Categories
Zubair bin Awwam

Biografi Sahabat Nabi, Zubair bin Awwam : Peperangannya dan Perjalanan Jihadnya Pasca Wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam (Seri 6)

C. Peperangannya Bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam dan Perjalanan Jihadnya Pasca Wafatnya Rasulullah

10. Meneruskan Jihad Setelah Wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam

Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kembali ke hadirat Tuhan nya Subhanahu wa Ta’ala, dan telah menancapkan pondasi iman di seluruh penjuru jazirah arab. Cahayanya terus menyinari perbatas Syam, Persia, dan Mesir. Seruannya pun telah didengar oleh para raja dan pemimpin pada zamannya melalui surat-surat yang dikirimnya bersama para shahabat yang bertindak sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Beliau juga membuka jalan bagi para khalifah yang datang setelah untuk melanjutkan jihad dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan menuju Yordania, namun takdir Allah mendahului beliau. Misi itu kemudian dilanjutkan oleh khalifah setelah beliau, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Penaklukan-penaklukan pun terjadi di era khulafaur-rasyidin. Melenyapkan penghalang-penghalang dari jalan dakwah. Menumbangkan siapa saja yang berdiri menghadang jalannya menuju dunia yang lebih luas. Mematahkan cara para tiran yang hanya memaksakan manusia untuk menyembah berhala-berhala selain Allah. Dan memberikan manusia untuk memilih ; “Barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir (QS-Al-Kahfi [18]:29).” Karena “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat (QS. Al-Baqarah [2]:256).” dan “Agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata (QS. Al-Anfal [8]:42).”

Islam pun melebarkan sayapnya sampai negeri Syam, Persia, Mesir, dan kemanusiaan pun bersorak gembira menerima kedatangan para penakluk yang mulia dengan agama mereka yang baru.

Zubair ikut serta dalam perang-perang besar yang menentukan dalam fase yang diberkahi ini. Di jazirah arab dia ikut andil dalam perang melawan orang-orang murtad, dan dalam penaklukan Syam, Persia, dan Mesir, ia pun memiliki peran-peran yang menentukan.

Adalah sebuah kebiasaan bagi Amirul Mukminin Umar bin Khaththab untuk mengajak para shahabat besar bermusyawarah. Untuk membantunya dalam melindungi agama dan kebijakan Negara, termasuk di antara mereka adalah Zubair. Hanya saja Umar lebih sering mengimnya untuk mematahkan kekuatan musuh dalam siuasi-situasi sulti dan peristiwa-peristiwa besar.

Hisyam bin Urwah bin Zubair meriwayatkan dari ayahnya, Zubair berkata, “Aku tidak pernah absen dari peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin, kecuali bahwa aku selalu berada di depan, dan orang-orang mengikuti.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdul Azin bin Muhammad Ad-Darawardi, bahwasanya “Seorang laki-laki menemui Ali bin Abu Thalib ketika ia berada di masjid Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan berkata kepadanya, “Hai Abu Hasan, siapakah yang paling berani?” Ali menjawab, “Itulah dia yang marah seperti marahnya macan, dan melompat seperti lompatan singa”, dan dia menunjuk kea rah Zubair.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tiga orang ini adalah shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam yang paling berani yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib, Ali bin Abi Thalib, dan Zubair bin Awwam.”

11. Perang melawan orang-orang murtad

Ketika kabilah-kabilah arab kembali murtad dan menolak untuk membayar zakat, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu menyerang mereka. Tindakan ini didukung oleh para shahabat dan mereka bertahan bersamanya. Mereka mengkhawatirkan serang kabilah-kabilah arab ke Madinah. Maka Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan membuat persiapan perang di masjid untuk menghadapi serangan yang diperkirakan akan datang dari luar. Dan mempersiapkan seratus shahabat pilihan untuk berjaga di pintu-pintu masuk Madinah. Di antaranya Ali, Zubair, Thalhah, dan Ibnu Mas’ud.

Penduduk Madinah hanya mempunyai waktu tiga hari, ketika para penolak zakat menyerang dalam kegelapan malam. Kedatangan mereka diketahui oleh para prajurit yang bertugas jaga malam. Maka Ali, Thalhah, Zubair, dan Ibnu Mas’ud segera mengirimkan berita kepada Abu Bakar yang menjawab, “Tetaplah di tempat kalian masing-masing.” Dan mereka pun melakukannya. Dengan segera bala bantuan datang dari masjid dan memukul mundur para penyerang yang kemudian melarikan diri.

12. Perang Yarmuk

Pada tahun ketiga belas hijrah, terjadilah perang Yarmuk. Yang merupakan salah satu perang bersejarah yang sangat menentukan. Di mana kaum muslimin menghadapi pasukan yang jumlah enam kali lipat banyak. Kaum muslimin berjumlah sekitar empat puluh ribu prajurit, sementara pasukan romawi berjumlah dua ratus empat puluh ribu prajurit. Kaum muslimin tidak pernah mengandalkan jumlah dan kelengkapan dalam perang-perang mereka. Namun mereka bersandar pada pertolongan dari Allah yang disertai dengan persiapan dan usaha. Komandan mereka dalam perang ini adalah singa Islam, dan pedang jadi banyak formasi. Setiap formasi dipimpin oleh satu pahlawan besar, dan Zubair memimpin salah satunya. Setiap formasi berjumlah seribu orang prajurit. Maka di peristiwa yang dahsyat tersebut terdapat seribu orang prajurit. Maka di peristiwa yang dahsyat tersebut terdapat seribu orang prajurit. Maka di peristiwa yang dahsyat tersebut terdapat seribu shahabat, di antara mereka sekitar seratus orang yang ikut dalam perang badar, dan Zubair adalah salah satu yang terbaik di antara mereka.

Pertempuran berlangsung sengit dan Allah menurunkan kemanangan bagi kaum muslimin. Zubair mencatarkan banyak peran yang mengagumkan dalam perang ini. Sekaligus menjadi rangkaian bagi kisah kepahlawanannya yang membanggakan dan ketegaran hatinya serta kesempurnaan imannya kepada Tuhannya. Ia merangsek masuk ke dalam medan tempur tanpa mempedulikan sayatan pedang dan tusukan tombak di tubuhnya. Dan ia berada di depan formasi pasukan yang dipimpinnya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia mengatakan “Para shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata kepada Zubair, “Apakah kau akan menyerang agar kami dapat menyerang bersamamu?” Zubair menjawab, “Sesungguhnya kalau aku menyerang kalian tidak akan membantuku.” Mereka menjawab. “Kami akan membantumu.” Maka ia pun menyerang dan membongkar barisan mereka, dan tak seorangpun bersamanya!! Kemudian ia kembali, dan musuh berhasil menarik tali kekang kudanya, dan melayangkan dua pukulan dengan pedang pada tahunnya. Tepat di antara dua tebasan tersebut terdapat satu bekas tebasan pedang yang ia peroleh pada perang Badar.

Urwah berkata, “Aku sering memasukkan jariku ke dalam bekas-bekas pukulan tersebut untuk bermain-main saat aku kecil.” Urwah melanjutkan, “Saat itu Abdullah bin Zubair ada bersamanya, dan usianya sepuluh tahun  (ini adalah pekiraan umurnya saat itu, atau saat itu dia telah berumur tiga belas tahun). Zubair menaikkannya ke atas kuda dan menyeluruh seseorang untuk menjaganya.”

Saat itu bersama Zubair terdapat istrinya yang mulia, Asma binti Abu Bakar yang ikut menyaksikan peperangan.

Ibnu sa’ad meriwayatkan dalam biografi Asma binti Abu Bakar, dari Abu Waqid Al-Laitsi shahabat Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan ikut dalam perang Yarmuk, ia berkata, “Asma binti Abu Bakar saat itu ada bersama Zubair, aku mendengarnya berkata kepada Zubair, “Hai Abu Abdullah, demi Allah kalau ada prajurit dari pihak musuh yang datang bergegas, maka kakinya akan tersandung oleh tali kemahku, hingga dia akan jatuh di atas mukanya, dan mati tanpa ada senjata apapun mengenainya!”

13. Perannya yang Besar Dalam Penaklukan Mesir

Pada tahun kedua puluh hijrah, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab menugaskan seorang shahabat yaitu Amru bin Ash untuk menaklukkan Mesir. Dan mengirimkan bersamanya sekitar empat ribu mujahid. Namun ia tidak bisa menaklukkannya dengan cepat, sehingga Amru meminta bala bantuan dari Amirul Mukmin.

Al-Baladzuri menceritakan dalam Futuhul Buldan bahwasanya Zubair Radhiyallahu Anhu sangat ingin untuk berperang dan bermaksud untuk menyerang Antiokhia (salah satu kota romawi yang ditaklukkan oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, setelah kawasan itu dibagi-bagi menjadi Negara-negara kecil pasca serangan Uts-Maniyah, ia menjadi bagian dari Syiria. Terletak sekitar 96 Km sebelah barat Aleppo dan sekarang merpakan bagian dari Turki Modern). Maka Umar berkata kepadanya, “Hai Abu Abdullah, apakah engkau berminat dengan wilayah Mesir?” ia menjawab, “Aku sama sekali tidak mempunyai minat untuk itu. Namun aku akan keluar sebagai seorang mujahid, dan penolong bagi kaum muslimin. Kalau aku mendapati Amru telah menaklukkannya, aku tidak akan mengganggu pekerjaannya. Dan aku akan pergi ke beberapa wilayah pantai dan berdiam di sana. Namun kalau aku mendapatinya belum mampu menaklukan Mesir, maka aku akan berada bersamanya.”

Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan dalam Futuh Mishra wal Maghrib, ia mengatakan “Amru bin Ash Radhiyallahu Anhu ketika terlambat dalam menaklukkan Mesir, ia menulis kepada Umar bin Khaththab Radhiyallahu untuk meminta bantuan. Maka Umar mengirimkan empat ribu prajurit, setiap seribu prajurit di pimpin oleh seorang komandan. Dan Umar bin Khaththab menulis kepadanya, “Sesungguhnya aku telah mengirimkan kepadamu empat ribu prajurit. Setiap seribu prajurit dipimpin oleh seorang laki-laki yang menandingi seribu orang. Zubair bin Awwam, Al-Miqdad bin Amru, Ubadah bin Ash-Shamit, dan Maslamah bin Mukhallad. Maka ketahuilah, saat ini engkau telah memiliki dua belas ribu prajurit. Dan dua belas ribu prajurit tidak akan dapat dikalahkan dengan alasan jumlah yang sedikit.”

Sungguh benar apa yang dilakukan oleh khalifah Umar. Dia telah mengirimkan tentara-tentara muslim yang berasal dari para shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam yang selalu berlomba-lomba menuju kebaikan. Dan pengiriman para shahabat tersebut dan khususnya Zubair mempunyai perang yang sangat penting dalam penaklukan Mesir.

Khalifah bin Khayyath dan Ibnu Abdil Hakam, juga Al-Baladzuri dan lainnya meriwayatkan tentara-tentara muslim yang berasal dari para shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam yang selalu berlomba-lomba menuju kebaikan. Dan pengiriman para shahabat tersebut dan khususnya Zubair mempunyai peran yang sangat penting dalam penaklukan Mesir.

Khalifah bin Khayyath dan Ibnu Abdil Hakam, juga Al-Baladzuri dan lainnya meriwayatkan, bahwasanya ketika Zubair datang menemui Amru, ia mendapatinya tengah mengepung Benteng Babilonia. Maka Zubair segera menaiki kudanya dan mengelilingi parit yang mengelilingi benteng. Kemudian menyebarkan prajurit di sekitar parit tersebut. Pengepungan berlangsung lama hingga memakan waktu sampai tujuh bulan. Maka dikatakan kepada Zubair, “Sesungguhnya di sana terdapat Tha’un (sejenis penyakit menular).” Ia menjawab, “Justru kita datang untuk Tha’n dan Tha’un (Tha’n – menikam atau menusuk).

Dan penaklukan pun berjalan lambat bagi Amru. Maka Zubair berkata, “Aku akan menyerahkan diriku kepada Allah. Dan aku berharap dengan ini Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin.” Diapun mengambil tangga dan menyadarkannya ke benteng dari arah Suq Al-Hammam, lalu ia menaikinya. Dan mengatakan kepada mereka, apabila mereka mendengarnya bertakbir agar menjawab takbirnya bersama-sama. Tidak berapa lama, Zubair telah bertakbir dari atas benteng dengan pedangnya. Maka orang-orangpun segera menyerbu dengan menaiki tangga sehingga Amru sampai melarang mereka karena takut tangga itu akan patah. Ketika tentara romawi melihat bahwa pasukan muslimin telah menguasai benteng, mereka pun mundur. Dan gerbang benteng Babilonia pun terbentang lebar bagi kaum muslimin. Dengan terbukanya gerbang tersebut, peperangan yang menentukan itu pun berakhir dengan takluknya Mesir.

Inilah sebuah resiko berani yang diambil oleh Zubair. Dia tahu bahwa tentara-tentara romawi mempertahankan benteng mereka. Dengan pedang terhunus, tombak teracung, dan panah-panah yang siap diluncurkan. Namun itu sedikitpun tidak mengkhawatirkan atau menggetarkannya. Dan dia justru berkata, “Sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada Allah.” Dengan keberanian yang mengagumkan dan dilandasi oleh kokohnya iman dan akidah. Juga ditopang oleh fisik yang prima dan pengalaman perang, serta ketegaran dalam menghadapi tebasan pedang dalam pertarungan. Semua ini membuktikan bahwa Amirul Mukminin Umar telah membuktikan kebenaran kata-katanya bahwa “Sesungguhnya Zubair sebanding dengan seribu prajurit.”

Shahabat yang mulia ini memiliki peran yang sangat vital dalam kemenangan atas Muqauqis dalam pertempuran Babilonia yang menentukan. Sebuah pertempuran yang membukakan pintu Mesir secara keseluruhan bagi kaum muslimin. Dan mereka pun masuk dengan membawa cahaya Al-Qur’an dan petunjuk Nabi Shallallahualaihi wa Sallam.

Ketika Mesir telah ditaklukkan, Zubair meminta Amru untuk membaginya. Namun ia menolak sebelum meminta pendapat dari Umar.

Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad nya, dan Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwal, serta Abdul Hakam dalam kitab Futuh Mishra, dari shahabat Sufyan bin Wahab Al-Khulani, berkata, “Ketika kami berhasil menaklukkan Mesir”, Demi Allah, engkau akan membaginya sebagaimana Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam membagi Khaibar.” Maka Amru berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membaginya sampai aku menulis surat kepada Amirul Mukminin.” Dan ia pun menulis surat kepada Umar. Lalu Umar menulis kepadanya, “Pertahankanlah seperti itu hingga kaum muslimin bertambah banyak dak berkembang di sana.”

Amru bin Ash memberikan keamanan bagi penduduk Mesir, dan membuat sebuah perjanjian damai bersama mereka, dengan disaksikan oleh Zubair, Abdullah, dan Muhammad, putra-putra Ambin bin Ash.

14. Perang Nahawand

Perang ini terjadi pada tahun 21 H. Setelah kaum muslimin berhasil menguasai ibu kota kerajaan Persia, yaitu Al-Mada’in, orang-orang Persia menjadi marah dan bangkit. Mereka kemudian dipimpin oleh Yaz-Dajir. Zubair menulis surat kepada kota Nahawand dan daerah-daerah pegunungan serta negeri-negeri yang ada disekitarnya. Mereka pun datang dari segala penjuru untuk bergabung dengannya, dan berkumpul di Nahawand dengan kekuatan seratus lima puluh ribu prajurit.

Amirul mukminin Umar bin Khaththab segera mengumpulkan para shahabat dan bermusyawarah untuk menghadapi ancaman dari Persia. Juga menentukan siapa yang akan memimpin pasukan kaum muslimin. Akhirnya ia menentukan pilihan pada An-Nu’man bin Muqarrin. Lalu ia menulis surat kepada Hudzaifah bin Al-Yaman memerintahkannya untuk membawa pasukan dari Kufah. Juga kepada Abu Musa Al-Asy’ari agar memimpin pasukan dari Bashrah. Dan kepada An-Nu’man yang saat itu juga berada di Bashrah agar berjalan dengan pasukan yang ada bersamanya menuju Nahawand. Dan memerintahkan apabila mereka semua telah berkumpul, maka setiap komandan bertanggung jawab memimpin pasukannya masing-masing. Sementara komandan pasukan secara umum berada di tangan An-Nu’man bin Muqarrin.

Kedua pasukan pun saling berhadap-hadapan. Kaum muslimin menyerang pasukan Persiam dan panji Nu’man terus menerobos musuh bagikan seekor elang yang menyerang mangsanya. Hingga mereka saling menyatu dengan pedang, dan bertempur dengan sangat dahsyat. Akhirnya Allah memberikan kemenangan bagi hamba-hamba Nya yang beriman. Peristiwa Nahawand merupakan sebuah peristiwa yang sangat besar, yang tidak pernah ada sebelumnya. Dan sekaligus mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, sehingga kaum muslimin menamakannya Fathul Futuh (puncak dari seluruh penaklukan).

Zubair adalah salah satu di antara pahlawan dalam perang yang sangat dahsyat ini. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam At-Tarikh Al-Ausath, dari Ma’qil bin Yasar, dia berkata, “Umar mengutus An-Nu’man bin Muqarrin, dan menulis kepada penduduk Kufah agar membantunya, dan merekapun pergi bersamanya. Dan bersama dengannya terdapat Hudzaifah bin Al-Yaman, Zubair bin Awwam, Al-Asy’ats bin Qais, Al-Mughirah bin Syu’bah, Abdullah bin Umar, dan Amru bin Ma’dikarib. Hingga akhirnya mereka sampai di Nahawand. Dan pertama kali jatuh adalah An-Nu’man bin Muqarrin.

15. Penaklukan Azerbaijan

Pada tahun kedua puluh satu hijriah, Zubair bin Awwam ikut dalam penaklukan Azerbaijan.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Zaid bin Wahab, dia berkata, “Kami menyerang Azerbaijan pada masa pemerintahan Umar. Saat itu Zubair ada bersama kami. Lalu datang sebuah surat dari Umar, “Telah sampai kepadaku berita bahwa kalian berada di negeri yang makanannya bercampur dengan bangkai, dan pakaiannya dari bangkai. Maka janganlah kalian makan kecuali yang bersih, dan jangan memakai pakaian kecuali yang bersih pula.”

16. Setelah Perjalanan Jihad yang panjang ini.

Inilah percikan-percikan yang menyingkap perjalanan jihad yang telah dilalui oleh seorang shahabat yang mulia, Zubair bin Awwam.

Sungguh hidupnya, dan kekuatan pedangnya dipenuhi berkah. Sebuah berkah daro doa Rasulullah  Shallallahualaihi wa Sallam pada hari-hari pertama dimulainya dakwah. Dan juga disebabkan oleh keikhlasannya yang begitu mendalam, keberaniannya yang langka, serta perjalanannya yang amat mengagumkan.

Perhatikanlah peristiwa-peristiwa yang begitu banyak, dalam jangka waktu yang begitu panjang, dan tempat yang amat luas, untuk mengetahui perjuangan dan banyaknya kontribusi yang diberikan oleh Zubair bin Awwam untuk agama dan umatnya.

Dia ikut dalam seluruh peperangan bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di jazirah Arabia. Tidak pernah absen dalam perang di jalan Allah. Kemudian ikut bersama Abu Bakar dalam perang melawan orang-orang murtad, lalu maju menuju negeri Syam dan berperan dalam perang Yarmuk. Setelah itu pada masa Umar, dia beralih ke barat menuju Mesir, dan mencatatkan peran yang gemilang dalam penaklukannya. Kemudian ia kembali ke Madinah untuk berangkat kembali ke arah timur menuju Persia dan ikut dalam perang Nahawand. Dari sana ia kembali ke Madinah, dan segera berangkat bersama rombongan mujahid menuju utara untuk menaklukkan Azerbajian.

Mari berhenti sejenak untuk memberikan penghormatan atas tekad yang dimiliki oleh shahabat dan mujahid yang agung ini. Sudah sepantasnya anda merasakan kekaguman atas panjangnya jarak yang telah ia tempuh di atas punggung kudanya, dari Madinah Al-Munawwarah menuju Syam, terus ke Mesir, Persia, dan Azerbaijan.

Dan akan jauh lebih kagum lagi ketika mengetahui bahwa seluruh peperangan dan pertempuran yang ia ikuti, tidak mampu menjatuhkannya di atas medan jihad. Namun itu semua meninggalkan bekas yang nyata di tubuhnya yang dipenuhi oleh bekas pukulan pedang!

Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir serta Ibnul Jauzi meriwayatkan dari Ali bin Zaid Jud’an, ia berkata, “Seseorang yang pernah melihat Zubair menceritakan kepadaku bahwa di dadanya terdapat banyak bekas tusukan dan pukulan.”

Dan Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Abu Nu’aim serta yang lainnya meriwayatkan dan Hafsh bin Khalid, ia berkata, “Seseorang yang telah berusia lanjut datang menemui kami dari Maushil dan bercerita, “Aku menemani Zubair bin Awwam pada sebagian perjalanannya. Di suatu tanah kosong ia terkena junub. Maka ia pun berkata, “Tutupiaku”, akupun menutupinya. Tanpa sengaja aku menoleh kepadanya, dan melihat tubuhnya penuh dengan bekas pukulan pedang. Aku berkata, “Demi Allah, aku telah melihat banyak bekas pukulan di tubuhmu yang tak pernah aku lihat pada orang lain.” Dia berkata, “Engkau telah melihatnya?” aku menjawab, “Iya”. Dia berkata, “Engkau telah melihatnya?” aku menjawab, “Iya”. Dia berkata, “Maka demi Allah, setiap luka yang ada ditubuhku, aku dapatkan bersama Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam di jalan Allah.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Pada tubuh Zubair terdapat tiga lubang bekas tusukan pedang, yang salah satunya pada pundaknya. Urwah berkata, “Aku pernah memasukkan jariku pada lubang luka itu! Dia menambahkan ; Dua luka saat perang Badar dan yang lainnya pada Perang Yarmuk.” Urwah berkata, “Abdul Malik bin Marwan bertanya kepadaku ketika Abdullah bin Zubair terbunuh, “Wahai Urwah, apakah engkau mengetahui pedang Zubair?” Aku jawab, “Ya”. Dia bertanya lagi, “Bagaimana bentuknya?” Aku jawab, “Pedangnya sumbing, Patah ketika perang Badar.” Dia berkata, “Kamu benar.” Kemudian dia bersya’ir, “Pada pedang itu terdapat banyak sumbingan karena dia menggempur musuh (ini merupakan potongan kedua dari sebuah bait, syair yang terkenal dari An-Nabighah Adz-Dzubyani, dalam sebuah syair memuji keluarga Hafnah dari Ghassasinah, adapun potongan pertama dari bait ini adalah, “Tiada keburukan mereka, kecuali bahwa pedang-pedang mereka). Maka dia mengembalikan pedang itu pada Urwah. Hisyam berkata, “Kemudian kami menawarkan pedang itu di antara kami dengan harga tiga ribu. Lalu di antara kami ada yang membelinya. Saat itu aku ingin sekali, jika saja aku yang membelinya.”

Ath-Thabrani menceritakan dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 187 H bahwa pedang Zubair berada pada tangan Harun Ar-Rasyid, dan dia telah menggunakannya untuk memotong leher beberapa orang atheis.

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.