Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Kepergiannya dan Harta Warisannya (Seri 15)

G. Kepergiannya dan Harta Warisannya

Thalhah berpulang setelah menorehkan di dalam buku catatan kehidupannya, sejak remajanya hingga detik akhir dari hidupnya, sifat-sifat terbaik, dan mengisinya dengan berbagai perbuatan yang mulia. Baris pertama dari catatan tersebut adalah kedudukannya sebagai salah seorang dari kelompok yang paling pertama masuk Islam. Dengan demikian ia telah menceburkan dirinya ke dalam kobaran permusuhan antar akidah ketuhanan dengan akidah kaum Quraisy yang musyrik, sejak awal sebelum masuknya Nabi Shallallahualaihi wa Sallam ke rumah Al-Arqam. Selama itu ia menanggung banyak siksaan dan penderiaan yang tidak akan bisa ditanggung kecuali oleh orang-orang dengan tekad yang kuat. Ia menutup catatan kehidupannya dalam medan perang, dan kalimat terakhir yang mengisi baris terakhir itu adalah kata syahid. Adapun di antara baris pertama dan terakhir, terbentang begitu banyak halaman yang berisi berbagai keutamaan, kelebihan, dan kontribusinya yang terpuji. Itu semua terimplementasikan dalam bentuk jihad di jalan Allah, berdakwah, ibadah, sikap zuhud, kemurahan hati, dan kedermawanan yang penuh keikhlasan.

Thalhah menjalani hidupnya dengan menunggu-nunggu kabar gembira dari Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam bahwa dia adalah “Seorang syahid yang berjalan di muka bumi”, kesyahidan telah menunggunya, dan ia pasti akan mendapatkannya dan ia juga akan didapatkan oleh kesyahidan itu sendiri, sebagai bukti dari kebenaran kata-kata Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Thalhah keluar bersama saudara-saudaranya untuk perdamaian, menciptakan perdamaian dan menuntut qishash atas para pembunuh Utsman. Ia terjun dalam perang Jamal, dan ia terkena oleh panah dari seorang yang fasik, dan disanalah akhir dari perjalanannya. Dan ketetapan Allah jualah yang pasti akan berlaku.

1. Kelahirannya

Ishaq bin Yahya bin Thalhah meriwayatkan dari Musa bin Thalhah berkata, “Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah, dilahirkan pada tahun yang sama.”

Zubair masuk Islam saat usianya enam belas tahun, Sa’ad masuk Islam saat usianya tujuh belas tahun, dan mereka berdua masuk Islam bersama Thalhah pada hari-hari pertama dari permulaan dakwah, sehingga usia Thalhah tentunya sama dengan usia mereka. Jadi bisa dikatakan bahwa ia lahir enam belas tahun sebelum Nabi diutus, yaitu sekitar tahun 28 sebelum hijrah.

2. Wafatnya

Dikatakan oleh Ibnu Sa’ad, Khalifah bin Khayyath dan yang lainnya, “Thalhah terbunuh pada perang Jamal, pada hari Kamis tanggal sepuluh Jumadits Tsaniyah tahun tiga puluh enam. Dan pada saat terbunuh ia telah berusia enam puluh empat tahun.”

3. Usianya

Banyak riwayat yang menyebutkan tentang usia Thalhah, dan yang terbanyak adalah ia wafat pada usia enam puluh empat tahun. Inilah riwayat yang paling mendekati kebenaran, dan ini sesuai dengan riwayat-riwayat yang menerangkan tentang tahun kelahiran dan wafatnya.

4. Tempat pemakamannya dan Pemindahannya

Ketika Thalhah wafat, orang-orang menguburkannya di tepi Kalla’.

Khalla’ adalah tempat dimana kapal-kapal berlabuh, yaitu tepian sungai-sungai, dan yang dikenal dengan nama dermaga.

Sa’id bin Amir Adh-Dhuba’I meriwayatkan dari Al-Mutsanna bin Sa’id berkata, “Seseorang mendatangi Aisyah binti Thalhah dan berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Thalhah dan ia berkata, “Katakanlah kepada Aisyah agar ia memindahkanku dari tempat ini, sesungguhnya rembesan lumpurnya menggangguku.” Maka Aisyah segera berangkat dengan para pembantunya, mereka membuatkan tempat baru untuknya, dan kemudian mengeluarkannya. Ia berkata, “Tidak ada yang berubah darinya selain beberapa helai rambut dari salah satu sisi jenggotnya, atau ia mengatakan, “Kepalanya.” Dan itu terjadi setelah lebih dari tiga puluh tahun!”

Dalam riwayat lain, “Sebagian keluarganya melihatnya dalam mimpi dan ia berkata, “Bebaskanlah aku dari air ini, sungguh aku telah tenggelam.” Maka mereka mengali kuburannya yang hijau dengan tanaman, mereka mengeringkan airnya dan kemudian mengeluarkannya. Dan ternyata hanya bagian jenggot dan wajahnya yang menghadap tanah yang telah dimakan oleh tanah. Lalu mereka membeli sebagian tanah milik Abu Bakrah dan memakamkannya di sana.”

5. Harta Warisannya

Allah memberkahi Thalhah dalam hartanya sebagaimana Dia memberkahi untuknya. Allah melapangkan rezekinya, dan membukakan pintu-pintu rahmat untuknya. Harta-harta tercurah kepadanya sehingga mengalir di kedua tangannya, dan Allah memuliakannya dengan jiwa yang pemurah dan lapang, dan dengan tangan yang suka memberi. Ia sering memberi dalam jumlah yang banyak, dan menghibahkan dalam jumlah yang banyak pula. Ia menginfakkan ini dan itu, sehingga keberkahan semakin meliputi hartanya, dan Allah pun meninggalkan harta yang banyak setelahnya. Ia meninggalkan untuk keluarganya harta yang sangat banyak sehingga mereka bisa hidup dalam keadaan kaya dan terhormat. Malaikat telah mencatat di lembaran amalnya begitu banyak kebaikan dan pahala yang amat besar yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala semata.

Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Thalhah, “Bahwasanya Mu’awiyah bertanya kepadanya, “Berapakah harta yang ditinggalkan oleh Abu Muhammad?” Ia menjawab, “Dua juga dua ratus ribu dirham, dan dari emas sebanyak dua ratus ribu dinar.” Maka Mu’awiyah berkata, “Ia telah hidup dalam keadaan terpuji, dermawan, dan mulia, dan terbunuh sebagai orang yang dirindukan, semoga Allah merahmatinya.”

Dan mereka berdua juga meriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah berkata, “Nilai harta yang ditinggalkan Thalhah dari property dan hartanya yang berupa perhiasan sebanyak tiga puluh juta dirham, dan ia meninggalkan ua sebanyak dua juta dua ratus ribu dirham dan dua ratus ribu dinar, dan sisanya adalah ‘Urudh (bentuk jamak, dan mufradnya adalah ‘Ardh, yaitu menyelisihi harga dirham dan dinar).

Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim meriwayatkan dari Su’da binti Auf Al-Murriyyah, istri Thalhah – ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah, semoga Allah merahmatinya, terbunuh dan saat itu di tangan bendaharanya terdapat dua juta dua ratus ribu dirham dan kemudian tanah serta propertinya ditaksir bernilai tiga puluh juta dirham.”

Ibnu Sa’ad menuturkan sebuah riwayat yang mencengangkan dari Amru bin Al-Ash, ia berkata, “Aku diberitahu bahwasanya Thalhah bin Ubaidillah meninggalkan seratus buhar, setiap buhar berisi tiga kwintal emas, dan aku mendengar bahwa buhar adalah kantung dari kulit sapi jantan.”

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.