Al-Asyaj bahwa dia bertanya kepada Nafi’, “Bagaimana pendapat Ibnu Umar tentang kelompok Al-Haruriyah?” Nafi’ menjawab, “Menurutnya, mereka adalah makhluk Allah paling buruk, mereka menggunakan ayat-ayat yang berbicara tentang orang kafir untuk menyerang kaum mukminin.”

Qais bin Sa’ad, Abu Ayyub Al-Anshari, bahkan Ali bin Abi Thalib berusaha menasehati dan memberi peringatan kepada mereka. Namun tanggapan mereka adalah saling menyeru satu sama lain, “Jangan hiraukan mereka, jangan berbicara dengan mereka, bersiaplah untuk menghadap Allah Azza wa Jalla. Ayo berangkat menuju surga!”

Mereka lalu bersiap-siap untuk berperang bahkan telah bergerak untuk menyerang. Ali pun menghadapi mereka dengan pasukannya dan memerintahkan Abu Ayyub Al-Anshari untuk mengibarkan panji jaminan keamanan untuk kelompok Khawarij dan menyerukan pada mereka, “Siapa yang datang ke bendera ini akan dijamin keamanannya. Kami tidak punya urusan dengan kalian kecuali dengan mereka yang telah membunuh saudara-saudara kami.” Maka sebagian besar mereka memisahkan diri dari pasukan Khawarij yang sebelumnya berjumlah 4000 orang, dan hanya tersisa 1000 orang atau lebih sedikit dari itu dibawah komando Abdullah bin Wahab Ar-Rasi.

Kedua pasukan pun bertempur. Dengan mudah pasukan Ali dapat mengalahkan mereka dan membunuh para pemimpin mereka seperti Abdullah bin Wahab, Hurqus bin Zuhair, dan Syuraih bin Aufa. Yang selamat dari kelompok mereka kurang dari sepuluh orang, sementara yang terbunuh dari pasukan Ali hanya sekitar sepuluh orang. Peristiwa itu terjadi pada bulan Sya’ban tahun 38 H.

Ali Radiyallahu ‘Anhu sangat memahami sifat mereka dan apa yang mereka perjuangkan, berdasarkan apa yang didengarnya dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan dari riwayat para shahabat. Setidaknya ada 25 orang shahabat yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  tentang kelompok Khawarij.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ali Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Jika saya sampaikan kepada kalian hadits dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sungguh, saya terjatuh dari langit lebih saya sukai dari pada berbohong atas nama beliau dan jika saya sampaikan kepada kalian tentang urusan antara saya dan kalian, ketahuilah bahwa perang itu tipu daya. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Akan datang di akhir zaman suatu kaum yang masih muda belia namun lemah pemahaman. Mereka berbicara dengan ucapan manusia terbaik namun mereka keluar dari agama bagaikan anak panah melesat keluar dari sasarannya. Iman mereka tidak melewati tenggorakan mereka. Maka di mana saja kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka karena pembunuhan atas mereka adalah pahala di hari kiamat bagi siapa yang membunuhnya.”

Sementara Imam Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Zaid bin Wahab Al-Juhani, dia termasuk anggota pasukan Ali Radiyallahu ‘Anhu yang berangkat menghadang kelompok Khawarij. Waktu itu Ali berkata, “Wahai kalian semua, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al-Qur’an, di mana bacaan kalian tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan bacaan mereka; shalat kalian tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kalian tidak berarti apa-apa jika dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka bahwa Al-Qur’an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al-Qur’an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari sasarannya. Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi mereka, niscaya mereka akan berhenti beramal. Ciri-cirinya adalah bahwa di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki lengan tak berhasta dan ujung lengannya terdapat tanda seperti puting susu yang di atasnya tumbuh bulu-bulu putih.”

Setelah peperangan melawan kelompok Khawarij selesai, Ali menyeruh kaum muslimin untuk mencari keberadaan orang yang tangannya buntung di antara orang-orang yang tewas terbunuh. Ciri-cirinya adalah salah satu tangannya seperti buah dada perempuan, di ujung lengannya ada titik hitam seperti putting susu, di tumbuhi tujuh helai bulu. Ali Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Carilah di antara mereka orang yang tangannya buntung. Mereka pun mencari dan tidak menemukannya. Lalu Ali ikut mencarinya hingga menemukan tumpukan orang yang terbunuh. Ali berkata, “Singkirkan orang-orang ini!” Akhirnya mereka menemukan orang yang dimaksud berada di tumpukan paling bawah di atas tanah. Ali lantas memekikkan takbir, lalu berkata, “Maha benar Allah dan Rasul-Nya telah menyampaikan!” Ubaidah As-Salami mendatangi Ali dan bertanya, “Wahai Amirul mukminin, demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, “apakah engkau benar-benar mendengar hadits tersebut dari Rasulullah?” Ali menjawab, “Ya, demi Allah Yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Ubaidah meminta Ali bersumpah sampai tiga kali dan Ali melakukannya.

12. Berpalingnya penduduk Irak dari Ali, lemahnya posisi Ali dan menguatnya kedudukan penduduk Syam
Setelah selesai dari urusan kelompok Khawarij, Ali berkhutbah di hadapan khalayak dan berkata, -setelah memuji Allah dan menyampaikan shalawat kepada Rasulullah- “Amma ba’du, maka sesungguhnya Allah telah memuliakan  kemenangan kalian, maka bergeraklah segera menuju musuh kalian dari penduduk Syam.”

Mereka lalu bangun dan berkata, “Wahai Amirul mukminin, panah kami telah habis, pedang kami telah tumpul, ujung tombak kami telah lepas, maka bawalah kami ke kampung kami agar kami bisa melakukan persiapan yang baik dan agar Amirul mukminin menambah pasukan kami sejumlah orang yang telah meninggal dari pasukan kami sebelumnya, dengan begitu kami akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi musuh kami.” Yang berbicara adalah Al-Asy’ats bin Qais Al-Kindi, maka Ali pun mengikuti keinginan mereka. Lalu Ali berjalan memimpin pasukan hingga sampai ke Nukhailah. Ali memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di perkemahan mereka dan berusaha membangkitkan semangat mereka untuk berjihad melawan musuh serta memerangi kunjungan mereka terhadap istri dan anak mereka. Mereka sempat bertahan bersama Ali beberapa hari dengan berperang pada pandangan dan ucapannya. Tapi satu per satu pergi secara sembunyi-sembunyi hingga tidak tersisa seorang pun selain para pemuka shahabat Ali. Mereka pun berbeda pandangan dengan Ali. Lalu mereka melanjutkan perjalanan, lalu masing-masing berpisah hingga Ali masuk ke Kufah.

Sementara di Mesir, gubenurnya adalah Muhammad bin Abu Bakar. Namun penduduk Mesir merendahkannya. Ali pun mengutus Al-Asytar untuk menggantikan posisinya namun dalam perjalanan dia terbunuh dengan cara diracuni dan belum sempat sampai ke Mesir. Sedangkan di Syam, posisi Mu’awiyah semakin menguat, dia bermusyawarah dengan para penduduknya meminta pendapat mereka untuk melakukan perjalanan ke Mesir. Para pendukungnya menyetujui usulan tersebut. Mu’awiyah pun mempersiapkan pasukan sebanyak 6000 orang di bawah pimpinan Amr bin Ash. Mu’awiyah sendiri ikut melepas keberangkatan pasukan tersebut kepada Amr agar bertakwah kepada Allah, bertindak lemah lembut dan tidak tergesa-gesa; agar dia hanya memerangi orang yang melakukan penyerangan dan memaafkan mereka yang melarikan diri; dan hendaknya dia menyeru semua orang pada perdamaian dan persatuan. Jika engkau menang, hendaklah para penolongmu menjadi orang-oarang terdekatmu. Amr pun berangkat ke Mesir dan berhasil menggulingkan Muhammad bin Abu Bakar. Mesir pun jatuh ke tangan Amr, sedangkan Muhammad bin Abu Bakar terbunuh.

Ketika Ali mendengar berita tersebut, dia berkhutbah di hadapan khalayak dan membangkitkan semangat jihad mereka untuk berperang melawan musuh-musuh mereka dari penduduk Syam dan Mesir. Ali menetapkan Jara’ah sebagai tempat berkumpul pasukan. Keesokan harinya ketika Ali sampai ke tempat tersebut, tidak ada satu pun pasukan yang datang ke tempat itu. Ali pun merasa sangat terpukul, lalu dia menulis surat kepada Ibnu Abbas, gubernurnya di Bashrah, mengeluhkan pembangkangan rakyatnya. Ibnu Abbas membalasnya dan berusaha menghiburnya serta menasihatinya agar bersabar, karena sesungguhnya pahala dari Allah lebih baik dari pada dunia.

Berbagai situasi menjadi sulit bagi Ali. Pasukannya tidak patuh pada perintahnya, penduduk Irak pun berpaling dan meninggalkannya. Sementara kedudukan penduduk Syam semakin menguat dan kekuasaan mereka semakin meluas. Ketika menyaksikan semua itu, ditambah lagi dengan bermunculannya berbagai fitnah dan datangnya ujian silih berganti, Ali jadi membenci kehidupan dan mengharapkan datangnya kematian. Ia mengatakan, “Sesungguhnya ini –jenggotnya- akan berlumuran darah dari ini –kepalanya-.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.