Categories
Utsman Bin Affan

Biografi Sahabat Nabi Utsman Bin Affan : Percobaan Pembunuhan Utsman (Seri 6)

A. BERAWAL DARI KEBOHONGAN DAN RENCANA JAHAT HINGGA PENGEPUNGAN DAN MATI SYAHID

1. Tuduhan terhadap Utsman
Mari kita cermati beberapa situasi yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsman dan membeberkan beberapa hal yang dituduhkan terhadap Utsman, untuk mngetahui yang sebenarnya terjadi. Di sini kita tidak dalam posisi menyingkirkan berbagai tuduhan tersebut dari Amirul mukminin, karena dia lebih tinggi dan lebih mulia di sisi tuhannya, lebih terhormat dan lebih bersih menurut pandangan para shahabatnya, dan lebih terhormat dalam jiwa kita daripada memposisikannya sebagai seorang tertuduh. Dalam  hal ini kita justru ingin mendebat para pendusta dalam persoalan ini dan membersihkan biografinya yang cemerlang dari berbagai kotoran sejarah dan periwayatan sejarah yang lemah.

Di bagian ini kita akan memaparkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Safinah, pelayan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Kekhalifahan setelahku berlangsung selama tiga puluh tahun, setelah itu akan berganti menjadi kerajaan.”

Sebuah nash yang amat jelas menegaskan bahwa masa kekhalifahan Amirul mukminin Utsman bin Affan masih berada dalam koridor manhaj kenabian. Adapun malapetaka yang terjadi berasal dari para manusia zhalim dan rusak yang direncanakan oleh tangan-tangan jahat dan pendengki lalu direalisasikan oleh orang-orang rendahan dan para penipu.

Semua tuduhan dan celaan yang dialamatkan oleh para pemberontak pada diri Utsman merupakan dusta dan kebohongan. Seorang shahabat terkemuka, Abdullah bin Umar, menjelaskan hal tersebut ketika mengatakan, “Mereka mencela Utsman dalam beberapa hal yang jika dilakukan oleh Umar tidak akan mereka cela!”

Ibnu Umar adalah saksi mata perjalanan kekhalifahan Utsman dari awal sampai akhir dan termasuk ke dalam kelompok shahabat yang memiliki komitmen terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Kebohongan pertama yang dialamatkan pada Utsman adalah bahwa dia memukul Ammar bin Yasir sampai robek ususnya! Sebuah kebohongan yang dibuat-buat, kalau Utsman benar memukulnya sampai robek ususnya, tentu Ammar tidak akan tetap hidup.

Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Utsman memukul Ibnu Mas’ud sampai mematahkan tulang rusuknya dan tidak memberikan haknya dari baitul mal.” Ini juga merupakan kebohongan. Karena Ibnu Mas’ud bertindak sebagai pengelola baitul mal Kufah pada masa Umar dan berlanjut pada masa Utsman. Hanya saja, pada saat Utsman mengumpulkan mushaf Al-Qur’an dan memerintahkan untuk membakar selain mushaf tersebut, Ibnu Mas’ud sempat menolak melaksanakan pembakaran mushafnya. Tapi di kemudian hari Ibnu Mas’ud berbalik menyetujui tindakan Utsman seperti para shahabat yang lain. Kemudian Ibnu Mas’ud tetap berada pada jabatannya di Kufah hingga wafat pada tahun 32 H.

Kebihongan lain yang dituduhakan pada Utsman terkait dengan seorang shahabat terkemuka lainnya. Mereka mengatakan, “Utsman mengusir Abu Dzar ke Rabadzah (sebuah desa yang berjarak 3 mil dari Madinah).”

Abu Dzar Radiyallahu ‘Anhu termasuk salah seorang yang paling awal masuk Islam dan termasuk shahabat yang mulia. Dia pemimpin kezuhudan dan kejujuran, ilmu dan amal, senantiasa berkata benar. Saking zuhudnya, pernah suatu hari dia lewat di depan Abu Darda’ yang baru saja membangun tempat tinggal baru. Lalu dia berkata pada Abu Darda’, “Apa ini? Engkau membangun rumah yang diizinkan oleh Allah untuk dirubuhkan. Melihatmu berguling-guling di kotoran lebih saya sukai dari pada melihatmu dalam kondisi seperti ini.”

Abu Dzar kerap menginfakkan hartanya samapai tak tersisa sedikitpun padanya dan mengajak orang-orang untuk melakukan hal yang sama dan mencela mereka jika memiliki harta yang banyak. Pernah suatu ketika dia lewat di sebuah perkumpulan di Madinah yang di dalamnya terdapat para pemuka Quraisy, lalu dia berkata, “Beri kabar gembira pada para penimbun harta bahwa untuk mereka batu panas yang akan mereka pikul di neraka jahannam.”

Ini adalah mazhab yang dipilih Abu Dzar sepanjang hayatnya. Pada masa kekhalifahan Utsman, dia menegur dengan keras para gubernurnya, sampai-sampai dia pergi menemui Mu’awiyah di Syam dan membacakan di depan khalayak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka , (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.” (At-Taubah [9] : 34). Menurutnya semua orang harus menginfakkan seluruh harta yang dimilikinya, jika tidak mereka akan terkena ancaman yang terdapat dalam ayat tersebut.

Mayoritas shahabat menolak pendapat Abu Dzar ini. Mereka berkata, “Harta yang telah dikeluarkan zakatnya tidak termasuk harta yang ditimbun meskipun disimpan di bawah  tujuh lapis tanah. Sebaiknya harta yang tidak ditunaikan zakatnya merupakn harta yang ditimbun meskipun diletakkan di permukaan tanah. Inilah yang benar.”

Tidak ada yang sanggup melaksanakan Abu Dzar tersebut kecuali segelintir orang. Maka tidak dapat dijadikan patokan bagi umat dan negara.

Abu Dzar teringat akan pesan Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam padanya, “Jika bangunan telah mencapai Sala’, maka keluarlah dari sana.”

Abu Dzar meminta izin kepada Amirul mukminin untuk pergi meninggalkan Madinah, dia berkata pada Utsman, “Izinkan saya untuk pergi ke Rabadzah.” Utsman menjawab, “Silahkan, dan kami akan menyediakan untukmu salah satu ternak sedekah untuk bolak-balik ke tempatmu.” Abu Dzar menyanggah, “Saya tidak butuh itu. Cukup bagi Abu Dzar sekawan unta miliknya.”

Para pendusta itu juga berkata, “Utsman mengembalikan Al-Hakam setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyingkirkannya.” Al-Hakam bin Abil Ash adalah paman Utsman bin Affan dan ayah dari Marwan. Diriwayatkan bahwa dia menyebarkan rahasia Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, maka beliau mengusirnya ke Tha’if. Utsman memohon kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam agar mengambilkannya dan beliau menjanjikan hal tersebut kepadanya.

Tidak ada hadits shahih maupun sanad yang memuat kisah pengusiran Al-Hakam. Kebanyakan ulama meragukan adanya tindakan pengusiran terhadapnya. Mereka berpendapat, “Dia pergi atas kemauannya sendiri.”

Bahkan seandainya Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam memang menghukumnya dengan mengusirnya, tentu tidak berarti bahwa dia akan terusir sepanjang hidupnya. Tidak ada hukuman seperti itu bagi dosa apapun. Jika seseorang bertaubat, gugurlah hukuman tersebut darinya, dengan demikian seluruh tempat menjadi boleh baginya.

Utsman sendiri pernah berkata kepada para pemuka shahabat, “Saya mengembalikan Al-Hakam setelah sebelumnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengusirnya. Al-Hakam asalnya orang Mekah, lalu Rasulullah mengusirnya dari Mekah ke Tha’if. Kemudian Rasulullah mengembalikannya. Dengan demikian Rasulullah yang mengusirnya dan beliau pila yang mengembalikannya, bukan begitu?” Para shahabat berkata, “Ya, benar.”

Mereka terus berbuat kekacauan dengan menebar berita bohong bahwa Utsman melakukan hal-hal baru dalam urusan agama yang belum pernah ada pada masa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya. Mereka berkata, “Utsman melakukan bid’ah dalam pengumpulan Al-Qur’an dan penyusunannya serta pembakaran mushaf-mushaf.”

Padahal apa yang dilakukan Utsman itu –demi Allah- merupakan kebaikannya yang agung, yaitu mengumpulkan kaum muslimin pada satu mushaf sebagai hasil musyawarah dengan para shahabat Radiyallahu ‘Anhum. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jangan berbicara tentang Utsman kecuali kebaikannya, Demi Allah, apa yang dilakukannya terkait mushaf Al-Qur’an berdasarkan hasil musyawarah dengan kami.”
Tidak cukup sampai situ, mereka berkeras hati dalam kebodohan mereka dengan mengatakan, “Utsman menetapkan lahan yang dilindunginya.”

Lalu ada masalah apa dengan tindakan Utsman tersebut? Padahal Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Tidak ada lahan lindungan kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menetapkan lahan lindungan pada Naqi’, tanah luas yang ditumbuhi rerumputan hijau. Kemudian pada masa Umar, lahan yang dilindungi diperluas hingga mencakup daerah Staraf dab Rabadzah. Ketika Umar memperluas lahan lindung karena bertambahnya jumlah kuda yang digunakan untuk berjihad dan pemasukan baitul mal, Utsman pun melakukan hal yang sama mengingat semakin meluasnya kegiatan penaklukan dan bertambahnya jumlah kuda jihad dan unta sedekah.

Dengan demikian, penentangan terhadap Utsman dalam hal ini sama saja menentang Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sebab beliaulah yang memulai lahan lindung. Lalu apa yang hendak dikatakan oleh pendusta itu?

Di samping itu, mereka pun menuduh Utsman melakukan nepotisme, memberi jabatan kepada kerabatnya yang tidak memiliki kemampuan untuk jabatan tersebut. Mereka berkata, “Utsman memberi jabatan pada Mu’awiyah, Abdullah bin Amir bin Kuraiz, Marwan, dan Al-Walid bin Uqbah, orang fasik yang tidak pantas untuk menjadi pejabat.”

Mengenai tindakanya memberi jabatan pada kerabatnya, tidak ada yang salah dalam hal itu selama mereka memiliki kemampuan dan ikhlas dalam mengemban jabatan tersebut. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sendiri mengangkat Ali  bin Abi Thalib sebagai hakim di Yaman dan memberi jabatan pada beberapa orang dari bani Umayyah yang memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau. Begitu juga Ali  pada saat menjadi khalifah, memberi jabatan pada Abdullah bin Abbas, Qutsam bin Abbas, dan Tammam bin Abbas.

Tidak ada kabilah Quraisy yang anggotanya banyak menjadi pejabat pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selain Bani Umayyah. Karena mereka sangat banyak dan mereka memiliki kemuliaan. Rasulullah mengangkat Attab bin Asid bin Abil Ish bin Umayyah untuk wilayah Asyraf Al-Baqi’ dan Abu Sufyan bi Harb untuk wilayah Narjan.

Para pendusta itu tidak merasa cukup dengan membuat berbagai tuduhan bohong atas diri Utsman dan masa kekhalifahannya. Tapi mereka pun menyertainya dengan upaya merajut benang-benang komplotan untuk membuat fitnah yang tak terkendali dan menyebarkan desisannya ke seluruh arah.

2. Permulaan pembunuhan Utsman dan isyarat Nabi tentangnya
Berbagai penaklukan besar yang mengguncang dua negara adidaya  Persia dan Romawi serta merobek kekuatan Yahudi dan Nasrani tentu tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan efek balik bagi bangunan uamt Islam yang megah. Masih terdapat di berbagai kerajaan yang kalah tersebut sisa-sisa kekuatan yang menyimpan dendam terhadap Islam, para khalifah, dan panglimanya, menunggu saat yang tepat untuk menyalakan api dendam tersebut. Mereka dibantu oleh gabungan bangsa bangsa-bangsa yang masuk ke wilayah Islam yang luas. Di antara mereka ada yang masuk Islam karena merasa suka padanya, namun tidak sedikit juga yang masuk Islam sebagai kedok untuk menutupi kedengkian mereka yang nantinya akan menjadi penyulut fitnah.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengisaratkan hal tersebut, seakan-akan beliau mengetahui apa yang ada dibalik tabir zaman berdasarkan pemberitahuan dari Tuhannya. Maka pada suatu hari beliau menaiki salah satu bangunan tinggi di Madinah lalu berkata, “Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?” Para shahabat menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku melihat fitnah di antara rumah-rumah kalian seperti hujan yang turun.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memperingatkan berapa fitnah tersebut agar orang-orang tidak terjerumus ke dalamnya. Beliau bersabda, “Siapa yang selamat dari tiga hal ini maka dia benar-benar selamat, yaitu kematianku, keluarnya Dajjal, dan pembunuhan khalifah yang sabar dalam mempertahankan kebenaran.”

Di samping itu, dalam banyak kesempatan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberi kabar gembira kepada Utsman behwa dia akan memperoleh syahid. Dari semua berita tersebut dapat dipahami bahwa Utsmanlah yang akan dibunuh karena sabar dalam mempertahankan kebenaran.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘Anhu, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam naik ke atas gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Waktu itu gunung Uhud bergetar. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Tenanglah wahai Uhud, di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”

Sementara itu dalam hadits riwayat Abu Musa disebutkan bahwa ketika dia sedang bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam di sebuah kebun di Madinah, datanglah Abu Bakar minta izin untuk masuk, lalu datang juga Umar. Setiap kali Abu Musa membukakan pintu, Rasulullah menyuruhnya menyampaikan kabar gembira berupa surga kepada keduanya. Abu Musa berkata, “Kemudian datang orang ketiga yang meminta dibukakan pintu. Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Bukakan pintu untuknya dan beri dia kabar gembira berupa surga atas musibah yang akan menimpahnya.” Saya lalu membukakan pintu orang itu dan orang itu ternyata Utsman. Saya pun menyampaikan apa yang diucapkan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, dan Utsman langsung mengucapkan, “Allah-lah tempat memohon pertolongan.”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menjelaskan bahwa musibah tersebut berupa keinginan para pemberontak untuk menurunkannya dari kekhalifahan lalu membunuhnya. Nabi pun mengingatkan Utsman untuk tidak menuruti keinginan mereka.

Beliau berpesan, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan mengenakan padamu pakaian kekhalifahan, jika mereka menuntut agar engkau menanggalkannya, jangan engkau tanggalkan.”

Dengan demikian Utsman Radiyallahu ‘Anhu sangat mengetahui bahwa dia akan terbunuh, bahwa sejumlah orang akan berkomplotan untuk menjatuhkannya dari kekhalifahan. Utsman telah membicarakan hal itu bertahun-tahun sebelum dia menemui syahidnya. Dia berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, “Saya telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan sangat hafal bahwa beliau bersabda, “Akan terbunuh seorang amir (khalifah) dan akan bebas orang yang membebaskan diri.” Akulah yang terbunuh itu bukan Umar. Karena yang membunuh Umar satu orang, sementara saya akan diserbu oleh sekelompok orang.”

Banyak hadits Nabi yang menyatakan bahwa Utsman berada di jalan hidayah dan kebenaran, dan dia akan terbunuh secara zhalim. Karena itulah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mendorong para shahabat dan siapa pun yang hidup pada saat Utsman menjadi khalifah untuk mentaatinya dan tidak menoleh pada segala dusta yang ditimpakan padanya dan pada masa kekhalifahannya.

Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengingatkan akan terjadinya sebuah fitnah, beliau bersabda, “Dalam fitnah tersebut orang yang berselubung kain ini akan terbunuh secara zhalim.” Saya pun memperhatikan orang itu, ternyata Utsman bin Affan.

Sementara Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Asy’ats Ash-Shan’ani, “Sesungguhnya para khatib melakukan orasi di Syam, di antara mereka terdapat para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Yang terakhir menyampaikan orasi adalah seorang bernama Murrah bin Ka’ab . Dia berkata, “Kalau bukan karena hadits yang saya dengar dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, saya tidak akan ikut orasi ini.” Lalu dia menyebutkan tentang fitnah dan memperkirakannya. Saat itu lewat seorang laki-laki berselubung kain, maka Murrah berkata, “Orang ini pada hari itu berada di jalan petunjuk.” Saya lalu berdiri mendekati orang yang berselubung itu, ternyata Utsman bin Affan. Maka saya menghadapkan wajahnya pada Murrah serta bertanya, “Orang ini?” Dia mengiyakan.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menemukan setelah fitnah dan pertikaian –atau beliau bersabda, pertikaian dan fitnah-“ Seorang bertanya pada beliau, “Siapa yang harus kami ikuti wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Hendaklah kalian mengikuti orang terpercaya ini dan para shahabatnya.” Sambil menunjuk ke Utsman bin Affan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Hawalah, “Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Bagaimana sikap kalian terhadap fitnah yang keluar dari penjuru bumi seperti tanduk sapi?” Saya menjawab, “Saya tidak tahu apa yang dipilih oleh Allah dan Rasul-Nya untukku.” Beliau berkata, “Ikutilah orang ini!” Waktu itu yang berselubung kain dari kepalanya lalu menghadapkan wajahnya ke arah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam seraya bertanya, “Orang ini?” Rasulullah mengiyakan. Ternyata orang itu Utsman bin Affan.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.