Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid : Bersama Al-Faruq Umar (Seri 8)

F. Bersama Khulafaur Rasyidin dan Masa Setelah Mereka

2. Bersama Al-Faruq Umar

Kisah perjalanan Sa’id berlanjut pada masa pemerintahan Umar seperti halnya pada masa Abu Bakar.Dan kedudukannya pun tetap tinggi bersama pemuka-pemuka shahabat lainnya.

Sejak hari pertama dari pemerintahan Umar bin Khaththab, Sa’id telah ikut serta dalam menentukan gaji dari khalifah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata, “Umar sempat beberapa lama tidak mengambil sedikitpun dari baitul mal, hingga ia mengalami kesulitan hidup. Maka ia mengundang shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk bermusyawarah. Ia berkata, “Sungguh aku telah disibukkan oleh urusan ini, dan berilah makan keluargamu dari Baitul Mal.” Dan Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail pun berpendapat demikian. Kemudian Umar bertanya kepada Ali, “Apa pendapatmu dalam hal ini?Ia berkata, “Ambillah untuk makan siang dan makan malam.” Umar pun mengambil pendapat ini.”

Sa’id selalu mendapingi Umar pada detik-detik akhir hidupnya, ketika Sa’id mengusulkan kepadanya (setelah ditikam) agar menunjuk seorang khalifah bagi kaum muslimin.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Rafi’, ia mengatakan “Umar bin Khaththab saat itu bersandar kepada Ibnu Abbas, dengan Ibnu Umar dan Sa’id bin Zaid bersamanya. Ia berkata, “Ketahuilah bahwa aku tidak pernah mengatakan sesuatupun tenang kalalah (kalalah adalah seorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak), dan tidak menunjuk seorangpun untuk menjadi khalifah menggantikanku, dan kalau ada tawanan arab yang mendapati kematianku, maka ia bebas dengan harta Allah. Sa’id bin Zaid bin Amru berkata, “Sesungguhnya kalau emgkau menunjuk salah seorang dari kaum muslimin, orang-orang akan mempercayaimu.” Maka Umar berkata, “Aku telah melihat adanya ambisi yang tidak baik dari beberapa orang. Maka sesungguhnya aku telah menyerahkan urusan ini kepada enam orang yang ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam wafat, beliau ridha kepada mereka.”

Dan karena ketinggian sifat wara’ yang dimiliki Umar, ia tidak memasukkan putra pamannya Sa’id ke dalam enam orang tersebut, walaupun dia tahu akan kelayakannya dalam hal itu!

Dalam sebuah hadits panjang masyhur (tentang kisah pembunuhan Umar dan pembai’atan Utsman), Ath-Thabari meriwayatkan, “Umar berkata, “Hendaklah kalian mentaati mereka yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berkata tentang mereka, “Sesungguhnya mereka adalah penghuni surga”, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail termasuk di antara mereka, tapi aku takkan memasukkan namanya! Namun yang enam adalah Ali, dan Utsman, putra-putra Abdu Manaf, Abdurrahman dan Sa’ad, paman-paman Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dari pihak ibunya (Ibu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallamberasal dari Bani Zuhrah, Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash juga dari Bani Zuhrah. Maka mereka adalah kerabat dari Ibu beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan orang arab menganggap kerabat dari ibu sebagai paman-paman),  Zubair bin Awwam pembela Rasulullah  Shallallahu’alaihi wa Sallam dan putra dari bibi beliau, dan Thalhah bin Ubaidillah. Maka hendaklah mereka memilih salah satu di antara mereka. Kalau mereka telah memilih satu orang pemimpin, maka berbaik-baiklah dalam menyokongnya, dan bantulah ia.”

Al-Iman Adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lam An-Nubala’, “Said bin Zaid sama sekali tidak kalah kedudukannya dari para ahli syura yang enam, baik dalam hal lebih dahulu masuk Islam ataupun dalam hal ini kemuliaan. Namun Umar tidak memasukkannya agar tidak ada alasan keberuntungan. Karena ia adalah ipar dan sekaligus putra pamannya. Kalau ia memasukkannya dalam ahli syura, maka orang yang menolak akan berkata, “Dia telah berpihak kepada putra pamannya! Maka ia tidak memasukkan putranya dan keluarganya yang lain, dengan demikian diharapkan semuanya benar-benar karena Allah.”

Betul, ia takut kalau ada yang mengatakan, “Dia telah berpihak kepada putra pamannya.” Walaupun dia layak untuk itu. Lalu bagaimana dengan orang yang mengejar kekuasaan dan mewariskannya kepada keluarganya, dan menjadikannya sebagai sebagai harta rampasan perang. Lalu ia membagikannya kepada mereka yang mengejar dan mempertahankan kekuasaannya dengan bathil. Menjauhkaan mereka yang lebih mampu, lalu bersama kroni-kroninya melakukan berbagai macam kezhaliman dan kecurangan dalam agama Allah dan terhadap rakyatnya. Lalu ia juga menghambur-hamburkan uang rakyat dan mempertaruhkan masa depan mereka?! DIa bersama para penjilat dan pendukungnya beranggapan bahwa kekuasaan tersebut adalah sebuah keuntungan baginya! Sementara Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah besabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, dan Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim, “Tidaklah seorang hamba yang diberikan kekuasaan Allah untuk memimpin rakyatnya, lalu mati dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah akan mengharamkan surga untuknya,” Dan dalam riwayat Al-Bukhari, “Tidaklah seorang hamba diberikan kekuasaan oleh untuk memimpin rakyanya, dan tidak menjaganya dengan nasihat yang baik, kecuali ia tidak akan mendapatkan bau surga.”

Dan ketika Umar Radhiyallahu’ Anhu meninggal,  yang turun kekuburannya adalah Utsman bin Affan, Sa’id bin Zaid, Shuhaib bin Sinan, dan Abdullah bin Umar.

Sa’id bin Zaid menangisi kematian Umar dengan amat sangat. Dan merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Maka seseorang berkata kepadanya, “Hai Abu A’war, apa yang membuatmu menangis?” Sa’id menjawab, “Islamlah yang aku tangisi. Kematian Umar telah membuka sebuah lubang dalam Islam yang tidak akan dapat diperbaiki sampai hari kiamat!”

Sungguh benar apa yang telah dikatakan oleh Sa’id bin Zaid Radhiyallahu Anhu, dengan syahidnya Umar, maka pintu itu telah didobrak, pintu fitnah telah terbuka, dan darah pun mulai mengalir. Sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits shahih.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply