Categories
Abdurrahman bin Auf

Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (Seri 7)

B. Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

9. Pada Perang Tabuk

Pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijrah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat kabar bahwasanya Romawi mengumpulkan kekuatan untuk memerangi beliau. Maka beliau segera bermaksud untuk mendahului mereka dan memberi pelajaran kepada mereka. Beliau mengumpulkan orang-orang dan menjelaskan maksud beliau kepada mereka. Karena jauhnya perjalanan dan sulitnya keadaan pada saat itu, maka beliau meminta mereka untuk bersiap-siap dan menyiapkan bekal masing-masing, hingga terkumpul sebuah pasukan yang besar berjumlah tiga puluh ribu tentara.

Perang ini dinamakan dengan Ghazwah Al-‘Usrah (Perang pada masa sulit) karena perang tersebut merupakan sebuah latihan menghadapi bentuk kesulitan terbesar yang menimpa kaum muslimin di mana mereka dikepung oleh berbagai kesulitan hidup. Perjalanan saat itu mereka tempuh di bawah panas yang membara, musim panas yang membakar, jarak yang sangat jauh untuk menghadapi musuh yang amat banyak, tanpa adanya media yang paling sederhana sekalipun untuk membawa pasukan kaum muslimin. Tidak ada binatang tunggangan, tidak ada air, tidak ada bekal makanan, dan bahkan persiapan senjata.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menyiapkan pasukan dan membekali para mujahidin. Kaum mukminin pun datang dengan sedekah yang sangat banyak. Orang-orang dengan keimanan yang jujur dan memiliki sifat kedermawaan yang tinggi saling berlomba di jalan Allah. Mereka memiliki sikap yang terpuji dengan bersegera mewujudkan keinginan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berinfak dalam jumlah yang banyak. Abu Bakar terdepan dalam kelompok para dermawan tersebut, ia menginfakkan seluruh hartanya. Lalu tokoh-tokoh lain uamg menjadi teladan dalam keikhlasan iman juga bangkit memberikan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, seperti Umar, Utsman, Abdurrahman, Thalhah bin Ubaidillah, dan yang lainnya. Mereka tidak bersikap kikir pada masa sulit tersebut terhadap apa yang mereka mampu. Mereka memberi kebahagiaan di dalam hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas banyaknya kebaikan yang mereka persembahkan.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam enam bulan selama kepulangan beliau dari Thaif. Kemudian Allah Azza wa Jalla memerintahkan beliau untuk berangkat pada perang tabuk, dan itu adalah perang yang disebut Allah terjadi pada masa sulit. Saat itu panas sangat menyengat, bulir-bulir kemunafikan telah banyak, dan penghuni Shuffah juga telah bertambah banyak. Shuffah adalah rumah bagi orang-orang miskin, mereka berkumpul disana , dan menerima sedekah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin lainnya. Jika terjadi perang maka kaum muslimin akan mendatangi mereka dan tiap orang akan membawa satu orang dari mereka atau berapapun yang dikehendaki Allah. Mereka akan mempersiapkan ahlu Shuffah tersebut, dan berangkat berperang bersama mereka, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk menafkahkan harta mereka di jalan Allah dan mengharapkan pahala. Mereka pun berinfak dengan mengharapkan pahala, dan sebagian yang lain berinfak tanpa memikirkan pahala. Sebagian kaum miskin tersebut dapat dibawa, namun masih ada yang tertinggal. Orang yang paling banyak bersedekah pada saat itu adalah Abdurrahman bin Auf. Ia mensedekahkan sebanyak dua ratus Uqiyah, Umar bersedekah sebanyak seratus Uqiyah, sementara Ashim bin Adi Al-Anshari mensedekahkan Sembilan puluh Wasaq118 kurma. Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah sungguh aku melihat Abdurrahman telah berdosa, ia tidak meninggalkan sesuatu untuk keluargamu?” ia menjawab, “Ya, lebih banyak yang aku infakkan dan lebih baik.” Beliau berkata, “Berapa?”, ia menjawab, “Sebanyak apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya dari rezeki dan kebaikan.”

 Satu Uqiyah sebanding dengan 40 Dirham, dan satu Dirham sama dengan sekitar 3 Gram. Jadi jumlah yang diberikan oleh Abdurrahman adalah sebanyak 24 Kilogram emas! Ini adalah jumlah yang sangat banyak dan tidak akan diberikan kecuali oleh seorang mukmin yang telah mengikhlaskan hatinya kepada Allah. Seorang mukmin yang meletakkan kemashlahatan kaum muslimin dan berbagai kewajiban agama di atas seluruh hitungan lainnya. Ia yakin dengan besarnya pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, serta keberkahan yang akan didapatnya pada harta dan anak-anaknya. Dan Ibnu Auf Radhiyallahhu Anhu benar-benar mendapatkan itu semua.

10. Di utus dalam sebuah ekspedisi militer ke Dumatul Jandal

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim yang menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dari Atha’ bin Abu Rabah berkata, “Aku sedang bersama Abdullah bin Umar, lalu ia didatangi oleh seorang pemuda yang bertanya tentang cara memakai selendang (sorban). Maka Ibnu Umar berkata, “Aku akan memberitahumu tentang itu dengan berdasarkan ilmu insya Allah Ta’ala.” Ia berkata, “Aku adalah orang kesepuluh dari sepuluh orang yang berada di masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Muadz bin Jabal, Ibnu Auf, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhum. Lalu datanglah seorang pemuda Anshar dan memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kemudian ia duduk. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” Ia berkata, “Lalu orang mukmin manakah yang paling baik?” beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling mempersiapkan diri sebelum kematian menjemputnya. Merekalah orang-orang yang cerdik.” Kemudian pemuda tersebut diam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya dan berkata, “Wahai kaum Muhajirin, lima perkara yang jika kalian diuji dengannya, dan jika kalian ditimpa oleh nya, aku berlindung kepada Allah semoa kalian tidak mengalaminya: Tidak ada kekejian yang muncul di suatu kaum dan mereka melakukannya, kecuali akan timbul penyakit Tha’un dan wabah penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka menolak untuk membayar zakat, melainkan akan di tahan dari mereka tetesan air dari langit, jikalau bukan karena hewan-hewan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan. Dan tidaklah mereka melanggar janji mereka di bawah kekuasaan musuh mereka yang bukan dari kalangan mereka, lalu mereka akan mengambil sebagian dari apa yang mereka miliki. Dan selama pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitabullah, niscaya Allah akan melemparkan cobaab atas mereka di antara mereka.”

Kemudian beliau menyuruh Abdurrahman bin Auf bersiap-siap untuk sebuah ekspedisi militer yang akan dikirim oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pagi harinya Abdurrahman telah siap dengan memakai sorban yang terbuat dari bahan hitam. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendekatkannya kepada beliau, melepas sorbannya, dan memakaikannya sebuah sorban putih. Lalu beliau melepas ujung sorban tersebut di bagian belakangnya sepanjang empat jari atau sekitar itu. Dan beliau berkata, “Beginilah hendaknya engkau memakai sorban wahai Ibnu Auf, ini lebih umum dan lebih baik.” Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk memberikan bendera kepada beliau. Beliau memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan kemudian berkata, “Ambillah ini wahai Ibnu Auf, berperanglah semua di jalan Allah, dan perangilah mereka yang kufur kepada Allah. Janganlah berlebih-lebihan, jangan berkhianat, jangan memotong-motong tubuh, dan jangan membunuh anak-anak. Ini adalah janji Allah dan sunnah Nabinya Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan lebih panjang dari riwayat di atas, dan juga Al-Waqidi dan Ibnu Asakir, dan tambahan yang ada pada mereka, Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Ibnu Auf untuk berangkat dari malam hingga sampai di Dumatul Jandal, pasukannya berkemah di Al-Jurf, dan mereka berjumlah sebanyak tujuh ratus prajurit. Abdurrahman berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin akhir dari kenanganku denganmu adalah pakaian perjalananku. Maka beliau menundukkannya di depannya, dan melepas sorbannya dengan tangannya, dan kemudian memakaikannya sorban dari bahan hitam. Beliau melepaskan ujungnya sepanjang empat jari atau sekitar itu, dan kemudian beliau berkata, “Beginilah engkau hendaknya memakai sorban wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini lebih baik dan lebih dikenal.” Lalu beliau memintaku untuk menyerahkan bendera kepadanya, dan ia pun menyerahkannya.

Abdurrahman mengambil bendera dan keluar menemui pasukannya. Ia terus berjalan hingga sampai di Dumatul Jandal. Ketika tiba di sana ia mengajak mereka kepada Islam. Pada awalnya mereka menolak Islam dan bersikeras untuk melawan dengan pedang. Namun pada hari ketiga masuk Islam lah Al-Ashbagh bin Amru Al-Kalbi, ia seorang Nasrani dan pemimpin mereka dan turut masuk Islam bersamanya banyak orang dari kaumnya. Dan yang tersisa tetap memilih membayar Jizyah (upeti).

Lalu Abdurrahman menulis surat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengabarkan beliau tentang hal itu, dan juga bahwa ia akan menikah dengan wanita dari sana. Ia mengirimkan surat surat tersebut melalui Rafi’ bin Makits Al-Juhani. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membalas suratnya dan memintanya untuk menikahi Tumadhir putri dari Al-Ashbagh. Abdurrahman pun menikahinya, dan kembali bersamanya. Dan ia adalah ibu dari Abu Salamah bin Abdurrahman.

Begitulah Ibnu Auf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mendampingi dan mengikuti beliau. Juga dalam mengambil contoh dari beliau, melaksanakan perintah-perintahnya, mewujudkan keinginannya, mengemban risalahnya, menyampaikan dakwahnya, dan membela serta melindungi beliau. Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita bersama Abdurrahman untuk melihat perjalanan hidupnya, kelebihannya, akhlaknya, pribadinya, pergaulannya, dan khususnya tentang dirinya secara pribadi.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.