Categories
Abu Bakar

Biografi Sahabat Nabi Abu Bakar: Manusia yang Paling Berilmu (Seri 3)

C. AKHLAK DAN SIFAT ABU BAKAR SERTA ILMU DAN KEDUDUKANNYA

1. Ibadah dan ketaqwaan Abu Bakar
Abu Bakar mempunyai tingkat ketakwaan dan wara’ yang tinggi. Dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat sendiri dan merasakan terus diawasi saat berada ditengah keramaian. Dia sangat memperhatikan kehalalan sesuatu dan menjahui segala hal yang syubhat (diragukan kehalalannya).

Suatu hari setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selesai shalat subuh, beliau menghadap ke arah shahabatnya dan bertanya, “Siapa diantara kalian yang berpuasa hari ini?

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, saya tidak berniat puasa tadi malam, maka pagi ini saya berbuka.”

Abu Bakar berkata, “Tapi saya sempat berniat puasa tadi malam, sehingga pagi ini saya puasa.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bertanya lagi, “Apakah ada diantara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?

Abu Bakar berkata, “Aku mendapat kabar bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sakit, maka saya sempat mampir ke rumahnya untuk mengetahui kabarnya pagi ini.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bertanya lagi, “Siapa diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin?

Umar menjawab, “Kami baru saja shalat wahai Rasulullah dan belum pergi kemana-mana.”

Abu Bakar berkata, “Saat saya hendak masuk masjid, ada pengemis yang sedang meminta-minta. Kebetulan ada sepotong roti di tangan Abdurrahman (Putra Abu Bakar), maka ambil dan saya serahkan pada pengemis tadi.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam lantas berkata, “Bergembiralah engkau (Abu Bakar) dengan jaminan surga.

Dalam kesempatan lain, di salah satu majlis Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar mendengar beliau bersabda, “Siapa yang menginfakkan sepasang dari hartaya (dua buah [ekor] dari harta yang dimiliki yang sejenis, seperti dua kuda, dua keledai, dan sebagainya) di jalan Allah, akan dipanggil dari berbagai pintu surga, “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik.” Siapa yang merupakan ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalat, siapa yang ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan, dan siapa yang ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.

Abu Bakar lalu bertanya, “Demi ayahku dan ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, sungguh bahagia orang yang dipanggil dari semua pintu?”

Di samping itu Abu Bakar Radiyallahu Anhu selalu menjaga lisannya dan melakukan introspeksi terhadap dirinya. Hingga pernah suatu hari Umar mendapatinya sedang memegangi lidahnya seraya berkata, “Ini yang sering mendatangkan bahaya bagi diriku.”

Putrinya, Aisyah Radhiyallahu Anha pernah bercerita, “Suatu kali saya menggenakan pakaian rumah yang baru. Saya pun memandanginya dan merasa sangat terkesan. “Lalu Abu Bakar bertanya, “Apa yang kau pandangi? Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat kepadamu. “Kenapa demikian?”

Abu Bakar menjawab, “Tiadakkah engkau tahu bahwa apabila seorang hamba merasa takjub dengan perhiasan dunia, dia akan dibenci tuhannya Subhanahu wa Ta’ala hingga ia menanggalkan perhiasan tersebut!”

Aisya berkata, “Aku pun segera menanggalkannya dan mensedekahkannya kepada orang lain.”

Lalu Abu Bakar berkata, “Semoga apa yang kau lakukan itu dapat menghapus kesalahanmu tadi.”

Karena itu, Abu Bakar sangat takut jika dunia dan segala perhiasannya mengejarnya, sehingga dapat menurunkannya dari derajat shiddiqin yang seolah-olah telah melekat padanya. Suatu saat Abu Bakar pernah minta dibawakan minum, lalu dihadirkanlah ke hadapannya sebuah wadah berisi air dan madu. Ketika dia mendekatkan wadah tersebut ke bibirnya, tiba-tiba dia menjauhkannya dan langsung menangis. Sampai-samapi para shahabat yang ada disekelilignya ikut menangis. Ketika para shahabat berhenti menangis, Abu Bakar masih terus menangis. Hingga para shahabat berfikir bahwa mereka tidak akan sanggup menyelesaikan masalahnya. Beberapa saat kemudian barulah Abu Bakar berhenti menangis dan mengelap wajahnya. Mereka lalu bertanya, “Wahai khalifah Rasulullah, apa yang membuatmu menangis?”

Abu Bakar menjawab, “Waktu itu saya bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, saya melihatnya menjauhkan sesuatu dari dirinya seraya berkata, “Menjauhlah dariku, menjauhlah dariku.” Padahal tidak ada seorang pun bersamanya. Saya pun bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau dorong, saya tidak melihat seorang pun bersamamu?” Jawab beliau, “Dunia ini menampakkan segala keindahannya di hadapanku, maka saya katakan padanya, “Menjauh dariku. Lalu dunia berkata, “Demi Allah, jika engkau berhasil lepas dariku, maka orang sesudahmu tidak akan bisa terlepas.” Maka saya sangat khawatir dunia telah mengejarku, itulah yang membuatku menangis.”

Di samping sifat wara’ yang dimilikinya, Abu Bakar juga sangat berhati-hati dalam kebenaran sesuatu bahkan dalam setiap suapan yang masuk ke dalam perutnya. Dia tidak akan mau menerima sesuatu yang terindikasi mengandung syubhat. Ada seorang budak Abu Bakar yang menyerahkan upeti kepadanya. Abu Bakar pun biasa memakan sebagian dari upeti yang diserahkan si budak. Maka suatu kali budak itu menyerahkan sesuatu kepada Abu Bakar dan langsung dimakan oleh Abu Bakar. Tiba-tiba si budak bertanya, “Tahukah engkau apa itu?” Abu Bakar kembali bertanya, “Apa itu?” Budak itu menjelaskan, “Di masa jahiliyah saya pernah meramal untuk seseorang, padahal saya tidak pandai meramal, saya hanya membohonginya. Lalu orang itu datang menemuiku dan memberiku makanan itu. Itulah yang baru saja engkau makan.” Mendengar penjelasan si budak Abu Bakar langsung memasukkan jari tangannya ke dalam tenggorokannya agar bisa muntah. Maka keluarlah semua makanan dari perutnya. Seseorang berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apakah engkau melakukan itu hanya untuk mengeluarkan satu suapan itu?” Abu Bakar berkata, “Jika suapan itu tidak mau keluar kecuali dengan nyawaku, pasti saya keluarkan nyawaku sekalian. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda , “Setiap tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih pantas untuknya.” Maka saya khawatir, akan tumbuh sebagian dari tubuhku dari setiap makanan itu.”

Abu Bakar tidak pernah lengah seharipun dari perbuatannya. Bahkan dia selalu merasa takut kepada Allah dan berkata, “Aku berharap menjadi sehelai rambut di sisi seorang hamba yang beriman.”

Jika ada yang memujinya, dia akan berdoa, “Ya Allah, Engkau lebih tahu dariku dari pada aku, dan aku lebih tahu diriku dari pada mereka. Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkah, dan ampuni apa yang tidak mereka ketahui, dan jangan hukum aku atas apa yang mereka ucapkan.”

2. Infaknya di jalan Allah.
Abu Bakar merupakan orang paling dermawan. Tidak ada seorang pun dari kalangan shahabat yang melebihi kedermawanan Abu Bakar. Mari kita perhatikan cerita yang disampaikan Umar bin Khaththab berikut ini.

“Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Kebetulan saat itu aku sedang memiliki sejumlah harta. Maka aku berkata pada diriku sendiri, “Kali ini aku harus mengalahkan Abu Bakar, maka aku pun datang dengan membawa separuh dari hartaku. Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Jawabku, “Sebanyak itu juga.” Tak lama kemudian datang Abu Bakar membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya padanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Aku berkata dalam hati, “Aku tidak akan pernah bisa mengalahkan kedermawanan Abu Bakar.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam diutus sebagai Nabi, Abu Bakar memiliki harta sebanyak empat puluh ribu dinar. Semua itu langsung diinfakkannya kepada Rasulullah untuk digunakan di jalan Allah. Dengan harta itu Rasulullah memerdekakan budak dan menolong kaum muslimin. Rasulullah menggunakan harta Abu Bakar itu seperti dia menggunakan hartanya sendiri. Hingga suatu kali Rasulullah pernah bersabda, “Semuanya yang pernah membantu telah kami balas, kecuali Abu Bakar, dia mempunyai hak atas kami yang nanti akan dibalas langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak ada harta yang memberi manfaat kepadaku lebih besar dari manfaat yang diberikan oleh harta Abu Bakar.”

3. Keilmuan Abu Bakar, hadits-hadits yang diriwayatkannya, dan orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya
Abu Bakar merupakan pemuka para shiddiqin di kalangan shahabat yang mulia, paling pertama dari sekelompok manusia yang pertama masuk islam, manusia paling berani, paling gemar berinfak, paling besar kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, paling gemar bertaubat, dan takut kepada Allah di kala sendiri dan di tengah keramaian.

Lebih dari itu, Abu Bakar juga merupakan manusia yang paling berilmu dan paling faham dengan persoalan agama. Pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah memberi fatwa. Ketika Ibnu Umar ditanya, “Siapa yang memberi fatwa di zaman Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Dijawab, “Abu Bakar dan Umar. Setahuku tidak ada yang lainnya lagi.”

Karena itulah, ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sakit, beliau mengutamakan Abu Bakar atas yang lainnya untuk menjadi imam. Tidak ada yang pantas mengimami orang-orang selain orang yang paling baik bacaannya dan paling dalam ilmunya di antara mereka. Begitu juga dalam masalah haji pada tahun kesembilan hijrah, Abu Bakar diangkat sebagai pimpinan rombongan haji. Tidak ada yang pantas menjadi pemimpin haji selain orang yang paling faham tentang manasiknya dan paling mengerti di antara mereka.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meninggal dunia, sekelompok orang menolak untuk membayar zakat. Abu Bakar pun mengambil sikap tegas, sikap yang amat terkenal dalam sejarah. Dia berkata, “Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisahkan antara kewajiban sholat dan zakat, sesungguhnya zakat adalah haknya harta. Demi Allah, jika mereka menolak membayar seutas tali pengikat unta yang sebelumnya mereka tunaikan di masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, akan saya perangi mereka dengan penolakan tersebut.”

Para shahabat pada awalnya tidak memahami hukum dalam masalah ini, namun Abu Bakar terus mendebat mereka dan menjelaskan berbagai hujjah disertai dalil-dalil yang kuat, hingga nampaklah kebenaran pandangannya setelah berkali-kali dilakukan pembahasan atas masalah ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membukakan hati mereka sebagaimana telah membukakan hati Abu Bakar untuk bangkit memerangi kelompok orang-orang murtad.

Tidak ada peristiwa yang lebih menunjukkan keluasan ilmunya tentang Al-Qur’an dan banyaknya hafalan haditsnya, selain apa yang ditunjukkannya di Saqifah bani Saidah. Ketika dia berkhutbah, tidak ada satu pun dari yang diturunkan pada kaum Anshar, atau yang pernah disebutkan oleh Rasulullah mengenai mereka, kecuali disebutkan juga oleh Abu Bakar di depan khalayak.

Banyak shahabat yang meriwayatkan hadits darinya, diantaranya Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Ibnu mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah Radhiyallahu Anhum. Termasuk beberapa putra-putrinya, seperti Abdurrahman, Muhammad, dan Aisyah. Bahkan sejumlah perowi dari kalangan tabi’in ikut meriwayatkan hadits darinya.

Namun, meski memiliki keluasan ilmu, jumlah hadits Rasulullah yang diriwayatkan darinya hanyalah 142 hadits. Sebab Abu Bakar wafat sebelum hadits-hadits tersebar luas dan sebelum para tabi’in memiliki perhatian serius dalam mendengar, mencari, dan menghafal hadits. Di samping itu, Abu Bakar juga sempat disibukkan dengan upaya memerangi kaum murtadin dan meletakkan kaidah dasar untuk negara Islam. Belum lagi dia harus menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Semua itu membuatnya sulit untuk meluangkan waktu dalam berbagai majlis ilmu dan pengajarannya.

4. Penafsiran mimpi yang dilakukan oleh Abu Bakar
Abu Bakar As-Shiddiq terkenal pandai menafsirkan mimpi. Sehingga Muhammad bin Sirin mengatakan, “Abu Bakar adalah orang yang paling pandai menafsirkan mimpi di kalangan umat Islam setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ibbun Abbas Radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, semalam saya bermimpi melihat segumpal awan meneteskan minyak samin dan madu. Kulihat orang-orang menadahkan tangannya ke arah awan tersebut. Ada yang mendapat banyak dan ada juga yang mendapat sedikit. Kemudian saya melihat seutas tali terjulur dari langit ke bumi. Saya melihat engkau memegang tali itu, lalu naik ke atas. Setelah itu ada yang turut memegang tali itu dan ikut naik mengikuti engkau. Laki-laki lain juga naik menyusul. Kemudian ada seorang lagi ikut naik, tetapi tali itu terputus. Setelah tali disambung maka dia naik terus ke atas.”

Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah saya memohon kepada engkau agar mengizinkan saya untuk menafsirkan mimpi itu. “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Tafsirkanlah!” Abu Bakar berkata, “Awan yang ada dalam mimpi itu adalah Islam. Sedangkan minyak samin dan madu yang menetes dari awan itu adalah Al-Qur’an yang manis dan lembut. Adapun yang ditadah oleh orang-orang dalam mimpi itu adalah orang-orang yang mendapat pemahaman dari Al-Qur’an. Ada yang mendapat pemahaman yang banyak dan ada juga yang mendapat pemahaman yang sedikit. Sedangkan tali yang terulur dari langit adalah kebenaran yang engkau bawa dan engkau yakini wahai Rasulullah, Hingga dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggikan derajat engkau. Kemudian tali (kebenaran) itu pun diikuti oleh banyak orang lain, hingga dengannya dia pun mencapai derajat yang tinggi. Kemudian tali (kebenaran) itu diikuti oleh yang lain, tetapi tiba-tiba tali itu terputus. Maka ia pun berusaha untuk menyambung lagi, hingga tersambung, dan ia pun memperoleh derajat yang tinggi. Demi ayahku dan engkau wahai Rasulullah , beritahukanlah kepadaku, apakah tafsir mimpiku benar?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Wahai Abu Bakar, sebagian ada yang benar dan sebagian ada yang salah.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, manakah yang benar dan manakah yang salah?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Janganlah kamu bersumpah (dalam masalah tafsir mimpi ini)!

Kemudian, putrinya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah bermimpi melihat tiga bulan jatuh ke dalam rumah. Dia pun menceritakan mimpi tersebut kepada Abu Bakar. Mendengar itu Abu Bakar menjelaskan, “Jika benar mimpimu itu, maka di rumahmu ini akan dikuburkan tiga manusia terbaik.” Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat, Abu Bakar berkata kepadanya, “Wahai Aisyah, ini adalah bulanmu yang terbaik.” Sementara dua bulan yang lain adalah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

5. Kedudukannya di mata Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan para shahabat
Abu Bakar menempati posisi yang istimewa di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Kedudukan tertinggi yang sangat diidamkan oleh setiap jiwa. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Seandainya saya diperbolehkan memilih seorang kekasih, maka saya akan memilih Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan dan kasih sayang Islam. Tidak ada satupun pintu yang tersisa di masjid melainkan akan tertutup kecuali pintu Abu Bakar.

Amr bin Ash pernah datang menemui Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan bertanya, “Siapa orang yang paling engkau cintai?” Jawab Nabi, “Aisyah.” Dia bertanya lagi, “Kalu dari laki-laki?” Jawab Nabi, “Ayahnya (Abu Bakar)”. Dia terus bertanya, “Lalu siapa?” Nabi menjawab, “Umar bin Khaththab” kemudian beliau menyebutkan beberapa nama lagi.

Sekembalinya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dari haji wada’, beliau naik keatas mimbar. Setelah mengucap hamdalah dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Abu Bakar tidak pernah sekalipun menyakitiku, maka akuilah hal itu oleh kalian untuknya. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya ridha padanya, pada Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Auf, dan kaum muhajirin generasi awal, Maka akuilah itu oleh kalian untuk mereka.

Bahkan di majlis Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam Abu Bakar memiliki tempat khusus. Jika dia terlambat datang karena sesuatu urusan, tidak ada seorang pun yang mau menempati tempat tersebut. Seorang shahabat Anshar menceritakan hal tersebut, “Majelis Shallallahu Alahi wa Sallam selalu penuh sesak. Meski demikian, tempat Abu Bakar selalu kosong. Tidak seorang pun yang ingin duduk di sana. Jika Abu Bakar datang, dia langsung duduk di tempat itu dan Rasulullah pun menghadap padanya dan menyampaikan haditsnya, sementara semua orang mendengarkan.”

Seringkali Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengatakan dihadapan orang-orang, “Aku, Abu Bakar, dan Umar mengimaninya.” Padahal dua orang itu tidak ada di sana. Hal tersebut menjelaskan betapa kuatnya keimanan mereka dan betapa percayanya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  kepadanya.

Karena itulah para shahabat sangat menghormati Abu Bakar Ash-Shiddiq dan tidak suka memusuhinya. Karena mereka tidak ingin Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam marah karena kemarahan Abu Bakar .

Abu Darda’ meriwayatkan suatu peristiwa dari seseorang, “Waktu itu saya sedang duduk bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam. Tiba-tiba Abu Bakar datang sambil memegang tepi baju Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam hingga merapat pada lutut beliau. Nabi bertanya, “Apakah teman kalian telah marah?” Maka Abu Bakar bakar memberi salam lalu berkata, “Aku punya masalah dengan Ibnu Khaththab lalu aku terlanjur marah kepadanya namun kemudian aku menyesal, aku pun datang menemuinya lalu minta maaf namun dia enggan memaafkanku. Maka itu aku datang kepadamu”. Maka beliau bersabda, “Allah akan mengampunimu, wahai Abu Bakar”. Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali. Ternyata kemudian Umar pun menyesal lalu mendatangi kediaman Abu Bakar dan bertanya, “Apakah ada Abu Bakar?” Orang-orang menjawab, “Tidak ada”. Kemudian umar menemui Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan memberi salam. Kedatangannya ini membuat wajah Nabi nampak marah, maka Abu Bakar merasa tidak enak, dia pun langsung duduk bersimpuh pada lutut beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah aku yang lebih bersalah” dia mengucapkannya dua kali. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian namun kalian mengatakan, ‘Kamu pendusta’ sedangkan Abu Bakar berkata, ‘Dia orang yang jujur’ dan dia berjuang membelaku dengan jiwa dan hartanya, Apakah kalian bisa membiarkan shahabatku untukku?” Beliau mengulang ucapannya dua kali. Maka sejak itu Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi.

Pada kesempatan lain, Aqil bin Abi Thalib dan Abu Bakar saling mengejek satu sama lain. Abu Bakar adalah seorang yang ahli dalam silsilah nasab, hanya saja dia tidak ingin berdosa mengingat Aqil memiliki kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka dia pun pergi meninggalkannya dan mengadukannya kepada Rasulullah. Mendengar itu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam langsung berdiri dihadapan khalayak dan bersabda, “Bisakah kalian biarkan untukku shahabatku? Apa masalah kalian dengannya? Demi Allah, Pada saat rumah-rumah kalian masih dianuhgerahi kegelapan, rumah Abu Bakar telah dianuhgerahi cahaya. Demi Allah kalian telah berkata kepadaku, “Engkau benar!” kalian pegang erat harta kalian, sementara dia begitu dermawan memberikan hartanya kepadaku. Kalian meninggalkan aku, sementara dia membela dan mengikutiku!!”

Para shahabat sangat memahami kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan kedudukannya didalam Islam, pada masa Rasulullah masih hidup, pada masa kekhalifahannya, hingga setelah wafatnya.

Abdullah bin Umar berkata, “Waktu itu kami mebanding-bandingkan derajat kebaikan orang-orang di masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Maka kami mengurutkan mulai dari Abu Bakar, lalu Umar bin Khaththab, lalu Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhum.”

Di masa kekhalifahan Amirul mukminin, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, datang sekelompok orang mengatakan, “Demi Allah tidak ada seorang yang lebih adil dalam memutuskan perkara, lebih berani berkata benar, dan lebih tegas terhadap kaum munafik selain dari pada engkau wahai Amirul mukminin. Engkau manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Maka Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “kalian salah. Demi Allah, kami telah melihat orang yang lebih baik dari Umar setelah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.” Mereka bertanya, “Siapa dia wahai Auf?” Jawab Auf, “Abu Bakar”. Umar pun berkata, “Auf benar dan kalian salah. Demi Allah, Abu Bakar lebih baik dari pada minyak wangi dan saya lebih sesat dari unta peliharaan (ketika dia masih dalam keadaan musyrik).”

Sekelompok orang dari penduduk Kufah dan Bashrah datang menemui Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika mereka sampai di Madinah, terjadi obrolan diantara mereka hingga membicarakan Abu Bakar dan Umar. Sebagian mereka menganggap Abu Bakar lebih baik dari pada Umar, sementara sebagian lain menganggap sebaliknya.

Obrolan itu sampai ke telinga Umar. Dia pun naik ke atas mimbar. Setelah memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dia berkata, “Ketahuilah bahwa manusia terbaik di kalangan umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar. Siapa yang berpendapat selain itu setelah ini merupakan orang yang dusta. Akan mendapat dosa seperti halnya pendusta.”

Ketika Muhammad bin Al-Hanafiyah bertanya kepada ayahnya Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Aku bertanya kepada ayahku, “Siapa manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Dia menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?” Dia menjawab, “Umar.” Dan aku khawatir dia akan menyebut Utsman, aku pun berkata, “Lalu engkau?” Dia menjawab, “Aku hanyalah salah satu dari kaum muslimin!”

Abdullah bin Abbas datang menemui Muawiyah. Setelah dia duduk, Muawiyah bertanya padanya, “Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?” Ibnu Abbas berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Demi Allah dia adalah orang yang gemar membaca Al-Qur’an, menjahui segala bentuk penyimpangan, meninggalkan perbuatan keji, melarang kemungkaran, memahami dengan baik agamanya, takut kepada Allah, senantiasa bangun malam untuk beribadah, gemar berpuasa disiang hari, selamat dari perkara dunia, berusaha menciptakan keadilan untuk rakyatnya, memerintahkan yang ma’ruf, mensyukuri berbagai keadaan, selalu mengingat Allah baik di rumah maupun di perjalanan, tidak mementingkan maslahat pribadi, melebihi para shahabatnya dalam hal wara’, zuhud, iffah (menjaga kehormatan), kebaikan dan kehati-hatian. Maka Allah akan melaknat siapa pun yang mencelahnya hingga hari kiamat.”

6. Berbagai kelebihan Abu Bakar
Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu di antara manusia ibarat hujan. Dimanapun dia turun selalu memberi manfaat. Dia memperoleh banyak hal yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun. Diantaranya, dia adalah orang yang pertama dari kalangan laki-laki dewasa merdeka yang masuk Islam, orang pertama yang menjadi pemimpin haji dalam Islam, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menugaskan untuk memimpin orang-orang dalam pelaksanaan haji pada tahun kesembilan hijrah, orang yang pertama disebut khalifah (pengganti) Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, orang yang pertama mengumpulkan Al-Qur’an dan menamakannya mushaf, dan orang yang pertama mendirikan baitul mal.

7. Termasuk ahli surga
Abu Bakar Ash-Shiddiq memperoleh jaminan dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sebagai ahli surga. Bahkan dia termasuk pemilik derajat pertama dan derajat tertinggi di kalangan shiddiqin.

Abdurrahman bin Auf meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau bersabda, “Abu Bakar (akan berada) di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga….” hingga beliau menyebutkan ke sepuluh nama shahabat yang memperoleh jaminan masuk surga.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Dua orang ini merupakan pemuka orang-orang dewasa di kalangan ahli surga dari generasi pertama sampai terakhir, kecuali para Nabi dan Rasul.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

3 replies on “Biografi Sahabat Nabi Abu Bakar: Manusia yang Paling Berilmu (Seri 3)”

Benar, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, semoga para sahabat dan kaum muslimin yang membela mereka bersama rosulullah solallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.