Categories
Abu Bakar

Biografi Sahabat Nabi Abu Bakar: Persahabatan, Keteguhan, dan Peperangan bersama Rasulullah (Seri 2)

B. PERSAHABATAN ABU BAKAR DENGAN RASULULLAH, HIJRAH, DAN PERANG YANG DIIKUTINYA

1. Persahabatannya dan keteguhannya memegang Al-Qur’an dan Sunnah

Abu Bakar senantiasa menjadi sahabat setia Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sejak dia masuk Islam hingga Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  wafat. Dia tidak pernah meninggalkan beliau baik pada saat berdiam di Mekah maupun dalam perjalanan. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Aisyah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq Radiyallahu Anhuma, “Sejak aku mengenal kedua orang tuaku, mereka telah masuk Islam. Tidak ada hari yang kami lewati tanpa keberadaan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam di kedua ujung hari pagi dan petang.” Maka pantas Abu Bakar memperoleh pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan menyebutnya dalam Al-Qur’an sebagai seorang sahabat, “Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”(QS.At-Taubah [9]:40). Oleh karena itulah para ulama berpendapat bahwa siapa yang mengingkari persahabatan Abu Bakar dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berarti telah kafir. Sebab al-Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa dia adalah sahabat beliau. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam  sendiri menyebutnya  sahabat ketika berkata kepadanya, “Engkau adalah sahabatku di haudh(telaga surga) dan sahabatku di gua (Hira).”

2. Mendakwahi manusia kejalan Islam dan membebaskan budak

Abu Bakar tidak merasa cukup jika hanya dirinya yang memeluk Islam. Akan tetapi, kedudukannya dikalangan Quraisy dimanfaatkannya dengan baik untuk kemaslahatan dakwah. Dia pun mengajak orang-orang yang dipercayanya untuk masuk Islam, terutama mereka yang diyakininya akan menjadi penolong dakwah dan pembela Islam. Maka Abu Bakar ikut berperan dalam keislaman Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin auf Radhiyallahu Anhum.

Pada tahap selanjutnya Abu Bakar mengajak Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Al-Arqam bin Abi Al-Arqam untuk masuk Islam. Mereka pun memenuhi ajakan tersebut.

Abu Bakar menggunakan seluruh hartanya untuk menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pernah menginfaqkkan empat puluh ribu dinar kepada Rasulullah di jalan Allah. Sehingga Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah bersabda, “Tidak ada harta yang memberi manfaat kepadaku lebih besar dari manfaat diberikan oleh harta Abu Bakar!

Ketika suatu waktu dia berjalan melewati budak-budak yang sedang disiksa oleh majikannya, dia merasa kasihan, dia tidak segan-segan membelanjakan hartanya untuk memerdekakan mereka. Sedikitnya ada tujuh orang yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, diantaranya Amir bin Fuhairah dan Bilal bin Rabah, muadzin Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam .

3. Keteguhan di jalan dakwah dan pembelaannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam

Dengan segenap kemampuan yang dimiliki, Abu Bakar berusaha untuk menjadi penolong bagi agama Allah, denagn mendakwahkannya, dengan memerdekakan para budak, dan dengan selalu menjadi pembela Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Ketika sekelompok kaum musyrikin sedang duduk-duduk di Masjidil Haram membicarakan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan apa yang beliau katakan tentang tuhan-tuhan mereka, tiba-tiba Rasulullah datang ke masjid. Mereka pun bangkit dan mendekatinya. Salah seorang lalu bertanya, “Benarkah engkau mengatakan hal-hal buruk tentang tuhan-tuhan kami?” Rasulullah membenarkan. Tanpa berpikir panjang mereka langsung memukuli Rasulullah. Seseorang lalu memberi tahu Abu Bakar tetang kejadian tersebut. “Sahabatmu dipukuli!” Mendengar itu Abu Bakar langsung bergegas menuju masjid dan menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sedang dipukuli oleh sekelompok orang. Dia pun berupaya menghentikan mereka dengan berteriak, “Celakalah kalian, Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah,” padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu?” Mendengar itu, mereka melepaskan Rasulullah dan berbalik memukuli Abu Bakar.

Ali bin Abi Thalib pun pernah menceritakan sebuah kisah tentang pembelaan Abu Bakar terhadap Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam diganggu oleh sekelompok kaum Quraisy. Ada yang mendorongnya, Ada juga yang mengguncang-guncang tubuhnya seraya bertanya, “Engkau yang membuat tuhan-tuhan kami menjadi satu tuhan?” Waktu itu tidak ada yang berani mendekat kecuali Abu Bakar. Dia memukul, mendorong, dan menyingkirkan orang-orang tersebut seraya meneriyaki, “Celaka kalian, Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah?” Lalu Ali menyingkap kain yang sempat menutupi wajahnya. Dia nampak menangis hingga jenggotnya basah oleh air mata. Dia pun bertanya kepada orang-orang yang berada disekitarnya, “ Demi Allah, Siapa yang lebih baik keluarga Firaun yang beriman atau Abu Bakar?” Semua terdiam. Ali berkata, “Kenapa kalian tidak menjawab? Demi Allah, satu jam dari Abu Bakar jauh lebih baik dibanding seribu jam dari keluarga Firaun yang beriman. Dia menyembunyikan keimanannya, sementara orang ini (Abu Bakar) menampakkan keimanannya!!”

Baru saja jumlah shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mencapai tiga puluh delapan orang, Abu Bakar meminta Rasulullah untuk membolehkan mereka menampakkan keislaman mereka dan mendakwahkannya secara terang-terangan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Wahai Abu bakar jumlah kita masih sedikit.” Namun Abu Bakar tidak berhenti membujuk sampai akhirnya Rasulullah pun menyetujui dan segera berdakwah secara terang-terangan. Kaum muslimin pun menyebar ke berbagai penjuru masjid, setiap orang mengajak kabilahnya masing-masing. Abu Bakar lalu berpidato sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam duduk disisinya. Ini merupakan pidato pertama yang berisi ajakan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kaum musyrikin marah melihat tindakan yang dilakukan Abu Bakar dan kaum muslimin lainnya. Mereka pun dipukuli disetiap pojok masjid. Bahkan Abu Bakar sempat diinjak-injak dan dipukuli wajahnya hingga tak jelas lagi rupanya. Beruntung Bani Taim (Kabilah Abu Bakar) datang ke tempat itu lalu menolong Abu Bakar dan melepaskannya dari amukan kaum musyrikin. Lalu mereka menandu Abu Bakar dengan kain dan membawahnya ke rumahnya. Mereka sempat menyangka Abu Bakar menemui ajalnya akibat pengeroyokan tersebut. Abu Quhafah dan orang-orang Bani Taim yang lain berusaha membangunkannya dan mengajak bicara. Hingga akhirnya Abu Bakar tersadar saat hari sudah petang dan langsung menanyakan kondisi Rasulullah. Mereka pun menyumpahinya dan pergi meninggalkannya seorang diri.

Ibunya, Ummul Khair membujuknya untuk makan dan minum, namun dia menolak seraya berkata, “Aku bersumpah kepada Allah untuk tidak makan dan minum sebelum mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.”

Dia menunggu sejenank sampai kakinya terasa lebih kuat dan orang-orang menjadi tenang. Lalu dengan dibimbing oleh ibunya dan Ummu Jamil binti Khaththab, Abu Bakar diantar kerumah Rasulullah. Sesampainya disana, Rasulullah langsung memeluknya dan menciumnya. Setelah itu secara bergantian kaum muslimin ikut memeluknya. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sangat prihatin melihat kondisi Abu Bakar.

Abu Bakar berkata, “Demi ayahku, dan ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, saya tidak apa-apa. Hanya sedikit pukulan di wajah oleh orang fasik yang bernama Utbah bin Rabi’ah. Dan ini ibuku, sangat baik terhadap putranya. Serulah dia kejalan Allah, dan tolong do’akan dia semoga Allah membebaskannya dari api neraka.” Maka Rasulullah pun mendo’akan dan mengajaknya untuk masuk Islam. Ajakan Rasulullah segera disambut oleh Ummul Khair dan langsung mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

4. Hijarahnya bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ke Madinah

Abu Bakar tetap bertahan di Mekah bersanma para shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, menghadapi berbagai gangguan dan tekanan yang dilancarkan kaum musyrikin Quraisy terhadap Islam dan umatnya. Hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Madinah Munawwarah. Satu per satu kaum muslimin hijrah ke sana. Abu Bakar memendam keinginan untuk itu. Namun Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepadanya, “Tangguhkanlah dulu, saya juga berharap mendapatkan izin untuk itu.” Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau benar-benar mengharapkan itu?” Rasulullah mengangguk. Maka Abu Bakar pun menahan diri untuk tidak hijrah dahulu agar bisa menemani Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dia pun mempersiapkan dua unta tunggangan dan memberinya makan dedaunan selama empat bulan lamanya.

Hingga suatu hari pada saat Abu Bakar sedang duduk di rumahnya di tengah hari yang amat panas, datanglah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dengan menyamar. Tidak biasanya beliau datang ke rumah Abu Bakar di siang hari. Abu Bakar berkata, “Demi Ayah dan Ibuku, sebagai tebusannya demi Allah dia tidak akan datang di waktu seperti ini kecuali ada suatu urusan penting.”

Rasulullah pun meminta izin masuk dan segera diizinkan oleh Abu bakar. Beliau pun masuk dan berkata kepada Abu Bakar, “Suruh semua orang keluar”. Abu Bakar berkata, “Mereka adalah keluargamu juga wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah pun memberitahu.”Aku telah mendapat izin untuk hijrah”. Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau ingin saya temani wahai Rasulullah?” Beliau mengangguk. Abu Bakar lantas menangis karena gembira, karena memperoleh kesempatan untuk menemani Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berhijrah.

Saat yang paling ditunggu oleh Abu Bakar pun tiba. Dia telah melakukan persiapan yang matang untuk perjalanan ini karena baginya ini bukanlah perkara biasa, melainkan sebuah upaya untuk merubah sejarah. Dia ingin keluarganya pun memperoleh kemuliaan berupa kesempatan membantu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan menjaga keamanan jiwanya demi keberlangsungan dakwahnya agar tercapai tujuan yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perintah dakwah tersebut. Untuk itu, dia pun membagi tugas yang harus diemban oleh setiap orang dari keluarganya. Aisyah dan Asma’ bertugas membuat makanan sebagai bekal di perjalanan dan menyimpannya dalam sebuah kantong kulit. Lalu Asma’ memotong sebagian dari ikat pinggangnya untuk mengikat mulut kantong kulit tersebut. Karena itu Asma’ mendapat julukan Dzatu Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar singgah di sebuah gua di Gunung Tsur dan bersembunyi disana selama tiga hari. Abdullah bin Abu Bakar ikut menginap di sana bersama mereka. Sebelum fajar tiba dia pergih meninggalkan gua menuju Mekah untuk mencuri dengar rencana kaum Quraisy menangkap Rasulullah dan shahabatnya. Dan baru kembali ke gua ketika hari gelap untuk memberitahukan apa yang didengarnya. Sementara itu, Amir bin Fuhairah (pembantu Abu Bakar) di siang hari mengembalakan kambingnya, kemudian jika sore tiba dia pulang melewati mulut gua untuk menghapus jejak kaki Abdullah bin Abu Bakar sekaligus memberi kesempatan pada Rasulullah dan Abu Bakar untuk meminum susu kambing dan menyembelih seekor kambing untuk dimakan. Hal itu terus berlangsung setiap malam selama tiga hari mereka bersembunyi di gua.

Pada saat keduanya baru sampai ke mulut gua, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, biar saya yang lebih dahulu masuk ke dalam gua. Kalau ada ular atau sesuatu yang berbahaya biar saya yang terkena terlebih dahulu.” Rasulullah mengizinkannya. Masuklah Abu Bakar ke dalam gua dan meraba sekitar dinding gua dengan tangannya. Setiap kali dia menemukan lubang dia robeksebagian kainnya untuk menyumpal lubang tersebut. Dia terus melakukan hal itu terus sampai kainnya habis semntara masih tersisa satu lubang lagi. Dia pun meletakkan tumitnya sebagai penutup lubang itu. Barulah dia mengajak Rasulullah masuk kedalam gua. Ketika pagi menjelang, Rasulullah mendapati Abu Bakar tanpa kain. Beliau bertanya padanya, “Mana kainmu wahai Abu Bakar?” Dia pun menceritakan apa yang dilakukan kemarin. Serta merta Rasulullah menengadakan tangannya berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikan derajat Abu Bakar setara dengan saya di hari kiamat nanti.” Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan pada beliau bahwa dia mengabulkan do’a tersebut.

Pencarian terhadap Rasulullah dan shahabatnya itu semakin gencar. Seluruh tempat telah diperiksa, hingga akhirnya mereka sampai ke mulut gua tempat keduanya bersembunyi. Allah pun membutahkan pandangan mereka dan memelingkan hati mereka. Sementara Abu Bakar dari dalam gua telah melihat kaki-kaki mereka sehingga membuatnya sangat merasa ketakutan, khawatir mereka berhasil menemukan tempat persembunyian itu. Jika itu terjadi, Rasulullah tentu akan dibunuh oleh mereka. Dia berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah, mereka pasti melihat kita.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu wahai Abu Bakar jika bersama kita berdua ada Allah sebagai yang ketiga?”

Kaum musyrikin pun kembali tanpa hasil. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melindungi Rasul-Nya dari rencana jahat mereka. Rasulullah dan shahabatnya pun meninggalkan gua itu untuk melanjutkan perjalanan menuju Madinah Munawwarah. Abu Bakar pun menceritakan bagaimana kejadian selanjutnya.

“Kami berjalan sepanjang malam dan siang hari hingga tiba waktu zhuhur. Jalan yang kami lalui sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat. Saya melempar pandangan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat berteduh. Mataku tertumbuk pada sebuah batu panjang yang memiliki bayangan yang tidak terkena sinar matahari. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak disana. Saya meratakan tanah sebagai tempat istirahat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu saya hamparkan sehelai jubah kulit dan mempersilahkan beliau untuk tidur di atasnya.

Sementara saya melihat-lihat sekeliling untuk mencari tahu apakah ada yang membuntuti kami. Tiba-tiba saya melihat seorang budak pengembala kambing sedang berjalan ke arah kami. Nampaknya dia ingin berteduh seperti kami. Saya bertanya kepadanya, “Milik siapakah engkau?” Dia menyebut nama seseorang dari Quraisy yang saya kenal. Saya bertanya lagi, “Apakah kambingmu memiliki susu?” Dia lalu mengambil seekor kambing dan memerah susunya kedalam sebuah gelas yang terbuat dari kayu. Saya juga memiliki sekantong air untuk nabi Minum dan berwudlu. Saya pun kembali mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Setelah beliau bangun saya sodorkan padanya susu tersebut dan mempersilahkan beliau untuk meminum susu itu, beliau bertanya “Sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan?” saya mengiyakan. Maka kami melanjutkan perjalanan setelah matahari condong ke arah barat. Sya dengar bahwa kaum Quraisy masih melanjutkan usaha mereka untuk mencari kami.

Namun tidak ada yang berhasil menemukan kami kecuali seseorang yang bernama Suraqah bin Malik yang melakukan pengejaran dengan menunggang kuda. Ketika saya melihatnya, saya sampaikan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Beliau berkata, “Jangan khawatir, Allah bersama kita.” Ketika orang itu semakin dekat dan hanya tersisa jarak satu atau dua anak panah, saya berkata, “Wahai Rasulullah, orang itu berhasil mengejar kita!” saya pun menangis. Rasulullah bertanya, “Kenapa engkau menangis?” Sambil terisak saya menjawab “Aku tidak menangisi diriku, tapi engkau yang saya tangisi wahai Rasulullah!” Beliau lantas berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, lindungi kami dengan cara apapun yang engkau kehendaki”. Tiba-tiba kedua kaki bagian depan kuda Suraqah terbenam ke dalam tanah, padahal tanah itu bebatuan yang keras.”

Kedua orang mukmin yang hijrah itu pun terus melanjutkan perjalanannya ke arah Madinah Munawwarah sementara Abu Bakar Ash-Shidiq terus berubaya melindungi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Terkadang dia berjalan di depan kalau-kalau ada yang akan menghadang, di lain waktu dia berjalan di belakang beliau karena khawatir ada yang mengejar. Hingga akhirnya dua bersahabat itu sampai ke Madinah dan langsung disambut oleh kaum Anshar yang sejak lama telah menantikan kedatangan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

5. Beberapa perang yang diikuti Abu Bakar

Sesampampainya di Madinah, yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam adalah mendirikan negara, meletakkan kaidah-kaidahnya, dan membangun tiang-tiang penyangganya. Semua itu tentu saja membuat tenggorokan kaum musyrikin Quraisy tercekat.

Terjadilah yang menorehkan kemenangan besar bagi tentara hak dan kekalahan telak atas tentara bathil dan para pendukungnya.

Dalam peristiwa itu Abu Bakar mempunyai peran yang besar. Para shahabat membuat sebuah kemah tempat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengatur strategi perang. Lalu mereka menugaskan seseorang yang mengawal beliau dari serangan kaum musyrikin. Ali bin Abi Thalib menceritakan hal itu di masa khalifahnya, saat berpidato didepan khalayak dia melempar pertanyaan kepada mereka, “Beritahu saya siapa orang yang paling berani?” Mereka menjawab, “Engkau orangnya wahai Amirul Mukminin.”

Ali berkata, “Memang saya setiap kali bertarung dengan seseorang selalu berhasil mengalahkannya, tapi saya ingin tahu siapa manusia yang paling berani?”

Semua orang menggeleng tidak tahu. Maka Ali menjelaskan, “orang itu adalah Abu Bakar. Pada saat perang Badar, kami membuat kemah untuk Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Lalu kami bertanya-tanya, siapa yang menemani Rasulullah dan melindunginya dari serangan kaum musyrikin? Demi Allah, tidak ada satupun dari kami yang berani mengajukkan diri selain Abu Bakar. Dengan pedang terhunus dia mengawal Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Setiap kali ada pasukan kaum musyrikin yang berusaha menyerang Rasulullah berhasil dikalahkan oleh Abu Bakar. Sungguh dia orang yang paling berani.”

Abu bakar juga ikut serta dalam perang Uhud. Dia termasuk kelompok yang bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Begitu juga perang khandaq dan Bai’atur-ridhwan yang dilakukan di bawah pohon. Ketika rasulullah menyepakati perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy, kaum muslimin merasa terpukul karena harus ekmabali ke Madinah tanpa melakukan umrah terlebih dahulu. Umar bin Khaththab bahkan mendatangi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam untuk menyatakan keberatannya atas syarat-syarat yang menurutnya amat merugikan kaum muslimin.

Umar berkata, “Saya menemui Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan melontarkan pertanyaan, “Bukankah engkau benar-benar Nabi yang diutus oleh Allah?” Rasulullah mengiyakan. Saya bertanya lagi, “Lalu kenapa kita merendahkan agama kita?”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menjawab, “Aku adalah utusan Allah, Aku tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia adalah penolongku.

Saya terus bertanya, “Bukankah engkau engkau pernah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Baitullah (Ka’bah) dan melakukan thawaf disana?”

Jawab Rasul, “Betul, tapi apakah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangi tahun ini?

Saya menjawab, “Tidak.”

Rasul berkata, “Engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf di sana.”

Saya pun beralih ke Abu Bakar dan bertanya padanya, “Wahai Abu Bakar, bukankah dia benar-benar Nabi utusan Allah?” Abu Bakar mengiyakan. Saya bertanya lagi, “Bukankah kita berada di jalan yang benar dan musuh kita di jalan yang salah?” Abu Bakar kembali mengiyakan. Saya terus bertanya, “Kalau begitu kenapa kita merendahkan agama kita?”

Kali Abu Bakar berkata, “Hai Umar, dia adalah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tidak mungkin dia melanggar perintah Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah penolongnya. Tetaplah taat kepadanya, demi Allah, dia berada di jalan yang benar.”

Saya terus bertanya, “Bukankah dia pernah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Baitullah (Ka’bah) dan melakukan thawaf di sana?”

Jawab Abu Bakar, “Betul, tapi apakah dia pernah mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?”

Saya menjawab, “Tidak.”

Abu Bakar berkata, “Engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf di sana.”

Ini merupakan salah satu keajaiban ilham, di mana jawaban Abu Bakar persis sama dengan jawaban Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

Abu Bakar juga selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada saat perang Khaibar, Fathu Makkah, perang Hunain, perang Tha’if, perang Tabuk, dan Haji wada’. Abu Bakar tetap bertahan bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pada saat yang lain melarikan diri pada peristiwa Hunain. Sedangkan pada perang Tabuk Rasulullah menyerakan kepadanya panji Islam.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah mengutus Abu Bakar sebagai pimpinan haji pada tahun kesembilan hijrah untuk memimpin orang-orang dalam melaksanakan haji. Kemudian Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib dengan permulaan surat Bara’ah dan menyuruhnya untuk menyeruhkan kepada khalayak di hari nahr (Idul Adha) saat semua orang berkumpul di Mina, “Sungguh orang kafir tidak akan masuk surga, orang musyrik tidak boleh melaksanakan haji di tahun depan, dan orang yang telanjang tidak boleh melakukan thawaf di baitullah.”

Ali pun berangkat menunggangi unta Rasulullah bernama Adhba’ dan menyusul Abu Bakar. Ketika Abu Bakar melihatnya, dia bertanya, “Apakah engkau datang sebagai pemimpin atau anggota” jawab Ali, “Sebagai anggota”. Maka keduanya melanjutkan perjalanan. Abu Bakar lalu melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin jamaah haji. Begitu juga Ali, dia menyeruhkan kepada khalayak apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

 

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.