Categories
Thalhah Bin Ubaidillah

Biografi Sahabat Nabi, Thalhah Bin Ubaidillah : Kehidupannya Dalam Naungan Kenabian, Serta Jihadnya bersama Rasulullah (Seri 2)

B. Kehidupannya Dalam Naungan Kenabian, Serta Jihadnya bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

1. Kesabarannya Dalam Menghadapi Cobaan dan Siksaan

Thalhah menyambut seruan fitrah yang suci, dan menerima ajakan Ash-Shiddiq, maka ia segera menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan menyatakan keislamannya. Ia bergabung dengan kelompok pertama yang membangun pondasi awal dari keberlangsungan dakwah. Merekalah kelompok pertama yang ikut dalam kapal kebenaran dan petunjuk, memperkuat kedudukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan keberadaan mereka maka Allah mengokohkan keberadaan beliau. Dan kemudian mereka diikuti oleh satu demi satu yang menyatakan keislamannya baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Kaum Quraisy mulai mendengar tentang keislaman pemuda-pemuda terbaik mereka, dan mereka yang berasal dari keluarga dan keturunan terbaik pula. Jumlah mereka terus meningkat, dan bergabung di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menyatakan keimanan mereka kepada dakwahnya, membenarkan risalahnya, dan mengikuti petunjuknya. Orang-orang Quraisy pun mulai bisa melihat bahaya yang mengancam kehidupan jahiliyah mereka, juga mengancam keberlangsungan akidah leluhur mereka. Bumi seolah berguncang di bawah mereka, dan api kebencian pun mulai membakar hati mereka. Mereka mulai menyalakan api siksaan, dan menimpakan berbagai cobaan, serta menyeret putra-putra terbaik mereka yang melepaskan kepercayaan lama mereka dan mengikuti sang Nabi baru, yang mengajak mereka kepada agama tauhid.

Thalhah juga menerima berbagai siksaan dan penderitaan. Bahkan ia disiksa oleh mereka yang merupakan keluarga terdekatnya. Pertama adalah saudaranya yang menimpakan siksaan kepadanya, lalu kekerasan sifat jahiliyah ibunya juga harus di tanggungnya. Namun ia menerima itu semua dengan kesabaran, dan tanpa sedikitpun menyimpan dendam. Ia tetap berpegang teguh kepada agamanya dan bertekad untuk membelanya dan membawa panji-panjinya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Ausath, dan juga Ibnu Asakir dari Mas’ud bin Hirasy berkata, “Ketika aku tengah berjalan diantara Shafa dan Marwa, aku lihat banyak orang yang mengikuti beberapa orang lainnya, aku melihat lebih dekat, dan ternyata itu adalah seorang pemuda yang tangannya terikat ke lehernya. Aku berkata, “Ada apa dengan mereka?” mereka menjawab, “Ini adalah Thalhah bin Ubaidillah telah meninggalkan agamanya.” Lalu di belakangnya terdapat seorang wanita yang menyuruhnya untuk meninggalkan agama barunya dan juga mencaci agama barunya. Aku bertanya, “Siapa wanita ini?” mereka menjawab, “ini adalah ibunya Ash-Sha’bah binti Al-Khadhrami.”

Thalhah bin Yahya berkata, “Aku diberitahu oleh Isa bin Thalhah dan yang lainnya, bahwasanya Utsman bin Ubaidillah, saudara Thalhah, mengikat Thlahah dengan Abu Bakar untuk menghalanginya agar tidak shalat dan meninggalkan agamanya. Ia mengikat tangan Thalhah dan tangan Abu Bakar dalam satu ikatan, namun itu tidak menghalanginya untuk tetap shalat bersama Abu Bakar!”

Namun permusuhan yang diperlihatkan oleh ibu dan saudaranya terhadap Islam tidak berlangsung lama, keduanya mendapatkan rahmat Allah, dan memperoleh kebahagiaan ketika mereka menyatakan keislaman mereka, semoga Allah meridhai mereka.

Dari sini terlihat bahwasanya ayah dari Thalhah telah meninggal sebelum kedatangan Islam, karena para sejarawan tidak menyebutkan apapun tentang sikapnya. Jikalau ia masih hidup pada masa kenabian, dan belum masuk Islam, tentu ia yang pertama kali menyiksa putranya Thalhah dan memaksanya untuk meninggalkan agamanya.

Thalhah terus menerus menerima siksaan dari salah seorang toko Quraisy yang paling jahat. Ia disiksa oleh Naufal bin Khuwailid bin Asad yang merupakan salah satu pemuka Quraisy dan juga tokoh paling jahat. Ia dinamakan singa Quraisy. Ketika Abu Bakar, Thalhah, dan yang lainnya masuk Islam, Naufal menyeret Abu Bakar dan Thalhah dengan satu tali, sehingga kemudian mereka berdua dijuluki dengan Al-Qarinain (Sepasang shahabat yang mulia), dan saat itu Bani Taim sama sekali tidak membela mereka.

Khuwailid tetap berada dalam keangkuhan dan kesombongannya, menunjukkan permusuhannya kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menentang perjalanan dakwah, dan terus berada dalam kesesatannya. Hingga akhirnya ia ditundukkan oleh kekuatan Islam saat ia memimpin pasukan Quraisy pada perang Badar. Saat kedua pasukan telah bertemu, dan para pejuang saling bertempur, pedang Ali yang tidak kenal ampun menebas kepalanya dan membunuhnya. Ia pun mati dalam keadaan kafir dan sengsara.

Adapun Thalhah dan saudara-saudaranya yang seiman, berhasil melewati ujian, dan tidak terpengaruh oleh cobaan. Mereka bersabar dalam menerima siksaan, dan menerima cobaan yang telah ditetapkan untuk mereka. Mereka pun keluar dari api peperangan dalam keadaan yang lebih suci, keimanan yang lebih tinggi, keimanan yang lebih mantap, dan lebih teguh dalam berpegang kepada agama mereka. Mereka bertekad untuk tetap meneruskan dakwah hingga ajal menjemput.

2. Hijrah dari Persaudaraan

Sejak detik pertama keislamannya, Thalhah telah menggariskan jalannya, dan mencanangkan tujuan hidupnya. Lalu ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai tujuannya, serta mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menggapai cita-citanya. Ia berpegang teguh kepada agama yang telah dipilihnya, memikul beratnya beban dakwah, dan terus maju membela agamanya, dan melindungi sosok pertama yang mengangkat panji dakwah tersebut, yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Thalhah termasuk di antara segelintir mereka yang terpilih untuk selalu mendampingi beliau. Merekalah penolong dan pembela beliau, dan merupakan sekelompok shahabat yang paling dekat dengan beliau, paling siap membela dan melindungi beliau, serta paling besar rasa cintanya. Ini berlaku sejak hari pertama kemunculan fajar dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hingga detik-detik akhir dari usia beliau yang penuh berkah, dan sampai mereka semua juga kembali menghadap Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Mereka telah membenarkan apa yang dijanjikan Allah kepada mereka, dan mereka gugur dengan menepati janji tersebut, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.

Thalhah masuk Islam dan bernaung di bawah naungannya yang amat luas sejak hari pertama keislamannya saat ia masih sangat muda belia di mana perasaannya masih bergolak, dan api iman membara dalam hatinya. Keyakinannya begitu mantap, ambisinya menggebu, kekuatan nya melimpah-limpah, dan ia adalah satu di antara pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terpilih dan penuh keikhlasan tanpa peduli akan bahaya apapun juga. Ia hidup bersama beliau pada periode Mekah sebagai seorang pengikut yang membela dan melindungi beliau. Pada saat hijrah ia bertemu dengan beliau, dan terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Dan setelah itu ia segera menyusul hijrah ke Madinah, dan ikut dalam peristiwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar.

Disebutkan oleh Al-Imam Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi nama-nama shahabat pembela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia menyebutkan nama mereka satu persatu yaitu “Hamzah, Ja’far, Ali, Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Utsman bin Affan, Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam, Radhiyallahu Anhum.”

Para shahabat tersebut berhasil mendapatkan kedudukan yang begitu mulia karena mereka adalah generasi pertam yang masuk Islam, yang terbaik dan paling utama dari kalangan shahabat. Dan mereka selalu berada di barisan terdepan dalam berdakwah pada segala fase dan keadaan.

Disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dan yang lainnya dalam hadits tentang hijrahnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar ke Madinah, bahwasanya ketika mereka dalam perjalanan ke Madinah, mereka menerima kiriman hadiah dari Syam yang dikirim oleh Thalhah bin Ubaidillah untuk Abu Bakar. Hadiah tersebut berisi pakaian putih dari Syam, mereka berdua memakainya dan memasuki Madinah dengan pakaian putih tersebut.

Dan dalam riwayat lain, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beranjak dari Al-Kharrar (Sebuah tempat di hijaz dekat dari Al-Juhfah, di katakana juga sebuah tempat di Khaibar) pada saat hijra ke Madinah, beliau bertemu dengan Thalhah bin Ubaidillah yang baru datang daro Syam bersama sebuah kafilah. Thalhah menghadiahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar dengan pakaian dari Syam, dan memberitahu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahswasanya kaum muslimin yang berada di Madinah telah menunggu kedatangan beliau. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempercepat jalannya, sementara Thalhah meneruskan perjalanannya ke Mekah hingga menyelesaikan seluruh urusannya. Setelah itu ia pun hijrah bersama keluarga Abu Bakar. Dialah yang membawa mereka ke Madinah.

Ketika Thalhah hijrah ke Madinah, ia tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meletakkan dasar-dasar bangunan masyarakat muslim yang baru. Masjid merupakan dasar pertama yang beliau bangun, dan yang kedua adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka masing-masing berdua, dan Thalhah bin Ubaidillah bersaudara dengan Ka’ab bin Malik.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.