Categories
Utsman Bin Affan

Biografi Sahabat Nabi Utsman Bin Affan : Kerugian atas Syahidnya Utsman (Seri 8)

F. SYAHIDNYA UTSMAN, UCAPAN DUKA, DAN KELUARGANYA

1. Apa yang dilakukan Utsman sampai dia dibunuh?
Utsman Radiyallahu ‘Anhu terbunuh dan menghadap Tuhannya sebagai syahid dengan tubuh berlumuran darah.

Apa yang dilakukan Utsman sampai mereka sengaja melakukan perjalanan ke tempatnya, menumpahkan darahnya yang haram ditumpahkan pada bulan haram dan di tanah haram?

Padahal Utsman adalah salah satu pahlawan yang paling pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alahi wa Sallam, orang pertama yang hijrah bersama keluarganya setelah Nabi Luth Alaihissalam, satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira berupa Surga dan memperoleh mati syahid.

Utsman-lah yang membeli sumur Rumah, mempersiapkan bekal bagi pasukan yang kesulitan mendapat bekal, dan memperluas masjid Nabawi.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat, beliau meras ridha padanya. Lalu kaum muslimin membai’atnya sebagai khalifah setelah Umar berdasarkan kesepakatan para tokoh mereka.

Dia mengirimkan pasukan tentara, membebaskan berbagi wilayah, menyampaikan dakwah Islam hingga mencapai perbatasan India dan Andalusia dan ibu Kota Byzantium.
Utsman mengumpulkan kaum muslimin pada satu jenis mushaf. Dia pernah menghatamkan seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat ketika shalat di Maqam Ibrahim Alaihissalam.

Dia pun kerap membagikan berbagai pemberian dan bantuan, termasuk pakaian dan makanan.

Apakah setelah berbagai kelebihan tersebut Utsman pantas untuk dibunuh?
Apakah Dzun Nurain melakukan dosa yang mengharuskannya dibunuh menurut pandangan para pemberontak yang berdosa itu?

2. Kerugian yang ditimbulkan akibat pembunuhan Utsman
Kerugian yang dialami kaum muslimin akibat pembunuhan Utsman sangat besar. Para pembunuh telah mempelopori kebiasaan kufur dengan melakukan hal tersebut dan membuka pintu keburukan yang luas atas kaum muslimin.

Setelah peristiwa pembunuhan Utsman, banyak darah yang tumpah dan mengalir tanpa bisa dihentikan. Akibat pembunuhan Utsman, gerakan jihad Islam terhenti untuk masa yang cukup panjang dan terjadi berbagai fitnah pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Tanpa itu semua pun, pembunuhan Utsman merupakan kejahatan atas Islam dan kaum muslimin!

3. Pendapat para shahabat mengenai pembunuhan Utsman dan kesedihan mereka atas kematiannya

Musibah tersebut meninggalkan bekas mendalam pada diri para shahabat dan telah membuat mereka sangat bersedih.

Ketika sampai kabar pembunuhan Utsman kepada Ali Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Celakalah mereka hingga akhir masa!” Dia lalu bangkit dan masuk ke rumah Utsman, memeluknya dan menangis, hingga semua orang yang berada di sana menyangka bahwa dia akan menyusulnya. Ali  waktu itu berkata, “Saya berharap saya dan Utsman termasuk ke dalam golongan orang yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 47).

Hudzaifah bin Yaman berkata, “Permulaan fitnah adalah pembunuhan Utsman dan akhir fitnah adalah keluarnya Dajjal. Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika seseorang meninggal dan di hatinya terdapat rasa suka terdapat pembunuhan Utsman meski hanya sedikit, maka dia merupakan pengikut Dajjal jika bertemu dengannya, jika tidak sempat bertemu, dia akan mengimaninya di kuburnya.”

Ibnu Abbas berkhutbah di hadapan khalayak dan berkata, “Jika orang-orang tidak menuntut balas atas kematian Utsman, mereka akan dilempari batu dari langit.”

Sedangkan Sa’id bin Zaid berkata, “Jika Uhud runtuh akibat perbuatan kalian terhadap Utsman, maka dia pantas runtuh.”

Abdullah bin Salam mengatakan, “Dengan pembunuhan Utsman, orang-orang telah membuka pintu fitnah yang tidak akan tertutup selamanya hingga hari kiamat.”

Bahkan Aisyah Ummul mukminin berkata, “Utsman terbunuh secara zhalim, semoga Allah melaknat orang-orang yang membunuhnya.”

Para shahabat sangat merasa kehilangan atas kematian Utsman, sosok dermawan dan penolong, pelaksana apa yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan penegak hukum Allah. Mereka menangis tersedu-sedu dan meratapi kematian Utsman. Bahkan banyak di antara mereka yang meninggalkan kenikmatan dunia dan menghindari tertawa hingga mereka meninggal dunia.

Abu Hurairah saat diingatkan tentang apa yang diperbuat atas Utsman langsung menangis dan meratap.

Abu Humaid As-Sa’idi berkata saat Utsman dibunuh, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau berhak atas diriku untuk tidak melakukan sesuatu dan tidak tertawa hingga saya menemui-Mu.”

4. Tanggal syahidnya Utsman dan pengurusan jenazahnya
Utsman bin Affan menemui syahidnya di Madinah pada hari Jum’at tanggal 18 Zulhijjah tahun 35 H.

Jasad Utsman dimandikan oleh Jubair bin Muth’im, Miswar bin Makhramah, Hakim bin Hizam, putranya Amr bin Utsman, dan dua istrinya Na’ilah dan Ummul Banin. Lalu mereka mengafani dan menshalatkannya. Yang bertindak sebagai imam adalah Hakim bin Hizam. Ada yang mengatakan imamnya adalah Zubair bin Awwam berdasarkan wasiat dari Utsman.

Sekelompok shahabat mengantarkan ke makam, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Jubair bin Muth’im, dan Hakim bin Hizam. Istrinya Na’ilah binti Al-Furafishah ikut mengantar dengan membawa pelita. Jubair berkata kepadanya, “Padamkan pelitanya agar kita tidak diketahui.” Maka Na’ilah pun memadamkannya. Istrinya yang lain, Ummul Banin pun ikut mengantar.

Mereka membawanya secara sembunyi-sembunyi di atas sebuah pintu, terdengar kepalanya terantuk-antuk pada pintu hingga menimbulkan bunyi, karena mereka berjalan dengan sangat cepat, khawatir diketahui para pembunuhnya yang berniat untuk melemparinya dan menguburkannya di pekuburan Yahudi.

Mereka pun memakamkannya malam hari, tidak mungkin menguburkannya secara terang-terangan karena para pembunuhnya menguasai keadaan. Utsman dimakamkan pada malam Sabtu, antara waktu maghrib dan isya di Hasy Kaukab.
Orang-orang menghindari untuk memakamkan orang yang meninggal di kalangan mereka di tempat itu. Bahkan Utsman Radiyallahu ‘Anhu pernah lewat di dekat Hasy Kaukab dan berkata, “Dalam waktu dekat akan meninggal seorang yang shalih lalu dimakamkan di sana, lalu orang-orang pun menirunya.”

Mu’awiyyah Radiyallahu ‘Anhu pada masa kekhalifahanya mengurus makam Utsman tersebut, maka dia merubah tembok pemisah antara Hasy Kaukab dan Baqi’ dan memerintahkan orang-orang untuk memakamkan orang yang meninggal di antara mereka di sekitar makam Utsman agar terhubung dengan makam-makam kaum muslimin. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikannya.

5. Usia Utsman dan masa kekhalifahannya
Utsman Radiyallahu ‘Anhu meninggal dunia pada usia 82 tahun. Utsman dilahirkan enam tahun setelah tahun gajah, artinya dia lebih muda enam tahun dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Ketika Rasulullah wafat, usia Utsman 57 tahun. Lalu dia hidup setelah wafatnya Rasulullah selama 25 tahun. Dengan demikian usianya mencapai 82 tahun.
Sedangkan masa kekhalifahannya selama 12 tahun kurang 12 hari.

6. Istri dan anak Utsman
Utsman menikah dengan Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. ketika Rauqayyah wafat, Utsman menikahi Ummu Kultsum binti Rasulullah. Setelah Ummu Kultsum wafat, Utsman menikah dengan Fakhitah binti Ghazwan, Ummu Amr binti Jundub, Fatimah biti Al-Walid, Ummul Banin binti Uyaynah bin Hishn, Ramlah binti Syaibah, Na’ilah binti Al-Furafishah (sebelumnya beragama nasrani lalu masuk Islam), dan Ummul Walad (Budak).

Dari pernikahannya Utsman dikaruniai 9 putra, yaitu Abdullah bin Akbar, Abdullah Al-Ashghar, Amr, Khalid, Aban, Umar, Al-Walid, Sa’id, dan Abdul Malik.
Sedangkan putrinya adalah Maryam, Ummu Sa’id, Aisyah, Ummu Aban, Ummu Amr, dan Ummul Banin.

Ketika Utsman wafat, dia meninggalkan 4 orang istri, yaitu Na’ilah, Ramlah, Ummul Banin binti Uyaynah, dan Fakhitah.

7.  Harta peninggalan Utsman
Pada saat Utsman meninggal dunia, dia memiliki 30.500.000 dirham dan 150 ribu dinar. Semua harta tersebut dijarah sampai tidak tersisa sepeser pun.

Di samping itu Utsman juga meninggalkan 1000 ekor unta di Rabadzah dan meninggalkan harta sedekah sejumlah 200 ribu dinar.

Utsman menjumpai Tuhannya sebagai syahid dan dalam kondisi berpuasa. Di hadapannya terbuka mushaf Al-Qur’an yang selalu menemaninya siang dan malam. Bahkan ketika para pembrontak menyerbu masuk ke dalam rumahnya, matanya sedang menatap mushaf dan ruhnya sedang menghayati maknanya, seraya menunggu datangnya waktu maghrib untuk berbuka puasa bersama para kekasihnya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam dan shahabatnya.

Utsman pergi dan ruhnya naik menjumpai Sang Pencipta dalam keadaan ridha dan diridhai, dinantikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan dua shahabatnya, Abu Bakar dan Umar yang merindukannya.

Wahai khalifah yang syahid, pergilah ke alam yang kekal dalam keadaan ridha dan diridhai, temuilah di sana Rasul tercinta dan dua shahabatnya yang mulia. Adapun para pembunuhmu, “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 137).

S e l e s a i  . . .

 

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.