Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya (Seri 11)

F. Bersama Khulafaur Rasyidin, Mengalami Masa Terjadinya Fitnah, dan Kisah Syahidnya

2. Bersama Umar bin Khaththab

Thalhah meneruskan jalannya pada masa Al-Faruq Umar sebagai mana yang telah dijalaninya pada masa khilafah Abu Bakar. Ia memberikan pendapatnya dan memberikan nasihat kepada khalifah. Ia menunjukkan jalan yang membawa kebaikan bagi Negara dan umat, serta melindungi pondasi Negara mereka dari tipu daya para pemberontak. Ia akan mengatakakan apa yang menurutnya benar, bukan apa yang dikehendaki oleh khilafah atau yang sesuai dengan keinginannya. Thalhah sama seperti shahabat lainnya yang telah lulu dari madrasah Islam, di mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil menanamkan dalam diri mereka agar selalu berpegang teguh kepada kebenaran, menyuarakannya dengan terus terang, dan berusaha menyampaikannya serta bersikap ikhlas dalam menjelaskan pribadi-pribadi yang merdeka, bukan pribadi yang penurut atau asal ikut-ikutan. Beliau menumbuhkan dalam diri mereka kemampuan berijtihad untuk bisa mencapai hasil terbaik, dan menggunakan akal mereka serta tidak mudah menyerah atau tunduk kepada suatu pendapat hanya karena yang mengatakannya adalah seorang khalifah atau amirul mukminin. Islam menginginkan umatnya untuk menjadi kekuatan yang mempunyai kontribusi, umat yang hidup, yang mampu membangun dan membela kebenaran serta berpegang teguh kepadanya. Dan orang yang paling dekat dengan khalifah. Mereka yang telah mendapat amanah dari kaum muslimin untuk melindungi agama mereka dan mengurus persoalan mereka. Mereka melepaskan tanggung jawab tersebut dari pundak mereka dan mengalungkannya di leher orang orang-orang terpilih tersebut. Dan pastinya mereka akan ditanya di hadapan seluruh manusia baik di dunia maupun di hadapan Allah di hari kiamat kelak. Maka tidak selayaknya jika ada di antara mereka yang menyia-nyiakan dan melalaikan sebagian dari tanggung jawab tersebut, sehingga di hadapan Allah nanti mereka memiliki alas an yang kuat dan jelas serta tidak ada keraguan dan kelemahan di dalamnya.

Pada hari-hari pertam dari pemerintahan Umar, berkumpullah Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka berbicara kepada Amirul Mukminin dan meminta nya untuk berlemah lembut terhadap orang-orang yang beriman. Saat itu yang berbicara adalah Ibnu Auf, ketika masuk ia berbicara kepada Umar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bersikap lembutlah kepada orang-orang, sungguh ada yang datang kepadamu, namun rasa takutnya kepadamu menghalanginya untuk menyampaikan kebutuhannya kepadamu, sehingga ia kembali tanpa bisa berbicara kepadamu!” Umar berkata, “Hai Abdurrahman, demi Allah, Apakah Ali, Utsman, Thalhah, dan Zubair serta Sa’ad memintamu untuk menyampaikan ini?!” Ia menjawab, “Iya”. Umar berkata, “Wahai Abdurrahman, sungguh aku telah bersikap lunak terhadap mereka sehingga aku takut kepada Allah akan sikap lunakku, kemudian aku bersikap keras sehingga aku takut akan sikap kerasku, Maka bagaimanakah solusinya?!” Abdurrahman pun bangkit sambil menangis dan menyeret jubahnya, Lalu berkata, “Celakalah mereka yang akan menggantikanmu, celakalah mereka yang akan menggantikanmu.”

Umar sendiri telah menjelaskan tentang sikap kerasnya tersebut saat ia menerima tanggung jawab sebagai khalifah yang menjadikannya orang yang bertanggung jawab terhadap umat. Al-Hakim dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib bahwasanya ketika Umar terpilih menjadi khalifah, ia berkhutbah di hadapan rakyatnya dan berkata, “Ketahuilah bahwa sikap kerasku yang selama ini telah kalian ketahui saat ini berlipatganda karena urusan ini telah menjadi tanggung jawabku dalam mengembalikan hak kaum muslimin yang lemah dari mereka yang kuat. Namun aku di balik sikap kerasku tersebut, aku siap meletakkan pipiku di atas tanah untuk orang yang lemah, yang menjaga dirinya di antara kalian dan menyerahkan diri.”

Beginilah sikap Umar sang khalifah, dan begitulah sikap para shahabat dan anggota majelis syura kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang memegang amanah, siap memberikan nasihat dan petunjuk serta sangat peduli terhadap perilaku para penguasa dan konsisten dalam menegakkan keadian dan kasih sayang terhadap umat. Dengan sikap tolong menolong, saling menyokong, saling menasihati, saling menjaga, dan saling mengingatkan itulah bahtera khilafah berlayar dan mempersembahkan bagi kemanusiaan jalan terbaik yang ditempuh manusia setelah jalannya para Nabi, yang saat ini menjadi buah bibir di seluruh dunia.

Untuk waktu yang cukup lama Umar sama sekali tidak mengambil gaji dari baitul mal, hingga ia mengalami kesusahan. Maka ia menanyakan para shahabat tentang masalah tersebut. Mereka kemudian menentukan gaji untuknya, juga dua helai pakaian untuk musim panas dan musim dingin, kendaraan yang digunakannya untuk menunaikan haji dan umrah, dan makanan untuknya serta keluarganya yang sesuai dengan standar makanan orang Quraisy yang tidak kaya dan juga tidak miskin!

Umar tetap bertahan dalam keadaan ini sementara harta karun mulai mengalir di kedua tangannya, dan harta melimpah ruah dari hasil penaklukan-penaklukan yang dilakukan. Allah melapangkan rezeki kaum muslimin dan memperbanyak kebaikan untuk merea. Namun Umar dengan keluarganya tetap menahan diri dan hidup dalam keadaan pas-pasan. Dalam hal itu ia berkata, “Aku menempatkan diriku pada harta Allah sebagaimana pada harta anak yatim. Jika aku berkecukupan maka aku akan menahan diriku, dan jika aku membutuhkan maka aku akan memakannya dengan cara yang patut.”

Melihat keadaan ini sekelompok shahabat mencoba menghalanginya, mereka merasa kasihan terhadap keluarga Umar. Mereka menginginkan untuk hidup sebagaimana rakyatnya yang saat itu telah hidup dalam kelapangan. Untuk maksud tersebut mereka mencoba minta bantuan dari putrinya ummul mukminin Hafshah. Dan Thalhah adalah satu di antara kelompok ini yang menghendaki khalifah ikut bersama mereka menikmati kesenangan sebagaimana ia bersabar bersama mereka dalam kesulitan!

Hafshah menemui Umar untuk menyampaikan usulan ini. Ia berkata, “Aku melihat kemarahan di wajahnya”, Umar berkata, “Siapa mereka?” Hafshah menjawab, “Engkau tidak akan mengetahui siapa mereka sampai aku tahu pendapatmu.” Maka Umar berkata, “Kalau aku tahu siapa mereka, niscaya akan aku burukkan wajah-wajah mereka.” Kemudian ia mengingatkan putrinya Hafshah tentang kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dab bahwasanya ia akan tetap mengikuti jejak mereka berdua.

Pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menaklukkan Khaibar, beliau mempersilahkan mereka untuk tetap menempati dan mengolah tanah pertanian mereka dengan syarat bahwa mereka hanya akan mendapatkan setengah dari hasil buahnya. Beliau juga berkata kepada mereka, “Kami akan membiarkan kalian tinggi di sana dengan syarat-syarat tadi sesuai dengan kehendak kami.” Namun seperti biasa, orang-orang yahudi melanggar perjanjian dengan menyerang salah seorang shahabat Anshar dan membunuhnya. Mereka juga berencana membunuh yang lainnya, lalu mereka menyerang Abdullah bin Umar,  maka Umar menghadapi mereka. Ia memusnahkan mereka hingga ke akar-akarnya dan tidak lagi membiarkan mereka membanggakan diri dalam kesesatan mereka. Lalu ia bertekad untuk mengusir mereka semua dari jazirah arab.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari dan yang lainnya bahwasanya Umar berkhutbah di hadapan kaum muslimin dan berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperlakukan orang-orang yahudi Khaibar dengan syarat kita bisa mengusir mereka kapan saja. Saat ini mereka telah menyerang Abdullah bin Umar hingga kedua tangannya terkilir sebagaimana yang telah kalian ketahui, ditambah lagi dengan serang mereka yang sebelumnya atas seorang Anshar. Kita tidak ragu bahwa itu adalah perbuatan orang-orang yahudi tersebut, karena tidak mempunyai musuh di sana selain mereka. Maka barang siapa yang mempunyai harta di Khaibar hendaklah ia mengambilnya, sesungguhnya aku pasti akan mengusir orang-orang yahudi itu.”

Para shahabat mendukung Umar untuk mengusir orang-orang yahudi dari Khaibar. Di dalam kita Maghazi Al-Waqidi disebutkan, “Thalhah bin Ubaidillah dan berkata, “Demi Allah engkau telah benar dan diberkahi wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Aku akan mengizinkan kalian disini selama Allah mengizinkan kalian.” Dan mereka telah melakukan apa yang mereka lakukan terhadap Abdullah bin Shal pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga hasutan mereka terhadap Muzhahhir bin Rafi (mereka adalah dua shahabat dari Anshar) hingga ia dibunuh oleh budak-budaknya, juga apa yang telah mereka lakukan terhadap Abdullah bin Umar. Sungguh mereka adalah pantas mendapat tuduhan dan prangsa kita! Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Siapa lagi yang mempunyai pendapat sepertimu?’ ia berkata, “Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar.” Mendengar itu Umar merasa senang.”

Dan Umar pun mengusir mereka ke Taima’ dan Ariha’

Ketika kaum muslimin berhasil menguasai Mada’in Ibukota kerajaan Persia, orang-orang Persia tersentak dan semangat mereka bangkit menggelora. Maka Yazdajir mendorong mereka untuk menghadapi kaum muslimin. Ia menulis surat ke kota Nahawand dan daerah-daerah pegunungan serta negeri-negeri yang ada disekitarnya. Mereka pun datang dari segala penjur untuk bergabung dengannya, dan berkumpul di Nahawand dengan kekuatan seratus lima puluh ribu prajurit.

Lalu datanglah surat dari Abdullah bin Abdullah bin Itban, gubernur Kufah kepada Umar mengabarkannya bahwa pasukan Persia telah berkumpul dan bertekad untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Untuk itu lebih baik menyerang mereka lebih dahulu untuk menggagalkan rencana mereka yang akan melakukan serang ke negeri kaum muslimin.

Umar segera menyuruh seseorang untuk menyerukan kaum muslimin untuk berkumpul di masjid. Ia kemudian berkhutbah dari atas mimbar dan mengemukakan persoalan ini dan bermusyawarah dengan mereka. Lalu Umar berkata, “Ini lah hari yang jadi penentuan bagi hari-hari yang selanjutnya. Sungguh aku telah berkehendak untuk melakukan sesuatu dan akan ku sampaikan kepada kalian semua, maka dengarkanlah. Setelah itu sampaikanlah pendapat kalian dengan singkat, dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebab kalian menjadi getar dan hilang kekuatan kalian, dan jangan terlalu berpanjang lebar.”

Lalu ia bekata, “Aku akan keluar bersama orang-orang yang bersamaku hingga aku sampai di bagian tengah dari dua kota ini (yaitu kufah dan Bahrain), kemudian aku menyuruh mereka untuk  dan aku akan menjadi penolong bagi mereka hingga Allah memberikan kemenangan bagi mereka.”

Maka Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin Auf, berdiri diantara para penasehat dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  kemudian mereka berkata, “Kami tidak berpendapat demikian, tapi jangan sampai mereka kehilangan ide dan arahanmu”. Dan mereka bekata, “Hadapkanlah mereka dengan kabilah-kabilah arab, kesatria-kesatria mereka, dan tokoh-tokoh mereka, juga pertemukanlah mereka dengan orang-orang yang telah mereka pecahkan kesatuannya, orang-orang telah mereka bunuh rajanya, dan telah banyak mengahadapi banyak pertempuran yang lebih bebat dari ini. Sesungguhnya mereka hanya meminta keputusan dari mu untuk mengizinkan mereka, bukan memanggilmu untuk mengizinkan mereka, bukan memanggilmu untuk membantu mereka, maka izinkanlah mereka, dan tunjukkanlah seorang pemimpin atas mereka, dan kemudian berdoalah untuk mereka.”

Akhirnya mereka sepakat bahwa Amirul Mukminin tidak perlu meninggalkan Madinah. Ia cukup mengirimkan bantuan, dan memikul musuh mereka dengan salah seorang diantara komandannya yang terbaik, yang telah digembleng oleh perang, dan di timpa oleh dahsyatnya pertempuran, untuk memimpin pasukan mujahidin menghadapi Persia di  Nahawand.

Saat itu Thalhah memperlihatkan sebuah sikap yang sesuai dengan tabiatnya penuh semangat, dan keberaniannya yang telah di kenal, serta ketegarannya dalam membelah risalah dakwah. Ia berbicara di hadapan Umar dengan kata-kata yang menyenangkan hatinya dan membuat wajahnya berseri-seri. Ia menegaskan bahwa mereka adalah ibarat pedang yang tidak akan meleset di tangannya, bagaikan tombak yang tak akan melunak, dan anak panah yang tak akan melenceng. Ia mengungapkan semua itu dengan ucapan yang fasih dan penuh wibawa, sesuai situasi majelis saat itu. Hal ini di riwayatkan oleh Ath-Thabari, ia berkata,

“Ketika Umar mengemukakan persoalan ini dan bermusyawarah dengan mereka dan berkata, “Setelah itu sampaikanlah pendapat kalian dengan singkat, dan jangan terlalu perpanjang lebar”. Thalhah bin Ubaidillah yang merupakan salah seorang orator dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  – bangkit, dan setelah mengucapkan syahadat, ia berkata, “Amma ba’du wahai amirul mukminin, engkau telah mengurus segala perkara, engkau telah banyak di tempa oleh banyak cobaan dan digembleng oleh banyak pengalaman. Terserah kepada keputusan dan pendapatmu. Kami tidak melenceng di tanganmu, dan kami tidak akan menyusahkanmu. Semua ada di tanganmu. Berikanlah perintah dan kami menaatimu, serulah dan kami akan menyambut seruanmu. Bawalah kami maka kami  akan berangkat, utuslah kami dan kami akn pergi sebagai utusanmu, dan pimpinlah kami maka kami akan menurutimu. Sesungguhnya engkau adalah pemimpin perkara ini, dan engkau telah membuktikan itu dengan berbagai cobaan dan pengalaman. Tidak ada satupun hasil dari ketetapan Allah melainkan engkau dapatkan dengan pilihanmu.” Lalu ia duduk.”

Lalu Umar mengirimkan surat kepada Hudzaifah bin Al-Yaman memerintahkan untuk berangkat dari Kufah dengan pasukan yang ada di sana. Juga kepada Abu Musa Al-Asy’ari  agar memimpin pasukan dari Basrah. Dan kepada Anu’man – yang saat itu juga berada di Basrah agar berjalan dengan pasukan yang ada bersamanya menuju Nahawand. Dan memerintahkan apabila mereka semua telah berkumpul, maka setiap komandan bertanggung jawab memimpin pasukannya masing-masing. Sementara komandan pasukan secara umum berada di tanggan Anu’man bin Muqarrin. Dan jika ia terbunuh maka pengganti nya adalah Hudzaifah bin Al-yaman, dan jika ia gugur, digantikan oleh Qais bin Maksyuh hingga ia menyebutkan sampai tujuh nama.

Perang Nahwand terjadi pada tahun 21 H, yang merupakan pertempuran yang sangat dahsyat, hingga di sebut kaum muslimin sebagai puncak dari segala penaklukan. Dalam perang tersebut An-Nu’man Radhiyallahu Anhu gugur sebagai syahid.

Umar menghendaki para sahabat untuk menjaga diri mereka dari hal-hal yang berbau syubhat. Khususnya para tokoh yang menjadi pusat perhatian kaum muslimin, yang di anggap sebagai imam dan tokoh panutan. Ia mengajak mereka untuk tetap berada jalur yang telah ditempuhnya. Umar pun mendapati para sahabat tersebut sesuai dengan apa yang di inginkannya, dan Allah sekali-kali tidak akan mengecewakannya berkenaan dengan mereka.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Aslam pembantu Umar, “Bahwasanya Umar melihat Thalhah memakai dua helai baju yang di celup dengan sejenis tanah merah saat ia dalam keadaan ihram. Maka ia berkata, “Kenapa dengan dua baju ini wahai Thalhah?” ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin kami hanya mencelupnya dengan tanah merah.” Maka umar berkata,  “Kalian wahai sahabat adalah para imam yang dijadikan panutan oleh manusia. Jika saja ada orang bodoh yang melihatmu memakai dua pakaian ini maka ia akan berkata, “Thalhah telah memakai dua helai pakaian yang dicelup saat ia berada dalam keadaan berihram.”

Ia menambahkan dalam riwayat lainnya, “Dan sesungguhnya pakaian terbaik yang dipakai oleh seorang muhrim adalah yang berwarna putih, maka janganlah membingunkan orang-orang.”

Thalhah mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Umar. Ini terlihat jelas dalam banyak kontribusinya selama masa pemerintahannya yang terbentang selama lebih dari sepuluh tahun. Ia tetap berada di sampingnya hingga detik-detik terakhirnya. Di tambah dengan catatan sejarahnya yang cemerlang pada masa Nabi dan Abu Bakar, yang menjadikannya layak untuk ditunjuk oleh Umar sebagai salah seorang dari enam tokoh yang dicalonkan untuk posisi khalifah.

Di dalam hadits tentang syahidnya Umar dan pembai’atan Utsman sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya, “Para shahabat berkata kepadanya, “Sampaikanlah wasiatmu wahai Amirul Mukminin, tunjuklah seseorang menggantikanmu sebagai khalifah.” Umar menjawab, “Aku tidak menemukan seorang pun yang lebih berhak dalam perkara ini selain mereka yang ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  wafat, beliau ridha kepada mereka. Ia lalu menyebutkan nama Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman, dan ia berkata, Abdullah bin Umar akan menjadi saksi atas kalian, dan ia tidak berhak sedikitpun atas perkara ini.”

Setelah selesai dari pemakaman Umar, tokoh yang berenam tersebut berkumpul, lalu Abdurrahman berkata, “Serahkanlah urusan ini kepada tiga orang dari kalian. Maka Zubair berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Ali.” Lalu Thalhah berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Utsman.” Dan Sa’ad berkata, “Aku telah menyerahkan urusanku kepada Abdurrahman bin Auf.”

Dalam Riwayat lain dari Ath-Thabrani, dari Ibnu Umar, “Umar berkata “Panggilkanlah saudara-saudaraku.” Mereka berkata, “Siapa?”, ia berkata, “Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abu Waqqash.” Mereka pun dipanggil. Lalu Umar meletakkan kepalanya di pangkuanku, dan ketika mereka datang aku berkata, “Mereka telah hadir.” Ia berkata, “Ya, aku telah memikirkan urusan kaum muslimin, maka aku mendapati kalian berenam sebagai tokoh terkemuka dan pemimpin mereka. Dan perkara ini tidak akan keluar dari kalian berenam. Selama kalian berlaku lurus maka urusan manusia pun akan lurus, dan jika terjadi perselisihan di antara kalian. Bermusyawaralah dengan tiga orang. Dan sementara itu Shuhaib yang memimpin shalat dengan kaum muslimin. Mereka berkata, “Dengan siapa kami harus bermusyawarah wahai Amirul Mukminin?” Ia Menjawab, “Bermusyawarahlah dengan Muhajirin, Anshar, dan pemuka-pemuka masyarakat.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.