Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Hijrahnya Serta Peperangannya Ali Bersama Nabi (Seri 2)

B. KEDEKATAN ALI DENGAN NABI, HIJRAH, DAN KEIKUTSERTAAN DALAM BERBAGAI PERISTIWA

1. Hijrahnya Ali
Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu senantiasa menyertai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, belajar Al-Qur’an pada beliau dengan jiwa dan hati yang penuh perhatian, kecerdasan yang menyala-nyala, dan keinginan yang kuat. Sempurnalah pembentukan kepribadiannya di rumah kenabian, sehingga di kemudian hari dia pun menorehkan di lembaran sejarah berbagai sikap mental yang luar biasa dan kepahlawanan yang tidak ada tandingannya.

Peristiwa hijrah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam membuka kesempatan bagi Ali untuk mencatat salah satu contoh paling jelas atas jiwa kepahlawanan Ali serta kekuatan harga diri, keberanian, dan ketulusannya dalam membela dan mentaati Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah bersiap untuk hijrah dan telah memberitahu Abu Bakar tentang rencana tersebut, pada malam saat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam akan meninggalkan rumahnya, Jibril datang pada beliau memberitahukan bahwa kaum Quraisy telah bersepakat untuk membunuhnya dan sekelompok pemuda telah mengepung rumahnya. Maka Jibril menyuruhnya untuk tidak tidur di tempat beliau biasa tidur.

Ibnu Ishaq menceritakan, “Ketika lewat sepertiga malam pertama, mereka berkumpul di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengintai dan menunggu beliau tidur, agar mereka bisa menyergap beliau. Saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengetahui keberadaan mereka, beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Tidurlah di atas tempat tidurku, berkerumunlah dengan selimutku yang berwarna hijau, tidurlah di sana, maka tidak akan terjadi sesuatu yang berbahaya padamu dari mereka.”

Lalu Nabi keluar dari rumahnya, waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalangi pandangan para penjaga di depan pintu rumah beliau dan menjaga Ali dari pedang kaum Quraisy yang zhalim. Setelah itu Ali tinggal di Mekah selama tiga hari untuk mengembalikan barang-barang titipan yang ada pada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepada pemiliknya dari penduduk Mekah. Kemudian dia berangkat hijrah ke Madinah.

Ali Radiyallahu ‘Anhu berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat hijrah ke Madinah, beliau menyuruhku untuk tinggal beberapa hari agar dapat mengembalikan barang-barang titipan yang ada pada beliau, karena itulah beliau disebut Al-Amin (Orang yang terpercaya). Maka saya tinggal selama tiga hari, selalu menampakkan diri dan tidak pernah sembunyi. Kemudian saya berangkat mengikuti jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Hingga saya sampai ke kediaman Bani Amr bin Auf dan Rasulullah tinggal disana, maka saya singgah di kediaman Kultsum bin Al-Hidm, di sanalah rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

2. Tindakan mempersaudarakan kaum muslimin
Sesampainya Rasulullah di Madinah, setelah membangun masjid, beliau meletakkan kaidah penting yang menyatukan berbagai unsur masyarakat Islam yang baru, yaitu mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Maka beliau menetapkan supaya seorang Anshar memilih seorang saudara dari kaum Muhajirin agar semua berada dalam satu barisan dan menjelma seperti satu tubuh yang apabila salah satu organ tubuhnya sakit, seluruh anggota tubuhnya yang lain akan ikut merasa demam dan tidak dapat tidur. Waktu itu Ali bersaudara dengan Sahl bin Hunaif Al-Anshari.

3. Pernikahan Ali dengan Sayyidah Fathimah
Pemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Ali semakin bertambah dengan pernikahannya dengan putri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, Fathimah Az-Zahra, pemimpin kaum perempuan ahli surga. Saat itu usia Fathimah mencapai 15 tahun lewat beberapa bulan.

Ali meriwayatkan bahwa pelayannya mendatanginya dan berkata padanya, “Apakah engkau sudah tahu bahwa Fathimah telah layak dilamar kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Ali, “Tidak.” Dia berkata, “Dia telah bisa dilamar. Maka kenapa kamu tidak datang kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam agar beliau menikahkannya denganmu?” Ali berkata, “Demi Allah, dia terus mendorongku hingga saya pun datang ke rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Setelah saya duduk dihadapan beliau, saya terdiam. Demi Allah saya tidak bisa berbicara secara jelas. Rasulullah pun bertanya padaku, “Apa yang membuatmu datang kesini? Apakah kamu ada perlu?” Saya terus diam. Rasulullah berkata, “Apakah kamu datang untuk melamar Fathimah ?” Saya mengiyakan. Beliau bertanya, “Apakah kamu punya sesuatu untuk menjadikan halal bagimu?” Saya jawab, “Demi Allah, tidak wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Dimana baju besi yang saya berikan padamu dulu? –Demi Dzat Yang jiwa Ali berada dalam genggaman-Nya, baju besi itu buatan Huthamiyah yang harganya hanya empat ratus dirham- Saya jawab, “Ada padaku.” Beliau berkata, “Saya nikahkan engkau dengannya dengan mahar baju besi itu. Maka halalkanlah dia dengannya.” Itulah mahar Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ali Radiyallahu ‘Anhu adalah orang yang miskin dan hanya memiliki sdikit harta. Asma’ binti Umais meriwayatkan, “Ketika Fathimah diserahkan kepada Ali, kami tidak mendapatkan di rumahnya selain sehelai tikar, bantal berisi sabut, sebuah guci dan sebuah cangkir.” Maka kaum Anshar mengumpulkan beberapa sha’ teppung dan memberinya seekor domba untuk mengadakan walimatul urs (resepsi pernikahan).

Sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam membekali Fathimah dengan kain beludru, bantal kulit berisi sabut, penggiling, wadah air dari kulit, dan dua buah tempayan.

Dua cahaya itu pun bertemu untuk membentuk sebuah keluarga yang agung. Dari keluarga itulah lahirlah keturunan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam seperti Hasan, Husain, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab.

Mari kita perhatikan kejadian luar biasa pada diri Fathimah yang suci. Ali sendiri yang menceritakan hal tersebut. Dia meriwayatkan bahwa Fathimah mengeluhkan tangannya yang lecet akibat penggiling tepung. Lalu dia mendengar kabar bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mendapat tawanan. Maka Fathimah pun pergi menemui beliau untuk meminta pelayan. Namun Fathimah tidak bertemu dengan beliau. Dia pun menyampaikan maksudnya pada Aisyah. Ketika Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam datang, Aisyah menyampaikan pesan Fathimah tersebut kepada beliau. Maka beliau datang ke rumah kami, waktu itu kami telah bersiap-siap untuk tidur. Kami pun hendak bangun, tetapi beliau berkata, “Tetaplah di tempat kalian.” Beliau datang dan duduk di antara kami, sehingga saya dapat merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih berharga dari apa yang kalian minta? Jika kalian bersiap-siap akan tidur maka bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tahmid tiga puluh tiga kali dan tasbih tiga puluh tiga kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sendiri yang membimbing keluarga itu. Terkadang beliau memberi nasihat, di lain kesempatan beliau menghibur dan menganjurkan agar bersabar, tidak jarang beliau mendorong mereka untuk berusaha mencapai kemuliaan hidup. Jika terjadi sesuatu yang membuat keruh suasana, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam segera berupaya menyelesaikan persoalan antara pasangan itu, sesuatu yang wajar terjadi pada manusia, bagaiman pun tingkat keimanan dan ketakwaannya.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam datang ke rumah fatimah dan tidak menemukan Ali di rumah. Beliau bertanya, “Kemana putra pamanmu?” Fathimah menjawab, “Ada masalah di antara kami. Lalu dia marah dan pergi hingga tidak tidur siang di rumah.” Maka Rasulullah berkata pada seseorang, “Coba cari dimana dia” Tak lama kemudian orang itu datang dan memberitahukan bahwa Ali sedang tidur di masjid. Rasulullah pun pergi ke masjid untuk menemui Ali dan mendapatinya sedang berbaring, kain bagian samping badannya tersingkap hingga terkena tanah. Rasulullah pun menghapus tanah dari badannya seraya berkata , “Bangunlah hai Abu Thurab (bapaknya tanah)!”

Tidak ada julukan yang lebih disukai Ali dari Abu Thurab. Dia senang dipanggil dengan julukan itu.
Ali sangat mengerti kedudukan istrinya di hati ayahnya. Maka Ali tidak memadunya hingga dia meninggal dunia dan menghindari segala sesuatu yang dapat membuat Fathimah merasa cemburu.

4. Keikutsertaannya dalam berbagai peperangan
Di antara sifat ali yang paling menonjol adalah keberanian dan kepahlawanan yang berpadu dengan sosoknya yang kokoh dan tubuhnya yang kuat. Namun demikian, keberaniannya tidaklah tanpa batas dan tanpa kendali, akan tetapi setiap tindakan kepahlawanan dan kemenangannya sangat memperihatinkan manhaj yang menempanya saat tinggal dirumah kenabian. Peperangan dan jihad yang dilakukannya didasarkan pada sikap istiqamah, dinaungi oleh keadilan, di jaga oleh kemuliaan dan terhindar dari kesewenang-wenangan, serta bersih dari rasa dendam dan dengki terhadap musuh setelah peperangan usai.

Ali mengikuti seluruh pertempuran bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kecuali perang Tabuk, karena beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau memimpin Madinah.

Dengan demikian, Ali ikut serta dalam perang Badar sebagai pembawa panji, sementara dalam perang Uhud Ali termasuk pasukan sayap kanan, lalu menjadi pembawa panji setelah pembawa pertama Mush’ab bin Umair syahid. Ali juga ikut serta dalam perang Khandaq dan membunuh ksatria Arab Amr bin Abdi Wud. Ali pun hadir hadir dalam peristiwa Hudaibiyah dan Bai’atur Ridwan. Begitu juga perang Khaibar yang pada peristiwa itu Ali mengalami berbagai situasi sulit. Kemudian Ali ikut dalam pelaksanaan Umrah pengganti, Fathu Mekah, perang Hunain, perang Tha’if, Umrah bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dari Ji’ranah, dan melaksanakan haji bersama beliau pada haji wada’.

  • Pada perang Badar
    Waktu itu Ali mengenakan pakaian wol putih. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyerahkan padanya panji kaum Muhajirin. Ketika dua pasukan bertemu, majulah tiga orang dari mereka menantang bertarung, mereka adalah Uthbah bin Rabi’ah, saudaranya Syaibah, dan putranya Walid bin Utbah. Mereka dihadapi oleh tiga orang dari kaum Muhajirin, yaitu Ubaidah bin Harits, Hamzah bin Abdul Muththalib, dan Ali. Ketiga kaum musyrikin tewas, sedangkan dari ketiga shahabat hanya Ubaidah yang terluka.Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan –Lafazh ini milik Bukhari- dari Qais bin Ubad, dia berkata, “Saya mendengar Abu Dzar bersumpah bahwa ayat, “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, bertengkar mengenai tuhan mereka” (QS. Al-Haj [22]: 19). Turun terkait mereka yang berperang tanding saat perang Badar, yaitu Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Harits melawan Uthbah, Syaibah putra Rabi’ah, dan Walid bin Uthbah.Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dari Ali Radiyallahu ‘Anhu bahwa dia berkata, “Saya orang pertama yang berlutut di hadapan Allah Yang Maha Pengasih untuk perkara pada hari kiamat.”
  • Pada perang Uhud
    Pada awalnya panji diserahkan pada Mush’ab bin Umair. Ketika Mush’ab syahid, Rasulullah menyerahkannya kepada Ali. Ali pun menganbil panji itu lalu maju seraya berseru, “Saya adalah orang yang akan menghancurkan siapa pun yang ditemuinya.!” Maka Abu Sa’ad bin Abi Thalhah, pembawa panji kaum musyrikin menantang Ali untuk bertarung. Tantangan tersebut langsung disambut oleh Ali. Keduanya lalu saling menyerang, Ali memukulnya hingga membantingnya. Kemudian Ali berpaling darinya karena dia memperlihatkan auratnya.Ali termasuk orang yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Pada hari itu dia terkena 16 tusukan, pedangnya berlumuran darah dan bengkok karena terlalu banyak digunakan untuk memenggal kepala kaum musyrikin.
  • Pada perang Khandaq
    Ali menorehkan banyak kisah kepahlawanan yang sangat terkenal, di antaranya adalah ketika menaklukan Ksatria Jazirah Arab, Amr bin Abdi Wud, yang dianggap setara dengan 1000 orang. Dia menantang kaum muslimin, “Siapa yang berani melawanku?” Ali pun bangkit ingin menghadapinya. Namun Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruhnya duduk seraya berkata, “Dia adalah Amr!” Hal itu terjadi dua kali. Ali pun menahan diri karena ingin mentaati Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Namun pada kali ketiga, Ali bangkit lagi. Ketika Rasulullah mencoba menahannya seraya berkata, “Dia adalah Amr!”, Ali menjawab, “Meskipun dia Amr!”Ali pun maju untuk menghadapi Amr. Amr bertanya, “Siapa kamu?”“Saya Ali.”

    “Putra Abdu Manaf?” Tanya Ali lagi.

    “Saya Ali bin Abi Thalib.”

    “Wahai putra saudaraku, di antara paman-pamanmu ada yang lebih tua darimu. Saya tidak ingin mengalirkan darahmu.” Ujar Amr merendahkan.

    “Tapi saya, demi Allah, sangat ingin menumpahkan darahmu!” Balas Ali.

    Amr pun marah, lalu turun dari kudanya dan menghunus pedangnya. Dia segera menyerang Ali dengan penuh kemarahan dan dihadapi oleh Ali dengan tameng kulit. Amr menebas pedangnya hingga merobek tameng Ali dan tameng itu tersangkut di pedangnya lalu jatuh menimpa kepalanya hingga melukainya. Ali pun memukul urat bahunya hingga dia tersungkur ke tanah. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu mendengar seruan takbir, maka beliau pun tahu bahwa Ali telah berhasil membunuh Amr.

  • Pada Bai’atur ridwan
    Pada peristiwa itu para shahabat berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyatakan kesiapan mereka untuk mati dalam rangka memberi pelajaran kepada kaum Quraisy ketika sampai pada mereka berita bahwa Utsman telah dibunuh. Ali pun segera berbai’at. Dengan demikian memperoleh ridha Allah sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) dibawah pohon.”(QS. Al-Fath [48]: 18).
  •  Pada perang Khaibar
    Di awal tahun ketujuh Hijriah, pasukan kaum muslimin bergerak ke Khaibar. Waktu itu Ali tidak ikut berangkat karena sedang sakit mata. Ketika dia melihat kaum muslimin berangkat ke medan jihad, dia khawatir akan melewati kemuliaan peristiwa tersebut. Dia berkata dalam hati, “Saya tidak ikut bersama Rasulullah?” Maka  dia pun berangkat menyusul Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.Kaum Yahudi berlindung di balik benteng mereka. Pasukan kaum muslimin pun berupaya menyerang benteng tersebut namun benteng tersebut sangat sulit ditembus sehingga memperlambat terwujudnya kemenangan kaum muslimin. Pada saat itulah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kabar gembira yang luar biasa itu, sebagaimana di kisahkan oleh Sahl bin Sa’ad, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata pada perang Khaibar, “Sesungguhnya saya akan menyerahkan panji ini besuk kepada seorang laki-laki yang ditangannya Allah akan berikan kemenangan bagi kaum muslimin. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, sebaliknya Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata, “Malam itu para shahabat bertanya-tanya siapa dari mereka yang ditugasi membawa panji tersebut.”

    Esok harinya para shahabat dan kaum muslimin lainnya datang menghadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. setiap orang dari mereka ingin di beri tugas untuk membawah panji tersebut. Lalu Rasulullah bertanya, “Dimana Ali bin Abi Thalib?” Para shahabat menjawab, “Dia sedang menderita sakit mata wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Bawalah ia kemari!” Tak lama kemudian, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah . lalu Rasulullah meludai kedua matanya dan berdoa untuk kesembuhannya. Tak lama kemudian mata Ali sembuh tanpa ada rasa sakit lagi. Kemudian Rasulullah menyerahkan panji itu kepadanya. Ali bin Abi Thalib bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi kaum musyrikin hingga mereka menjadi orang-orang muslim seperti kita?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Laksanakanlah tugasmu dengan baik dan tidak tergesa-gesa, hingga kamu tiba di wilayah mereka. Setelah itu, serulah mereka untuk masuk dalam agama Islam, beritahukan kepada mereka tentang kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan di dalam ajaran Islam! Demi Allah, sungguh petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang (hingga ia masuk Islam) melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh unta merah .”

    Kaum Yahudi melawan dari balik benteng mereka. Sementara kaum muslimin terus menyerang mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kemenangan. Ali pun kembali bersama shahabatnya dengan membawa kemenangan yang gemilang. Benar apa yang diprediksi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika berkata, “Sesungguhnya saya akan menyerahkan panji ini besok kepada seorang laki-laki ynag di tangannya Allah akan memberikan kemenangan bagi kaum muslim.”

  • Pada perang Tabuk
    Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruh Ali tinggal di Madinah untuk menjaga keluarga beliau. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu ‘Anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat ke Tabuk dan menyuruh Ali tinggal di Madinah. Ali bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau menyuruhku tinggal bersama anak-anak dan kaum perempuan?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu dariku bagaikan kedudukan Harun dari Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”

5. Pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyirikin pada tahun kesembilan Hijriyah
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutus Abu Bakar sebagai pemimpin haji kaum muslimin dan memerintahkan padanya untuk menyerukan pada semua orang bahwa, “Tidak ada lagi haji bagi orang-orang musyrik setelah tahun ini dan tidak ada lagi yang melakukan thawaf di Baitullah  dengan bertelanjang.” Kemudian Rasulullah mengutus Ali setelah Abu Bakar untuk mendampinginya dan mendapat tugas untuk menyampaikan pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyrikin, menggantikan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam karena posisinya sebagai putra paman beliau dan keluarga beliau.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, “Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, “Pada pelaksanaan haji itu Abu Bakar mengutusku bersama dua orang penyeru pada hari raya Idul Adha. Kami pun menyerukan tentang pernyataan pemutusan hubungan. Abu Hurairah berkata, “Ali ikut menyeruhkan bersama kami pada orang-orang di Mina, “Tidak ada lagi haji bagi orang-orang musyrik setelah tahun ini dan tidak ada lagi yang melakukan thawaf dengan di Baitullah dengan telanjang.”
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutus bersama Abu Bakar pernyataan pemutusan hubungan dengan kaum musyrik. Sesampainya di Dzaul Hulaifah, beliau berkata, “Tidak boleh seorangpun menyampaikannya selain aku atau seseorang dari keluargaku.”Maka Rasulullah pun menyuruh Ali untuk menyampaikannya.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas disebutkan, “Maka Ali menyerukan pada hari-hari tasyriq, “Jaminan Allah dan Rasul-Nya tidak berlaku lagi bagi setiap orang musyrik, maka bertebaranlah di muka bumi selama empat bulan, janganlah seorang musyrik pun melaksanakan haji setelah tahun ini, janganlah melakukan thawaf di Baitullah dengan telanjang, tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin.” Ali terus menyeruh, jika dia lelah Abu Bakar yang menggantikannya.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengangkat Ali sebagai komandan pasukan dalam beberapa peperangan. Beliau juga pernah mengutusnya ke Yaman untuk mengajak penduduknya masuk Islam dan Ali pun berangkat ke sana, mengajak penduduknya masuk Islam dan membacakan kepada mereka surat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka masuk Islamlah suku Hamdan. Ali mengirim surat kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menggambarkan tentang keislaman mereka. Ketika Rasulullah membaca surat tersebut, beliau langsung bersujud, lalu bangun dari sujudnya seraya berkata, “Keselamatan bagi Hamdan, keselamatan bagi Hamdan.”

Ali pun kembali dari Yaman dengan segera agar dapat mengikuti pelaksanaan haji. Maka dia pun ikut melaksanakan haji bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada haji wada’.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.