Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya (Seri 13)

F. Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya

4. Bersama Ali bin Abu Thalib

Ketika takdir dan ketetapan Allah telah berlaku, dan terjadilah apa yang telah ditakdirkannya, dan khalifah yang ketiga Utsman mendapatkan syahid dan kembali kepadanya Nya, maka tidak ada lagi tokoh ke empat yang lebih mulia, lebih berilmu, dan lebih bertakwa selainnya. Maka bai’at pun diberikan kepadanya.

Ketika jabatan kekhalifahan disodorkan kepadanya, pada awalnya ia ragu untuk menerimanya, karena berbagai peristiwa yang terjadi saat itu oleh para pemberontak, yang telah membunuh khalifah Utsman dengan cara yang kejam dan sadis. Mereka tetap bertahan di Madinah, sementara tangan mereka belum kering dari darah Utsman yang syahid! Ali merenungkan seluruh untaian peristiwa tersebut, ia terus memikirkan dan menimbang-nimbang. Dan kemudian ia meyakinkan dirinya bahwa setiap detik yang berlalu dengan kekosongan posisi khalifah hanya akan menyebabkan bahaya yang lebih besar terhadap Islam, negaranya, dan masyarakatnya. Maka ia pun menerima jabatan khalifah yang penuh dengan luka. Tidak aka nada yang sanggup memikul tanggung jawab tersebut selain orang yang seperti Ali. Ia menerima dengan bertawakal kepada Allah dan yakin dengan pertolongan-Nya, juga dengan keberaniannya dalam menghadapi kesulitan.

Begitu Utsman terbunuh, orang-orang segera mendatangi Ali, baik dari golongan shahabat maupun yang lainnya dan mereka berkata, “Amirul Mukminin Ali” Hingga mereka masuk kerumahnya, dan berkata, “Kami akan membai’atmu, maka ulurkanlah tanganmu, engkaulah yang paling berhak atas urusan ini!”, Maka Ali berkata, “Urusan ini bukan di tangan kalian, ini adalah urusan ahli Badar, siapa yang mereka ridhai, dialah yang akan menjadi khalifah.” Namun tidak seorangpun yang tersisa, semuanya mendatangi Ali dan berkata, “Kami tidak melihat siapapun yang lebih berhak darimu, ulurkanlah tanganmu untuk kami bai’at.” Maka Ali berkata, “Mana Thalhah dan Zubair?” saat itu yang pertama membai’atnya adalah Thalhah dan Zubair. Ketika Ali melihat hal tersebut, ia segera menuju masjid dan naik mimbar. Dan saat itu yang pertama kali naik ke atas mimbar dan membai’atnya adalah Thalhah, diikuti kemudian oleh Zubair, dan shahabat-shahabat Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Kaum Muhajirin dan Anshar turut memberikan bai’at mereka, dan kemudian barulah ia di bai’at oleh orang-orang lainnya.

Ath-Thabari meriwayatkan dengan sanad yang terdiri dari orang-orang yang terpercaya, dari Auf bin Abu Jamilah Al-Arabi berkata, “Adapun aku bersaksi bahwa aku telah mendengar Muhammad in Sirin berkata, “Sesungguhnya Ali datang dan berkata kepada Thalhah, “Ulurkanlah tanganmu wahai Thalhah agar aku membai’atmu.” Thalhah berkata, “Engkaulah yang lebih berhak, engkaulah Amirul Mukminin, maka ulurkanlah tanganmu.” Ia berkata, “Maka Ali mengulurkan tangannya dan Thalhah membai’atnya.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Amru bin Dinar, aku berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Thalhah dan Zubair membai’at Ali? Ia berkata, “Hasan bin Muhammad telah memberitahuku, dan aku tidak melihat siapapun yang lebih tahu darinya, bahwa mereka berdua naik untuk membai’atnya, saat itu ia berada di atas mimbar, dan kemudian mereka kembali turun.”

Dikarenakan tangan Thalhah yang pertama kali terulur untuk membai’at Ali, ada yang berkata, “Yang pertama memberikan bai’at adalah tangan yang telah lumpuh, ini tidak bisa terjadi!” dan ini adalah sebuah kebodohan dari orang yang mengatakannya. Karena tangan Thalhah adalah tangan yang jauh lebih berkah dan lebih besar kontribusinya disbanding dengan siapapun, karena tangan inilah yang telah membela Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pada perang Uhud dan melindungi beliau dari hujan panah.

Ketika Al-Ahnaf bin Qais mendatangi Thalhah dan Zubari sebelum terbunuhnya Utsman, dan ia berkata kepada mereka, “Aku berpendapat bahwa ia Utsman pasti akan terbunuh. Siapa menurut kalian yang harus aku bai’at?” mereka menjawab, “Ali”, maka aku berkata, “Apakah kalian menganjurkanku untuk itu dan kalian ridha jika aku melakukan nya?” mereka menjawab, “Iya.”

Maka bai’at umum dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk Ali pun akhirnya terlaksana, diikuti oleh seluruh yang hadir. Dan Ali mengirimkan surat ke seluruh penjuru mengabarkan tentang pembai’atan nya dan mereka pun tunduk kepadanya, kecuali apa yang terjadi pada Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu Anhuma dan penduduk Syam.

Para shahabat telah melakukan pembelaan terhadap Utsman saat ia dikepung di rumahnya, namun ia tidak mengizinkan mereka untuk berperang karena melindunginya, ia tidak ingin ada darah yang tumpah karena dirinya, maka mereka pun mentaatinya. Kemudian mereka hanya bisa memperhatikan apa yang akan terjadi, dan tidak ada yang berpikir bahwa para pemberontak tersebut akan berani menumpahkan darahnya. Namun ketika yang ditakutkan itu terjadi, dan Utsman terbunuh dalam keadaan sabar, para shahabat menjadi terpukul, hati mereka pecah menyaksikan kejadian yang tragis tersebut. Mereka merasa bahwa seharusnya mereka membelanya mati-matian, walaupun pada kenyataannya mereka tidak pernah menyia-nyiakannya.

Maka Thalhah, Zubair, Aisyah dan para pengikut mereka berpendapat bahwa tidak akan ada yang bisa membaskan mereka dari rasa bersalah atas kewajiban membela Utsman selain bangkit untuk menuntut pembalasan darahnya, dan membalas dendam terhadap para pembunuhnya.

Lalu Thalhah, Zubair dan beberapa tokoh shahabat mendatangi Amirul Mukminin Ali dan memintanya untuk menegakkan hukum qishash dan menuntut balas atas darah Utsman. Ali meminta maaf kepada mereka dan mengatakan bahwa para pembunuh Utsman saat itu masih mempunyai sekutu dan bala bantuan, sehingga ia belum bisa melaksanakan tuntutan mereka pada saat itu.

Kemudian Thalhah dan Zubair meminta izin kepada Ali untuk melaksanakan umrah, dan ia mengizinkan mereka, dan mereka pun berangkat menuju Mekah.

Sementara itu Ali telah bertekad untuk memerangi penduduk Syam karena menolak untuk membai’atnya, dan ia pun menyiapkan pasukannya. Dan tidak ada lagi yang harus dilakukan selain berangkat dari Madinah menuju Syam, sampai ia mendengar kabar yang membuatnya harus melupakan maksudnya tersebut.

Ketika ia tengah bersiap menuju Syam, ia mendapat kabar tentang adanya pasukan yang terdiri dari Thalhah, Zubair, dan ummul mukminin Aisyah yang telah keluar dari Mekah dan sedang menuju Bashrah, dan mereka diikuti oleh banyak orang. Pada tahun itu istri-istri Nabi Shallallahualaihi wa Sallam menunaikan ibadah haji untuk menghindari fitnah. Dan ketika menerima kabar tentang terbunuhnya Utsman, mereka memutuskan untuk tetap berdiam di Mekah dan menunggu apa yang akan terjadi.

Setelah haji, berkumpullah sejumlah shahabat dan ummahatul mukminin di Mekah. Aisyah dengan kedudukannya yang tinggi di dalam diri kaum muslimin, mendorong orang-orang untuk bangkit menuntut darah Utsman, dan menegakkan qishash atas para pembunuhnya. Mereka bermusyawarah untuk menentukan langkah yang akan diambil, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat menuju Bashrah guna mengumpulkan kekuatan yang besar dari mereka yang bergabung atas terbunuhnya Utsman, lalu kekuatan yang besar tersebut akan bahu membahu dengan kekuatan pasukan khalifah guna menumpas kekuatan kaum pemberontak dan memusnahkan kekuasaan mereka. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri Thalhah, Zubair, dan Aisyah bahwa Ali bersih dari darah Utsman, dan tidak ada permusuhan ataupun kebencian dan kedengkian di antara du pasukan tersebut, pasukan Ali dan pasukan Bashrah. Semua yang terjadi adalah dengan tujuan perbaikan, penegakkan hukum, dan tuntutan qishash atas orang-orang yang zhalim.

Seribu pasukan berkuda berangkat mengiringi Thalhah, Zubair, dan Aisyah Radhiyallahu Anhum. Mereka bertolak dari mekah, dan dalam perjalanan banyak yang bergabung dengan mereka sehingga jumlah mereka menjadi tiga ribu. Ummul mukmiin berada di tandunya di atas unta yang bernama Askar. Dalam perjalanan mereka melewati sebuah mata air yang bernama Al-Hau’ab dan disana mereka disambut oleh gonggongan anjing. Ketika mendengar itu Aisyah berkata, “Apakah nama tempat ini?” mereka menjawab, “Al-Hau’ab”, maka ia menepukkan kedua tangannya dan berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Aku harus kembali!”. Mereka bertanya, “Kenapa?” ia menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam berkata kepada istri-istrinya, “Andai aku tahu siapa di antara kalian yang akan disambut gonggongan anjing di mata air Al-Hau’ab (Al-Hau’ab merupakan sebuat tempat di dekat Bashrah pada jalan yang menuju Mekah. Hadits tentang Ha’uab adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi dalam Ad-Dala’il, juga Al-Hakim dan yang lainnya)”, lalu ia menepuk bahu tangannya dan menduduknya, dan ia berkata, “Kembalikan aku, kembalikan aku, demi Allah akulah wanita (yang disambut gonggongan anjing) di mata air Al-Hau’ab!!”. Lalu Zubair berkata kepadanya, “Apa engkau akan pulang?! Semoga saja Allah akan mendamaikan orang-orang melaluimu.” Aisyah menerima alas an tersebut dari pembela Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dengan harapan kedudukannya di hati kaum muslimin akan memberikan pengaruh dalam pertemuan untuk menuntut darah Utsman. Ia pun meneruskan perjalanannya menuju Bashrah, dan orang-orang turut melanjutkan perjalanan bersamanya, untuk ishlah (perbaikan).

Ketika Ali mendengar berita tentang keluarnya Thalhah, Zubair, dan Aisyah menuju Bashrah, ia membatalkan perjalananya menuju Syam, dan keluar bersama pasukan yang telah disiapkannya untuk menuju Syams, dan berangkat menuju Bashrah. Dia berharap dapat menyusul mereka, dan menghalangi mereka, hingga ia sampai di Ar-Rabadzah (Sebuah desa yang pernah ramai dan kemudian mati), di sana ia mendengar bahwa mereka telah terlambat untuk menghadang.

Pasukan Aisyah semakin dekat dengan Bashrah, maka ia menulis surat kepada Al-Ahnaf bin Qais dan pemuka masyarakat lainnya mengabarkan bahwa ia akan datang. Maka gubernur Bashrah Utsman bin Hunaif mengirim kepadanya dua orang utusan : seorang shahabat Imran bin Hushain, dan seorang tabi’in Abu Al-Aswad Ad-Duali untuk mengetahui maksud kedatangannya. Ketika sampai, mereka menanyakan maksudnya, dan ia menyampaikan kepada mereka berdua bahawa ia dan orang-orang yang bersamanya datang untuk menuntut darah Utsman karena ia dibunuh dengan zhalim di bulan haram dan di tanah haram. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala, “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia (QS. An-Nisa’ [4]:114). Dan ia berkata, “Kami bangkit dengan tujuan perbaikan yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla, dan diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam kepadanya kecil dan besar, kepada laki-laki dan perempuan. Inilah urusan kami untuk menyeru kalian kepada kebaikan dan mendorong kalian untuk itu, dan mencegah kalian dari kemungkaran, serta meminta kalian untuk mengubahnya.”

Mendengar kedatangan Thalhah, Zubair, daan Aisyah, penduduk Basrah terpecah menjadi tiga kelompok.

Pertama: Menyambut baik gerakan Aisyah dan bergabung dengannya untuk membantunya menuju perbaikan

Kedua: Tetap loyal terhadap gubernur Bashrah saat itu Utsman bin Hunaif dan tidak setuju dengan gerakan Aisyah.

Ketiga: Memilih untuk tidak memihak kemanapun.

Utsman bin Hunaif bertekad untuk mencegah pasukan Aisyah memasuki Bashrah hingga kedatangan Amirul Mukminin Ali, maka ia pun keluar bersama pasukannya. Ia menghadang pasukan Aisyah di Al-Mirbad (Suatu tempat yang digunakan pasar unta di luar kota), pasukan Aisyah berada di sisi kanan Mirbad, dan pasukan Ibnu Hunaif di sisi kirinya.

Lalu Thalhah berbicara dan mengajak untuk menuntut balas atas darah Utsman, ia diikuti oleh Zubair yang berbicara seperti dibicarakannya. Pasukan yang berada di sisi kanan berkata, “Mereka berdua telah jujur dan benar, dan mereka berdua telah mengatakan kebenaran dan mereka mengajar kepadanya.” Sedangkan pasukan yang berada di sisi kiri berkata, “Mereka berdua telah membangkang, dan mengatakan kebathilan, dan mereka mengajak kepadanya.” Maka kedua pasukan kemudian saling melemparkan pasir dan batu. Dan ketika Aisyah berbicara dan mengajak mereka untuk menuntut balas atas Utsman dan membunuh para pembunuhnya, pasukan Ibnu Hunaif terpecah menjadi dua : Satu kelompok tetap bersamanya, dan kelompok lainnya bergabung dengan pasukan Aisyah.

Maka majulah Hukaim bin Jabalah yang berada dalam pasukan berkuda dari Ibmu Hunaif, dan salah seorang yang ikut membunuh Utsman dan ia memulai peperangan. Namun pasukan ummul mukminin menahan diri dan enggan untuk berperang, sehingga Hukaim pun menyerang mereka. Mereka bertempur di sisi jalan, maka Aisyah memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke kanan hingga sampai di pemakaman Bani Mazin, dan kemudian malam pun menghalangi kedua pasukan. Pada hari kedua, mereka telah siap untuk bertempur, dan pertempuran pun terjadi dengan dahsyat hingga siang, dan banyak anggota pasukan Ibnu Hunaif yang terbunuh, dan banyak yang terluka dari kedua pasukan. Dan ketika perang telah melelahkan mereka, mereka pun mengajak untuk berdamai.

Beberapa orang berhasil memasuki istana Utsman bin Hunaif dan membawanya kepada Thalhah dan Zubair sebagai tawanan. Dan tidak ada lagi rambut yang tersisa di wajahnya karena telah dicukur oleh mereka!! Thalhah dan Zubair menganggap perbuatan itu terlalu berlebihan, kemudian mereka memberitahukan berita tentang penangkapan itu kepada Aisyah. Aisyah memerintahkan untuk melepaskannya, dan mereka pun membebaskannya.

Hal itu menyulut kemarahan kelompok pembunuh Utsman dan para pendukung mereka. Maka mereka bergerak dengan pasukan yang berjumlah hampir tiga ratus orang, dengan dipimpin oleh Hukaim bin Jabalah. Mereka menyampaikan tantangan dan bertempur. Pasukan Aisyah menyambut tantangan mereka, dan berhasil membunuh meraka, termasuk hukaim sendiri. Pasukannya menjadi lemah, dan dengan demikian pasukan Aisyah berhasil menguasai Bashrah.

Utusan Thalhah dan Zubair mengumumkan kepada kabilah-kabilah yang ada di sana bahwa jika ada di antara kalian yang ikut menyerang Madinah maka hendaklah membawanya kepada kami. Mereka pun di bawa dan di bunuh. Tidak ada yang selama kecuali Hurqush bin Zuhair As-Sa’di, karena kaumnya Bani Sa’ad mempertahankannya.

Bashrah berhasil di kuasai oleh Thalhah, Zubair, dan pasukan yang bersama mereka. Kemudian mereka menulis surat kepada penduduk Syam untuk itu. Thalhah dan Zubair meminta mereka untuk bangkit seperti mereka guna menuntut balas atas darah Asy-Syahid Amirul Mukminin Utsman. Mereka juga mengirimkan surat yang serupa kepada penduduk Kufah, penduduk Yamamah, dan kepada penduduk Madinah.

Ketika pasukan Amirul Mukminin Ali sampai di Ar-Rabadzah dan mengetahui bahwa pasukan Aisyah telah mendahuluinya, ia merencanakan untuk terus menuju Bashrah. Di Rabadzah ia bertemu dengan Abdullah bin Salam Radhiyallahu Anhu yang memintanya untuk tidak ikut keluar, namun ia menolak. Dan hasan bin Ali pun berharap agar ayahnya tidak berangkat, namun ia juga menolak! Orang-orang memperhatikan rencana dan tekadnya untuk itu, maka putra dari Rifa’ah bin Rafi’ mendatanginya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang engkau ingin kan? Dan kemana engkau akan membawa kami?” Ali menjawab”Adapun yang kita inginkan hanyalah perbaikan, itu jika mereka menerima dan menyambut ajakan kita.” Ia berkata, “Kalau mereka tidak menyambut ajakan kita?” Ali berkata, “Kita biarkan mereka dengan alas an mereka, kita berikan mereka hak mereka lalu kita bersabar.” Ia berkata, “Jika mereka tidak ridha?” Ali menjawab, “kita akan biarkan mereka selama mereka membiarkan kita.” Ia berkata, “Dan kalau mereka tidak membiarkan kita?” Ia menjawab, “Kita akan membela diri dari mereka.” Dan ia pun berkata, “Baiklah kalau begitu.”

Ali mengirim surat kepada penduduk Kufa meminta mereka untuk membela kebenaran. Di antara isi suratnya sebagai berikut, “Aku telah memilih kalian atas apa yang terjadi. Jadilah penolong dan pembela bagi agama Allah. Dukunglah kami dan bangkitlah bersama kami. Perbaikanlah yang kami inginkan, agar umat kembali menjadi satu saudara. Siapa yang mencintai dan mengutamakan hal ini maka berarti ia mencintai kebenaran dan mengutamakannya. Namun siapa yang tidak menyukainya maka berarti ia pun tidak menyukai kebenaran dan membencinya.

Ketika Ali dan pasukannya mendekati Kufah, ia menerima berita tentang apa yang telah menimpa pasukannya di Bashrah. Dan ketika ia tiba di Dzu Qar, Utsman bin Hunaif mendatanginya dalam keadaan kemah tanpa sedikitpun rambut di wajahnya. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau telah mengutusku ke Bashrah dengan memiliki jenggot. Dan sekarang aku datang kepadamu dalam keadaan tanpa jenggot!” Ali berkata, “Engkau telah mendapatkan pahala dan kebaikan.”

Di kufah, shahabat mulia Abu Musa Al-Asy’ari bangkit dan menasihati orang-orang agar tidak ikut camput dalam fitnah yang terjadi. Ia menceritakan kepada mereka apa yang pernah didengarnya dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam tentang peristiwa tersebut, ketika beliau berkata, “Sungguh akan terjadi suatu fitnah dimana orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berkendaraan.” Lalu utusan Amirul Mukminin Ali di antaranya Hasan, Ibnu Abbas, dan Ammar bin Yasir mengajak orang-orang untuk membela khalifah yang telah dibai’at oleh kaum Muhajirin dan Anshar, agar posisinya lebih kuat sehingga bisa menegakkan hukum dan meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Beberapa hadirin kemudian berbicara, di antaranya Qa’qa’ bin Amru yang mendukung pendapat Abu Musa namun ia juga sekaligus mengoreksinya dengan berkata, “Sesungguhnya yang dikatakan oleh gubernur adalah benar, namun orang juga membutuhkan seorang pemimpin yang melawan kezhaliman, dan menolong yang dizhalimi serta merekatkan kembali ikatan manusia. Amirul Mukminin Ali melaksanakan apa yang menjadi tugasnya, dan ia telah berbuat adil dalam himbauannya, hanya perbaikanlah tujuannya, maka bergabunglah dengannya.”

Orang-orang menyambut seruan untuk bergabung dengannya, dan bergerak dengan Hasan dalam sebuah pasukan yang berjumlah hamper Sembilan rebut prajurit, diantara tokoh yang ikut bergabung antara lain : Qa’qa’ bin Amru, Sa’ad bin Malik, Zaid bin Shuhan, Adi bin Hatim, dan Hujr bin Adi.

Di sana sang imam yang baik dan shalih berdiri dan menjelaskan kepada pasukannya jalan lurus yang akan ditempuh, bahwasanya kebenaran yang mereka tujuh memiliki banyak jalan, dan jalan terakhir adalah dengan mengangkat senjata. Dan jika mereka terpaksa harus bertempur melawan saudara-saudara mereka, maka haruslah dengan cara yang benar. Ia menyampaikan khutbahnya di hadapan mereka dan berkata,

“Wahai penduduk Kufah, kalian terlah berhasil merebut kekuasaan orang-orang non arab, dan kalian hancurkan kesatuan mereka hingga kalian mendapatkan warisan peninggalan mereka, kalian menjadi berkecukupan dan bisa menolong saudara-saudara kalian menghadapi musuh mereka. Aku telah mengajak kalian untuk menghaapi saudara-saudara kita dari penduduk Bashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi saudara-saudara kita dari penduduk Bashrah. Jika mereka mau kembali maka itulah yang kita inginkan. Jika mereka memaksa maka kita akan menghadapi mereka dengan kelembutan, dan kita biarkan mereka hingga mereka memulai menyerang kita secara zhalim. Kita tidak akan melepaskan satu hal pun yang mengandung kebaikan, melainkan pasti kita dahulukan daripada hal lain yang mengandung kerusakan Insya Allah, dan tiada kekuatan kecuali hanya milik Allah.”

Kemudian Ali berusaha memastikan berita tentang dua saudara nya Thalhah dan Zubair, untuk mengetahui apa yang menyebabkan keberangkatan mereka dan apa yang mereka inginkan. Juga untuk mengingatkan mereka kepada Allah Ta’ala, dan mengutamakan kesatuan kaum muslimin. Ia pun mengutus seorang komanda yang cerdas Qa’qa’ bin Amru, dan berpesan kepadanya, “Temuilah dua orang ini dan ajaklah mereka untuk kembali kepada persatuan dan jamaah, dan ingat kan akan besarnya bahaya perpecahan.”

Qa’qa’ berangkat hingga tiba di Bashrah. Ia mulai dengan menemui Aisyah Radhiyallahua Anha, ia mengucapkan salam dan berkata, “Wahai ibu, Apa yang yang telah menganggumu dan membuat datang ke negeri ini?” Ia berkata, “Wahai Anakku, untuk perbaikan dan kedamaian di antara manusia.” Qa’qa’ berkata, “Maka panggilah Thalhah dan Zubair agar engkau bisa mendengar perkataanku dan perkataan mereka.” Aisyah pun memanggil mereka, dan mereka segera datang.

Qa’qa’ berkata, “Aku telah bertanya kepada ummul mukminin, apa yang telah menganggunya dan membuat datang ke negeri ini? Dan ia berkata, untuk perbaikan di antara manusia.” Maka apa yang akan kalian katakana? Apakah kalian setuju atau menentang? Mereka berdua berkata, “Setuju”.

Ia berkata, “Sekarang katakana kepadaku, bagaimanakah perbaikan yang kalian inginkan? Demi Allah jika kami menyetujuinya niscaya kami akan memperbaikinya, dan jika kami tidak setuju maka kami tidak akan memperbaikinya.”

Mereka berkata, “Para pembunuh Utsman Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya jika ini dibiarkan maka berarti meninggalkan hukum Al-Qur’an, dan jika dilaksanakan berarti kita menghidupkan Al-Qur’an.”

Qa’qa’ berkata, “Kalian telah menghabisi para pembunuh Utsman Radhiyallhu Anhu dari kalangan penduduk Bashrah. Sebelum menghabisi mereka kalian berdua lebih dekat kepada keistiqamahan dari pada hari ini. Kalian telah menghabisi enam ratus orang dari mereka. Lalu membangkitkan kemarahan enam ribu orang yang menuntut balas terhadap kalian dan memisahkan diri dari kalian. Mereka keluar dari pihak kalian. Lalu kalian menuntut Hurqush bin Zuhair, akan tetapi enam ribu orang melindunginya dan saat ini berada dalam keadaan siaga. Jika kalian membiarkan mereka maka berarti kalian telah meninggalkan apa yang pernah kalian katakana sendiri (untuk menuntut darah Utsman). Namun jika kalian memerangi mereka dan orang-orang yang telah memisahkan diri dari kalian maka kalian akan ditimpa kerusakan yang lebih besar dari apa yang kalian takutkan. Kalian telah menyulut orang-orang dari Bani Mudhar dan Rabiah yang ada di negeri ini sehingga mereka bersatu untuk memerangi kalian demi membela mereka, sebagaimana mereka bergabung dengan orang-orang yang telah menyulut peristiwa besar dan dosa yang besar ini!!”

Ummul mukminin berkata, “Bagaimana pendapatmu?”

Al-Qa’qa’ menjawab, “Menurutku solusi masalah ini adalah meredekan ketegangan! Jika keadaan sudah tenang maka mereka akan kembali terpisah-pisah. Jika kalian sepakat maka itu adalah pertanda kebaikan, rahmat dan sikap yang baik untuk menjaga kesempatan untuk menuntut balas atas Utsman, serta keselamatan bagi umat ini. Jika kalian tidak sepakat dan tetap bersikeras maka itu adalah pertanda keburukan dan lenyapnya kesempatan untuk menuntut balas ini, serta Allah akan menurunkan banyak musibah atas umat ini. Utamakanlah keselamatan niscaya kalian akan memperolehnya. Jadilah kunci kebaikan sebagaimana halnya kalian dahulu. Janganlah bawa kami keapda bencana sehingga kalian harus menghadapinya dan Allah membiaskan kita semua. Demi Allah, aku mengutarakan maksud ini dan mengajak kalian kepadanya. Aku khawatir masalah ini tidak akan selesai hingga Allah menimpakan kemarahan Nya terhadap umat ini yang minim perbekalannya lalu terjadilah apa yang terjadi. Sesungguhnya masalah yang terjadi ini sangatlah besar. Bukan seperti masalah-masalah lainnya, bukan sekedar seorang lelaki membunuh seorang lelaki lain nya atau sekelompok orang membunuh seorang lelaki atau satu kabilah membunuh seorang lelaki!”

Mereka berkata, “Baiklah jika demikian, engkau benar dan telah mengungkapkannya dengan sangat baik, kembalilah, jika Ali datang dengan membawa pemikiran seperti yang engkau utrakan niscaya urusan ini akan selesai.”

Maka Al-Qa’qa pun kembali kepada Ali dan mengabarkan apa yang terjadi. Ali pun takjub mendengarnya. Perdamaian telah hamper tercapai, ada yang tidak menyukai keadaan tersebut da nada yang gembira dengan itu.

Amirul Mukminin Ali adalah orang yang paling gembira dengan keberhasilan tugas Qa’qa’ dan kesepakatan damai yang dicapainya untuk menyatukan kata dan merapatkan barisan guna menghadapi para pembunuh Utsman dan menghancurkan mereka. Khutbah yang disampaikannya saat itu menggambarkan tentang kebahagiaan jiwa dan kesenangan mata hatinya. Ia mengumpulkan pasukannya dan menceritakan tentang keadaan jahiliyah dengan berbagai pertikaian dan peperangannya yang membawa kerugian. Lalu datanglah Islam, dengan kebahagiaan, dan nikmat Allah atas umat ini dengan menyatukannya di bawah seorang khalifah setelah wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, dan kemudian diikuti oleh khalifah yang setelahnya.

Diantara yang disampaikannya adalah, “Lalu terjadilah peristiwa yang menyeret umat ini yang telah dilakukan oleh orang-orang yang bertujuan untuk mengerjar dunia. Mereka merasa dengki atas keutamaan yang dianugerahkan Allah atas umat ini, dan menginginkan untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Tetapi Allah telah melaksanakan ketetapannya, dan Maha benar terhadap apa yang dikehendakinya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya besok aku akan berangkat, maka berangkatlah bersamaku, dan jangan ikut bersamaku seorangpun yang terlibat dalam pembunuhan Utsman, sekecil apapun itu, dan hendaklah orang-orang bodoh tersebut membebaskanku dari diri mereka.”

Dan berangkatlah Ali bersama para shahabat dan pasukannya, dan meletakkan peralatan dan perlengkapan mereka di dekat Bashrah. Pasukan Ali beristirahat di sebuah tempat yang bernama Az-Zawiayah. Sementara pasukan Aisyah beristirahat di sebuah tempat yang bernama Al-Furdhah. Mereka saling mendekati hingga terlihat dari istana Ubaidillah bin Ziyad pada hari kamis pertengahan Jumadits Tsaniyah tahun 36 H.

Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah dan Zubair, dan berkata, “Jika kalian tetap pada pendapat kalian sebagaimana saat kalian ditingkan oleh Qa’qa’ bin Amru maka tunggulah hingga kami sampai dan kita bicarakan masalah ini.” Mereka menjawab pesannya dan berkata, “Kami tetap pada pendapat kami sebagaimana saat kami ditinggalkan oleh Qa’qa’ bin Amru yaitu untuk berdamai.” Maka tenaglah hati dan jiwa kedua pasukan, masing-masing berkumpul dengan pasukannya. Pada sore harinya Ali mengutus Abdullah bin Abbas kepada mereka, dan mereka pun mengutus Muhammad bin Thalhah As-Sajjad. Dan mereka melewati malam itu dengan tenang.

Namun bagi pembunuh Utsman, malam itu adalah malam yang sangat buruk bagi mereka. Maka berkumpullah tokoh-tokoh mereka seperti Al-Asytar An-Nakha’I, Syuraih bin Auf, dan Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu As-Sauda’, Salim bin Tsa’labah, Ilba’ bin Al-Haitsam, dan yang lainnya dengan dua ribu lima ratus pasukan, tidak ada seorangpun shahabat di antara mereka, dan segala puji bagi Allah untuk itu. Mereka berkata,

“Bagaimana pendapat kalian? Demi Allah ini adalah Ali, orang yang paling memahami Kitabullah dan orang yang paling dekat untuk menuntut para pembunuh Utsman, dan ia lebih kuasa untuk melakukan itu. Ia telah mengatakan seperti yang kalian dengar sendiri. Besok ia akan mengumpulkan manusia untuk meringkus kalian. Sesungguhnya yang mereka inginkan adalah kalian semua. Lalu apa yang kalian lakukan sedangkan jumlah kalian sedikit dibanding jumlah mereka yang sangat banyak?”

Mereka berdiskusi dan saling mengemukakan pendapat mereka, hingga kemudian Ibnu As-Sauda’, semoga Allah memburukkan dan menghinakannya, berkata, “Wahai kaum, tidak ada kemenangan bagi kalian kecuali dengan cara berbaur dengan orang-orang. Jika besok mereka bertemu maka nyalakanlah api peperangan di antara mereka. Jangan biarkan mereka berdamai. Orang-orang yang bersama kami tidak akan punya pilihan lain kecuali mempertahankan diri. Dan itu akan menyibukkan Ali, Thalhah, dan Zubair serta orang-orang yang sependapat dengan mereka dari hal yang kalian takutkan.” Merekapun sepakat dengan ide tersebut lalu membubarkan diri sementara orang-orang tidak mengetahui tentang ide busuk ini.

Para pemberontak yang terdiri dari para pembunuh Utsman telah bersekongkol dan sepakat untuk menyulut peperangan dengan licik. Mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka sekitar dua ribu orang. Masing-masing kelompok bergabung bersama pasukannya lalu menyerang mereka dengan pedang. Setiap golongan bergegas menuju kaumnya untuk melindungi mereka. Orang-orang bangun dari tidurnya dan langsung mengambil senjata. Mereka berkata, “Penduduk Kufah menyerbu kita pada malam hari, mereka mengkhianati kita!” Mereka mengira bahwa para penyerang itu berasal dari pasukan Ali. Sampailah keributan itu kepada Ali dan ia berkata, “Ada apa gerangan dengan mereka?” Mereka menjawab, “Penduduk Bashrah menyerbu kita pada malam hari, mereka mengkhianati kita!!!” Maka kedua belah pihak mengambil senjata masing-masing, mengenakan baju perang dan mengendarai kuda-kuda. Tidak ada seorang pun yang menyadarai konspirasi yang sedang teradi!! Peperangan pun tidak dapat dielakkan, pasukan kuda saling berhadapan, para pejuang saling menyerang, api pertempuran semakin memuncak. Kedua pasukan saling berhadapan, pasukan Ali berjumlah dua puluh ribu personil dan Aisyah dikelilingi oleh lebih dari tiga puluh ribu orang. Sementara As-Saba’iyah pengikut ibnu Saba’, semoga Allah memburukkannya, tidak henti-hentinya mengobarkan api peperangan. Lalu seseorang penyeru yang ditugaskan Ali terus berseru, “Hentikan! Hentikan! Namun tidak ada lagi yang mendengarnya.

Kemudian datanglah Ka’ab bin Sur hakim dari Bashrah, dan berkata, “Wahai ummul mukminin, temuilah orang-orang, barangkali Allah mendamaikan mereka melalui dirimu!” Aisyah duduk di dalam sekedupnya di atas untanya, dan kemudian di tutupi dengan tameng. Lalu ia maju dan berhenti di mana ia bisa dengan leluasa melihat pertempuran.

Demikianlah para pembunuh Utsman berhasil menyulut peperangan antara Ali dengan dua saudaranya Thalhah dan Zubair. Pasukan unta pasukan Thalhah, Zubair dan Aisyah menyangka bahwa Ali telah mengkhianati mereka. Sementara Ali mengira bahwa saudara-saudaranya telah mengkhianatinya. Mereka semua lebih bertakwa kepada Allah dan tidak mungkin melakukan itu semua di masa jahiliyah, maka bagaimana mungkin mereka melakukannya di saat mereka telah mencapai kedudukan yang tertinggi dari akhlak Al-Qur’an?!

Di sana Ammar berhadapan dengan Zubair, Ammar menyerangnya dengan tombak, namun Zubair tidak melawannya karena ia ingat apa yang dikatakan oleh Nabi Shallallahualaihi wa Sallam kepada Ammar, “Engkau akan dibunuh oleh kelompok yang zhalim” dan Zubair telah menyadari bahwa peperangannya saat itu tidak  benar, maka ia pun meninggalkan medan perang dan kembali pulang. Lalu ia beristirahat di sebuah lembah yang bernama Wadi As-Siba’, dan di ikuti oleh seorang laki-laki yang bernama Amru bin Jurmuz. Ia menyergapnya ketika ia sedang tidur, dan membunuhnya dengan licik, semoga Allah memburukkan perbuatannya.

Adapun Thalhah bin Ubaidillah, dalam pertempuran tersebut ia terkena oleh sebuah panah yang tidak diketahui siapa yang melepaskannya, dan berhasil membunuhnya.

Ummul mukminin Aisyah maju ke depan di atas sekedupnya. Ia memberi Mushaf kepada Ka’ab bin Sur dan berkata, “Ajaklah mereka kepada Kitabullah!” ketika Ka’ab bin Sur pun maju ke depan dengan membawa Mushaf dan mengajak mereka kepadanya, ia disambut oleh bagian depan pasukan Kufah. Pada saat yang bersamaan Abdullah bin saba’ dan para pengikutnya berada di depan pasukan membunuh siapa saja dari pasukan Bashrah, pasukan unta, yang dapat mereka bunuh. Mereka tidak membiarkan seorang pun. Ketika mereka melihat Ka’ab bin Sur mengangkat Mushaf mereka menghujani nya dengan anak panah hingga tewas!! Kemudian anak panah mulai menghujani sekedup ummul mukminin Aisyah, dan ia berteriak, “Allah! Allah! Wahai anak-anakku, ingatlah Hari Hisab!” Ia mengangkat tangannya dan melaknat para pembunuh Utsman. Orang-orang pun bergemuruh bersamanya dalam doa, hingga gemuruh tersebut sampai ke telinga Ali, ia berkata, “Suara apa itu?” Mereka berkata, “Ummul mukmiin melaknat para pembunh Utsman dan pendukungnya! Ali berkata, “Ya Allah laknatlah para pembunuh Utsman!!” Mereka terus menghujani sekedup Aisyah dengan anak panah sehingga membentuk sekedup itu tak ubahnya seperti seekor landak (yaknin anak panah yang menancap padanya seperti duri pada tubuh landak) Aisyah terus memotivasi pasukannya untuk mempertahankan diri dan menghentikan serangan mereka. Mereka terus mendesak hingga medan pertempuran sampai ke tempat Ali bin Abi Thalib, Peperangan terus berlanjut, kadang kala pasukan Bashrah di atas angin dan terkadang pasukan Kufah berada di atas angin. Banyak sekali yang gugur dari kedua pasukan.

Perang semakin panas, dan empat puluh orang telah terbunuh dalam mempertahankan unta yang ditunggangi Aisyah. Sang khalifah yang berduka menyadari bahwa perang akan terus berlangsung, dan ummul mukminin akan tetap menjadi sasaran tembak para pemanah yang dengki selama untanya masih tegak berdiri dengan dilindungi oleh pasukannya yang bertempur di sekelilingnya. Maka ia berteriak, “Tebaslah unta itu, sungguh jika ia telah jatuh maka mereka akan tercerai berai.” Dan seseorang berhasil menebasnya dan menjatuhkannya. Ketika jatuh, unta tersebut mengeluarkan suara kesakitan yang melengking tinggi, dan pasukan yang berada di sekelilingnya dapat dikalahkan. Lalu sekedup Aisyah dibawa, dan bentuknya telah seperti landak karena dipenuhi anak panah!

Salah seorang penyeru ditugaskan Ali untuk mengumumkan, “Jangan kejar orang yang melarikan diri, jangan dibantai orang yang terluka dan jangan masuk ke dalam rumah-rumah.”

Kemudian Ali memerintahkan beberapa orang agar membawa sekedup ummul mukminin tersebut keluar dari tumpukan korban-korban yang bergelimpangan. Ali juga memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar supaya mendirikan kemah untuk Aisyah. Lalu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib datang menemui Aisyah seraya mengucapkan salam dan berkata, “Bagaimana kabarmu wahai Ibu?”, Aisyah menjawab, “Baik”, Ali berkata, “Semoga Allah mengampunimu.” Pada malam harinya Aisyah memasuki kota Bashrah, dan mereka yang terluka pun mengendap di antara korban yang bergelimpangan dan memasuki Bashrah. Ali Menshalatkan korban yang terbunuh dari kedua pasukan, mereka semua dimakamkan di sebuah kuburan yang besar. Dengan duka yang mendalam setelah berakhirnya hari yang menyedihkan tersebut, ia berkata, “Demi Allah aku berharap seandainya aku telah meninggal dua puluh tahun ini!!”, dan Aisyah pun mengucapkan hal yang sama.

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.