Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Kehidupannya Dalam Naungan Kenabian, Serta Jihadnya bersama Rasulullah (Seri 4)

B. Kehidupannya Dalam Naungan Kenabian, Serta Jihadnya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

6. Thalhah dalam Perang Uhud

Setiap kali ingat akan perang Uhud, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu selalu berakat, “Hari itu semuanya merupakan miliki Thalhah!”. Beginilah orang-orang yang ikut dalam perang tersebut dan merasakan kehebatannya memberi kesaksian. Mari kita mengikuti kiprah Thalhah pada perang tersebut, dan menyaksikan kisah kepahlawanannya, agar bisa mengambil berbagai pelajaran tentang kejujuran, keikhlasan, dan pengorbanan dalam membela Islam dan melindungi jiwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari segala hal yang bisa menyakiti beliau.

Pasukan Quraisy telah bergerak menuju Madinah dengan kekuatan tiga ribu tentara, menggetarkan bumu dengan segala keangkuhannya, dan membawa dendang kesumat atas kekalahan mereka paa perang Badar. Mereka bermaksud untuk membasuh habis kehinaan akibat kekalahan yang mereka derita, dan berharap dapat memberi kaum muslimin kekalahan yang setimpal dengan apa yang mereka tanggung pada perang Badar.

Kedua pasukan telah bertemu, dan pertempuran pun pecah. Para pahlawan dari kedua pasukan mengamuk memperlihatkan kekuatan mereka. Ali, Zubair, dan Thalhah bin Ubaidillah telah menceburkan diri dalam kancah pertempuran. Begitu juga dengan Abu Thalhah Al-Anshari, Sa’ad bin Abi Waqqash, serta para singa-singa perang lainnya dari kalangan shahabat. Bahkan singa Allah Hamzah bin Abdul Muththalib bertempur bagaikan satu pasukan tentara, sehingga tidak ada satupun prajurit musyrik yang melewatinya kecuali dengan kepala terpenggal.

Sementara itu di gunung Uhud perang juga berkecamuk dengan dahsyat dan menerbangkan banyak kepala orang-orang musyrik. Tanah dipenuhi oleh mayat-mayat yang bergelimpangan, dan pemegang panji pasukan musyrikin terus berganti hingga Sembilan orang dari tokoh mereka, dan satu demi satu dari mereka tewas ketika berusaha mempertahankannya.

Al-Imam Muhammad bin Sa’ad menyebutkan did alam Ath-Thabaqat nama-nama mereka, dan nama-nama shahabat yang berhasil membunuh tokoh-tokoh kafir tersebut. Ia berkata, “Kemudian panji perang dipegang oleh Al-Julas bin Thalhah bin Abu Thalhah, dan ia berhasik di bunuh oleh Thalhah bin Ubaidillah.”

Pasukan kaum musyrikin terpecah, dan kekalahan membayangi mereka, sehingga mereka berbalik arah melarikan diri ke gunung-gunung. Keadaan itu digambarkan oleh Zubair bin Awwam sebagai berikut, “Aku melihat gelang kaki milik Hindun bin Utbah dan para pengiringnya yang menyisingkan lengan baju dan celana mereka untuk melarikan diri!”

Kekalahan menimpa pasukan musyrikin, dan tidak ada keraguan lagi akan hal itu. Kaum muslimin pun mulai mengumpulkan harta rampasang perang yang begitu banyak, sehingga mereka lalai untuk mengejar pasukan musyrikin dan memastikan kehancuran mereka. Pasukan pemanah pun banyak yang ikut mengumpulkan harta rampasan perang dan meninggalkan posisi mereka dan itu berarti melanggar perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan inilah yang kemudian menjadi benih awal dari kekalahan kaum muslimin!

Khalid bin Walid melihat bahwa bukit tempat pasukam pemanah telah kosong dan hanya beberapa orang saja yang masih bertahan disana. Maka ia memimpin pasukan berkuda dan diikuti oleh Ikrimah bin Abu Jahal dan berhasil membunuh pasukan yang tersisa di sana, lalu memberikan serang yang mengejutkan bagi kaum muslimin dari arah belakang mereka. Kaum musyrikin kembali menyatukan barisan dan mengambil alih peperangan. Perang pun kembali berkecamuk dengan dahsyat!.

Serangan mengejutkan tersebut berpengaruh besar dalam menghancurkan kesatuan kaum muslimin dan merusak barisan mereka. Mereka menjadi tercerai-berai, dan roda peperangan berputar memberi mereka kekalahan, dan mereka didera oleh badai pertempuran yang menghancurkan kesatuan mereka. Mereka melemparkan harta yang telah mereka kumpulkan dan berusah menggapai senjata yang telah mereka letakkan. Akhirnya mereka harus menelan kekalahan dikarenakan kesalahan sebagian dari mereka yang melanggar perintah langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu pihak lain yang kemudian mengumpulkan harta rampasan perang, sementara mereka harus menanggung musibah yang menimpa mereka secara keseluruhan.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Zubair bin Awwam berkata, “Pada perang Uhud, pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka untuk mengumpulkan rampasan perang. Maka kami pun diserang dari belakang, dan kemudian ada yang berteriak, “Sesungguhnya Muhammad telah terbunuh.” Maka kami pun mundur untuk pulang dan mereka pun berhasil memukul kami mundur.”

Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari, “Saat itu kaum muslimin terpecah menjadi tga: Satu kelompok terus mundur dalam kekalahan hingga mendekati kota Madinah, dan mereka tidak pulang hingga peperangan selesai. Jumlah mereka sedikit, dan merekalah yang dimaksudkan dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh, Allah maha Pengampun, Maha penyantun.” (Qs. Ali Imran [3]: 155). Kelompok lainnya merasa bingung ketika mendengar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah terbunuh. Sehingga ada di antara mereka yang hanya berkeinginan untuk mempertahankan dirinya sendiri, dan yang lainnya bertekad untuk terus bertempur hingga terbunuh, dan mayoritas shahabat masuk dalam golongan ini. Sementara kelompok yang ketiga tetap bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kemudian di bantu oleh kelompok kedua sedikit demi sedikit setelah mereka mengetahui bahwa beliau masih hidup.”

Pasukan Quraisy menumpahkan segala kemarahan mereka untuk menghancurkan kaum muslimin dan mengarahkan seluruh kebencian dan kedengkian mereka untuk bisa membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka belasan tombak pun ditujukan kepada beliau, begitu juga dengan ratusan anak panah yang datang menghujani, sementara pedang-pedang terus merengsek maju kea rah beliau, dan seluruh usaha tersebut dicurahkan untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atau paling tidak menciderai beliau.

Namun bagaimana mungkin orang-orang Quraisy tersebut bisa melaksanakan maksud mereka, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikelilingi oleh singa-singa perang dan orang-orang yang paling memahami makna pengorbanan yang siap menyerahkan jiwa mereka untuk menghalangi satu buah duri sekalipun yang dapat melukai kaki beliau. Apalagi kalau tubuh dan jiwa beliau terancam bahaya seperti saat itu.

Thalhah melihat sisi medan perang di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada, dan ia telah yakin bahwasanya beliau merupakan sasaran utama dari seluruh kekuatan pasukan musyrikin tersebut maka ia segera berlari menuju beliau, menembus jalan yang penuh dengan dentingan pedang dan tombak pasukan kafir. Namun itu semua tidak dipedulikannya, karena tujuan utamanya adalah menyelamatkan jiwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallami dan melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara itu pedangnya terus bergerak ke kanan dan ke kiri bertempur seolah ia adalah satu pasukan tentara yang kuat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri bertahan di tempat nya, tidak bergeser sejengkalpun menghadapi musuh yang begitu dekat. Dan bersama beliau beberapa orang shahabat juga tetap bertahan dan kemudian yang lain ikut bergabung bersama mereka.

Disebutkan oleh Al-Waqidi dan yang lainnya bahwasanya yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjumlah lima belas orang, delapan dari Muhajirin yaitu Abu Bakar, Umar, Ali, Talhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Dan tujuan lainnya dari Anshar yaitu Al-Hubab bin Al-Mundzir, Abu Dujanah, Ashim bin Tsabit, Al-Harits bin Ash Shimmah, Sahl bin Hunaif, Sa’ad bin Mu’adz atau Sa’ad bin Ubadah dan Muhammad bin Maslamah.

Dan disebutkan juga, “Pada hari itu beliau dikelilingi oleh tiga puluh orang yang semuanya mengatakan, “Wajahku untuk melindungi wajahmu, jiwaku untuk melindungi jiwamu, keselamatan bagimu dan engkau tidak akan pernah ditinggalkan!”

Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Utsman An-Nahdl berkata, “Di sebagian hari-hari ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, tidak ada yang tersisa di sisi beliau selain Thalhah dan Sa’ad, sebagaimana yang mereka katakan.”

Pada hari itu Thalhah tampil dengan dua baju besi, ia memakainya dengan berlapis.

Disebutkan oleh Zubair bin Bakkar dengan sanadnya sendiri dari Ibnu Abbas berkata, “Sa’ad bercerita kepadaku, ia berkata, “Ketika kaum muslimin menderita kekalahan pada perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membai’at sekelompok shahabat untuk siap mati. Mereka mampu bersabar dan mengorbankan jiwa mereka demi beliau hingga beberapa dari mereka terbunuh. Kemudian ia menyebutkan beberapa nama dari mereka yang berbai’at antara lain Abu Bakar, Umar, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Sahl bin Hunaif, dan Abu Dujanah.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Thalhah, “Ketika kaum muslimin menghadapi situasi demikian, dan mereka mundur, datanglah seorang laki-laki dari Bani Amir menyeret tombak dari atas kudanya yang berwarna hitam kemerah-merahan dan dengan angkuh berteriak, “Aku adalah putra Dzatul Wada’, “Tunjukkanlah padaku Muhammad!” Aku (Thalhah) pun menebas betis kudanya hingga terduduk, lalu aku mengambil tombaknya dan demi Allah aku tidak meleset untuk menikam matanya, dan ia mengeluh seperti seekor banteng. Maka aku segera menginjak pipinya dan membunuhnya.”

Mari kita lihat beberapa kejadi hebat dan keberanian luar biasa serta kepahlawanan yang diperlihatkan oleh Thalhah dalam usahanya membela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keteguhan tekadnya untuk melindungi jiwa beliau.

Diriwayatkan oleh An-Nasa’I dengan sanad yang baik sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, “Dari Jabir bin Abdullah berkata, “Pada perang Uhud, di saat orang-orang mundur, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di tempatnya dengan dua belas orang dari Anshar melindungi beliau. Dan Thalhah juga berada bersama mereka. Lalu kaum musyrikin berhasil mendekatinya, maka Rasulullah menoleh kepada orang-orang yang bersamanya dan berkata, “Siapa yang akan menghadapi mereka?” Thalhah berkata, “Aku”, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tetaplah di tempatmu”. Salah seorang dari Anshar berkata, “Aku wahai Rasulullah”, Maka beliau berkata, “Ya engkau”. Dan beliau terus berkata demikian, sementara orang-orang Anshar terus maju satu persatu untuk bertempur dan terbunuh, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan Thalhah bin Ubaidillah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang akan menghadapi mereka?” Thalhah berkata, “Hassi (sebuah kata yang diucapkan ketika seseorang dalam keadaan setengah sadar karena mendapat pukulan ataupun terbakar). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Jika engkau tadi mengatakan, “Bismillah” niscaya para malaikat akan mengangkatmu dengan disaksikan oleh orang-orang yang lain!” setelah itu Allah memukul kaum musyrikin.”

Dlam riwayat dari Baihaqi, “Jika tadi engkau mengatakan “Bismillah” niscaya para malaikat akan mengangkatmu dengan disaksikan oleh orang-orang hingga engkau memasuki langit”. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam naik ke bukit di mana para shahabatnya telah berkumpul.

Ini adalah sebua peristiwa yang berdetak dengan dahsyat, hingga pena pun takkan kuasa untuk melukiskannya, dan tidak mampu menuliskan kepahlawanan yang begitu mengagumkan. Ia sama sekali tidak peduli akan kengerian yang ada. Thalhah menghadapi pedang-pedang yang haus akan darah tersebut, dan bertempur bagaikan sepasukan prajurit. Ia mampu bertahan di hadapan pasukan musyrikin tersebut dan memebrikan perlawanan yang sebanding dengan sebelas orang saudaranya dari Anshar. Jiwa macam apa yang ada di dalam diri shahabat agung ini?!!

Setelah serangan yang ganas tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan cedera yang cukup parah. Wajah beliau terluka, gigi seri beliau di bagian kanan bawah patah, sebuah lemparan mengenai kepala beliau dan melukai keningnya. Beliau terjatuh ke dalam sebuah lubang yang di gali oleh Abu Amir dengan tangannya dan dipeluk oleh Thalhah, hingga bisa kembali berdiri. Sementara itu dua buah mata rantai dari penutup kepala menancap di wajah beliau, dan dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan giginya. Ia berusaha menggigit rantai tersebut hingga kedua giginya patah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir dari Aisyah dan Ummu Ishaq putri-putri Thalhah, mereka berkata, “Pada perang Uhud ayah kami mendapatkan luka sebanyak dua puluh empat luka, diantaranya terdapat sebuah luka berbentuk segi empat di kepalanya, urat kakinya terputus, dan salah satu jarinya juga terputus. Sementara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menderita cedera yang cukup parah dengan luka di wajah beliau dan beberapa gigi beliau patah, dan beliau telah sangat kepayahan. Thalhah dengan tenaga yang masih tersisa membawa beliau mundur, setiap menjumpai orang kafir ia akan bertempur untuk melindungi beliau, hingga kemudian ia menyandarkan beliau pada sebuah dinding bukit!”

Luka-luka tersebut sangat melemahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan dua lapis baju besi yang beliau pakai menjadi semakin terasa berat sehingga beliau kesulitan untuk menaiki sebuah batu besar di bukit Uhud. Maka Thalhah membungkukkan badannya hingga beliau bisa menapakinya dan naik ke batu besar tersebut. Dan ketika waktu shalat tiba, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat dengan duduk, di ikuti oleh kaum muslimin yang juga duduk di belakang beliau.

Peristiwa ini diceritakan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan yang lainnya, dari Abdullah bin Zubair, dari ayahnya Zubair bin Awwam berkata, “kami pergi menaiki bukit Uhud bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau berusaha menaiki sebuah batu besar namun beliau kesulitan. Maka Thalhah membungkukkan badannya di bawah beliau, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menapaki badannya hingga berhasil duduk di atas batu tersebut! Zubair berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Telah wajib bagi Thalhah” (Maksudnya, Thalhah telah melakukan suatu perbuatan yang menjadikannya wajib mendapatkan surga).

Sa’ad bin Abi Waqqash yang meurpakan salah seorang pahlawan yang hebat dari kalangan shahabat juga memberikan kesaksian bahwa Thalhah adalah orang yang paling banyak melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berkata, “Semoga Allah merahmati Thalhah. Dia adalah orang yang paling besar perannya dalam melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara kami sering menjauh untuk menghadapi musuh dan kemudian kembali menemani beliau. Aku telah melihatnya sendiri berputar-putar di sekeliling Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk membentengi beliau dengan dirinya.”

Ketika perang usai, tubuh Thalhah membawa banyak sekali tanda dari perang tersebut. Dari kepala sampai kaki, leher dan dadanya, semuanya mendapat bekas sayatan pedang, dan mengalirkan luka bekas tusukan tombak. Banyak panah yang telah menembusnya, namun ia menghadapi itu semua tanpa ada niat untuk melarikan diri. Berbagai macam bekas senjata pun memenuhi tubuhnya. Tubuhnya diselimuti oleh darah, dan ia menyelesaikan perang dengan lebih dari tujuh puluh bekas luka yang terdiri bekas pedang, tusukan tombak, maupun panah. Itu semua menjadi lencana kehormatan dan tanda kepahlawanan serta sekaligus sebagai bukti dari ketulusan pengorbanannya. Ia memperlihatkan kesabaran dan ketabahan dalam pertempuran, dan menunjukkan kepada Allah perbuatan yang diridhai nya dengan berpegang teguh kepada agamanya dan melindungi Rasulnya Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Mari kita dengarkan kesaksian beberapa tokoh shahabat yang menyaksikan langsung apa yang dialami Thalhah pada hari itu.

  • Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya dari Qais bin Abu Hazim berkata, aku menyaksikan di tangan Thalhah bin Ubaidillah banyak sayatan, ia menggunakan tangannya untuk melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Uhud.”
  • Dalam sebuah riwayat dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah ia berkata, “Jari manis dari tangan kiri Thalhah terkena tebasan pedang dari pangkalnya hingga putus, ia melakukan itu untuk melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”
  • Abu Bakar Ash Shiddiq menggambarkan kejadian saat itu dengan amat terperinci dan mengagumkan. Ia menceritakan sebuah kisah yang menggambarkan tentang keberanian dan kehormatan, lalu memberikan kesempatan kepada para pembaca untuk merenungkannya agar tertanam di hati mereka kebanggaan dan penghormatan untuk sosok pahlawan yang rela menanggung berbagai luka demi kebenaran. Dan agar mereka mengukirkan contoh terbaik dan teladan yang paling mulia di hati mereka.

Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi di dalam Ad-Dala’il dan Ibnu Hibban, juga Ibnu Asakir dan yang lainnya dalam riwayat yang lebih panjang, dan Ibnu Sa’ad serta Abu Nu’aim dalam riwayat yang lebih singkat, dari Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,

“Setiap kali mengingat perang Uhud Abu Bakar Radhiyallahu Anhu akan menangis, dan berkata, “Hari itu semuanya adalah milik Thalhah!! Kemudian ia mulai bercerita, “Aku adalah orang yang pertama kali kembali pada saat perang Uhud, dan aku menyaksikan seorang laki-laki yang bertempur bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melindungi beliau, aku berkata, “mudah-mudahan itu Thalhah, karena aku telah ketinggalan banyak momen saat itu. Dan aku berkata, “Dia antara aku dan pasukan musyrikin ada seorang laki-laki yang tidak bisa aku kenali, dan aku lebih dekat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam darinya, namun ia berjalan lebih cepat dariku. Dan ternyata dia adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Ketika sampai di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kami mendapati gigi beliau telah patah, wajah beliau terluka, dan dua mata rantai dari penutup kepalanya telah menancap di wajah beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tolonglah shahabat kalian. Maksud beliau adalah Thalhah yang telah mengeluarkan banyak darah. Namun kami tidak memperhatikan ucapan beliau.” Lalu Abu Bakar menceritakan tentang kisah Abu Ubaidah yang melepaskan mata rantai di wajah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan giginya. Kemudian ia berkata, “Lalu kami merawat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan setelah itu kami mendatangi Thalhah yang berada dalam salah satu lubang yang ada di sana. Dan ia telah memiliki lebih kurang tujuh puluhan bekas luka tusukan, sayatan, maupun lemparan panah, dan jarinya juga telah putus. Maka kami pun merawatnya.”

Dalam kitab Al-Maghazi karangan Al-Waqidi diaktakan, “Pada hari itu Thalhah terluka di bagian kepalanya, dan terus mengeluarkan darah hingga ia pingsan. Abu Bakar memercikkan air di wajahnya hingga ia siuman, dan berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” Abu Bakar menjawab, “Baik, beliaulah yang menyuruhku merawatmu.” Ia berkata, “Alhamdulillah, setiap musibah setelahnya adalah kecil!!”

Sungguh Ash-Shiddiq telah berkata jujur dan tepat ketika ia berbicara tentang perang Uhud, “Hari itu semuanya adalah milik Thalhah.”

7. Peperangan Thalhah Lainnya Setelah Uhud

Thalhah tidak pernah ketinggalan dalam seluruh peperangan yang diikuti oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia turut dalam perang Badar, Uhud, dan juga dalam Bai’atur Ridhwan.

Kitab-kitab sejarah dan kisah peperangan telah mencatatkan kiprahnya yang luar biasa pada perang-perang tersebut. Diantaranya adalah kesediaannya untuk mengeluarkan hartanya demi memenuhi kebutuhan para mujahidin, atau mengerjakan perintah-perintah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang menyempurnakan seluruh sisi jihadnya pada masa kenabian.

8. Pada perang Hudaibiyah

Thalhah ikut berangkat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat itu kalangan shahabat yang berasal dari Jeddah telah membawa binatang kurban dari rumah mereka, maka Abu Bakar, Utsman, Ibnu Auf, dan Thalhah juga membawa binatang kurban masing-masing. Ketika perjanjian telah ditanda tangani dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para shahabat untuk memotong kurban dan bercukur, Thalhah segera bangkit dan memotong hewan-hewan yang telah dibawahnya dari Madinah.

Dan disanalah kaum muslimin memberikan Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon, Thalhah berada pada posisi terdepan memberikan bai’at.

Ia juga keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada perang Dzu Qarad (Sebuah mata air yang terletak sejauh dua malam perjalanan dari Madinah arak Khaibar. Qarad sebuah gunung yang terletak di atas lembah An-Naqma yang terletak di arah Timur Laut dari Madinah dengan jarak sekitar 35 Km.) Dengan hartanya, ia membeli sebuah sumur dan menyedahkannya untuk kaum muslimin. Karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menamakannya Thalhah yang dermawan.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi, ia berkata, “Pada perang Dzu Qarad, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati sebuah sumur yang bernama Baisan maka beliau bertanya tentangnya. Dan dijawab, “Namanya adalah Baisan wahai Rasulullah, dan airnya asin.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tidak, tapi namanya Na’man (yang nikmat) dan airnya baik.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengubah namanya, dan Allah merubah rasa airnya! Thalhah membeli sumur itu dan menyedekahkannya, lalu ia mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan memberitahu beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah Thalhah Al-Fayyadh (yang dermawan)”

9. Tahun Kesembilan Hijrah, Perang Tabuk

Perang ini terjadi pada saat orang-orang berada dalam kesulitan musim panas begitu menyengat, panas membakar, perjalanan begitu jauh, dan musuh amat banyak. Namun Thalhah berada dalam barisan tedepan dari pasukan mujahidin, ia berjihad dengan dirinya, berinfak dengan hartanya, mengikuti perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mulai mempersiapkan pasukan, mendorong kaum muslimin untuk mengeluarkan sedekah, dan menjanjikan mereka pahala yang berlipat. Para dermawan pun saling berlomba untuk mengeluarkan harta mereka. Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf menyerahkan harta yang amat banyak. Sementara Thalhah sendiri tetap berada pada barisan terdepan dalam hal ini. Ia membawa hartanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menyerahkannya secara langsung ke tangan beliau.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat dalam diri para shahabatnya apa-apa yang menyenangkan hatinya. Wajah beliau berseri-seri, dan beliau berdoa untuk mereka secara umum, dan juga secara khusus untuk beberapa orang, dan yang terutama tentunya Utsman yang menyiapkan sepertiga pasukan, semoga Allah meridhainya.

Pada perang ini, terdapat sekelompok kecil orang yang memperlihatkan keimanan mereka sementara dalam hati menyembunyikan kekufuran. Mereka berkumpul secara sembunyi-sembunyi dalam kegelapan di rumah seorang yahudi, duduk bersama memikirkan tipu daya melawan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, dan bersekongkol untuk menggerogoti Islam. Mereka berencana untuk menghancurkan kaum muslimin dan membelot dari perang dan jihad. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertindak tegas dengan memotong akar dari kejahatan tersebut, dan menghilangkan pengaruh negatif yang akan ikut menggerogoti tubuh kaum muslimin. Untuk itu beliau menugaskan sekelompok shahabat yang dipimpin oleh Thalhah. Thalhah menerima tugas tersebut dengan senang hati dan segera melaksanakan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Haritsah bin An-Nu’man Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat berita bahwa beberapa orang munafik berkumpul di rumah seorang yahudi yang bernama Suwailim. Rumahnya berada di Jasum (sebuah benteng yang berada di Madinah Al-Munawwarah). Mereka menghasut orang-orang untuk tidak mengikuti anjuran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Thalhah memimpin beberapa orang shahabat lain, dan menugaskan mereka untuk membakar rumah Suwailim. Lalu Thalhah melaksanakan tugas tersebut. Ad-Dhahhak bin Khalifah (Adh-Dhahak, Ia pernah dicurigai sebagai seorang munafik. Setelah kejadian itu ia membuat sebuah syair yang menyiratkan bahwa ia telah bertaubat dan memperbaiki dirinya) mendobrak dari bagian belakang rumah hingga kakinya patah, sementara teman-temannya juga menerobos keluar dan berhasil kabur.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.