Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Ciri Fisik dan Keislaman Ali (Seri 1)

A. ASAL-USUL Ali , GAMBARAN FISIK, PERTUMBUHAN, DAN KEISLAMANNYA

1. Keluarga tempat dia tumbuh
Abdul Muththalib bin Hasyim merupakan pembesar Quraisy dan tokoh yang disegani dan ditaati oleh kaumnya. Kisah tentang dirinya memenuhi padang pasir Arab, dari utara sampai selatan, menebar wangi semerbak. Dialah yang melakukan penggalian sumur Zamzam. Ketika Abrahah dan pasukannya datang untuk merubuhkan Ka’bah, Abdul Muththalib berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melindungi Baitullah.

Kedermawanannya sangat luar biasa, hingga sosoknya digambarkan dengan ungkapan, “Laki-laki yang memberi makan orang-orang di dataran dan binatang buas di pegunungan!”

Dia diberi kepercayaan untuk mengelola siqoyah dan rifadah . Dia mencapai derajat kemuliaan di kalangan kaumnya yang belum pernah dicapai oleh para pendahulunya. Kaumnya sangat mencintai dan menghormatinya. Begitu banyak pujian yang dilekatkan pada dirinya hingga dia terkenal dengan julukan ‘Orang tua terpuji’.

Ketika Abdul Muththalib diberi kabar gembira tentang kelahiran cucunya, Muhammad bin Abdullah, dia pun menggendong Muhammad dan memeluknya ke dadanya lalu segera membawanya ke Ka’bah untuk mengucap syukur kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.

Abu Thalib mewarisi dari ayahnya (Abdul Muththalib) berbagai sifat terpuji tersebut, di samping kedudukan dan kepemimpinannya. Dalam dirinya terkumpul berbagai keutamaan bangsa Arab sehingga dia pun menempati posisi penting di kalangan kaum Quraisy dan termasuk ke dalam jajaran ulama dan ahli pidato.

Dia mendapat kepercayaan untuk mengasuh putra saudaranya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan mencurahkan kasih sayang padanya. Ketika turun wahyu pada keponakannya itu, Abu Thalib memposisikan dirinya sebagai penolongnya meski harus menghadapi permusuhan kaum Quraisy. Ketika kaum Quraisy menampakkan permusuhan mereka terhadap Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Thalib mendatangi mereka dan menentang mereka dengan keras untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan keponakannya diganggu. Dia berkata kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, “Pergilah wahai keponakanku, katakan apa pun yang ingin kau katakan, demi Allah saya tidak akan membiarkan apapun mengganggumu!”

2. Nama lengkap Ali , nasab, kelahiran, dan awal pertumbuhannya
Itulah Abu Thalib yang darinya lahir seorang anak bernama Ali. Itulah Abdul Muththlib kakeknya dan juga kakek Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Inilah nasab shahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththlib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al-Qurasyi Al-Hasyimi.

Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Sempat masuk Islam, ikut menyertai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan hijrah ke Madinah Munawwarah hingga meninggal dunia disana. Rasulullah menshalati jenazahnya, ikut turun ke dalam kuburnya, memimpin pemakamannya, memakaikan padanya gamis beliau dan memujinya. Beliau berkata, “Wanita ini merupakan makhluk Allah yang memperlakukan saya paling baik setelah Abu Thalib.”

Dari keluarga yang penuh dengan berbagai kemuliaan ini lahir sosok Ali bin Abi Thalib. Para kakeknya merupakan pelayan Ka’bah dan para jamaah haji yang datang ke sana. Mereka menempati posisi paling penting di kalangan Quraisy, ibarat kepala bagi tubuh.

Ali mewarisi dari ayahnya sifat keteguhan hati. Sifat yang diwarisinya itu bercampur dengan Islam dan melahirkan sifat yang suci dan bersih. Loyalitas Ali terhadap Islam tampak sejak awal kemunculannya dan merupakan loyalitas yang jujur dan tinggi.

Ali merupakan putra bungsu, dilahirkan sepuluh tahun sebelum Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam diutus sebagai Nabi. Di antara nikmat sempurna yang diperolehnya adalah dia tumbuh di bawah asuhan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Waktu itu suku Quraisy mengalami masa sulit, sedangkan Abu Thalib memiliki keluarga yang banyak. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun mendatangi Abu Thalib untuk membalas kebaikannya selama ini dan mengambil Ali untuk meringankan beban hidup dan nafkah keluarganya. Hal serupa juga dilakukan oleh Abbas yang mengambil Ja’far untuk diasuh di rumahnya.

Berbagi sifat mulia yang diwarisinya terus tumbuh dan mencapai kesempurnaannya ketika dia berada di bawah naungan pendidik umat manusia yang agung, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang mengambil tanggung jawab pendidikan dan pertumbuhan karakternya. Ali adalah pemuda yang sangat beruntung dan memperoleh keberkahan.

3. Sifat dan gambaran fisiknya
Ali tumbuh dengan tubuh yang kuat baik pada saat muda maupun dewasa. Dia selalu menjaga kekuatan tubuhnya hingga mencapai usia enam puluh tahun. Orang yang melihatnya menggambarkan dirinya memiliki perawakan laki-laki yang sempurna.

Sosoknya sedang, tidak tinggi dan tidak terlalu pendek. Perutnya besar, pundaknya kekar, memiliki tulang lengan dan betis yang besar. Janggutnya tebal hingga memenuhi bagian di antara dua pundaknya, berwarna putih bagaikan kapas. Memiliki bola mata yang hitam, berkepala botak, memiliki buluh dada yang lebat. Dia biasa menggunakan kopiah Mesir berwarna putih, mengenakan cincin di tangan kiri bertuliskan kalimat Allah Al-Mulk. Wajahnya tampan laksana bulan purnama, memiliki leher yang jenjang seperti teko perak, giginya tampak saat tertawa. Apabila berjalan tubuhnya bergoyang, seperti cara berjalan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Apabila dia memegang lengan seseorang maka orang tersebut akan susah bernafas. Apabila berjalan ke medan perang, dia bergegas. Sosok yang kuat dan berani, selalu berhasil menunduk lawannya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.

4. Dirumah Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam
Ali pindah dari rumah ayahnya, pemuka Quraisy ke rumah Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam, pemuka seluruh umat manusia. Di sana dia melihat sebuah gaya hidup yang baru. Dia menyaksikan bagaimana Nabi melakukan pencarian terhadap kebenaran, beribadah sesuai agama Ibrahim, menghindari perilaku jahiliyah dan penyembahan berhalanya, dengan mengasingkan diri ke gua Hira dan beribadah di sana.

Hati remaja ini terpaut oleh putra pamannya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam. Bagaimana mungkin dia tidak mencintai Muhammad, sedangkan semua orang mencintainya. Bagaimana dia tidak menghormati dan meneladani beliau, sedang para pembesar Quraisy saja menerimanya sebagai orang terpercaya dan sebagai pemutus perkara. Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam merupakan pembuka hidayah dan guru kebaikan bagi Ali pada usia belianya.

Ali tumbuh dirumah kenabian, bernaung di bawah bayang-bayang akhlak mulia Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan pemeliharaan seorang wanita yang cerdas dan mulia, Khadijah binti Khuwailid Radiyallahu ‘Anha. Kehidupan Ali pun berkembang seperti mekarnya bunga di musim semi yang memperoleh siraman air yang bersih, seperti ranting subur yang dipelihara oleh tangan yang lembut dan cerdas. Maka Ali tumbuh dalam petunjuk yang benar dan jalan hidup bersih yang tidak ternoda oleh keburukan jahiliyah.

Seakan-akan takdir telah memilih Ali untuk tumbuh sebagai sosok yang lurus dan cerdas. Dia memperoleh pendidikan di bawah pengasuhan yang suci sehingga tidak ditemukan pada dirinya sifat kekanak-kanakan dan tidak pernah tergelincir pada kesalahan.

5. Keislaman Ali
Ketika Ali mencapai usia sepuluh tahun, sepertiganya dilewati di rumah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Mekah digoncang berita besar yang membuat para pembesarnya khawatir dan penyembahan berhala terusik, karena wahyu turun kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan menjelma sebagai utusan Allah bagi seluruh umat manusia.

Di rumah Nabi senantiasa terdengar ayat yang pertama turun dibacakan berulang-ulang oleh beliau, maka Ali pun mendengar ayat-ayat tersebut.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu menyampaikan dakwah Islam, dimulai dari keluarganya, orang-orang terpercaya dari para shahabatnya, dan orang-orang penting di Mekah. Keluarga beliau segera mengimani risalah tersebut. Masuk Islamlah Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah, dan para putri Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Di luar keluarga beliau, yang segera beriman adalah Abu Bakar, lalu diikuti oleh beberapa orang lainnya.

Ali merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, sebagaimana halnya Abu Bakar merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan dewasa.

Ali masuk Islam pada usia sepuluh tahun, belum mencapai usia baligh, belum terkena catatan pena, dan belum memiliki dosa. Dia tidak pernah bersujud pada berhala dan tidak pernah terjerumus pada perbuatan buruk Jahiliyah. Pertumbuhan dan Permulaan hidupnya menjadi model tersendiri, seolah-olah dia adalah anak Islam, murid wahyu, dan penolong Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.