Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya (Seri 14)

F. Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya

5. Keberhasilan dari darah Utsman, Kisah Syahidnya, dan Sikap Ali terhadapnya

Setelah berbagai sikap mulia yang ditunjukkan Thalhah terhadao saudaranya khalifah yang penyabar Utsman, yang terlihat ketika ia mencela kaum pemberontak dari Bashrah yang datang untuk membai’at nya – dengan kebohongan – dan mengusir mereka, dan ia mengatakan dengan terang-terangan kepada mereka bahwasanya mereka terlaknat melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahualaihi wa Sallam, juga dukungannya untuk Utsman pada saat pengepungannya, lalu kedatangannya untuk mengadukan keprihatinannya atas apa yang sedang terjadi, dan perintahnya kepada anaknya sang mujahid dan ahli ibadah Muhammad bin Thalhah As-Sajjad untuk ikut melindungi Utsman, dan doanya yang mengutuk para pembunuh ketika mereka benar-benar melaksanakan perbuatan keji mereka, kami mengatakan, setelah semua ini ketika Thalhah menyaksikan Utsman terkapar syahid dan darahnya mengaliri mushaf yang dibacanya, ia merasa sangat terpukul. Pikirannya menjadi kosong, dan ia mencela dirinya sendiri karena tidak turun langsung melindungi Utsman, dan menebusnya dengan darahnya, menggunakan dirinya sebagai tameng sebagaimana yang dilakukannya terhadap Nabi Shallallahualaihi wa Sallam pada perang Uhud. Thalhah merasa bahwa ia telah menyia-nyiakan Utsman, ia menyesali hal itu dan berharap jika saja ia bisa mengorbankan dirinya pada tragedy yang menyedihkan tersebut hingga ia tidak akan disalahkan oleh hatinya sendiri. Ia adalah seorang pemberani yang tak pernah ragu mencampakkan dirinya ke dalam medan tempur, ia tak pernah takut menghadapi kematian, dan tak gentar terhadap banyaknya tusukan yang menghunjam di tubuhnya.

Karena itulah ketika acara pembai’atan untuk Ali telah selesai, ia segera bergerak bersama Zubair dan Aisyah serta orang-orang yang mengikuti mereka untuk membalas atas darah Utsman dan membunuh para pembunuhnya. Ia tidak pedulu lagi akan penderitaan, tak gentar terhadap kematian, walaupun itu semua harus mengorbankan darah dan mempertaruhkan nyawanya sekalipun.

Muhammad bin Sa’ad menuturkan dalam kitab Thabaqatnya, “Aku telah diberitahu orang orang yang mendengar Ismail bin Abu Khalid mengabarkan dari Hakim bin Jabir Al-Ahmasi bahwa ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah berkata pada perang Jamal, “Sesungguhnya kami telah bersikap lalai dalam urusan Utsman, maka hari ini tidak ada yang lebih baik selain mempertaruhkan darah kami untuknya. Ya Allah, hukumlah diriku untuk Utsman pada hari ini hingga engkau ridha.”

Sanad ini lemah, dan terlihat adanya kebodohan dari Syaikh Ibnu Sa’ad

Al-Hakim dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Uqbah, ia berkata, “Aku telah mendengar Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi berkata, “Ketika Thalhah, Zubair, dan Aisyah keluar untuk menuntut darah Utsman Radhiyallahu Anhum, di Dzatu Irqin mereka melihat siapa saja yang ada bersama mereka. Mereka mendapati Urwah bin Zubair dan Abu Balar bin Abdurrahman Al-Harits bin Hisyam terlalu lemah, maka mereka pun memulangkan mereka berdua. Ia berkata, “Aku melihat Thalhah, tempat yang paling disukainya adalah tempat yang sepi, dan saat itu ia membiarkan jenggotnya di atas dadanya, maka aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, aku telah melihatmu sebelumnya dan mengetahui bahwa tempat yang paling engkau senangi adalah yang sepi. Saat ini engkau membiarkan jenggot di atas dadamu, jika engkau tidak menyukai hal ini maka tinggalkanlah, tidak ada yang memaksamu melakukannya!” ia berkata, “Wahai Alqamah bin Waqqash janganlah menyalahkanku. Dulu kami adalah satu kesatuan dengan yang selain kami (yaitu Ali), dan saat ini kami telah menjadi dua gunung dari besi, yang satu menyerang yang lain. Namun dalam perkara Utsman tidak ada lagi yang dapat aku lakukan untuk menebusnya selain mempertaruhkan darahku untuk menuntut balas atas darahnya.” Aku berkata, “Kenapa engkau membawa Muhammad bin Thalhah sementara engkau memiliki putra-putra yang masih kecil?! Tinggalkan dia, jika terjadi sesuatu ia akan mengurus peninggalanmu.” Ia berkata, “Dia lebih mengetahuinya, aku tidak ingin mengusir seseorang yang mempunyai keinginan untuk melakukan ini.” Ia berkata, “Maka aku berbicara dengan Muhammad bin Thalhah di belakangnya, dan ia berkata, “Aku tidak ingin bertanya kepada orang-orang tentang ayahku!”

Adz-Dzahabi berkata, “Sanadnya Baik.”

Aku katakan, riwayat ini dan juga sebelumnya dapat dijelaskan dengan apa yang telah kami terangkan tentang sikap Thalhah dan harapannya untuk menjadikan diri dan nyawanya sebagai tebusan bagi Amirul Mukminin Utsman. Namun ketika ia menyaksikannya terbunuh dengan bermandikan darahnya yang suci, ia menyalahkan dirinya dengan sangat, dan berharap menghunus pedangnya daan memukulkannya ke leher para pembunuh Utsman tersebut. Namun apa yang bisa dilakukan jika Amirul Mukminin wajib ditaati dan ia telah memerintahkan mereka untuk tidak menumpahkan setetes darahpun karena dirinya?!

Adapun ucapan Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’, “Sebelumnya Thalhah bersikap tidak peduli ikut bersekongkol terhadap Utsman, ia melakukannya dengan ijtihad. Namun sikapnya berubah ketika ia menyaksikan terbunuhnya Utsman. Ia menyesal karena meninggalkannya dan tidak melindunginya, Radhiyallhua Anhuma!!”

Ini adalah sebuah kelalaian dan kesalahan, kata-kata yang tertolak tanpa sedikitpun keraguan. Dan semoga Allah mengampuni Adz-Dzahabi karena ini. Orang akan mengira bahwa seorang imam yang kritis merekayasa riwayat bohong seperti itu, yang menuduh shahabat melakukan persekongkolan terhadap Utsman, ini sama sekali tidak masuk akal dan tidak mungkin dilakukan oleh seorang shahabat apalagi tokoh besar seperti Thalhah dan Zubair. Apa yang telah kami sampaikan sebelumnya merupakan bukt yang nyata tentang kebersihan Thalhah, Zubair, Ali, Aisyah, dan yang lainnya dari darah Utsman yang syahid, atau bersekongkol terhadapnya, maupun bersikap tidak peduli. Cukuplah sebagai bukti bagimu bahwa Thalhah telah mengutus putranya untuk masuk ke dalam kobaran api fitnah demi membela Utsman. Apakah Thalhah akan melibatkan buah hatinya, kemudian ia bersekongkol menyerang Utsman sehingga bisa menyebabkan kematiannya dan kematian putranya, apakah ini masuk akal?!”

Ath-Thabari menuturkan sebuah riwayat yang menyebutkan Ali menuduh Thalhah dan Zubair terlibat dalam pembunuhan Utsman, dan itu merupakan riwayat yang sangat lemah melalui Al-Waqidi. Riwayat tersebut terbantahkan oleh kisah yang telah kami sebutkan dan juga tertolak oleh berbagai pembicaraan yang terjadi antara Ali dan kedua saudaranya Thalhah dan Zubair tentang para pembunuh tersebut. Juga sikap Ali selama perang Jamal dan kesedihannya ketika melihat Thalhah terkapar di medan perang, serta tangisannya untuknya, dan kebaikan yang ditunjukkannya kepada anak-anak Thalhah, sebagaimana yang akan kami sebutkan.

Diriwayatkan dari Abu Farwah, bahwasanya Ali bin Abu Thalib berkata, “Aku telah diperangi oleh lima orang : orang yang paling ditaati oleh manusia: Aisyah, orang yang paling berani : Zubair, orang yang paling pandai membuat makar: Thalhah, dan ia tidak pernah menjadi korban dalam sebuah makar sekali pun, orang yang paling pemurah: Ya’la bin Munayah, dan orang yang paling baik ibadahnya: Muhammad bin Thalhah, dia adalah orang yang tepuji sebelum kemudian tergelincir oleh ayahnya. Ya’la memberi satu orang sebanyak tiga puluh dinar, senjata, dan kuda untuk memerangiku.”

Ini adalah riwayat yang bathil dan lemah, jika di dalam sanadnya terdapat Ishaq maka ia adalah orang yang ditinggalkan riwayatnya, dan jika yang dimaksud saudaranya maka ia adalah orang yang tidak dikenal.

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam Al-Isti’ab tanpa sanad, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari jalur Hasan bin Husain Al-Arani, dari Rifa’ah bin Iyas Adh-Dhabbi dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Pada perang Jamal kami bersama Ali, lalu ia mengirim pesan kepada Thalhah bin Ubaidillah untuk menemuinya, Thalhah pun mendatanginya. Maka Ali berkata, “Demi Allah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang menjadikanku seorang yang menjadikannya sebagai pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya?” Ia berkata, “Ya, aku telah mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu kenapa engkau memerangiku?” ia menjawab, “Aku tidak ingat hadits tersebut.” Ia berkata, “Dan Thalhah pun pergi.”

Ini adalah riwayat yang bathil dan lemah. Adz-Dzahabi berkata, “Hasan Al-Arani bukan seorang yang terpercaya.”

Ibnu Katsir menyebutkan dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah sebuah riwayat yang panjang, diantaranya, “Ali meminta untuk berbicara dengan Thalhah dan Zubair, mereka pun bertemu hingga leher-leher kuda mereka bersentuhan. Ali berkata, “Wahai Thalhah, engkau datang dengan membawa istri (Aisyah) Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam untuk berperang, dan engkau menyembunyikan istrimu di rumah?!  Bukankah engkau telah membai’atku?! Ia berkata, “Aku telah membai’atmu dengan pedang di leherku.”

Ibnu Katsir melemahkan riwayat tersebut dan berkata, “riwayat ini tidak termasuk yang dihapal oleh sebagian besar perawi hadtis.”

Kami mengatakan, Di dalam matan riwayat ini terdapat banyak keanehan, di antaranya yang menyatakan bahwa Thalhah datang membawa Aisyah, sementara Aisyah tidak dipaksa oleh siapapun untuk keluar. Juga ucapan Thalhah, “Aku telah membai’atmu dengan pedang di leherku”, dan yang benar adalah bahwa ia telah membai’at Ali bersama Muhajirin dan Anshar dengan kemaunnya sendiri.

6. Siapa yang Membunuh Thalhah Dalam Perang

Banyak silang pendapat dalam hal ini. Ada yang meriwayatkan bahwa Marwan bin Al-Hakam melemparnya dengan panah dan membunuhnya, dan juga aa riwayat yang mengatakan bahwa ia terkena panah yang tidak diketahui dari mana asalnya dan membunuhnya, dan inilah yang benar walaupun riwayat pertama lebih mashur.

Riwayat yang menyebutkan bahwa pembunuhnya adalah Marwan antara lain :

Yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Nafi’, ia berkata, “Marwan bersama Thalhah dengan kudanya, ;a;u ia melihat sebuah ruang pada baju Besi Thalhah dengan kudanya, lalu ia melihat sebuah ruang pada baju besi Thalhah, maka ia memanahnya dan berhasil membunuhnya.”

Dan juga diriwayatkan ole Ibnu Sa’ad dari Qais bin Abu Hazim berkata, “Pada perang Jamal, Marwan bin Hakam membidik Thalhah pada lututnya, maka darahpun mengalir dengar deras, jika mereka menahannya ia akan tertahan, dan jika mereka melepasnya ia akan kembali mengalir.”

Dari Auf Al-A’rabi, ia berkata, “Telah sampai kepadaku bahwasanya Marwan melempar Thalhah dengan panahnya pada perang Jamal saat ia sedang berada di samping Aisyah dan mengenai kakinya, lalu ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan memburu pembunuh Utsman lagi setelahmu.” Thalhah berkata kepada pembantunya, “Carikanlah tempat untukku.” Ia berkata, “Aku tidak kuasa.” Thalhah berkata, “Demi Allah ini adalah panah yang dikirim oleh Allah, ya Allah hukumlah diriku untuk Utsman hingga engkau ridha”, kemudian ia diletakkan di atas sebuah batu dan ia pun wafat.”

Al-Fasawi meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim, “Bahwasanya Marwan melihat Thalhah di atas kudanya, maka ia berkata, “Inilah yang membantu pembunuhan Utsman” lalu ia memanahnya tepat di lututnya. Darah masih terus mengalir hingga ia wafat.”

Dalam riwayat Ath-Thabari dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata, “Aku melihat Marwan bin Ali-Hakam ketika ia memanah Thalhah pada hari itu dan mengenai tepat di lututnya. Darah masih terus mengalir ia wafat.”

Khalifah bin Khayyath meriwayatkan dalam kitab Tarikhnya dari Al-Jarud bin Sabrah, ia berkata, “Marwan melihat Thalhah bin Ubaidillah pada perang Jamal dan berkata, “Aku tidak akan menuntut balas lagi setelah hari ini.” Lalu ia memanahnya dan membunuhnya.”

Dan dalam riwayat lain dari Khalifah, “Marwan melepar Thalhah bin Ubaidillah dengan panah, lalu ia menoleh kepada Aban bin Utsman dan berkata, “Kami telah membebaskanmu dari sebagian pembunuh ayahmu.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, “Bahwasanya Marwan membidik Thalhah dengan panah pada saat orang-orang serdang sibuk dengan pertempuran. Ia mengenainya dan membunuhnya.”

Ibnu Abdil Barr telah menuturkan riwayat yang sangat panjang tentang kisah Marwan yang membunuh Thalhah dengan panahnya, ia berkata, “Para ulama terpercaya tidak berselisih pendapat bahwa Marwan yang telah membunuh Thalhah pada hari itu, dan saat itu berada dalam barisannya.”

Beginilah yang dikatakannya, dan akan kami sampaikan bantahan terhadapna.

Ibnu Hajar menuturkan beberapa riwayat dalam kitab Al-Ishabah, dan ia menshahihkan sebagiannya.

Kami mengatakan, Nafi’ dan Al-Jarud tidak menyaksikan peristiwa tersebutm begitu juga Ibnu Sirin, pada perang Jamal ia masih berusia tiga tahun. Sementara riwayat Auf Al-A’rabi juga lemah karena ia mengatakan “Telah sampai kepadaku”.

Sekarang tinggallah riwayat dari Qais bin Abu Hazim yang dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar serta yang lainnya.

Di dalam sebuah riwayat ia berkata, “Bahwasanya Marwan melihat Thalhah maka ia memanahnya”, dalam riwayat lain ia berkata “Aku melihat Marwan saat ia memanah Thalhah”, ini adalah kerancuan dalam periwayatan. Qais tidak menyaksikan perang Jamal hingga ia bisa berkata, “Aku melihat”, dan tidak ada seorang sejarawan pun yang menyebutkan bahwa ia ada bersama Ali bin Abi Thalib pada perang Nahrawan saat ia memerangi khawarij.

Dan kalaupun kita menerima keshahihan riwayat tersebut, maka sesungguhnya si matannya dan isi matan riwayat-riwayat lainnya terdapat kemungkaran dan keanehan yang sangat fatal.

Anda bisa melihat bahwa terkadang Marwan mengatakan, “Inilah yang telah membantu pembunuhan Utsman”, dan terkadang ia berkata, “Aku tidak akan menuntut dendamku setelah hari ini”, dan pada kesempatan lain ia berkata, “Aku tidak akan memburu pembunuh Utsman setelahmu selamanya”, lalu ia mengatakan kepada Aban bin Utsman, “Kami telah membebaskanmu dari sebagian pembunuh ayahmu.”

Sesungguhnya pembenaran riwayat-riwayat seperti ini berarti menegaskan tuduhan terhadap Thalhah bahwa ia telah membantu dalam pembunuhan Utsman, dan bahkan ia telah membantu dalam pembunuhan Utsman, dan bahkan dialah yang telah membunuhnya! Saya heran dengan Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar bagaimana mereka bisa menyatakan shahih riwayat ini sementara isi matannya mengandung kemungkaran yang begitu nyata, karena dengan menyatakan shahih riwayat-riwayat tersebut berarti mereka telah menguatkan isinya yang menyatakan bahwa Thalhah termasuk di antara pembunuh Utsman, dan tidak mungkin kedua imam yang kritis ini melakukan itu!

Selanjutnya, bagaimana mungkin Marwan menuduh Thalhah membunuh Utsman atau berkonspirasi melawannya sementara ia telah mengetahui sikapnya dengan baik dalam hal itu. Dan belum lama sebelum nya ia juga bahu membahu bersama putranya Muhammad As-Sajjad melindungi Utsman di rumahnya!!

Dan juga perlu diperhatikan bahwa Thalhah keluar bersama Zubair dan Aisyah dalam pasukan menuju Bashrah untuk mendapatkan bantuan dari penduduknya guna memerangi para pembunuh Utsman, maka bagaimana bisa Thalhah dituduh melakukan konspirasi untuk membunuh Utsman. Ia telah bergegas untuk menuntut balas atas darahnya, maka bagaimana mungkin ia menuntut qishash kepada orang lain kalau dirinya terlibat?! Dan Marwan sendiri berada dalam pasukan nya dan mengetahui dengan baik kejujurannya dalam usahanya tersebut.

Lalu ketika pertempuran tengah berkecamuk dan orang-orang saling melemparkan panah, siapa yang bisa menelusuri panah-panah tersebut untuk mengetahui ke tubuh siapa ia berlabuh? Dan dendam apa yang bisa membuat Marwan membunuh Thalhah sementara ia ada dalam pasukan yang sama dnegannya, dan mereka sama-sama keluar untuk menuntut balas atas darah Amirul Mukminin.

Dalam salah satu riwayat juga disebutkan bahwa Thalhah berada di atas kuda dan Marwan berada di sisi kiri pasukan. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan kesempatan untuk membidik Thalhah yang berada di samping Aisyah. Hal seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan dalam perang kecuali oleh orang yang berada di luar pertempuran dan membidik sasarannya dengan sekesama, sebagaimana yang dilakukan oleh Wahsyi ketika ia membunuh Hamzah paman Nabi Shallallahualaihi wa Sallam.

Semua ini membuktikan lemahnya riwayat dan kabar yang menyatakan bahwa Marwan yang telah membunuh Thalhah.

Dan dengan menuduh Marwan maka berarti sekaligus membebaskan para pemberontak yang telah membunuh Utsman dari darah Thalhah dan para syuhada lainnya.

Karena itulah Al-Imam Al-Muhaqqiq Abu Bakar bin Al-Arabi berkata dalam kitabnya Al-Awashim min Al-Qawasim, “Dan telah diriwayatkan bahwasanya ketika Marwan melihat Thalhah dalam pertempuran, ia berkata, “Aku tidak akan menuntut balas setelah ini”, lalu ia memanahnya dan membunuhnya. Dan tidak ada yang mengetahui kebenaran ini selain Allah. Dan tidak ada kepastian dalam riwayatnya?!”

Dan Ka’ab bin Sur telah keluar dengan membawa mushaf Al-Qur’an di tangannya dan mengajak orang-orang untuk tidak menumpahkan darah mereka, namun ia terkena oleh sebuah panah yang tak diketahui asalnya, dan mungkin Thalhah juga demikian.”

Sementara Khalifah bin Khayyath yang menuturkan sebagian dari riwayat-riwayat ini memulai pembicaraannya tentang perang Jamal dengan berkata, “Perang Jamal terjadi di Bashrah di sebuah sudut di wilayah Bashrah pada hari Jumat tanggal sepuluh Jumadits Tsaniyah tahun tiga puluh enam. Di sanalah Thalhah terbunuh dalam pertempuran, ia terkena oleh panah yang tidak diketahui asalnya dan membunuhnya.”

Al-Imam Ibnu Katsir pun condong ke pendapat ini. Ia berkata, “Ada pun Thalhah, dalam pertempuran itu ia terkena oleh panah yang tidak diketahui asalnya. Ada yang mengatakan, Marwan bin Al-Hakam yang telah memanahnya, dan Allah lebih mengetahui.”

Dalam Bagian lain ia berkata, “Ketika ia berada dalam perang Jamal, ia terkena oleh sebuah panah yang tidak diketahui asalnya dan mengenai lututnya, dan dikatakan, mengenai lehernya, dan yang pertama lebih masyhur. Dikatakan, “Sesungguhnya yang telah memanahnya adalah Marwan bin Al-Hakam,” dan telah dikatakan juga, bahwa sesungguhnya yang memanah nya adalah orang lain, dan menurutku ini lebih dekat kepada kebenaran, walaupun riwayat yang pertama lebih masyhur.”

Dan ini dikuatkan oleh apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Muhammad Al-Anshari, dari ayahnya berkata, “Pada perang Jamal seorang laki-laki datang dan berkata, “Izinkanlah pembunuh Thalhah untuk masuk.” Ia berkata, “Maka aku mendengar Ali berkata, “Sampaikanlah kepadanya kabar gembira berupa neraka.”

Riwayat ini sangat jelas menyatakan bahwa ia bukanlah Marwan. Orang seperti Marwan tidak mungkin tidak dikenal, dan ia telah dikenal oleh semua orang. Jika ia adalah Marwan, maka tidak akan dikatakan “Seorang laki-laki”, namun pasti akan disebutkan namanya! Dan kemudian tidak seorangpun yang mengatakan bahwa Marwan pernah menemui Ali pada hari terjadinya perang Jamal, ataupun sebelum dan sesudahnya.

Maka seolah laki-laki itu berada di dalam pasukan Ali, dan dia menyangka bahwa dengan membunuh Thalhah ia telah mendekatkan dirinya kepada Ali, maka ia pun menemuinya untuk memberitahunya, namun Ali justru membentaknya dengan kata-kata yang mengagetkan tersebut.

Dan ini menguatkan apa yang telah kami tegaskan.

7. Kesedihan Ali atas Thalhah dan putranya Muhammad, serta Penghormatannya kepada anak-anak Thalhah

Setelah perang usai, Ali berjalan mengitari para korban yang tergeletak di medan tempur. Ia mendoakan rahmat Allah bagi orang-orang shalih yang dikenalnya, dia juga menshalatkan korban dari kedua belah pihak, dan ia berharap telah wafat dua puluh tahun sebelum hari itu hingga tidak perlu menyaksikan tumpahnya darah kaum muslimin.

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Bakrah, bahwasanya Ali Radhiyallahu Anhu ketika melihat korban yang tewas dan kepala-kelapa yang terpisah pada perang Jamal berkata, “Wahai Hasan, kebaikan apa yang diharapkan setelah ini?! Ia berkata, “Aku telah melarangmu dari hal ini sebelum engkau memasukinya.”

Amirul Mukminin Ali sangat terpukul ketika melihat Thalhah dan putranya Muhammad As-Sajjad tewas, dan itu sangat berat baginya. Ia hanya bisa mengadukan kedudukannya kepada Allah, tangis tak henti hentinya mengalir dari kedua matanya, lalu ia memberikan kabar gembira berupa neraka kepada pembunuh Thalhah.

Ibnu Asakir dan yang lainnya meriwayatkan dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi berkata, “Ali melihat Thalhah bin Ubaidillah tergeletak di salah satu lembah, maka ia turun dan mengusap debu dari wajahnya, lalu ia berkata, “Sungguh berat bagiku wahai Abu Muhammad melihatmu tergeletak di lembah ini dan di bawah bintang-bintang langit!” Kemudian ia berkata, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kepedihan dan kesedihan yang berkecamuk di dalam jiwaku.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Ibnu Asakir, dari Thalhah bin Musharrif, bahwasanya Ali sampai di tempat Thalhah setelah ia terbunuh, maka ia turun dari tunggangannya dan mendudukkan nya. Ia mengusap debu dari wajahnya dan jenggotnya, dengan mendoakan rahmat Allah untuknya, dan ia berkata, “Andai saja aku telah meninggal dua puluh tahun sebelum terjadinya hari ini.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ath-Thabari dalam tafsirnya dan juga Al-Hakim dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Abu Habibah pembantu Thalhah berkata, “Aku masuk menemui Ali bersama Imran bin Thalhah setelah selesai dari perang Jamal, ia berkata, “Maka Ali menyambutnya dan mendekatkannya kepadanya, seraya berkata, “Sungguh aku berharap Allah menjadikanku dan ayahmu ke dalam golongan orang-orang yang dikatakan Allah, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipandipan (QS. Al-Hijr [15]:47).” Lalu ia berkata, “Wahai putra saudaraku, bagaimanakah kabar fulanah, dan bagaimana fulanah?” Ia menyakan tentang ibu-ibu dari anak-anak ayahnya. Kemudian ia berkata, “Kami tidak mengambil tanah kalian pada tahun ini melainkan karena takut orang-orang akan merampasnya. Wahai fulan, pergilah dengannya menemui Ibnu Qarzhah, suruh dia untuk menyerahkan penghasilan tanahnya selama tahun-tahun belakangan ini, dan agar ia mengembalikan tanahnya” Ia berkata, maka berbicaralah dua orang yang duduk di salah satu sudut, salah satunya adalah Al-Harits bin Al-A’war, “Allah jauh lebih adil dari itu, kalian membunuhnya kemarin dan tiba-tiba kemudian menjadi saudara dan duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan di surga?! Maka Ali berkata, “Pergilah kalian ke bumi Allah yang paling jauh dan paling liar, siapa lagi yang dimaksud kalau bukan aku dan Thalhah?! Wahai putra saudaraku, jika engkau membutuhkan sesuatu datanglah kepada kami.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang satunya lagi adalah Ibnu Al-Kawwa’, Ali mendekatinya dan memukulnya dan berkata, “Apakah engkau dan teman-temanmu mengingkari ini?!”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Hamidah Ali bin Abdullah Ath-Tha’ini berkata, “Ketika Ali sampai di Kufah, ia mengirim pesan kepada  dua putra Thalhah dan berkata, “Wahai dua putra saudaraku, kembalilah ke tanah kalian dan ambillah kembali, sesungguhnya aku telah menyitanya agar orang-orang tidak merampasnya, sungguh aku berharap Allah menjadikanku dan ayahmu ke dalam golongan orang-orang yang dikatakan Allah, “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS. Al-Hijr [15]:47)” Maka Al-Harits bin Al-A’war Al-Hamdani berkata, “Allah jauh lebih adil dari itu.” Maka Ali menarik bajunya dan berkata, “Lalu siapa lagi? Semoga engkau celaka.” Ali mengucapkannya dua kali.”

Beginilah akhlak para shahabat Radhiyallahu Anhum, Dan inilah sikap yang ditunjukkan imam besar khalifah yang diberi petunjuk Ali bin Abi Thalib pada saat berkobarnya fitnah tersebut. Dan inilah sikap yang ditunjukkan imam besar khalifah yang diberi petunjuk Ali bin Abi Thalib pada saat berkobarnya fitnah tersebut. Ia tidak melanggar akhlak kenabian yang ia dapatkan langsung dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam dan dari wahyu yang terpercaya. Ia tidak ragu untuk menyatakan bahwa pasukan Jamal yang keluar dari barisannya, yang terdiri dari para shahabat dan orang-orang mukmin yang shalih, adalah orang-orang mukmin yang terpilih, dan ahli-ahli ibadah yang bersih, orang-orang yang jujur, tidak ada yang membuat mereka keluar berperang selain keinginan untuk perdamaian dan perbaikan serta memerangi orang-orang yang zhalim. Dalam hal ini mereka adalah orang-orang yang mujtahid, di mana yang salah akan mendapatkan satu pahala dan yang benar mendapatkan dua pahala.

Dan ketika penduduk Kufah bergabung dengannya, ia berdiri di hadapan pasukan yang besar tersebut menyampaikan khutbahnya dan menerangkan kepada mereka bahwa tujuannya adalah perdamaian, dan bahwasanya pasukan Thalhah, Zubair dan ummul mukminin Aisyah adalah saudara-saudara mereka. Ia berkata.

“Aku telah mengajak kalian untuk menghadapi saudara-saudara kita dari penduduk Nashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi mereka dengan kelembutan, dan kita biarkan mereka hingga mereka memulai menyerang kita secara zhalim. Kita tidak akan melepaskan satu hal pun yang mengandung, melainkan pasti kita dahulukan daripada hal lain yang mengandung kerusakan Insya Allah, dan tiada kekuatan kecuali hanya milik Allah.”

Ketika ia ditanya tentang pasukan Jamal, ia berkata, “Mereka adalah saudara-saudara kami yang berbuat zhalim kepada kami, maka kami perangi mereka, namun mereka telah kembali, dan kami telah menerima mereka.”

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.