Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Kedudukannya di Sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Para Shahabat yang Mulia (Seri 13)

F. Kedudukannya di Sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Para Shahabat yang Mulia

Perjalanan hidup Abdurrahman yang cemerlang ini, yang penuh dengan berbagai perbuatan yang mulia, dan dihiasi dengan keindahan akhlak dan perilakunya, sangat layak untuk mengangkat derajat yang empunya kepada posisi dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan juga di sisi manusia. Dan untuk meletakkannya di titik pujian dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, serta orang-orang yang beriman secara keseluruhan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang terbaik yang mengetahui sifat manusia, dan mengetahui yang tersembunyi di dalam perasaan dan keinginan yang bergejolak di dalam diri mereka. Dan beliau adalah orang yang paling utama, paling tulus, dan yang paling mulia dalam menghargai oran-orang yang memiliki keutamaan, mengangkat mereka yang memiliki kehormatan, serta memberi pujian kepada orang-orang yang memiliki kiprah yang mengagumkan dan akhlak yang mulia. Begitu juga para shahabatnya yang terdidik langsung di bawah pengawasan beliau, dan lulus dari madrasahnya. Mereka mendahulukan orang yang berhak didahulukan, orang yang memiliki kiprah, dan juga keutamaan, kontribusi, dan kehormatan yang tinggi, sebagaimana terbukti dari banyak tindakan mereka dan dikuatkan lagi oleh ucapan-ucapan mereka.

Ibnu Auf bersama beberapa orang shahabat yang paling mulia menduduki kedudukan yang tertinggi dan terdekat di sisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini terlihat jelas dari perkataan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan juga perbuatan beliau yang telah kami sebutkan sebagiannya. Dan ditambah lagi dengan beberapa tindakan lain dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di mana beliau menegur “Pedang Allah” Khalid bin Walid karena ia telah menyinggung Abdurrahman dalam suatu kesempatan! Dan pada kesempatan lain beliau menyebutnya sebagai salah seorang pemimpin kaum muslimin. Dan cukuplah bagi Ibnu Auf  bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepadanya.

Kedudukan Ibnu Auf pada kalangan shahabat juga tak dapat disembunyikan, khususnya bagi tokoh-tokoh mereka dan para ummahatul mukminin. Mereka sering memujinya, mengharagainya, dan menempatkannya di kedudukan yang layak baginya, Semoga Allah meridhainya.

1. Kedudukannya di sisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban, dan Aby Ya’la, dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu berkata, “Pernah terjadi sesuatu antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf, kemudian Khalid memakinya. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Janganlah kalian memaki para shahabatku, sesungguhnya jika seseorang dari kalian menginfakkan emas seberat gunug Uhud, maka ia takkan mampu menyamai satu mud dari mereka, dan bahkan tidak setengahnya.”132

Al-Bukhari serta yang lainnya juga meriwayatkannya tanpa ada kisah antara Khalid dengan Abdurrahman.

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dan orang-orang yang ada di sanad nya adalah Shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami, dari Anas bin Malik Radhiayallahu Anhu berkata, “Pernah terjadi suatu perbantahan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf, lalu Khalid berkata kepada Abdurrahman, “Kalian membanggakan di atas kami karena hari-hari di mana hal itu sampai di telinga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau berkata, “Biarkanlah para shahabatku untukku. Sungguh demi Dzat jiwaku berada di tangan-Nya jika kalian menginfakkan emas seberat Uhud, atau seberat gunung-gunung niscaya kalian tidak akan menyamai amal mereka.”

Dan diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan orang-orang yang ada di sanadnya terpercaya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami dari Abdullah bin Abu Aufa Radhiyallahu Anhu berkata, “Abdurrahman bin Auf mengadukan Khalid bin Walid kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Wahai Khalid janganlah engkau menyakiti ahli Badar, jika menginfakkan emas seberat Uhud, engkau takkan menyamai amalnya!”, ia berkata, “Mereka menghinaku, maka aku membalas mereka.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Janganlah kalian menyakiti Khalid, sesungguhnya dia adalah salah satu pedang dari pedang Allah yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir.”

Dan Al-Waqidi menukil dalam Maghazi-nya dari Ibrahim Abdullah bin Auf, dari ayahnya berkata, “Pernah terjadi suatu perbantahan antara Abdurrahman bin Auf dan Khalid, sehingga Abdurrahman menghindar dari Khalid. Maka Khalid membawa Utsman bin Affan kepada Abdurrahman dan meminta maaf kepadanya hingga ia ridha, dan Khalid berkata, “Mohonkanlah ampun untukku wahai Abu Muhammad!”.

Dan inilah yang pantas bagi kedua shahabat mulia ini Radhiyallahu Anhuma.

Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam marah kepada Khalid dan mengatakan hadits tersebut kepadanya, dengan kedudukan yang dimiliki Khalid di sisi beliau, serta berbagai kontribusinya yang besar dalam medan jihad dan banyak penaklukan, namun demikian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tetap tidak rela jika kehormatan para shahabatnya yang terdahulu dan yang setelah mereka diganggu. Maka bagaimana dengan orang-orang yang mencaci maki mereka atau melaknat mereka, yang terdiri dari orang-orang yang telah disesatkan Allah dari jalan mereka, dibutakan matanya, da ditutup hati mereka?! Sunggu celaka mereka sepanjang masa!!

Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh Al-Ausath, dan juga Ibnu Adi dalam Al-Kamil, serta Al-Hakim dan Ibnu Asakir, dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Busrah binti Shafwan, “Siapa yang meminang Ummu Kultsum?” maka ia menjawab, “Fulan, dan fula, dan juga Abdurrahman bin Auf.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Nikahkan dengan Abdurrahman, sesungguhnya ia adalah salah satu yang terbaik dari kaum muslimin. Dari orang yang sepertinya juga akan menjadi yang terbaik diantara mereka. Dari orang yang sepertinya juga akan menjadi yang terbaik diantara mereka.” Lalu Busrah memberathu Ummu Kultsum tentang itu. Maka ia mengirim pesan kepada saudaranya Khalid bin Uqbah agar menikahkannya dengan Abdurrahman bin Auf saat itu juga.”

Dan dalam riwayat lain, disebutkan “Umar berkata kepada Ummu Kultsum bin Uqbah, Istri dari Abdurrahman bin Auf, “Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata kepadamu. “Nikahilah pemimpin kaum muslimin Abdurrahman bin Auf?” ia menjawab, “iya.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan, “Bahwasanya ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah setelah haji wada’, beliau naik mimbar, memuji Allah, dan kemudian berkata, “Wahai Manusia, sesungguhnya Abu Bakart tak pernah sekalipun berbuat buruk kepadaku, maka ketahuilah itu tentangnya. Wahai manusia, sesungguhnya aku ridha kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Aufa, dan para Muhajirin yang pertama, maka ketahuilah itu tentang mereka.”

Hal ini dilakukan oleh ucapan Umar dalam hadits tentang syurga yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya, Umar berkata, “Aku tidak menemukan seorang pun yang lebih berhak dalam perkara ini selain mereka yang ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepada mereka. Ia lalu menyebutkan nama Ali, Thalhah, Utsman, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad.”

Dan tingginya kedudukan Abdurrahman di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga dikuatkan oleh apa yang kami sebutkan sebelumnya, mulai dari berbagai peristiwa yang dialaminya bersama beliau, pujian beliau untuknya, shalat beliau di belakangnya sebagai makmum, kabar gembira dari beliau untuknya berupa surga, dan masih banyak keistimewaan lain yang dimilikinya.

2. Kedudukannya di Sisi Shahabat dan Pujian Mereka Untuknya

Inilah Amiriul Mukminin Umar yang bertanya kepada seorang alim dari mat Ibnu Abbas, apakah ia mengetahui sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim jika ia lupa di dalam shalatnya. Dan ia menjawab bahwa ia tidak memiliki ilmu tentang itu.

Ibnu Abbas berkata, “Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf dan berkata, “Aku memiliki ilmu tentang itu.” Maka Umar berkata, “Katakanlah, sesungguhnya engkau adalah seorang yang adil dan diridhai.” Dan ia pun menyebutkan hadits tentang itu.

Umar berkata, “Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang pemimpin kaum muslimin.”

Dan pada awal pemerintahannya ia mengutus Abdurrahman bin Auf untuk memimpin orang-orang dalam menunaikan ibadah haji, dan ia juga memilihnya bersama Utsman untuk mendampingi ummahatul mukminin dalam menunaikan haji.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim, dari Al-Miswar bin Makhramah putra dari saudari Abdurrahman bin Auf, ia berkata, “Saat aku tengah berada dalam sebuah rombongan bersama Utsman bin Affan, dan Abdurrahman berada di depanku dengan pakaian hitam, Utsman berkata, “Siapakah yang memakai pakaian hitam itu?” mereka menjawab, “Abdurrahman bin Auf.” Maka Utsman berseru kepadaku dan berkata, “Hai Miswar.” Aku menjawab, “Labbaik wahai amirul mukminin”, dan ia berkata, “Siapa yang merasa bahwa ia lebih baik dari pamanmu pada saat hijrah pertama dan para hijrah yang kedua, maka ia telah berdusta.”

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Kami sedang berjalan bersama Utsman bin Affan di jalanan kota Mekah, tiba-tiba ia melihat Abdurrahman bin Auf, maka Utsman berkata, “Tidak ada seorangpun yang dapat melebihi orang tua ini dalam dua hijrah seluruhnya.” Maksudnya adalah hijrah ke Habasyah dan Hijrah ke Madinah.

Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari Abdurrahman bin Azhar, “Bahwasanya Utsman bin Affan menderita pendarahan di hidungnya, maka ia memanggil Humran133 (Dia adalah Humran bin Aban, Pelayan Utsman bin Affan) dan berkata, “Tuliskanlah penunjukan Abdurrahman (sebagai khalifah) setelahku. Ia pun menuliskan wasiat itu. Lalu Humran pergi menemui Abdurrahman dan berkata, “Apakah ada hadiah untukku?” Ibnu Auf menjawab, “Ya, akan ada hadiah untukmu, ada apa?” ia menjawab, “Sesungguhnya Utsman telah menunjukmu (sebagai khalifah) sepeninggalnya!”, maka ia berdiri di antara makam Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mimbar, dan berkata, “Ya Allah, jika benar Utsman hendak menyerahkan urusan in kepadaku, maka matikanlah aku sebelum Utsman.” Dan hanya enam bulan setelah itu ia meninggal dunia.”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-hakim, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dan yang lainnya, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, bahwasanya ia mendengar Ali bin Abu Thalib berkata pada hari dimana Abdurrahman bin Auf wafat, “Pergilah wahani Ibnu Auf, sungguh engkau telah mendapatkan kesuciannya dan melewati keruhnya hidup.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Aku berkata kepada Aisyah, “Sesungguhnya Urwah bisa melebihi kami karena ia bisa menemuimu kapanpun dia mau.” Maka ia berkata, “Dan engkau pun jika mau bisa duduk dibalik tirai dan tanyakanlah kepadaku apa yang engkau mau. Sungguh kami tidak mendapatkan siapapun yang lebih memperhatikan kami sepeninggal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selain ayahmu, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata, “Tidak ada yang akan peduli kepada kalian kecuali seorang yang tulus dan baik hati.” Dan maksudnya adalah Abdurrahman bin Auf.

Dan suatu kali ketika Aisyah menerima salah satu pemberian dari Abdurrahman bin Auf, ia menyebutkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada yang memperhatikan kalian setelahku kecuali orang-orang yang sabar.” Lalu ia berkata, “Semoga Allah memberi minum Abdurrahman dengan mata air salsabil di surga.”

Dan pada kesempatan lain Aisyah mengatakan kepada putranya Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah memberi minum ayahmu dengan mata air salsabil di surga.” 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.