Categories
Abu Ubaidah

Biografi Sahabat Nabi, Abu Ubaidah : Mujahid Terpercaya, Penakluk Wilayah Syam (Seri 13)

F. Mujahid Terpercaya, Penakluk Wilayah Syam

5. Beberapa catatan tentang perang Yarmuk dengan dua panglima besar, Abu Ubaidah dan Abu Sulaiman

a. Abu Bakar dan penunjukannya Abu Ubaidah sebagai Panglima tertinggi pasukan Syam

Abu Bakar adalah orang yang memahami sifat dan karakter orang lain. Ia dapat melihat kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang, dan mengarahkannya sehingga bias bermanfaat dalam hidupnya. Ia menunjuk beberapa komandan untuk memegang bendera perang guna menaklukan Syam, dan untuk misi yang maha penting tersebut ia mengangkat seorang yang terkenal dengan keberanian dan kecerdasannya serta orang yang paling memahami seluk-beluk perang. Lalu ia mendatangi mereka semuanya san memberikan nasehat serta arahannya.Ia mendatangi Syurahbin dan memintanya untuk selalu bermusyawarah dengan Abu Ubaidah, Mu’adz, dan Khalid bin Sa’id. Ia berkata, “Sesungguhnya engkau akan mendapatkan nasihat dan kebaikan dari mereka, maka jangan sekali-kali engakau menentang pendapat mereka atau mengabaikan sebagian kebaikan dari mereka.”

Ia juga berwasiat kepada Yazid bin Abi Sufyan untuk memperhatikan dan mengambil pencerahan dari Abu Ubaidah dan Mu’adz, ia berkata, “Janganlah engkau memutuskan perkara tanpa mereka, sesungguhnya mereka tidak akan menghalangi dari kebaikan.”

Dengan itu As-Shiddiq ingin memperlihatkan kedudukan dan keutamaan yang dimiliki oleh segolongan shahabat yang mempunyai keutamaan dan kedahuluan dalam berislam. Ia menginginkan para komandan tersebut saling membantu dan saling menyokong demi menggapai kebaikan dan keberhasilan pasukan yang mereka pimpin serta untuk mencegah terjadinya pemaksaan pendapat pribadi. Ia juga menginginkan tegaknya sebuah menara yang berfungsi sebagai pedoman dan teladan yang baik bagi umat dalam mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para pendahulu mereka dengan senantiasa mengedepankan Syura yang bijaksana baik dalam masa damai maupun perang, dan dalam masa susah maupun senang. Karena pemaksaan pendapat dapat menjerumuskan umat kepada kebinasaan dan berarti juga membunuh bakat-bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh umat.

Saat itu Amr bin Ash berharap dapat menjadi komandan tertinggi dalam pasukan yang dikirim ke Syam tersebut. Berbekal dengan apa yang terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  ketika beliau menunjuknya untuk memimpin pasukan yang terdiri dari tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar dalam perang Dzatus Salasil. Karena itu ia menganggap dirinya layak mendapat kehormatan tertinggi memimpin pasukan yang disiapkan untuk menuju Syam itu. Selain kehormatan yang ia dapat pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   tadi, ia juga menambahkan dengan pujian Abu Bakar kepadanya! Maka Abu Bakar kemudian mengajak berbicara dari hati ke hati. Ia akan memberikannya pasukan yang besar, namun tidak mengizinkannya untuk menjadi komandan tertinggi sebagaimana yang diharapkannya. Abu Bakar tidak ingin memilihnya untuk memimpin seorang laki-laki yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri mengatakan tentangnya, “Orang yang paling terpercaya dari umat ini adalah Abu Ubaidah.

Amr berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, apakah aku akan memimpin pasukan?” Ia menjawab, “Iya, engkau akan memimpin merekayang aku kirim dari sini bersamamu.” Ia berkata, “Bukan, maksudku memimpinpasukan kaum muslimin yang akan aku datangi di sana!” Ia menjawab, “Tidak, namun engkau adalah salah satu komandan pasukan, jika perang menyatukan kalian, maka Abu Ubaidah lah pemimpin kalian.” Ia pun diam, dan kembali ke perkemahan. Orang-orang terus bergabung dengannya, dan saat itu bersamanya terdapat banyak tokoh dan pemuka Quraisy.”

Dalam sikap yang tegas ini dari Abu Bakar, seorang pahlawan besar dalam Islam, dan yang menjaga tekad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  untuk mengirim tentara Usamah, dan orang pertama yang menyatakan perang melawan pasukan orang-orang murtad dan kemudian berhasil menghancurkannya. Ia juga merupakan seorang laki-laki penuh berkah yang mampu mengirim pasukan Islam masuk ke negeri-negeri yang dikuasai oleh dua kekuatan besar, Romawi dan Persia. Dengan itu ia telah menorehkan baris pertama dari catatan penaklukan mereka. Dialah seorang laki-laki yang dipuji oleh khalifah setelahnya Umar ketika ia mengatakan, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh dia adalah orang yang lebih mengetahui sifat dan karakter orang-orang daripadaku.”

Kami katakan, Sesungguhnya dengan tidak memilih tokoh-tokoh besar yang terhormat tersebut untuk menjadi panglima tertinggi dan memimpin para komandan lainnya dalam pasukan Syam, dan menyerahkan kepada Abu Ubaidah, merupakan sebuah tanda nyata yang menunjukkan pengetahuan Abu Bakar yang menyeluruh dan mendalam tentang apa yang dianuhgerahkan Allah kepada Abu Ubaidah dari bulir-bulir kecerdasan dan kemampuan kepemimpinan yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih.

b. Tentang tahun terjadinya perang Yarmuk

Riwayat yang kami sebutkan dimuka bahwasannya perang Yarmuk terjadi pada akhir dari masa pemerintahan Abu Bakar, dan ketika perang usai dan kemenangan diraih saat itu Ash-Shiddiq telah wafat dan jabatan kekhalifahan telah dipegang oleh Umar, riwayat ini merupakan riwayat dari Saif bin Umar, dan merupakan salah satu jalan sebagian sejarawan, yang terdepan dari mereka adalah Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari dan diikuti oleh Ibnu Atsir.

Namun terdapat pendapat lain yang merupakan riwayat yang diambil oleh sebagian sejarawan lainnya, diantaranya adalah Abu Ishaq dan Khalifah bin Khayyath, yang dikuatkan oleh Ibnu Asakir bahwasannya perang Yarmuk terjadi pada bulan Rajab tahun 15 Hijriyah, setelah perang Ajnadin, dan Marjush Shuffar, serta pengepungan Damaskus.

Kami sendiri cenderung kepada riwayat yang dipilih oleh penghulu para sejarawan Ath-Thabari, karena demikianlah yang disimpulkan melalui pengamatan yang benar terhadap jalannya peristiwa dan kejadian sejarah.

Ketika Abu Bakar menyerahkan benderah perang kepada para komandan yang ditunjuknya, dan mereka bergerak membawa pasukan menuju Syam, dan orang-orang Romawi mendengar berita tentang kedatangan mereka, Heraklius merasa yakin bahwa mereka mengancam tahtanya dan juga keberlangsungan kerajaannya. Ia mengumpulkan para pembantunya serta anasir ke kerajaan lainnya, lalu bermusyawarah dengan mereka. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menghadapi pasukan kaum muslimin dalam satu pasukan besar dan dalam satu peristiwa yang menentukan. Mustahil Romawi akan membiarkan pasukan muslimin leluasa bergerak di banyak wilayah yang mereka kuasai seperti Syiria, Jordania, dan Palestina, dan kemudian memerangi mereka dalam banyak pertempuran, yang tentunya akan melemahkan kerajaan mereka sedikit demi sedikit. Siasat militer yang benar tentunya mengharuskan mereka untuk menghadapi pasukan kaum muslimin sejak awal kedatangan mereka dalam sebuah perang besar yang menentukan di wilayah mereka yang pertama kali dijejak oleh kaum muslimin, untuk menghalangi mereka memasuki wilayah yang mereka kuasai. Karena itulah mereka mengumpulkan sebuah pasukan besar yang jumlahnya enam kali lebih besar dari pasukan kaum muslimin. Dan ini hanya bias mereka lakukan jika kerajaan mereka masih kuat, sehat, dan berada dalam satu komando. Namun jika Yarmuk terjadi setelah perang Fihil, Marjush Shuffar, dan penaklukan Damaskus, serta peperangan lainnya, di mana wilayah kekuasaan Romawi telah terpotong-potong, dan kaum muslimin telah berhasil menguasai banyak wilayah mereka, tentunya Heraklius takkan mampu menyatukan pasukan Romawi dan mengumpulkan jumlah yang demikian besar, dan memimpin sebuah perang di wilayah yang merupakan pintu gerbang dari kerajaannya bagi pasukan yang datang dari arah Madinah An-Nabawiyah.

Karena itulah setelah kemenangan kaum msulimin di yarmuk, dan keberhasilan mereka mengalahkan pasukan Romawi dengan telak, mereka menghancurkan singgasana Heraklius dan mengumumkan kerajaannya telah musnah berikut dengan dirinya. Kemudian peristiwa-peristiwa lain pun terjadi secara berurutan, dan setelah perang besar tersebut kaum muslimin juga mengalahkan Romawi di Fihil, Damaskus, Himsh, Aleppo, dan yang lainnya. Dan tak diragukan juga terjadi perang-perang besar lainnya dengan Romawi, namun dari segi apapun juga, perang-perang tersebut masih berada di bawah Yarmuk.

Ini membuktikan bahwa jika Yarmuk terjadi setelah peristiwa yang begitu banyak tersebut, maka tidak mungkin Romawi bias mengumpulkan begitu banyak pasukan dan bala bantuan, lalu menyeret kaum muslimin untuk menuju medan perang di Yarmuk.

Ini dikuatkan oleh wasiat Abu Bakar kepada Umar, ketika ia mengatakan kepadanya setelah memberikan estafet khalifah kepadanya, “Jika Allah memberikan kemenangan kepada para komandan dari pasukan yang ada di Syam, maka kembalikanlah pasukan Khalid ke Irak, sesungguhnya mereka adalah penduduknya dan yang berhak memimpinnya, dan mereka adalah pasukan yang gigih dan pemberani.” Disini Al-Imam Ath-Thabari menyebutkan bahwasanya Umar bin Khaththab berkata, “Abu Bakar telah mengetahui bahwa aku tidak menyetujui kepemimpinan Khalid dalam perang Irak ketika ia menyuruhku untuk memulangkan pasukannya dan ia sama sekali tidak menyebutnya.”

Dan Umar Radiyallahu Anhu juga berkata, “Demi Allah, jika Allah menyerahkan urusan ini kepadaku, niscaya aku akan mencopot Al-Mutsanna bin Haritsah dari Irak, dan Khalid bin Walid dari Syam, agar mereka tahu bahwa Allah lah yang memberikan kemenangan, dan bukan mereka!” dan ketika Umar menjabat sebagai Khalifah, ia segera mencopot Khalid dan berkata, “Aku tidak akan jujur kepada Allah jika aku mengusulkan sesuatu kepada Abu Bakar dan kemudian aku sendiri tidak melaksanakannya.” Ini sesuai dengan alur kisah yang telah kami tuturkan. Umar tidak mungkin menunda pelaksanaan idenya tersebut, atau menunggu berbulan-bulan atau lebih sebulan kemudian mencopot Khalid Radiyallahu Anhu, sebagaimana yang disebutkan oleh riwayat-riwayat lain yang menyatakan bahwa perang Yarmuk terjadi pada tahun 15 Hijriyah.

c. Keengganan Khalid untuk menjadi panglima tertinggi Yarmuk

Ini merupakan warna lain dari bentuk kecerdasan dan kejujuran, serta sebuah isyarat tentang keikhlasan yang teguh pada diri komandan lainnya yang terhormat. Khalid Radiyallahu Anhu memiliki latar belakang yang kuat dalam memimpin pasukan, serta kecerdasan yang luar biasa dalam membawa pasukannya menuju kemenangan dan menghindarkannya dari kekalahan. Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberikan kesaksiannya ketika menyambutnya sebagai “Pedang Allah”, dan beliau tidak pernah mengabaikannya dan memilih orang lain dalam menghadapi perkara yang menimpanya. Maka pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sejak ia menyatakan keislamannya, Khalid senantiasa berada pada garda terdepan dalam pasukan Islam. Ia tidak pernah lepas dari kepemimpinan dan selalu mengepalai pasukan hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpulang kepada Allah dan saat itu beliau ridha kepadanya.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalid merupakan tangan kanannya dalam perang menumpas orang-orang murtad. Ia berhasil menghancurkannya dan menghamparkan kekuasaan Islam di seluruh penjuru jazirah arab setelah sebelumnya berhasil meruntuhkan pasukan Musailamah, Thulaihah, Sajah, dan Ammir Ziml. Setelah itu ia mengarahkannya ke Persia dan ia pun segera menyerang pasukan mereka, dan berhasil menimpakkan kekalahan yang terburuk bagi mereka, dan demikian ia pun berhasil menamcapkan bendera Islam di Irak. Di setiap peperangan yang diikutinya, tak pernah sekalipun bendera perang jatuh darinya, dan tak sekalipun pasukan tercerai berai, atau menderita kekalahan. Ia adalah seorang panglima yang diberkahi, dengan jiwa yang tercerahkan, dimana tidak ada peperangan maupun penaklukan lain yang mampu menghasilkan sosok sepertinya.

Abu Bakar sendiri ketika mengetahui banyaknya pasukan Romawi yang terkumpul untuk menghadapi kaum muslimin, ia menyadari bahwa orang yang paling tepat untuk menghadapi itu adalah (Orang yang tak pernah tidur dan tidak pernah membiarkan siapapun tidur!), dan merupakan kewajiban seorang pemimpin muslim untuk memilih orang yang paling pantas, dan paling kuat, serta paling berpengalaman dalam memimpin perang. Ini merupakan sebuah kewajiban atasnya untuk Islam dan kaum muslimin. Berbagai peristiwa yang terjadi kemudian, serta jalannya pertempuran membuktikan kebenaran firasat seorang Ash-Shiddiq dan ketepatannya dalam menilai seseorang, serta pengalamannya dalam mengetahui orang-orang jenius, karena Allah mewujudkan semua harapan yang disandarkan Abu Bakar kepada pedang Allah Khalid.

Abu Bakar menulis surat kepada Abu Ubaidah untuk memberitahunya tentang pengangkatan Khalid sebagai panglima tertinggi dengan alasan bahwa ia lebih berpengalaman dalam perang. Dan itu sama sekali tidak untuk merendahkan kedudukan Abu Ubaidah di sisi Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkata dalam suratnya, “Amma ba’du, sesungguhnya aku telah mengangkat Khalid untuk menghadapi musuh di Syam, maka janganlah engkau menentangnya. Dengarlah ia dan jalankanlah perintahnya. Aku tidak mengirimnya untuk memimpinmu sehingga kedudukanmu di sisiku tidak lebih baik darinya, namun aku merasa bahwa ia memiliki pengalaman dalam perang yang tidak kau miliki. Semoga Allah menghendaki kebaikan bagi kita semua, dan bagi dirimu.”

d. Bersama dua panglima besar Abu Ubaidah dan Khalid dan ketinggian akhlak mereka saat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin bagi yang lainnya

Disini sudah sepantasnya bagi kita untuk berhenti sejenak dan menunjukkan kekaguman yang besar terhadap ketinggian budi yang ditunjukkan kedua panglima ini dan sikap yang ditunjukkan masing-masing dari mereka kepada yang lainnya. Ketika Khalid mengetahui bahwa ia diangkat sebagai panglima tertinggi memimpin para komandan yang ada dalam pasukan Syam, di mana terdapat Abu Ubaidah yang merupakan salah seorang tokoh besar shahabat yang lebih dahulu masuk Islam dan orang yang paling terpercaya dari umat ini, serta komandan yang ditunjuk oleh Rasulullah dalam banyak kesempatan, dan mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi khalifah dan bahkan di sisi kaum muslimin secara umum; ia merasa bahwa tidak sepantasnya bagi seseorang yang memiliki akhlak yang mulia untuk mengejutkannya dengan berita tersebut. Maka Khalid pun menulis surat dan memberitahunya dengan sebaik-baiknya. Khalid menyampaikan bahwa ia tetap berada pada kedudukannya yang tinggi dan terhormat, dan dari segi itu ia tetap merupakan pemimpin bagi kaum muslimin, dan ia takkan memutuskan apapun tanpa meminta pendapatnya.

Bahkan Khalid juga memilih cara yang lebih baik dari itu. Ia menggunakan metode yang memungkinkannya memegang pengawasan penuh terhadap perang dengan keridhaan kaum muslimin sehingga mereka bersedia maju bersamanya dengan tekad yang bergelora. Ia meminta mereka untuk ikhlas dan berjihad di bawah satu bendera dan agar para komandan bersikap lebih fleksibel sehingga mereka bias menghadapi pasukan Romawi dalam satu barisan. Ia tidak memaksakan dirinya menjadi pemimpin bagi seluruh pasukan, namun dengan cerdik dan penuh kebijaksanaan ia berkata kepada mereka, “Maka marilah kita saling mengangkat komandan tertinggi. Hendaklah sebagian dari kita memimpin hari ini, dan besuk diambil alih oleh yang lain, dan yang lainnya akan mengambil alih kepemimpinan pada hari berikutnya, hingga seluruh komandan akan mendapat giliran. Dan izinkanlah aku untuk mengambil alih kepemimpinan hari ini.”

Dan dengan ketinggian adab seperti ini juga lah Abu Ubaidah memperlakukan Khalid ketika roda zaman telah menyempurnakan putarannya dan datangnya surat Umar yang mencopot Khalid dari kedudukannya sehingga ia berada di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah .

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa surat pencopotan tersebut diterima Abu Ubaidah dan sengaja disembunyikan hingga berakhirnya perang melawan pasukan Romawi. Ia tidak ingin mengejutkan Khalid saat ia sedang berkonsentrasi memimpin perang. Dan ketika kemudian ia mengabarkannya, Khalid berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apa yang menghalangimu untuk memberitahuku saat surat itu tiba?” Abu Ubaidah Al-Amin menjawab, “Aku tidak ingin memecah konsentrasimu dalam perang. Bukanlah kekuasaan dunia yang aku inginkan, dan bukan untuk dunia aku bekerja. Apa yang kau lihat akan menuju kefanaan dan kebinasaan, kita berdua adalah bersaudara, dan tidak ada yang membahayakan seseorang jika ia memilih saudaranya untuk memimpinnya dalam agamanya dan dunianya.”

Dengan warna dari akhlak yang mulia serta adab yang tinggi dan keikhlasan yang sempurna inilah para shahabat dibina oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di lingkungan madrasah kenabian. Dan itulah yang menjadi salah satu pondasi utama dari kebangkitan kaum muslimin dan terangkatnya derajat mereka serta tegaknya negara mereka dan menyebarnya kekuasaan yang mereka miliki. Dan itu akan tetap bertahan selama mereka tetap menjaga diri dan tidak peduli dengan keuntungan pribadi maupun persaingan dalam menggapai kekuasaan dunia.

Sebagaimana pedang Allah Khalid menyadari kedudukan saudaranya Abu Ubaidah dan kehormatan serta keutamaannya dalam Islam, begitu pula Abu Ubaidah merupakan orang yang paling memahami hak yang dimiliki Khalid. Ia juga merupakan orang yang paling menghargai kecerdasannya, keutamaannya, dan juga keberaniannya; maka ia menyembunyikan surat pencopotan tersebut dari Khalid demi menjaga perasaannya hingga ia tidak terganggu oleh hal-hal yang dapat merisaukannya ataupun member efek yang tidak baik pada dirinya. Namun ketika Khalid mengetahui hal itu, ia pun menyalahkannya! Sikap yang diambil Abu Ubaidah dalam menghadapi Khalid ini, dimana ia tetap bermusyawarah dengannya dan mendahulukannya dalam berbagai peristiwa pada saat dimana seharusnya ia yang mengambil alih pimpinan tertinggi, merupakan bukti yang paling jelas tentang kebersihan jiwa Khalid yang menjadikannya mampu membuat berbagai mukjizat dalam kecerdasan dan keberaniannya. Disamping itu juga, menunjukkan kehebatannya dalam berfikir dan merancang siasat perang sebagai seorang panglima tertinggi. Dan kontribusinya dalam penaklukan Damaskus, Guensrin, Dan Fihil, merupakan bukti shahih akan kebesaran jiwanya yang ditunjukkannya ketika ia menerima berita pencopotan dirinya!

Perasaan cinta yang demikian tulus yang dibangun di atas pondasi saling menghormati, saling menghargai, dan saling percaya yang ditunjukkan oleh kedua panglima besar ini masih terus berlanjut selama masa jihad yang mereka lalui. Hubungan mereka tak pernah dikotori oleh perasaan egois yang sering muncul di antara dua orang yang saling bersaing dalam menggapai kepemimpinan dan kekuasaan. Bahkan hari-hari dan berbagai peristiwa yang mereka lalui bersama semakin membuktikan kebenaran dan keindahan hubungan mereka.

e. Bersama dua panglima besar dan keikhlasan mereka yang tinggi dalam berjihad ketika salah satu dari mereka menjadi pemimpin atau dipimpin

Ketinggian akhlak yang diperlihatkan oleh kedua tokoh ini ketika masing-masing menerima kepemimpinan saudaranya atas dirinya, dan juga ketika menerima penunjukan dirinya sebagai panglima tertinggi, tidak sedikitpun menyisakan ganjalan di hati atau sesuatu dalam diri mereka. Namun keputusan tersebut mereka terima dengan cara terbaik yang ditunjukkan dalam medan jihad dan kiprah mereka dalam barisan kaum muslimin dalam menghadapi musuh.

Inilah surat Khalid kepada Abu Ubaidah mengabarkannya bahwa Abu Bakar telah mengangkatnya untuk memimpin pasukan Syam. Abu Ubaidah membacanya, dan seketika dadanya menjadi lapang, lalu ia berkata, “Semoga Allah member keberkahan untuk khalifah Rasulullah atas keputusannya, dan semoga Allah memberkahi Khalid.

Kemarin ia adalah panglima tertinggi yang membawahi seluruh komandan yang ada. Dan saat ini ia turun menjadi salah satu komandan di bawah kepemimpinan Khalid. Namun itu sama sekali tidak mengubah apapun dalam dirinya, dan tidak merendahkan kedudukannya, juga sama sekali tidak melemahkan tekad yang dimilikinya. Ia tidak lantas mundur dan semangatnya mengendur, ia justru turun ke medan tempur sebagai seorang komandan yang memimpin satu pasukan di jantung pertahanan kaum muslimin. Dan ia juga berdiri di hadapan barisan pasukannya untuk menggelorakan semangat jihad mereka.

Sementara Khalid menerima berita pencopotan dirinya dari posisi sebagai panglima tertinggi dengan kerelaan yang luar biasa. Ia menyerahkan segala urusan kepada panglima baru dengan sebaik-baiknya. Ia turun sebagai komandan di bawah pimpinan panglima yang baru dengan memimpin sebuah pasukan untuk beberapa waktu, dan kembali menjadi prajurit sebagaimana prajurit-prajurit lainnya. Ia berjuang dibawah kepemimpinan Abu Ubaidah selama kurang lebih empat tahun, dan tidak pernah tercatat sekalipun ia menantangnya. Abu Ubaidah sendiri diketahui begitu menghormati Khalid. Ia selalu bermusyawarah dengannya dan sering mengambil pendapat dan pandangannya. Ia juga kerap mengutusnya sebagai salah satu ujung tombaknya dalam menghadapi misi-misi sulit dan pertempuran-pertempuran yang besar.

Sejarah tak pernah meragukan bahwa Khalid pada saat terjadinya pencopoton dirinya telah mencapai puncak kebesarannya dimana tidak ada lagi tempat diatasnya untuk seorang penakluk jenius sepertinya. Kedudukan yang dicapainya di hati komandan pasukan yang dipimpinnya, dan di hati seluruh pasukannya, serta kedudukannya di hati kaum muslimin secara umum, membuat amirul mukminin Umar mengumumkan di hadapan kaum muslimin bahwa ia takut mereka akan ditimpa fitnah karenanya! Seorang laki-laki seperti Khalid akan dengan mudah menggerakkan kepalanya untuk menyulut sebuah revolusi maupun pemberontakkan yang akan membakar seluruh penjuru yang telah di taklukkan Islam! Namun ia adalah seorang panglima yang hatinya telah dipenuhi keimanan dan menyatu ke dalam darah dan dagingnya. Jiwanya telah tercerahkan oleh sinar kenabian. Berbagai kemenangan yang telah dicapainya tidak menjadikannya angkuh dan membanggakan dirinya sendiri, atau membuatnya tergoda untuk memecah belah barisan umat, ataupun menjadi faktor penyebab terhentinya berbagai penaklukan yang terus menyebar di seluruh penjuru buni. Semua godaan tersebut terlalu kerdil jika dibandingkan dengan kebesaran jiwa Khalid dan cahaya keimanan yang dimilikinya. Ia tetap mengikhlaskan dirinya untuk Islam, apapun kedudukannya dalam pasukan, dan siapapun pemimpinnya di dalam medan tempur.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.