Categories
Sa'id Bin Zaid

Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid: Masa Kecil, Remaja, Dan Masuk Islam (Seri 1)

A. Masa Kecil, Remaja Dan Masuk Islam

1. Nama, Nasab, dan Penisbatannya

Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah Al-Qurasyi Al-Adawi Al-Makki Al-Madani.

Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Ka’ab bin Lu’ay, dia berasal dari Bani Adi, kerabat dari Umar bin Khaththab, dan nasab mereka bertemu pada Nufail. Jadi Umar adalah anak dari paman ayahnya.

Di masa jahiliyah, keluar Sa’id (Bani Adi) adalah kabilah yang paling sedikit jumlahnya disbanding kabilah-kabilah lain yang terdapat di Quraisy. Mereka tidak mendapatkan jabatan yang penting pada masa jahiliyah, terutama yang berkenaan dengan Ka’bah dan Baitul Haram. Tapi mereka diberikan tanggung jawab sebagai delegasi dan negosiator antara Quraisy dengan siapa saja yang berselisih dan menggugat mereka dari kabilah-kabilah arab lainnya. Suatu hal yang menunjukkan ketegaran dan ketabahan mereka.

2. Julukan dan Ciri-cirinya

Sa’id dijuluki Abu Al-A’war. Namun dari sekian banyak anaknya, tidak diketahui ada yang bernama tersebut (Al-A’war). Dia berperawakan tinggi besar dan memiliki banyak bulu ditubuhnya, dalam hal ini ia menyerupai Umar.

3. Masa Kecilnya

Kebijaksanaan takdir telah menyiapkan kebahagiaan bagi remaja ini sejak menghirup udara pertamanya hingga hari terakhirnya di dunia. Dan pena sejarah pun telah mencatat banyak faktor yang membuatnya mampu meraih kebahagiaan tersebut, dan tetap menjaganya dalam perjalanan waktu dari segala hal yang mengancamnya

Benih-benih kebahagiaan telah mulai disemai ketika ayahnya memberinya nama Sa’id (Kebahagiaan), dan setiap manusia mempunyai keberuntungannya masing-masing dengan namanya. Dan sejarah pun telah menyimpan banyak peristiwa dan perbuatannyaa yang menjamin kebahagiaannyaa di dunia dan akhirat.

Kemudian diikuti dengan didikan, bimbingan, dan asuhan dari ayahnya, seorang laki-laki shalih yang cerdas dan bijaksana, yaitu Zaid bin Amru bin Nufail. Seorang laki-laki yang hidup di tengah keluarganya Bani Adi, dan di tengah kabilah besarnya yaitu Quraisy yang berada dalam kesyirikan dan penyembahan berhala serta kondisi masyarakat jahiliyah yang kufur. Namun demikian, ia bagaikan potret tersendiri yang terpisah dari masyarakat tersebut, ia bukanlah gambaran dari mereka. Secara terang-terangan ia memperlihatkan perbedaannya dengan masyarakatnya, menjauh dari mereka, dan menghindari penyembahan tuhan-tuhan mereka maupun para leluhur. Dia menolak untuk mengundi nasib dengan anak panah sebagaimana kebiasaan kaumnya, ataupun memberikan hewan kurban untuk berhala-hala. Dia seringkali menyelamatkan hidup anak-anak perempuan yang akan dibunuh orang tua mereka dengan cara di kubur hidup-hidup. Ia mengambil anak-anak itu dari orang tua yang akan membunuh mereka, kemudian mengasuh dan mendidiknya. Dia pernah ditawarkan untuk memeluk agama nasrani, namun ia menolaknya. Begitupula dengan agama yahudi. Dia tetap berpegang kepada agama Ibrahim Alaihissalam, dan menjalankan apa-apa yang masih tersisa dari ajaran suci Ibrahim Alaihissalam yang pertama. Ia sering mendatangi Ka’bah, dan sangat menunggu kedatangan seorang Nabi dari keturunan Isma’il Alaihissalam, yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun sayangnya ia tidak pernah menjumpai beliau, karena ia wafat lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Nabi.

Dalam pengawasan dan asuhan laki-laki cerdas yang merupakan seorang penganut tauhid murni inilah Sa’id bin Zaid menjalani hari-hari pertamanya di dunia. Dan dari kemurnian inilah ia mereguk minuman pertamanya, dan dalam arahan dan pola fikir ini ia tumbuh. Kemudian, dengan mengikuti pola dan jalan yang lurus tersebut ia pun sampai pada tujuannya.

Akhlak yang baik, akal yang cemerlang, dan fikiran yang sehat, serta kemampuan analisa yang tajam, diwariskan kepada keturunan. Dan gen-gen tersebut diwarisi sebagaimana mereka mewarisi ciri-ciri fisik dari orang tua mereka. Maka Sa’id pun mewarisi akhlak ayahnya, berjalan mengikuti jalan yang pernah ditempuhnya, dan mengikuti jejak langkahnya. Yang kemudian menerangi jalannya, dan meneguhkan langkahnya dalam meniti jalan yang lurus.

4. Masuk Islam

Begitu fajar risalah mulai terbit, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyampaikan dakwahnya, dan Sa’id mendengar tentangnya, ia segera mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dan menyatakan keislamannya di hadapan beliau. Dengan demikian ia turut bergabung dalam kafilah pertama yang mengemban dakwah dan menyeru kepada kebenaran dan kebaikan.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Ruman, ia berkata, “Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail masuk Islam sebelum Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memasuki Darul Arqam dan berdakwah di sana.”

Al-Imam Muhammad bin Ishaq menuturkan nama-nama mereka yang pertama kali masuk Islam, dan menyebutkan nama Khadijah, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar. Dan mereka yang masuk Islam melalui Abu Bakar : Utsman, Zubair, Ibnu Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Kemudian ia berkat, “Lalu masuk Islam pula Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Abu Salamah bin Abdul Asad, Al-Arqam, Utsman, Qudamah, dan Abdullah putra-putra Mazh’un, Ubaidah bin Al-Harits, Sa’id bin Zaid, dan istrinya Fathimah binti Al-Khaththab saudari dari Umar, Asma binti Abu Bakar, dan Khabbab bin Al-Arat.”

Keislaman Sa’id merupakan keislaman yang didasari oleh pendidikan yang baik, akal yang cemerlang, dan hati yang terang.

Adapun pendidikan adalah ia tumbuh dalam asuhan Zaid bin Amru bin Nufail, seorang laki-laki bijaksana yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus, meninggalkan berhala-berhala Quraisy, dan menolak agama nasrani dan yahudi yang telah diselewengkan. Seorang laki-laki yang setia menunggu kedatangan seorang Nabi yang telah dekat masanya, namun keinginannya tersebut terhalang oleh kematian yang menjemputnya. Adapun Sa’id, ia segera memenuhi keinginannya dan mewujudkan cita-citanya. Ia pun meniti jalannya dan mengikuti agama yang murni dari kotornya kesyirikan dan animism. Agama yang mengobati kerinduan manusia, menghormati akalnya, menghargai kehormatan manusia, dan menyucikan kemanusiaan itu sendiri.

Adapun akal yang cemerlang adalah karena ia telah mengetahui dan menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallamm, juga keindahan pekertinya dan kedudukannya yang terhormat di kaumnya. Kemudian ia menggunakan kecerdasannya untuk menganalisa dakwah dan pokok-pokok ajaran beliau, lalu membandingkannya dengan apa yang telah dicari dan ditunggu-tunggu ayahnya sejak lama, dan ia pun menemukan kebenaran di sana. Sedikitpun ia tidak merasakan kerancuan dari apa yang diserukan oleh Nabi yang mulia tersebut dengan fenomena yang ada di masyarakat Quraisy saat itu.

Sa’id kemudian mengkumulasikan itu semua dengan apa yang dilihatnya, bahwa rombongan yang pertama-tama menyambut Islam adalah tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abu Ubaidah, dan Ibnu Auf.

Maka ia pun tidak ragu lagi untuk menyambut dan mengulurkan tangan kanannya memegang tangan kanan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, berserah diri kepada agamanya, menyatakan keimanan kepada risalahnya, dan turut membela dakwahnya.

Sedangkan hati yang terang yaitu ketenangan hati yang ia dapatkan di dalam Islam yang berdiri di atas sikap mentauhidkan Dzat Yang Maha Tinggi. Juga apa yang ia rasakan dalam jiwanya, yang menuntaskan dahaga kerinduannya, disbanding dengan tuhan-tuhan yang terbuat dari batu dan tanah! “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang (saja). Adakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS. Az-Zumar [39]:29].

Kemudian bergabung dengan mereka Khabbab bin Al-Arat yang mengajarkan mereka Al-Qur’an di rumah mereka. Mereka semua menyembunyikan keislaman mereka karena takut akan kekerasan sikap Bani Adi, khususnya Umar yang masih berada dalam kesyirikan.

Keislaman Sa’id merupakan baris pertama dari catatan kebahagiaannya. Sebuah kunci dari banyak kemuliaan yang akan ditorehkannya dalam kitab kehidupannya, hingga nanti ia meninggalkan dunia ini dengan membawa kabar gembira dari Nabi tentang kehidupan yang abadi di surga yang penuh nikmat.

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

One reply on “Biografi Sahabat Nabi, Sa’id Bin Zaid: Masa Kecil, Remaja, Dan Masuk Islam (Seri 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.