Categories
Umar Bin Khaththab

Biografi Sahabat Nabi Umar Bin Khaththab : Kecintaan Terhadap Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam (Seri 2)

B.    PERSAHABATANNYA DENGAN RASULULLAH, HIJRAH, DAN PERANG YANG DIIKUTI

1. Hijarahnya Umar
Ketika kebanyakan kaum muslimin hijrah ke Madinah dengan cara sembunyi-sembunyi, Umar justru bersikeras untuk hijrah secara terang-terangan agar dapat menjadi cambukan bagi kaum Quraisy dan pukulan keras bagi jiwa mereka. Ali bin Abi Thalib menceritakan hal tersebut, “Setahu saya, setiap kaum muslimin hijrah dengan cara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khaththab. Saat dia merasa mantap untuk hijrah, Umar menenteng sebilah pedang ditangannya, meletakkan busur dipundaknya, Umar memegang beberapa anak panah dengan tangan kirinya. Kemudian Umar mendatangi Ka’bah, menemui tokoh-tokoh Quraisy dan tetua mereka, yang selalu mengintimidasi kaum muslimin Mekah saat itu. Dia melakukan Thawaf tujuh kali di Ka’bah, kemudian shalat dua raka’at di maqam Ibrahim. Setelah itu Umar mendatangi kelompok-kelompok orang Quraisy yang berada di sana dan berkata, “Wahai wajah-wajah yang tidak bersinar, barang siapa yang ingin ibunya kehilangan anaknya, barang siapa yang ingin anaknya menjadi yatim, barang siapa yang ingin istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah ini, Umar menantang. Tidak seorang pun berani mengikutinya, kecuali orang-orang lemah yang diberi pelajaran dan petunjuk oleh Umar. Dia pun berangkat hijrah dengan disaksikan oleh kaum musyrikin Mekah.

2. Beberapa perang yang diikuti Umar
Telah terjadi berbagai pertempuran dan peristiwa berat antara kelompok haq dan batil. Umar bin Khaththab menyaksikan berbagai peristiwa tersebut bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Bahkan di setiap pertempuran yang terjadi, Umar selalu memberi sumbangan pikiran dan memiliki peran yang nyata.

Saat perang Badar baru saja usai dan beberapa orang menjadi tawanan kaum muslimin, timbul persoalan di antara mereka, apa yang harus dilakukan kepada para tawanan tersebut. Umar menceritakan peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meminta pendapat pada Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Umar.”

Abu Bakar berpendapat, “Wahai Rasulullah, mereka adalah sepupu dan kerabat kita, menurut saya, sebaiknya kita mengambil tebusan dari mereka untuk menambah kekuatan kita atas orang-orang kafir, semoga mereka mendapat hidayah dan menjadi pendukung kita di kemudian hari.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bertanya padaku, “Bagaimana menurutmu wahai Ibnu Khaththab?”

Saya menjawab, “Demi Allah, saya berbeda pendapat dengan Abu Bakar. Menurut saya, engkau memberi izin padaku untuk membunuh si fulan (yang merupakan kerabat Umar sendiri), lalu izinkan Ali bin Abi Thalib membunuh Aqil, dan Hamzah membunuh si fulan (Saudara Hamzah sendiri), agar Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat bahwa tidak ada sedikit pun dalam hati kita kecenderungan pada kaum musyrikin. Sedangkan mereka ini adalah pemuka dan ksatria kaum musyrikin!”

Akhirnya Rasulullah lebih setuju dengan pendapat Abu Bakar dan tidak menyetujui pendapatku. Beliau pun mengambil tebusan dari mereka.”

Tak lama berselang, turunlah wahyu yang sejalan dengan pendapat Umar, “Tidaklah pantas, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Sekiranya tidak ada ketetapan terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena (tebusan) yang kamu ambil.” (QS. Al-Qur’an-Anfal [8]: 67-68).

Pada perang Uhud Umar termasuk orang yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika kaum muslimin bercerai-berai dan berhasil dikalahkan oleh kaum musyrikin. Umarlah yang menantang Abu Sufyan ketika dia merasa telah menang. Waktu itu Abu Sufyan berkeliling seraya menanyakan, “Apakah di antara kalian ada Muhammad?” dia menanyakan itu tiga kali. Lalu, “Apakah di antara kalian ada putra Abu Quhafah (Abu Bakar)?” dia bertanya tiga kali. Lalu, “Apakah di antara kalian ada putra Khaththab?” sebanyak tiga kali. Kemudian dia kembali menemui pasukannya dan berkata, “Mereka semua telah terbunuh!”

Mendengar itu Umar tidak dapat menahan diri. Dia langsung berteriak, “Engkau bohong wahai musuh Allah, orang-orang yang kau sebutkan itu masih hidup dan masih tersisa untukmu suatu hal yang menyakitkan hatimu!”

Kemudian Abu Sufyan menyerukan kalimat pujian atas tuhan-tuhannya. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lalu memilih Umar untuk menimpalinya karena Umar memiliki suara yang keras dan lantang.

Abu Sufyan berkata, “Agungkan Hubal!”

Umar menimpali, “Allah yang maha tinggi dan maha agung!”

Abu Sufyan berkata, “Kami punya Uzza, sedangkan kalian tidak!”

Umar menimpali, “Allah penolong kami sedangkan orang-orang kafir tidak memiliki penolong!”

Abu Sufyan berkata, “Hari ini adalah balasan untuk perang Badar. Hari selalu berputar, dan perang adalah perlombaan.”

Umar menjawab, “Tidaklah sama, orang yang terbunuh dari kami di Surga sedangkan yang terbunuh dari kalian masuk Neraka!”

Kemudian pada peristiwa perdamaian Hudabiyah, setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabatnya di larang melakukan umrah dan thawaf di baitullah, terjadilah kesepakatan damai. Waktu itu Umar melihat bahwa dalam perjanjian tersebut terdapat banyak hal yang menguntungkan kaum musyrikin. Menurutnya selama mereka dalam pihak yang salah, maka harus diperangi dan harus dihabisi. Kebenaran harus di junjung tinggi dan tidak ada kompromi, harus diperjuangkan dan tidak boleh ada gencatan senjata. Begitulah Umar memahami persoalan tersebut dan demikianlah menurutnya yang seharusnya dilakukan.

Maka dia segera menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan melontarkan pertanyaan, “Bukankah engkau benar-benar Nabi yang diutus oleh Allah?” Rasulullah mengiyakan. Umar bertanya lagi, “Bukankah kita berada pada pihak yang benar dan mereka berada di pihak yang salah?” Rasulullah kembali mengiyakan. Umar terus bertanya, “Lalu kenapa kita merendahkan agama kita?” Kali ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Aku adalah utusan Allah, aku tidak akan melanggar perintahnya, dan Dia adalah penolongku.”

Kata-kata beliau, “Aku adalah utusan Allah” langsung menghujam ke telinga dan hati Umar. Memang beliau seperti itu, dia tidak mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Maka wajib taat dan patuh pada keputusan beliau. Maka Umar pun ikut serta berbaiat pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam peristiwa bai’atur ridhwan.
Selain itu, Umar juga ikut dalam berbagai peristiwa selanjutnya, seperti perang Khaibar, Fathu Makkah, perang Hunain, perang Tha’if, perang Tabuk, dan berbagai peristiwa lainnya.

3. Kecintaan dan pembelaan Umar terhadap Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam
Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memegang tangan Umar, lalu dia berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh saya sangat mencintai engakau lebih dari apapun, selain diriku.” Rasulullah menyanggahnya, “Tidak, demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, hingga saya lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar pun berkata, “Maka sesungguhnya sekarang, demi Allah, Engkau lebih saya cintai dari diriku sendiri.” Rasulullah berkata, “Sekarang baru engkau mengatakan yang benar wahai Umar.”

Sungguh teramat jelas pernyataan yang disampaikan Umar tersebut, dia sangat jujur dalam pengakuannya, sangat cepat dalam merealisasikannya, dan sangat kuat dalam meninggalkan kehidupan duniawi untuk masuk ke dalam keharibaan iman. Dia tidak pernah ragu dalam menjawab dan selalu menyegerakan diri untuk memenuhi panggilan, sebuah karakter yang luar biasa yang tiada duanya.

Sejak saat itu, Umar berusaha untuk membuat dirinya mencintai segala hal yang dicintai dan diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Seperti yang nampak pada kejadian saat paman Nabi, Abbas bin Abdul Mutthalib menjadi salah satu tawanan perang Badar di bawah pengawasan seorang Anshar yang mengancam akan membunuhnya. Ketika ancaman tersebut terdengar oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau berkata, “Saya tidak akan bisa tidur malam ini karena memikirkan pamanku Abbas. Kaum Anshar bertekad untuk membunuhnya!” Umar bertanya, “Apakah sebaiknya saya mendatangi mereka?” Nabi mengiyakan. Umar pun pergi menemui kaum Anshar dan berkata pada mereka, “Lepaskan Abbas!” Mereka menolak untuk melepaskan Abbas. Lantas Umar mengatakan, “Meskipun Rasulullah meridhainya?” Mereka pun menjawab, “Jika Rasulullah meridhainya ambillah!”

Umar pun mengambil Abbas. Setelah berada di tangannya Umar berkata padanya, “Wahai Abbas, masuk Islamlah, demi Allah, keislamanmu lebih saya sukai daripada keislaman Khaththab (Ayah Umar). Karena saya melihat betapa Rasulullah sangat mengharpkan keislamanmu.”

Bahkan, segala sesuatu yang datang dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam sangatlah diagungkan, dihargai, dan dihormati Umar.

Abdullah bin Abbas pernah meriwayatkan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa khalifahan Umar. Dia berkata, “Waktu itu Abbas memiliki saluran air yang melintasi jalan yang biasa dilalui Umar. Suatu hari Umar telah berpakaian rapi hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jum’at. Pada saat bersamaan, di rumah Abbas sedang disembelih dua ekor burung, ketika dituangkan air untuk membersihkan darah bekas sembelihan, air itu mengalir ke saluran air tersebut dan mengenai Umar. Umar pun memerintahkan agar saluran air itu di pinda, kemudian dia kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian dan berangkat lagi ke masjid untuk mengimami shalat Jum’at.

Seusai shalat Abbas mendatangi dan berkata padanya, “Demi Allah, tempat saluran iu merupakan tempat yang dipilih oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Mendengar itu Umar berkata pada Abbas, “Kalau begitu saya bertekad, engkau harus naik ke atas punggung saya untuk meletakkan kembali saluran air itu ke tempat yang telah ditentukan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.” Abbas pun melakukannya.

Rasa cinta yang luar biasa terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tersebut diiringi juga dengan ketaatan mutlak atas segala perintah Rasulullah, termasuk dalam hal mengikuti segala yang beliau kerjakan. Pada saat Umar melaksanakan haji, dia melakukan manasik haji persis seperti yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Sampai kemudian mendatangi hajar aswad dan menciumnya, lalu dia berkata, “Sungguh saya tahu engkau hanyalah sebuah batu yang tidak memberi bahaya atau manfaat, kalaulah saya tidak melihat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menciummu, saya tidak akan menciummu.”

Kemudian dia berkata, “Kenapa kita harus berjalan cepat. Dulu kita memperlihatkannya pada kaum musyrikin untuk menunjukkan kekuatan kita, dan sekarang mereka telah dibinasakan oleh Allah.” Lalu Umar melanjutkan, “Sesuatu yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tidak ingin kita tinggalkan.”

Itulah Umar, di satu kesempatan dia menampakkan kepatuhannya, sementara di kesempatan yang lain dia pun menampakkan kekuatannya. Kita dapat menyaksikan bagaimana Umar selalu tampil membela Rasulullah setiap kali dia menemukan sesuatu yang menodai kehormatan risalah dan kenabian Rasulullah. Bukan hanya untuk membela kedudukan Nabi yang mulia saja, tapi dia sangat yakin bahwa apapun tindakan yang merendahkan pribadi Rasulullah, berarti penodaan terhadap kehormatan syariat dan pelecehan atas kesuciannya.

Seorang tokoh Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam untuk menagih hutang. Zaid sejatinya sudah mengetahui seluruh tanda kenabian pada diri Rasulullah, kecuali dua hal, yaitu kemurahan hatinya melebihi ketidak tahuannya dan ketidak tahuan yang sangat atas dirinya hanya akan menambah kemusahan hatinya.

Zaid menceritakan, “Ketika hutangnya jatuh tempo, saya mendatangi Muhammad, saya langsung menarik bagian depan bajunya, waktu itu dia sedang bersama para shahabatnya, lalu menatapnya dengan pandangan bengis dan berkata padanya, “Hai Muhammad, ayo berikan hakku! Demi Allah, saya tidak pernah tahu kalau Bani Abdul Mutthalib suka mengulur-ngulur waktu pembayaran hutang.”

Waktu itu menatap padaku dengan mata terbelak karena marah. Umar lalu berkata, “Hai musuh Allah, beraninya engkau mengatakan itu dan berbuat begitu pada Rasulullah? Demi Dzat yang mengutusnya dengan membawa kebenaran, kalau tidak karena saya menjaga diri dari kecamannya, pasti sudah kupenggal kepalamu!”

Pada peristiwa lain, saat perang Badar telah usai, kaum musyrikin saling mengenang orang-orang yang terbunuh dari kalangan mereka. Seseorang bernama Umair bin Wahab Al-Jumahi bertekad untuk membunuh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia menghunus pedangnya dan berangkat ke Madinah. Sesampainya di depan pintu masjid, Umar melihatnya, waktu itu Umar sedang berada di kerumunan kaum muslimin. Umar berkata, “Anjing ini adalah musuh Allah,  Umair bin Wahab. Demi Allah, kedatangannya pasti untuk bermaksud jahat. Dialah yang merusak hubungan di antara kita dan dialah yang memperkirakan jumlah kita pada saat perang Badar.”

Umar langsung menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, ada musuh Allah bernama Umair bin Wahab datang sambil menghunus pedang!” Rasulullah berkata, “Bawa dia masuk!”

Umar pun menemuinya, mengambil gantungan pedangnya dari lehernya dan menarik leher bajunya. Lalu dia berkata pada beberapa orang Anshar yang tadi bersamanya, “Masuklah dan duduklah bersama Rasulullah. Jagalah beliau dari penjahat ini, dia tidak bisa dipercaya.” Kemudian barulah Umar membawanya masuk menemui Rasulullah.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.