Categories
Abu Ubaidah

Biografi Sahabat Nabi, Abu Ubaidah : Mujahid Terpercaya, Penakluk Wilayah Syam (Seri 9)

F. Mujahid Terpercaya, Penakluk Wilayah Syam

1. Persiapan untuk penaklukan Syam pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   

Peperangan kaum muslimin menghadapi Romawi telah dimulai sejak masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliaulah yang membuka jalan dan mempersiapkannya, memimpin para shahabatnya dan memberangkatkan mereka ke sana, menyemangati mereka untuk bergerak kesana, menyampaikan kabar gembira dengan kemenangan yang akan diraih, dan memberitahu mereka tentang keutamaan Syam.

Isyarat paling awal tentang keutamaan negeri Syam, bahwa negeri itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin dan tunduk dibawah panjinya, telah ada sejak sebelum terjadinya peristiwa hijrah, yaitu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasul-Nya dengan perjalanan malam (Isra’) ke Baitul Maqdis, kemuadian dari sana naik ke langit (Mi’raj). Setelah hijrah, misi terbesar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   adalah perluasan wilayah dakwah Islami dan persiapan untuk penaklukan ke negeri Syam serta menyampaikan risalah tauhid pada penduduknya. Hal itu nampak dari pengiriman surat Rasulullah kepada para raja dan penguasa, pengutusan pasukan, dan kepemimpinan beliau dalam peperangan.

Setelah perjanjian Hudaibiyah pada tahun keenam Hijriyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   mengutus Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi membawa surat beliau ke Heraklius mengajaknya untuk masuk Islam. Artinya hendaklah dia masuk Islam dan member pilihan pada rakyat yang dipimpinnya, jika menolak maka dia harus membayar jizyah, jika tidak, maka tidak ada jalan lain selain berperang untuk menyingkirkan rintangan dari jalan dakwah agar ditawarkan kepada manusia tanpa ada paksaan, sebab, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mengutus Al-Haris bin Umair Al-Azdi ke penguasa Bushra. Ketika sampai di Mu’tah, dia dibunuh oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani. Dialah satu-satunya utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   yang terbunuh. Peristiwa itu membuat Rasulullah mengutus pasukan untuk perang Mu’tah pada tahun 8 Hijriyah.

Di samping itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mengutus Syuja’ bin Wahab Al-Asadi kepada Al-Harits bin Syamir Al-Ghassani, gubernur Damaskus yang diangkat oleh Heraklius, mengajaknya masuk Islam. Namun dia menolak dan mengumumkan perang melawan Islam.

Pada tahun ke tujuh Hijriyah, terjadi perang Khaibar, dimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam   menghabisi pengaruh Yahudi dan menimbulkan perasaan takut pada jiwa mereka yang masih tersisa diberbagai penjuru Jazirah Arab. Maka kaum Yahudi Fadak, Yahudi Taima’, dan Yahudi Wadil Qura menyerah dan memohon perjanjian damai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan demikian, Negara Islam telah aman dari arah utara sampai ke Syam.

Pada bulan Rabiul awal tahun delapan Hijriyah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  mengutus pasukan pengintai berjumlah lima belas orang dibawah pimpinan Ka’Abu Bakar bin Umair Al-Ghifari. Mereka pun menebus wilayah Syam dan sampai ke Dzatu Athlah di Wadi Arabah di Palestina. Mereka bertarung dengan pasukan gabungan dari Qudha’ah dan semuanya mati syahid kecuali seorang shahabat.

Pada bulan Jumadil Awal tahun delapan Hijriyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Mu’tah dan berperang menghadapi pasuka Romawi dalam pertempuran yang dahsyat. Berakhir dengan penyelamatan yang dilakukan oleh Khalid bin Walid terhadap pasukan kaum muslimin.

Lalu pada bulan Jumadil Akhir pada tahun yang sama, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Amr bin Ash ke Dzatus Salasil yang terletak di perbatasan antara Yordania dan Arab Saudi sebagaimana telah kami ceritakan sebelumnya.

Kemudian pada bulan Rajab tahun Sembilan Hijriyah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersiapkan pasukan sebanyak 30 ribu orang untuk memerangi Romawi. Beliau sendiri yang memimpin pasukan hingga sampai ke Tabuk. Namun tidak terjadi pertempuran. Kaum muslimin kembali dengan selamat membawa harta rampasan perang.

Sesaat sebelum wafat, beliau mempersiapkan pasukan Usamah bin Zaid dan mengarahkannya ke Balqa’ di tengah Yordania. Akan tetapi beliau wafat sebelum pasukan ini sampai ke sana. Pasuka itu baru berangkat ke sana pada kekhalifahan Abu Bakar.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  telah memberi kabar gembira kepada para shahabat beliau tentang penaklukan negeri Syam dan mendorong mereka untuk berjihad di sana.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Al-Anshari Radiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   bersabda, “Kebahagiaan untuk Syam, kebahagiaan untuk Syam, kebahagiaan untuk Syam.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa demikian?” Beliau menjawab, “Para Malaikat Allah mengembankan sayapnya di atas Syam.

Dari Abdullah bin Hawalah Radiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   bersabda, “Kalian akan mengirim beberapa pasukan, satu pasukan ke Syam, satu pasukan ke Irak, dan satu Pasukan ke Yaman.” Abdullah berkata, “Saya berdiri dan berkata, “Hendaklah kalian bergabung dengan pasukan Syam, siapa yang enggan hendaklah bergabung dengan pasukan Yaman dan minumlah dari telaganya, karena Allah telah menjamin Syam dan penduduknya.”

Dari Abdullah bin Amr Radiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda, “Saya bermimpi melihat gundukan kitab diambil dari bawah bantalku, ketika saya perhatikan ternyata dia berupa cahaya yang bersinar yang dibawah ke Syam. Ketahuilah bahwa ketika fitnah terjadi, maka keimanan berada di daerah Syam.”

Lalu dari Abdullah bin Umar Radiyallahu Anhuma, ia berkata, “Seusai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   mengimami shalat fajar, beliau menghadap kea rah jama’ah dan berdoa, “Ya Allah berkahilah tanah haram kami, Ya Allah berkailah Syam kami.”

Kemudian riwayat dari Abu Darda’ Radiyallahu Anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ketika terjadi perang besar, benteng kaum muslimin terletak disebuah wilayah yang disebut Ghuthah. Di sana terdapat kota bernama Damaskus, daerah terbaik bagi kaum muslimin pada saat itu.”

Diriwayatkan dari Auf bin Malik Radiyallahu Anhu, dia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  saat beliau berada di sebuah bangunan miliknya, saya mengucapkan salam kepada beliau.” Beliau bertanya, “Auf?” Saya jawab, “Betul wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Masuklah.” Saya bertanya, “Saya secara keseluruhan atau sebagian?” Beliau menjawab, “Secara keseluruhan.” Beliau berkata, “Hai Auf, hitunglah enam hal yang ada di hadapan kiamat, yang pertama darinya adalah kematianku.” Aku menangis hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam   mendiamkanku. Aku berkata: “Itu yang pertama.” Rasulullah berkata, “Yang kedua, ditaklukannya Baitul Maqdis.” Aku berkata, “Itu yang kedua.” (Semua hadits yang disebutkan statusnya adalah hadits shahih seperti yang terdapat di dalam kitab Fadha’il Asy-Syam wa Dimasyq karya Ar-Rib’i).

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.