Categories
Abu Bakar

Biografi Sahabat Nabi Abu Bakar: Seorang yang Rendah Hati, Lembut dan Penyayang (Seri 5)

7. Pengiriman Pasukan Usamah
Menjelang wafatnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau tengah menyiapkan pasukan untuk dikirim ke negeri Syam di awah komando Usamah bin Zaid. Rasulullah memerintahkannya untuk memimpin pasukan berkuda menuju Balqa’ (wilayah yang saat ini berada di wilayah Yordania) dan Ad-Darum (kota Dir Balah saat ini di jalur Gaza) dari arah palestina. Ikut orang bersamanya 700 orang dari kaum muslimin.

Pasukan pun berangkat hingga mencapai desa Jurf (salah satu desa di Madinah), pada saat itulah mereka mendengar kabar duka tentang wafatnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Dalam situasi yang seperti itu para shahabat menemui Abu Bakar memintanya menarik kembali pasukan Usamah karena Madinah dalam kondisi terancam oleh kelompok murtadin, sementara tindakan melanjutkan pengutusan Usamah akan menimbulkan situasi yang sangat berbahaya. Kelompok yang memohon penarikan mundur pasukan Usamah ini di pimpin langsung oleh Umar bin Khaththab. Bahkan Usamah sendiri termasuk yang mendukung ide tersebut.

Jika persoalan ini dicermati dengan akal fikiran semata, nampaknya ide tersebut benar belaka. Akan tetapi Abu Bakar melihatnya dari sudut lain, yaitu kenyataan bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyerahkan panji kepada Usamah. Beliau pun telah memerintahkan (waktu itu kondisi beliau telah jatuh sakit) dengan sabdanya, “Kirimlah pasukan Usamah!”. Maka menurut Abu Bakar, perintah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam harus didahulukan bagaimana pun berbahaya kondisi di Madinah.

Mari kita cermati keterangan dari saksi mata peristiwa tersebut. Abu Hurairah menceritakan, “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, jika bukan Abu Bakar yang diangkat sebagai khalifah Rasulullah, pasti Allah tidak akan disembah lagi!”  Abu hurairah mengucapkan itu berulang-ulang sampai orang-orang menyuruhnya diam. Lantas Abu Huarairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengutus Usamah bin Zaid memimpin pasukan yang terdiri dari 700 orang ke negeri Syam. Ketika mereka sampai ke Dzu Khusyub (sebuah lembah yang berjarak satu malam perjalanan dari Madinah ke arah Syam), Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam meninggal dunia. Dalam situasi seperti itu beberapa kabilah Arab memilih keluar dari Islam. Para shahabat pun berkumpul memenuhi Abu Bakar dan mengatakan kepadanya, “Mereka telah murtad, bagaimana mungkin engkau mengutus ke Romawi sementara kabilah-kabilah Arab di sekitar Madinah telah murtad?”

Abu Bakar menjawab, “Demi Dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, meski anjing-anjing menyeret kaki istri para Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, saya tidak akan menarik pasukan yang telah diutus Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan tak akan menurunkan panji yang telah ditegakkannya.”

Maka Abu Bakar memutuskan untuk melanjutkan pengutusan Usamah. Ternyata, pada saat pasukan Usamah melewati kelompok-kelompok yang bermaksud murtad, mereka justru berkata, “Jika mereka tidak memiliki kekuatan, tidak akan mungkin pasukan sebanyak ini pergi meninggalkan mereka. “Maka alangkah baiknya kita biarkan pasukan Usamah melanjutkan perjalanannya sampai berhadapan dengan pasukan Romawi. Dan akhirnya pasukan Usamah benar-benar berhadapan dengan pasukan Romawi, bertempur dengan mereka, dan berhasil mengalahkan mereka. Pasukan Usamah pun kembali ke Madinah dengan selamat. Maka kelompok yang bermaksud murtad tadi pun mengurungkan niat mereka dan memilih untuk tetap berada dalam agama Islam.

Abu Bakar pun berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Bakar berada di genggaman-Nya, kalau sekiranya binatang buas akan menerkamku, aku pasti akan mengirim pasukan Usamah sebagaimana telah diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Meskipun tidak ada yang tersisa selain aku, pasti aku pun akan mengirimnya.”

Sungguh dalam pengutusan Usamah itu terdapat kebaikan. Karena pada saat kabilah-kabilah yang bermaksud murtad menyaksikan pasukan dalam jumlah besar itu, mereka pun serta merta tersadar. Mereka berfikir, jika benar Madinah saat ini berada dalam tekanan kelemahan dan perpecahan, tidak akan mungkin khalifah kaum muslimin mengirim pasukan sebanyak ini pada saat seperti ini untuk memerangi pasukan Romawi. Jadi dengan hanya menyaksikan pergerakan pasukan itu, telah cukup melemahkan keinginan mereka untuk murtad.

8. Penaklukan wilayah yang dilakukan Abu Bakar
Memasuki tahun kedua belas hijrah, pasukan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang diutusnya untuk memerangi kelompok murtadin dan pasukan Usamah yang diutusnya ke Syam telah mengembara ke berbagai penjuru negeri. Dengan demikian mereka telah mempersiapkan pondasi-pondasi Islam, menumpas manusia-manusia yang melampaui batas kelaliman, mengembalikan orang-orang yang hendak meninggalkan agama, meletakkan yang hak pada tempat yang seharusnya, sehingga dengan izin Allah terbentanglah Jazirah Arab, menjadi sama antara yang jauh dan yang dekat.

Setelah Khalid bin Walid selesai dari pertempuran Yamamah dan menumpas fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah Al-Kadzab, Abu Bakar mengirim perintah tertulis kepada Khalid yang waktu itu masih berada di Yamamah untuk melanjutkan perjalanan bersama pasukannya ke Irak.

Khalid pun berangkat bersama pasukannya ke Irak, menghadapi berbagai pertempuran sengit melawan pasukan Persia. Seperti pertempuran Dzatus-salasil, Mudzar, Ullais, dan lain-lain. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Hijrah, Anbar, dan Ainut-tamar. Dari sana mereka bergerak menuju Dumatul-jandal.

Setelah itu Khalid bergerak ke arah Firadh, daerah yang berbatasan dengan Syam, Irak, dan Jazirah Arab. Di sana Khalid bin Walid dan pasukannya menghadapi pertempuran sengit melawan pasukan Romawi yang menewaskan seratus ribu pasuka musuh. Berbagai berita kemenangan Khalid bin Walid pun sampai ke Madinah. Maka Abu Bakar mengirimnya surat mengingatkan, “Jangan sampai engkau dirasuki sifat ujub (bangga pada diri sendiri), jika itu terjadi engkau akan merugi dan menjadi hina. Hindari sikap suka memamerkan amalan, sesungguhnya hanya Allahyang berhak membanggakan diri dan hanya Allah yang akan membalas segala amalan.”

Memasuki tahun ketiga belas hijrah, Abu Bakar Ash-Shiddiq bermaksud mengumpulkan pasukan kaum muslimin untuk dikirim ke Sya, mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam yang pernah mengumpulkan kaum muslimin untuk memerangi pasukan Romawi pada saat perang Tabuk dan mengirim Usamah untuk memerangi perbatasan Syam.

Abu Bakar pun memanggil Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Waqqash, Sa’ad bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang ikut serta dalam perang Badar, dan kaum muslimin lainnya. Setelah semuanya berkumpul Abu Bakar pun menyampaikan idenya, “Saya bermaksud mengirim pasukan kaum muslimin untuk berjihad menghadapi Romawi di Syam, agar Allah semakin mengkokohkan kaum muslimin dan menjadikan kalimatnya sebagai yang tertinggi, Bagaimana pendapat kalian?”

Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash mengungkapkan pendapatnya. Pada kesempatan itu Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Agama ini akan selalu mengalahkan penentangnya, sehingga agama ini tegak dan pemeluknya menjadi pemenang.” Abu Bakar berkata, “Subhanallah, alangkah bagusnya sabda Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tersebut! Sungguh, engkau telah membuat aku senang wahai Ali dengan menyampaikan hadits tersebut, semoga Allah menyenangkan hatimu.”

Setelah urun pendapat dengan mereka, mencari tahu apa yang tersembunyi dalam hati mereka, Allah pun menguatkan tekadnya. Maka Abu Bakar berpidato di depan kaum muslimin. Setelah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyampaikan shalawat atas Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar menyampaikan pidatonya sebagai berikut,

“Sesungguhnya Allah telah memberi kalian nikmat berupa agama Islam, memuliakan kalian dengan perintah jihad, dan meninggalkan derajat kalian dengan agama ini di atas para pemeluk agam lain, maka bersiaplah wahai para hamba Allah untuk menghadapi pasukan Romawi di Syam. Sesungguhnya saya akan mengangkat beberapa komandan dan menegakkan beberapa panji, maka tatkalah kalian pada tuhan kalian dan jangan membangkang pada pimpinan. Perbaiki niat kalian dan persiapkanlah perbekalan, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan.”

Abu Bakar lantas menyurati penduduk Yaman mengajak mereka untuk andil dalan jihad fi sabilillah. Kemudian dia mengumpulkan para komandan yang terbesar di berbagai Jazirah Arab dan menyerahkan kepada masing-masing mereka satu panji. Ketika pasukan itu berangkat dari Madinah, Abu Bakar ikut serta mengantarkan mereka sampai lembah wada’.

Di san Abu Bakar menyampaikan pesannya, “Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Berjuanglah di jalan Allah, perangilah orang-orang kafir, sesungguhnya Allah akan menolong agamanya. Janganlah kalian menipu dalam harta rampasan, janganlah kalian mengkhinati janji, jangan takut, jangan melakukan kerusakan di bumi, dan jangan menyalahi perintah. Apabila kalian bertemu dengan musuh kalian dari orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka pada tiga hal, apabila mereka mau menerima salah satu dari tiga hal tersebut, maka terimalah mereka dan berhentilah memerangi mereka. Ajaklah mereka untuk masuk agam Islam. Apabila mereka mau menerima ajakanmu, terimalah dan berhentilah memerangi mereka, jika mereka menolak masuk Islam, mintalah upeti kepada mereka. Apabila mereka mau menyerahkan upeti tersebut kepadamu maka terimalah dan janganlah kamu memerangi mereka. Namun jika mereka enggan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah lalu perangilah mereka. Jangan sekali-kali menebang pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan membunuh hewan-hewan ternak, jangan tebang pohon yang berbuah, janganlah kalian merobohkan bangunan, dan jangan membunuh anak-anak, orang tua, dan perempuan.”

Panji pertama diberikan pada Khalid bin Sa’id bin Ash. Abu Bakar menempatkannya di wilayah Taima’, untuk berjaga disana bersama pasukan kaum muslimin yang dipimpinnya sampai mendapat perintah selanjutnya. Lalu Abu Bakar mengirim Abu Ubaidah dan pasukannya untuk berjaga di wilayah Himsha. Dia pun mengutus Amr bin Ash bersama 3000 pasukan yang kebanyakan diantara mereka berasal dari kalangan muhajirin dan Anshar, untuk berangkat ke Palestina. Abu Bakar juga mengangkat Syurahbil bin Hasnah yang kembali dari pasukan Khalid bin Walid di Irak sebagai komandan pasukan dan mengirimnya ke Syam. Dan satu panji lagi untuk Yazid bin Abu Sufyan dan menempatkannya di Damaskus.

Abu Bakar berpesan kepada setiap komandan untuk menempuh jalan berbeda, menurutnya cara itu akan membawa manfaat, belajar dari Nabi Ya’qub Alaihissalam yang pernah berpesan pada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku! Janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda.” (QS. Yusuf [12]:67)

Pasukan Romawi bersatu menghadapi setiap kelompok kaum muslimin dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini membuat pasukan kaum muslimin mengirim surat pada khalifah Abu Bakar untuk meminta tambahan pasukan. Abu Bakar pun membalas surat mereka dengan mengintruksikan , “Bersatulah dalam satu kelompok!” Lalu mengangkat Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan.

Sementara itu, datang pasukan tambahan untuk tentara Romawi, sehingga jumlah mereka 240 ribu orang. Tak lama kemudian Khalid dan Ikrimah pun bergabung sehingga jumlah pasukan kaum muslimin mencapai sekitar 40 ribu orang, kedua pasukan bertemu di Yarmuk.

Khalid melihat pasukan kaum muslimin berperang secara terpisah. Pasukan Abu Ubaidah dan Amr di satu sisi. Sedangkan pasukan Yazid dan Syurahbil di sisi yang lain. Maka khalid menyuruh mereka bersatu dan melarang mereka bercerai berai. Khalid juga menyarankan untuk mempergilirkan kepemimpinan pasukan, dan Khalid ditunjuk sebagai yang pertama.

Perang pun berkecamuk, para pejuang saling menerkam. Saat pertarungan baru mulai memanas. Datang berita duka tentang wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, Berita itu lantas disembunyikan dari pasukan, agar mereka tidak menjadi lemah. Upaya penaklukan ini baru berakhir pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu.

9. Pengumpulan Al-Qur’an dam satu mushaf
Berbagai pertempuran tersebut mengakibatkan banyak peristiwa besar, di antara peristiwa yang paling berbahaya bagi Islam adalah wafatnya para penghafal Al-Qur’an dalam pertempuran Yamamah. Kondisi tersebut membuat Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu khawatir. Para shahabat telah berpencar ke berbagai pelosok untuk menyampaikan dakwah Islam. Mati syahid menjadi idaman mereka semua. Sementara Al-Qur’an tersimpan dalam dada mereka semua. Sehingga kematian mereka secara tidak langsung menjadi penyebab hilangnya Al-Qur’an. Bertolak dari pemikiran itu, Umar pun bergegas menemui Abu Bakar untuk bermusyawarah dengannya dalam hal pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf.

Pada awalnya Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menyetujui usulan Umar tersebut, dengan alasan Nabi Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam tidak pernah melakukan itu. Bagaimana mungkin dia melangkahi Nabi.

Namun Umar tidak lekas menyerah, dia terus berusaha meyakinkan Abu Bakar dan menjelaskan berbagai sisi positif dari upaya pengumpulan Al-Qur’an tersebut. Sampai akhirnya Abu Bakar pun tercerahkan dan bersedia menerima usulan Umar itu.

Sang penulis wahyu, Zaid bin Tsabit menceritakan situasi genting tersebut.

“Abu Bakar mengirimi aku berita tentang kematian pasukan Yamamah. Ternyata Umar bin Khaththab sedang bersamanya.

Abu Bakar bercerita padaku, “Umar datang padaku mengatakan, “Sesungguhnya perang Yamamah telah merenggut nyawa para penghafal Al-Qur’an, aku khawatir akan lebih banyak lagi para penghafal Al-Qur’an yang meninggal dalam peperangan berikutnya. Dengan demikian, Al-Qur’an akan hilang bersama dengan wafatnya mereka. Maka aku meyarankan agar engkau segera memerintahkan upaya pengumpulan Al-Qur’an. “Aku berkata, “Bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Umar, “Upaya tersebut Demi Allah merupakan sesuatu yang baik.” Umar tak berhenti berusaha meyakinkan saya, hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan hati saya untuk itu. Saya pun jadi berpandangan seperti pandangan Umar tersebut.

Zaid berkata, “Abu Bakar lalu berkata padaku, “Engkau adalah pemuda cerdas yang tidak pernah kami ragukan. Engkau juga penulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka telusuri dan kumpulkanlah Al-Qur’an.” Zaid berkata, “Demi Allah, kalau mereka menugaskan padaku untuk memindahkan salah satu gunung, tidak akan lebih berat dari pada perintahnya untuk mengumpulkan Al-Qur’an.” Aku pun bertanya padanya, “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Jawab Abu Bakar, “Upaya tersebut demi Allah merupakan sesuatu yang baik.”

Abu Bakar terus berusaha untuk membujukku, samapai akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan hatiku sebagaiman sebelumnya telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Saya pun mulai menelusuri keberadaan Al-Qur’an. Saya kumpulkan Al-Qur’an dari yang tertulis di pelepah kurma dan lempengan batu putih serta dari hafalan para shahabat, sampai saya mendapatkan akhir surat At-Taubah dari Abu Khuzaimah Al-Qur’an-Anshari yang tidak saya dapatkan dari orang lain seorang pun, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]:128). Sampai akhir. Seluruh lembaran Al-Qur’an kemudian disimpan di rumah Abu Bakar samapai dia meninggal dunia. Kemudian disimpan oleh Umar selama dia hidup, selanjutnya disimpan oleh Hafshah binti Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Orang yang paling besar jasanya dalam pembuatan mushaf adalah Abu Bakar. Dialah yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf.”

10. Siafat tawadhu’, kasih sayang , dan wara’ Abu Bakar serta keputusannya di bidang hukum
Di balik kerasnya hati Abu Bakar dalam berbagai peristiwa dan keteguhannya membela yang hak, sejatinya hati Abu Bakar sangatlah lembut dan penyayang. Kekhalifahan tidak merubah kepribadiannya dan cara hidupnya. Dia tetap rendah hati meski telah memperoleh banyak kemenangan dalam berbagai penaklukan. Dia pun tidak merasa lebih tinggi derajatnya dari pada yang lain, bahkan dia tetap berbaur dengan rakyat biasa.

Seorang perempuan pernah menuturkan, “Abu Bakar pernah mampir ketempat kami tiga tahun sebelum dia diangkat menjadi khalifah. Lalu dia mampir lagi setahun setelah menjadi khalifah. Di dua kesempatan itu, para pelayan perempuan di sekitar datang membawa kambing-kambing mereka, lalu Abu Bakar memerahkan susu untuk mereka!”

Ketika salah seorang pelayan berkata –setelah Abu Bakar diangkat sebagai khalifah-, “Sekarang tentu dia tidak bersedia memerahkan susu kambing-kambing kami!!” Mendengar itu Abu Bakar segera menyanggahnya, “Demi Allah, aku pasti tetap akan memerahkannya untuk kalian. Aku sangat berharap posisi yang aku tempati sekarang tidak merubah diriku dan sikapku yang dulu.”

Umar bin Khaththab menceritakan kisah tetang persaingan yang terjadi antara dirinya dengan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam membantu orang tua buta. Waktu itu Umar memiliki jadwal membantu seorang perempuan tua buta yang tinggal di salah satu sudut kota Madinah. Dia membawakannya makanan, membantu membersihkan rumahnya dan membereskan pekerjaan rumahnya. Hingga suatu ketika, saat sampai di sana sia mendapatkan ada orang lain yang telah lebih dulu melakukan pekerjaan itu. Umar pun mencoba untuk datang lebih sering agar tidak didahului orang tersebut, lalu Umar mengintai mencari tahu siapakah orang itu. Ternyata orang itu adalah Abu Bakar –waktu itu dia sudah diangkat sebagai khalifah-, Umar berkata kepadanya, “Ternyata engkau orangnya!”

Abu Bakar kerap menjadi hakim yang menyelesaikan perkara diantara masyarakat. Dia menjelaskan dengan fikiran yang cerdas sisi kebenaran dari perkara yang diperselisihkan. Pernah suatu kali orang laki-laki datang padanya mengadu, “Ayahku hendak mengambil seluruh hartaku untuk dikuasainya!” Abu Bakar lalu menjelaskan pada si ayah, “Silakan engkau ambil sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhanmu saja.” Si ayah berusaha mengelak, “Wahai khalifah, bukankah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Engkau dan hartamu milik ayahmu?” Abu Bakar menjawab, “Betul, tapi yang diamaksud adalah persoalan nafkah.”

Jika dihadapkan padanya persoalan yang tidak dia ketahui solusinya, Abu Bakar tidak segan-segan bertanya kepada para shahabat apakah mereka pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengatakan sesuatu terkait persoalan tersebut. Jika ada yang memberitahunya, dia akan menggunakan sebagai solusi, sebagaimana yang pernah terjadi padanya terkait warisan untuk seorang nenek. Qabidhah bin Dzu’aib menceritakan, “Seorang nenek datang menemui Abu Bakar berkata, “Engkau tidak mendapat bagian, baik dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah. Kembalilah esok hari agar aku tanyakan dulu persoalan ini pada orang-orang.”

Abu Bakar pun menanyakan persoalan tersebut pada para shahabat lain. Mughirah bin Syu’bah mengatakan, “Aku hadir saat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberi seperenamuntuk seorang nenek.” Abu Bakar bertanya kepadanya, “Apakah ada yang lain yang bersamamu pada saat itu?” Muhammad bin Maslamah lantas berdiri dan mengatakan hal yang sama. Abu Bakar pun langsung menetapkannya untuk nenek tersebut.

Umar menempati posisi sebagai hakim pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Menurut Umar, pernah dalam sebulan tidak ada dua orang yang bersengketa yang datang padanya.

Di tahun pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, dia menempatkan Umar sebagai pengganti saat dia melaksanakan haji. Kemudian dia melaksanakan haji dari Qabil. Lalu dia melakukan umrah pada bulan Rajab tahun dua belas hijrah. Dia memasuki kota Mekah di waktu Dhuha dan langsung mendatangi rumah orang tuanya. Waktu itu Abu Qhuhafah sedang duduk di depan rumah bersama beberapa orang pemuda. Dikatakanlah padanya, “Anakmu datang.” Abu Quhafah langsung bangkit berdiri. Melihat itu Abu Bakar segera menghentikan tunggangannya dan melompat turun seraya berkata, “Wahai ayah, jangan berdiri.” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mencium keningnya. Abu Quhafah menangis gembira atas kedatangan putranya.

11. Pendirian Baitul Mal
Abu Bakar sangat takut pada Allah atas apa yang menimpah kaum muslimin. Dia sangat menjaga harta dan hak mereka. Maka dia sama sekali tidak menempatkan penjaga untuk baitul mal di Sunuh.

Abu Bakar tidak segan-segan mengeluarkan apa yang ada di baitul mal untuk rakyatnya. Dia tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. (Orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil,semuanya sama). Abu Bakar pernah membeli unta, kuda, dan senjata untuk digunakan sepenuhnya dijalan Allah. Abu Bakar pun pernah membeli kain beludru yang didatangkan dari pelosok daerah. Lalu kain itu dibagi-bagikan untuk para janda Madinah pada saat musim dingin.

Ketika Abu Bakar meninggal dunia dan telah dimakamkan, Umar bin Khaththab mengajak beberapa orang terpercaya untuk masuk ke baitul mal Abu Bakar. Umar pun masuk kesana bersama Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan lain-lain. Mereka lalu membuka baitul mal dan tidak menemukan apa-apa. Mereka lalu menemukan sebuah kantong uang, ketika dikeluarkan isinya hanya ada uang satu dirham. Mereka merasa kasihan terhadap Abu Bakar.

12. Pengangkatan Umar sebagai pengganti
Sepanjang masa kekhalifahannya Abu Bakar senantiasa berjalan di atas manhaj tersebut. Dia mengakhiri masa jabatannya dengan suatu tindakan terbaik, yaitu menetapkan Umar sebagai penggantinya. Namun dia tidak melakukan sendiri, melainkan setelah bermusyawarah dengan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar. Dia bertanya kepada mereka tentang Umar –meski sebenarnya dia paling mengerti siapa Umar-. Maka ketika sakitnya semakin parah, dia mengundang Abdurrahman bin Auf dan bertanya padanya, “Bagaimana menurutmu sosok Umar bin Khaththab?”

Jawab Abdurrahman bin Auf, “Engkau tidak menyakan sesuatu kecuali engkau lebih tahu dari padaku.”

Abu Bakar berkata, “Jika aku tetap menanyakan?”

Abdurrahman bin Auf berkata, “Demi Allah, dia hamba yang paling pantas untuk menjadi penggantimu.”

Kemudian Abu Bakar mengundang Utsman bin Affan dan bertanya hal yang sama.

Jawab Utsman, “Engkau lebih tahu tentang dia dari padaku.”

Abu Bakar berkata, “Meski begitu, wahai Abu Abdullah.”

Utsman berkata, “Sepanjang pengetahuanku, yang tersembunyi darinya lebih baik daripada yang tampak. Tidak ada diantara kami yang menyamainya.

Abu Bakar pun sempat bertanya pada Sa’id bin Zaid, Usaid bin Hudhair dan beberapa orang lain dari Muhajirin dan Anshar. Menurut Usaid, “Aku melihatnya sebagai sosok terbaik setelahmu, dia ridha pada sesuatu yang pantas diridhai dan membenci sesuatu yang pantas dia benci. Apa yang tersembunyi dari lebih baik dari yang nampak, tidak ada yang sanggup mengemban amanah ini selain dia.”

Setelah mendapat banyak masukan dari para shahabat, Abu Bakar pun merasa mantap untuk mengumumkan penetapan Umar sebagi calon penggantinya. Beberapa shahabat yang lain lantas masuk menemuinya dan berkata, “Apa yang akan engkau katakan di hadapan Tuhanmu jika Dia bertanya tentang penetapanmu atas Umar sebagai pengganti padahal engkau telah melihat sendiri betapa kerasnya dia?”

Abu Bakar berkata, “Dudukkan aku! Apakah kalian menakuti aku dengan menyebut nama Allah? Akan sia-sia orang yang memimpin kalian dengan cara yang zhalim. Aku katakan, “Ya Allah, aku telah mengangkat penggantiku dari hamba-Mu yang terbaik. Sampaikanlah apa yang aku sampaikan ini pada orang-orang setelahku.”

Lalu Abu Bakar kembali berbaring dan memanggil Utsman bin Affan mendiktekan padanya sebuah maklumat,

Bismillahirrahmanirrahim. Ini merupakan keputusan Abu Bakar bin Abu Quhafah di akhir hayatnya di dunia saat dia akan meninggalkannya, di awal kehidupannya di akhirat saat dia akan memasukinya, saat orang kafir beriman, orang yang menyimpang meyakini, orang yang bohong mengakui. Sesungguhnya saya mengangkat Umar bin Khaththab sebagai pemimpin kalian setelahku, maka dengarlah dia dan taatlah padanya. Sesungguhnya saya tidak ingin berlambat-lambat dalam kebaikan untuk Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, diriku dan kalian semua. Jika dia berbuat adil, maka itulah sangkaanku padanya dan pengetahuanku tentangnya. Jika dia berubah, maka bagi setiap orang balasan yang setimpal atas perbuatannya. Saya hanya menginginkan yang terbaik, dan saya tidak mengetahui yang ghaib, “Dan orang-orang yang zhalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 227). Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.”

Kemudian Abu Bakar membubuhkan stempel kekhalifahan pada lembaran tersebut dan memerintahkan Utsman untuk mengumumkannya. Orang-orang pun membai’at Umar dan merasa ridha padanya.

Selanjutnya Abu Bakar memanggil Umar seorang diri, menasihatinya dengan wasiat yang cukup panjang. Di penghujung wasiatnya Abu Bakar mengatakan, “Jika engkau menjaga wasiatku, tidak ada perkara gaib yang lebih engkau cintai daripada kematian –dan dia pasti akan menemuimu-. Sebaliknya jika engkau mengabaikan wasiatku, tidak ada perkara ghaib yang akan lebih engkau benci daripada kematian, dan engkau tidak akan bisa menghindarinya.”

Setelah Abu Bakar selesai menyampaikan wasiatnya, Umar pun keluar. Setelah itu Abu Bakar menengadahkan tangannya dan berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Ya Allah, sesungguhnya hamba hanya ingin menginginkan kebaikan untuk mereka, hamba takut akan timbulnya fitnah di antara mereka. Karena itulah hamba melakukan untuk mereka apa yang Engkau lebih Mengetahui tentangnya. Hamba mengerahkan segenap kemampuan untuk berijtihad, lalu mengangkat orang yang terbaik dan terkuat di antara mereka sebagai pemimpin, orang yang paling peduli terhadap kebaikan mereka. Hamba telah melaksanakan apa yang sanggup hamba laksanakan dari perintah-Mu, maka berikanlah penggantiku untuk mereka. Sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu, nasib mereka ada di tangan-Mu, karuniakanlah kebaikan untuk mereka dan jadikanlah orang itu sebagai khalifah-Mu yeng memperoleh petunjuk, yang mengikuti petunjuk Nabi-Mu dan petunjuk orang-orang shalih setelahnya, dan perbaikilah kondisi rakyatnya untuknya.”

Baru saja Utsman bin Affan keluar membawa lembaran maklumat untuk menyampaikannya pada semua orang, Abu Bakar langsung menyampaikan arahnya lewat sebuah lubang angin, “Wahai kalian semua, saya telah memutuskan sesuatu, apakah kalian ridha?” Orang-orang menjawab, “Kami ridha wahai khalifah Rasulullah.” Tiba-tiba Ali bangkit dan berkata, “Kami tidak ridha kecuali jika orang yang engkau tetapkan itu adalah Umar!” Abu Bakar berkata, “Orang yang aku tetapkan itu adalah Umar.”

Sungguh luar biasa ungkapan yang disampaikan Abdullah bin Mas’ud berikut ini, “Manusia paling berani ada tiga, yaitu Abu Bakar saat mengangkat Umar sebagai pengganti, istri Nabi Musa saat berkata pada ayahnya (Ya’qub Alaihissalam), “Upalah dia untuk bekerja padamu”, dan seorang penjabat yang membeli Nabi Yusuf dan berkata pada istrinya, “Muliakanlah kedudukannya.”

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.