Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Khalifah Keempat (Seri 5)

D. KHALIFAH KEEMPAT, DAN WASIAT PALSU TENTANG KEKHALIFAHAN

1. Bersama tiga khalifah sebelumnya
Hubungan Ali Radiyallahu ‘Anhu dengan tiga khalifah pendahulunya didasari oleh akhlak mulia yang dipelajari di bawah naungan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dia mencintai dan menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka, membenarkan ucapan mereka, berbicara jujur kepada mereka, membantu mereka dengan pikiran dan nasihat, mendukung mereka saat terjadi musibah, tidak membiarkan mereka jatuh pada kesulitan, bahkan membela mereka dengan jiwanya dan putranya, serta membenci orang yang membenci mereka. Tidak ada gambaran buruk tentang hubungan dengan mereka selain dusta yang dibuat oleh para pembohong.

Ali berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memajukan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat padahal saya ada di sana dan dalam kondisi sehat. Jika memang beliau ingin memajukan saya, tentu beliau melakukannya. Maka kami ridha untuk urusan dunia kami diserahkan pada orang yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya untuk urusan agama kami.”

Ali membai’at Abu Bakar di masjid pada hari pertama atau di hari kedua dari wafatnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Ali senantiasa bersamanya, shalat di belakangnya, menghadiri musyawarah, ikut serta bersamanya dalam peperangan menumpas orang-orang yang murtad. Bahkan ketika Abu Bakar memimpin pasukan kaum muslimin sambil menghunus pedang dari Madinah sampai Dzul Qassha, Ali lah yang menuntun kendaraan Abu Bakar!

Dengan demikian, Ali mengakui kelebihan dan keutamaan Abu Bakar, bahkan pada saat dia telah menjadi khalifah. Khaitsamah dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Zinad, dia berkata, “Seorang berkata kepada Ali Radiyallahu ‘Anhu, ”Wahai Amirul mukminin, kenapa kaum Muhajirin dan Anshar memilih Abu Bakar padahal engkau lebih baik darinya dan lebih dulu masuk Islam dari padanya?” Ali menjawab, “Jika engkau orang Quraisy, maka saya rasa engkau dari A’idzah?” Orang itu mengiyakan. Ali berkata, “Kalau bukan karena orang mukmin memohon perlindungan kepada Allah, saya pasti telah membunuhmu. Jika saya masih hidup, akan datang padamu rasa takut yang menggetarkan jiwamu. Celaka kamu! Sesungguhnya Abu Bakar mendahului saya dalam empat hal. Dia mendahului saya dalam keimanan, dalam menjadi imam, dalam hijrah ke gua, dan dalam menyebarkan salam. Celaka kamu! Sesungguhnya Allah mencela semua orang dan memuji Abu Bakar. Allah berfirman, “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya.”(QS. At-Taubah [9]: 40).

Ketika putranya Muhammad Ibnu Al-Hanafiyah bertanya padanya tentang manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dia menjawab, “Abu Bakar, lalu Umar.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Diriwayatkan darinya secara mutawatir bahwa dia berkata di atas sebuah mimbar di Kufah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya manusia terbaik di kalangan umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, lalu Umar. Jika saya ingin menyebut yang ketiga, pasti saya akan menyebutnya.”

Ali sangat sedih atas wafatnya Abu Bakar. Dia menyampaikan ungkapan duka atas wafatnya Abu Bakar sebagai berikut, “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Bakar. Engkau, demi Allah orang yang paling pertama masuk Islam, yang paling murni keimanannya, dan yang paling mantap keyakinannya. Engkau membenarkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika semua orang mendustakannya, engkau membantunya dengan hartamu saat semua orang menolak untuk membantunya, dan engkau berdiri bersamanya saat semua orang tetap duduk. Engkau, Demi Allah, menjadi benteng bagi agama Islam dan menjadi bencana bagi orang-orang kafir. Hujjah dan pandanganmu tidak pernah lemah, dirimu tidak mengenal rasa takut.”

Ketika Umar diangkat menjadi khalifah mengantikan Abu Bakar, Ali termasuk orang yang membai’atnya dan menjadi tangan kanannya. Dia selalu menyertai Umar untuk bermusyawarah dengannya mengenai berbagai persoalan. Umar kerap meminta fatwa padanya mengenai berbagai masalah dan meminta pertimbangan hukum pada masa kekhalifahannya. Ali juga ikut menyertai Umar saat pergi ke Syam dan mendengar khutbahnya di Jabiyah.

Ali termasuk salah seorang yang ikut menetapkan gaji khalifah Umar dan menjadi hakim di Madinah. Umar pernah memujinya dengan ungkapan, “Ali orang yang paling baik dalam memutuskan perkara di antara kami.” Ali juga ikut berperan dalam menentukan arah penaklukan. Bahkan Umar sering mengikuti pendapatnya.

Diriwayatkan dari Suwaid bin Ghaflah, dia berkata, “Saya melewati suatu kaum yang membicarakan Abu Bakar dan Umar Radiyallahu ‘Anhuma dan melecehkan mereka. Saya pun mendatangi Ali Radiyallahu ‘Anhu dan menyampaikan padanya hal tersebut. Maka Ali berkata, “Allah melaknat orang yang menyembunyikan sesuatu dalam dirinya tentang dua orang itu kecuali sesuatu yang baik dan indah. Dua orang itu merupakan saudara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan menterinya!” Lalu Ali naik keatas mimbar dan menyampaikan khutbah yang luar biasa, “Ada apa dengan kaum yang membicarakan dua tokoh Quraisy dan dua pemimpin kaum muslimin dengan cara yang saya berlepas diri darinya dan atas ucapan tersebut saya akan menghukumnya?! Demi Dzat Yang menumbuhkan biji dan menciptakan manusia, tidak mencintai keduanya kecuali orang yang beriman dan bertakwa, dan tidak membenci keduanya kecuali orang berdosa dan berperangai buruk! Keduanya menyertai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan benar dan setia. Keduanya memberi perintah, melarang, dan menjatuhkan hukuman, tidak pernah melampaui pendapat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam semua itu.

Bahkan Rasulullah tidak mencintai orang lain seperti beliau mencintai keduanya. Ketika Rasulullah pergi, beliau ridha pada keduanya dan semua orang pun ridha pada mereka.” Lalu Ali berkata, “Siapa yang mencintai keduanya berarti dia mencintaiku, siapa yang membenci keduanya berarti membenciku dan saya berlepas diri darinya. Ketahuilah, manusia terbaik di antara umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar, kemudian Allah Maha Mengetahui di mana letak kebaikan. Sekian khutbah saya semoga Allah mengampuni saya dan kalian.”

Pada masa Utsman, Ali termasuk golongan Majelis Syura, senantiasa membantu Utsman selam periode kekhalifahannya, dan mencela mereka yang memberontak padanya. Ali berkata kepada mereka pada saat mereka berkemah di sekitar Madinah, “Orang-orang shalih telah mengetahui bahwa pasukan Dzul Marwah dan pasukan Dzul Khusyub terlaknat melalui lisan Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka pulanglah kalian, semoga Allah tidak mempertemukan kalian dengan waktu pagi!” Lalu Ali menaiki tunggangannya dan mengantarkan sekantung air ke tempat khalifah Utsman yang terkepung.

Ali bahkan bangkit untuk menolong Utsman. Dia mengenakan ikat kepala Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan menghunus pedangnya, lalu mendatangi rumah Utsman bersama anaknya Hasan dan Abdullah bin Umar serta beberapa orang dari dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka lalu masuk menemui Utsman. Ali berkata padanya, “Demi Allah, saya melihat orang-orang itu berniat untuk memerangimu. Perintahkan kami untuk memerangi mereka!” Namun Utsman menolak untuk memberi perintah. Ali mengulangi ucapannya dan Utsman tetap pada pendiriannya. Maka Ali berkata, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui bahwa kami telah mengerahkan segala kemampuan kami.” Lalu Ali pergi ke masjid, tak lama kemudian datang waktu shalat. Orang-orang berkata padanya, “Wahai Abu Hasan, majulah sebagai imam shalat!” Ali menjawab, “Saya tidak akan mengimami kalian sedangkan khalifah dalam keadaan terkepung. Saya akan shalat sendirian.” Maka Ali pun shalat sendirian lalu pulang ke rumahnya. Anaknya menemaninya dan berkata, “Demi Allah, Wahai ayah, mereka telah menyerang rumah khalifah!” Ali berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi rajiun, demi Allah, mereka memeranginya.” Mereka bertanya, “Di mana dia (Utsman) wahai Abu Hasan?” Jawab Ali, “Di surga.” Mereka bertanya lagi, “Di mana mereka (pemberontak) wahai Abu Hasan?” Jawab Ali, “Di neraka, demi Allah!” Ali mengucapkan tiga kali.

Ketika Utsman terbunuh dan beritanya sampai kepada Ali, dia berkata, “Celakalah mereka hingga akhir masa! Lalu Ali masuk kerumah Utsman dan memeluk jasadnya. Ali terus menangis hingga orang yang hadir di sana menyangka bahwa Ali akan mengikuti Utsman.
Dalam banyak kesempatan Ali menyatakan kepada Allah bahwa dia tidak terlibat dalam pembunuhan Utsman. Cukup banyak jalur periwayatan yang menerangkan hal tersebut darinya.

Ketika dia mendengar bahwa para pembunuh Utsman telah menyesali perbuatan mereka, Ali membaca firman Allah Subhamahu wa Ta’ala. “(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”(QS. Al-Hasyr [59]: 16).

2. Dusta tentang perebutan hak kekhalifahan dari Ali
Itulah sekelumit tentang hubungan Ali dengan tiga khalifah pendahulunya, seperti itulah kedudukan mereka dihatinya. Tidak ada diantara mereka kecuali rasa cinta, persaudaraan, dan saling mendahulukan. Itulah akhlak mulia yang mereka pelajari dibawah naungan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Salla.

Akan tetapi, banyak penulis terdahulu dan pengarang kontemporer yang menyebarluaskan berita bohong yang menyatakan bahwa Ali ditolak dari khalifah setelah Utsman, sebagaimana ditolak dari kekhalifahan sebelumnya, bahwa para shahabat bersengkongkol untuk merebut kekhalifahan atas dasar kesukaan atas bani Hasyim, bahwa Ali mengingkari bencana yang menimpahnya dengan dialihkannya pembai’atan kepada selain dirinya setelah wafatnya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, bahwa Ali menganggap dirinya lebih berhak atas kekhalifahan dari pendahulunya, bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam telah mempersiapkan kekhalifahannya dan mempengaruhi orang-orang untuk itu dengan menjadikan komandan perang pada kesempatan lain, bahwa tidak ada hubungan yang baik antara Ali dan para shahabat, bahwa Ali memaafkan Abu Bakar dan Umar atas perbuatan mereka merebut kekhalifahan darinya, dan Ali baru membai’at Abu Bakar setelah wafatnya Fathimah.

Semua itu dusta dan kebohongan yang dibuat-buat, ditolak oleh kebenaran dan keadilan, diingkari oleh sejarah yang benar, didustakan oleh Ali sendiri lewat pernyataan yang jelas, bahkan pada masa kekhalifahannya.

Pendapat seperti itu merupakan sebuah bentuk penghianatan yang besar dan tuduhan tak berdasar atas diri para shahabat yang mulia. Para pembohong itu akan mendapat kerugian di hari akhir nanti karena Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam akan memusuhi mereka akibat perbuatan mereka mencela para shahabat beliau, padahal beliau telah melarangnya. Celaan apa yang lebih besar dari menuduh para shahabat menyalahi wasiat yang disangka untuk Ali atau mengakhiri haknya dari Ali?

Bagaimana mungkin para shahabat berbuat hal demikian, padahal mereka adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah dalam kitab-Nya, ditetapkan keutamaannya, dan dinyatakan bahwa Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah?

Apakah mereka meragukan kesepakatan para Muhajirin dan anshar untuk membai’at Abu Bakar As-Shiddiq?

Atau mereka meragukan bai’at kaum muslimin secara umum, termasuk Ali, terhadap Umar Al-Faruq Radiyallahu ‘Anhu?

Atau mereka mengingkari pilihan para shahabat atas khalifah Utsman setelah musyawarah yang berat dan berlangsung selama tiga hari tiga malam, melibatkan penduduk kota dan pedesaan bahkan para gadis yang berdiam diri di rumah mereka?

3. Pengangkatan Ali sebagi khalifah dan pernyataan dusta tentang wasiat kekhalifahan
Ummul mukminin Aisyah Radiyallahu ‘Anha merupakan penjaga rahasia rumah kenabian, di rumahnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit, dan dirumah itu pula beliau meninggal dunia. Tentu Aisyah mengetahui apa yang diucapkan oleh Rasulullah di saat-saat terakhir dari kehidupan beliau di dunia. Beberapa orang menyebutkan bahwa Ali Radiyallahu ‘Anhu diwasiatkan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sebagai penggantinya. Mendengar itu Aisyah berkata, “Kapan beliau mewasiatkan itu kepadanya? Padahal ketika beliau sakit beliau bersandar di dadaku -atau  berkata- di pangkuanku, lalu beliau meminta bejana, sesudah itu beliau rebahan di pangkuanku, saya tidak sadar bahwa beliau telah tiada. Jadi kapan beliau mewasiatkan itu padanya?”

Bahkan Ali sendiri menafikan hal itu, dia akan marah jika ada yang mengatakan di hadapannya bahwa dia adalah orang yang mendapat wasiat kepemimpinan setelah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Sikap tersebut diriwayatkan dalam dua kitab shahih dan kitab-kitab hadits lainnya. Sebagaimana terdapat dalam riwayat Yazid bin Syarik At-Taimi, dia berkata, “Ali berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, “Barang siapa yang mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitabullah dan lembaran ini –kata Abu Ibrahim, “Lembaran yang digantungkan di sarung pedangnya,”- maka sungguh dia pendusta. Di dalanya juga tertulis tentang unta (yang diambil sebagai zakat dan pembayar diyat) dan hukum-hukum seputar pembunuhan. Juga tertulis bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda mengenai Madinah, “

Madinah adalah tanah haram antara wilayah air hingga Tsaur . Jadi barangsiapa yang melakukan perbuatan bid’ah di Madinah atau melindungi orang yang melakukan bid’ah, maka dia akan mendapatkan kutukan Allah, kutukan Malaikat dan semua manusia, serta Allah tidak menerima taubat dan tebusan orang tersebut kelak pada hari kiamat. Jaminan perlindungan kaum muslimin adalah satu, orang paling rendah dari mereka (budak), bisa memberi perlindungan dengan jaminan itu. Barangsiapa yang mengakui orang lain yang bukan bapaknya sebagai bapaknya, atau mengakui orang lain yang bukan tuannya sebagai tuannya, maka dia akan mendapat laknat Allah, laknat para Malaikat dan laknat semua umat manusia, serta Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan orang tersebut kelak pada hari kiamat.”

Amir bin Watsilah meriwayatkan salah satu sikap Ali yang mengingkari adanya wasiat yang disangka itu yang dikhususkan untuknya tanpa melibatkan shahabat lain, Amir berkata, “Waktu itu saya sedang bersama Ali bin Abi Thalib, lalu datang seorang laki-laki dan bertanya padanya, “Apa yang dirahasiakan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepadamu?” Ali pun marah dan berkata, “Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak memberi rahasia apapun kepadaku yang disembunyikan empat hal.” Orang itu bertanya,”Apa empat hal itu?” Jawab Ali, “Allah melaknant orang yang melaknat ayahnya, Allah melaknat orang yang menyembelih sesuatu untuk selain Allah, Allah melaknat oarang yang melindungi orang yang berbuat pelanggaran, dan Allah melaknat orang yang merubah tanda batas wilayah.”

Dalam riwayat lain dari Abu thufail, Amir bn Watsilah juga, dia berkata, “Ali ditanya, “Apakah Rasulullah mengkhususkan sesuatu kepadamu?” Ali menjawab, “Rasulullah tidak mengkhususkan kepada kami sesuatu yang tidak disampaikan kepada orang-orang, kecuali apa yang terdapat di sarung pedang ini. Maka Ali mengeluarkan sebuah lembaran yang berisi tulisan berikut, “Allah melaknat orang yang menyembelih sesuatu untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang mencuri tanda batas wilayah, Allah melaknant orang yang melaknat ayahnya, dan  Allah melaknat oarang yang melindungi orang yang berbuat pelanggaran.”

Pada saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit menjelang wafatnya, Abbas bin Abdul Muththalib berkata kepada Ali, “Ayo kita pergi menemui Rasulullah untuk menanyakan pada siapa beliau menyerahkan urusan ini. Apakah diserahkan pada kita atau selain kita, yang penting kita mengetahuinya agar beliau berwasiat kepada kita.” Ali menjawab, “Demi Allah, jika kita tanya hal itu pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu beliau mencegahnya dari kita, orang-orang tidak akan pernah memberikannya kepada kita setelahnya. Saya, demi Allah tidak akan menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah.”

Ali pun menceritakan tentang saat-saat terakhirnya bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruhku untuk membawakan padanya sebuah piring, beliau menulis di atasnya sesuatu yang akan membuat umatnya tidak tersesat setelah kepergiannya. Maka saya khawatir beliau akan meninggal sebelum sempat menuliskannya. Saya pun berkata pada beliau, “Saya akan menghafal dan memahaminya.” Beliau berkata, “Saya mewasiatkan tentang shalat, zakat, dan budak-budak yang kalian miliki.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Hadits  yang tercantum dalam dua kitab shahih dan kita-kitab hadits lainnya, yang diriwayatkan dari Ali, membantah sangkaan kaum Rafidhah (Syiah) bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mewasiatkan kepadanya kekhalifahan. Jika memang benar sangkan mereka, tentu para shahabat tidak akan menolaknya. Mereka adalah orang-orang yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya, baik pada saat beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Tidak mungkin mereka memilih orang yang tidak dipilih oleh Rasulullah dan mengabaikan orang yang telah dimajukan oleh beliau. Siapa yang menuduh para shahabat melakukan itu, berarti menuduh para shahabat melakukan pembangkangan terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam hukum dan ucapannya.

Siapa yang sampai pada posisi itu, berarti telah menanggalkan keislamannya dan mengingkari seluruh kesepakatan para imam, dan darahnya pun menjadi halal untuk ditumpahkan. Lalu, jika Ali memang memiliki wasiat tersebut, kenapa dia tidak mengeluarkannya dan memperlihatkannya pada para shahabat untuk menetapkan kepemimpinannya atas mereka? Jika dia tidak mampu untuk merealisasikan wasiat yang diberikan kepadanya berarti dia seorang yang lemah, dan orang yang lemah tidak pantas menjadi pemimpin dan Ali tidak mungkin seperti itu. Jika dia mampu tapi tidak melakukannya, berarti dia telah berkhianat, dan orang yang berkhianat diturunkan dari kepemimpinan. Jika dia tidak mengetahui keberadaan wasiat tersebut, berarti dia orang yang bodoh. Sebab orang-orang sesudahnya mengetahui hal itu. Semua itu mustahil terjadi, semua itu hanyalah dusta yang menyesatkan!

Namun kebohongan itu justru dianggap sesuatu yang menguntungkan bagi para pendusta. Setan lalu memolesnya hingga nampak sebagai sesuatu kebenaran meski tidak ada dalil dan bukti yang menguatkan, melainkan hanya bersandar pada tuduhan dan sangkaan. Kita berlindung kepada Allah dari apa yang mereka lakukan dalam mencampur adukkan fakta dan pengingkaran atas kebenaran. Mari kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah dan setia pada Islam dan keimanan, semoga semua itu memberatkan timabangan kebaikan kita dan menjauhkan kita dari api neraka, sehingga kita dapat memperoleh kemenangan berupa surga. Sesungguhnya Allah Maha Mulia, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.