Biografi Sahabat Nabi, Abu Ubaidah : Menyertai Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam (Seri 2)

B. Menyertai Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

1. Dari awal keislamannya hingga ke rumah Arqam dilanjutkan dengan dakwah secara terang-terangan.

Abu Ubaidah merasa senang dengan hidayah yang diperolehnya dari Tuhannya, yang ditunjuki oleh akalnya dan dipilih oleh hatinya, berupa pembenaran atas dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bergabungnya dia bersama para pendahulu. Jiwanya bersinar oleh sifat mulia yang diperolehnya dengan menyertai pemilik risalah untuk mengambil tempat di barisan pertama di antara para pembela dakwah yang menyeru kepadanya dan menebar berita gembira dengannya.

Keislamannya terjadi di masa-masa awal sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke rumah Al-Arqam bin Abil Arqam. Waktu itu dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, disambut oleh individu-individu dan sekelompok kecil dari orang-orang yang memilki fitrah yang bersih. Mereka menyelinap menerima Islam secara sembunyi-sembunyi sambil mewaspadai kaum Quraisy yang selalu mengikuti langkah mereka dan mewaspadai setiap tarikan nafas mereka.

Abu Ubaidah dan orang-orang bersamanya bergabung ke dalam panji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahap awal dakwah. Mereka menjalani fase sembunyi-sembunyi di bawah naungan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memperoleh pendidikan yang semestinya dan persiapan yang sempurna untuk mengemban panji risalah dengan tekad yang kuat serta penuh kesabaran dan keyakinan. Mereka pun memasuki lembaga pendidikan pertama dalam Islam, yaitu rumah Al-Arqam (Darul Arqam) dibawah naungan bukit shafa yang menghadap ke Ka’bah Al-Musyarrafah. Lemabaga pendidikan yang dipilihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Nabi-Nya itu menjadi sumber cahaya dakwah beliau dan tempat terbitnya hidayah. Di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk dikelilingi oleh sekelompok orang yang paling terdepan dalam menyambut datangnya hidayah dan kebenaran, mengajarkan mereka Al-Qur’an dan hikmah serta membersihkan hati mereka dan mendidik mereka dengan pendidikan yang dialaminya sendiri yang diperolehnya langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau pun memahamkan mereka soal agama dan menunjuki mereka ke jalan kebaikan, mengajarkan kepada mereka dengan petunjuknya, bicara dan diamnya, tentang kunci kesabaran, pengendalian diri, keberanian hati, kesucian batin, ketabahan menanggung bala, kemurahan hati, kelapangan hati dan sifat pemaaf, sebagai persiapan untuk menghadapi kesulitan hidup dan kerasnya tantangan di jalan iman dalam rangka mendakwahkan dan menyebarkannya ke seluruh alam.(Lihat Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam [2/156-157], karya Muhammad Ash-Shadiq).

Di tangan pendidik paling sempurna dan manusia paling mulia inilah Abu Ubaidah dan rekan-rekannya memperoleh pelajaran tentang keimanan, keikhlasan, pengorbanan, akhlak mulia, berpegang teguh pada hal-hal mulia, berusaha untuk mencapai kemuliaan, dan bertabiat dengan sifat-sifat yang luhur.

Di tangan pendidikan paling sempurna dan manusia paling mulia inilah Abu Ubaidah   dan rekan-rekannya memperoleh pelajaran tentang keimanan, keikhlasan, pengorbanan, akhlak mulia, berpegang teguh pada hal-hal mulia, berusaha untuk menciptakan kemuliaan, dan bertabiat dengan sifat-sifat yang luhur.

Di madrasah yang penuh keberkahan itu diasahlah kemampuan Abu Ubaidah, dibentuk akhlak dan sifatnya, diarahkan cita-cita dan tujuan hidupnya, dan sempurnalah kepribadiannya. Dia merupakan murid langsung dari Rasul paling mulia.

Dari sana Abu Ubaidah dengan jiwa mudanya dan semangat kaum mukminin, menjelma sebagai pembela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ikut mengemban bersama beliau panji dakwah, member kabar gembira dengannya, dan menyingkirkan berbagai rintangan yang menghalanginya, mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalam menempuh jalan dakwah ini, dia ditemani oleh sejumlah kaum mukminin yang segera beriman kepada agama yang lurus ini. Mereka tidak pernah lelah untuk menyampaikan cahaya Islam, hidayahnya, dan kebaikannya kepada manusia disekitar mereka untuk menyelamatkan mereka dari keburukan syirik dan kejahiliyahan.

Al-Waqidi meriwayatkan dari Ibnu Mauhab dari Ya’qub bin Utbah, dia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya mendakwahkan Islam secara terang-terangan dan beritanya mulai tersebar di Mekah, mereka mengajak satu sama lain. Abu bakar, Sa’id bin Zaid, dan Utsman berdakwah secara rahasia, sedangkan Umar, Hamzah, dan Abu Ubaidah Al-Jarrah berdakwah secara terang-terangan. Kaum Quraisy pun murka atas perbuatan mereka itu.

2. Meningkatnya penderitaan kaum muslimin dan hijrah ke Habasyah.

Para pejuang generasi pertama semakin bertambah. Setiap hari ada saja kelompok baru yang bergabung dengan  barisan pengemban dakwah. Mereka pun jadi bahan perbincangan di tempat perkumpulan kaum Quraisy, gaung keimanan mereka bergema di seantero Mekah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sekelompok kaum mukmini yang kuat mulai menyebarkan dakwah secara terang-terangan.

Para penolong kemusyrikan pun berkumpul untuk membahas persoalan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para pengikutnya. Mereka lalu merencanakan untuk menghalangi jalan dakwahnya setelah beliau melakukannya secara terang-terangan dan para shahabatnya berani masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat di Ka’bah. Mereka yakin, dengan begitu mereka akan menghentikan langkah Rasulullah dan para pengikutnya. Mereka pun menyiksa para shahabat Nabi yang memungkinkan untuk disiksa. Membiarkan mereka kehausan dan kelaparan, menjemur mereka di padang pasir Mekah, menimpakan pada mereka berbagai gangguan, untuk mengembalikan mereka pada agama nenek moyang mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meliahat apa yang dialami para shahabat beliau berupa gangguan dan siksaan yang di luar batas kemampuan manusia untuk menahannya. Beliau lalu menyerankan kepada mereka untuk menghindar ke sebuah negeri agar memperoleh jaminan keamanan dan dapat menjalankan ibadah dengan leluasa serta dapat mempertahankan akidah mereka. Beliau lalu memberitahu mereka bahwa di Habasyah ada seorang raja yang adil.

Sekelompok shahabat lalu berhijrah ke sana, diikuti oleh kelompok kedua yang jumlahnya lebih banyak. Abu Ubaidah ikut serta dalam kelompok yang kedua ini.
Ibnu Sa’ad berkata, “Abu Ubaidah hijrah ke Habasyah bersama kelompok yang kedua.

3. Kembali ke Mekah

Abu Ubaidah tinggal di Habasyah hanya sebentar. Jiwanya yang dipenuhi oleh keimanan dan rasa cinta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam serta pengorbanan dan kesabaran tidak membuatnya rela berlama-lama di negeri itu.
Adz-Dzahabi berkata, “Meski Abu Ubaidah ikut Hijrah ke Habasyah, namun dia tidak tinggal lama disana.”

Maka Abu Ubaidah pun segera kembali ke Mekah untuk melanjutkan hidup di bawah naungan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mendapat pelajaran hikmah, menggali ilmu, menambah keimanan, dan menyerap akhlak. Sehingga dia memperoleh kemuliaandan ketenangan batin serta kekuatan iman dan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, yang di perolehnya dari lembaga pendidikan terbaik di bawah asuhan pendidik paling agung.

4. Hijrah ke Madinah dan persaudaraan kaum muslimin

Abu Ubaidah senantiasa berjalan beriringan dengan dakwah Islam di Mekah Al-Mukarramah. Semangatnya tumbuh bersama tumbuhnya dakwah dan keteguhan hatinya bertambah seiring bertambahnya pengikut dan penolong dakwah. Setelah peristiwa bai’atul Aqabah Al-Kubra dan kesiapan kaum Anshar untuk membuka daerah mereka, Yatsrib sebagai tempat berlindungnya dakwah dan para pendakwah, maka dakwah pun segera beralih dari kehidupan yang sempit menuju kehidupan yang lapang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membertahu para shahabat beliau, “Saya telah menemukan tempat yang tepat untuk kalian hijrah, yaitu Yatsrib. Maka siapa yang mau silakan berangakat ke sana.” Izin untuk hijrah ini sengat sejalan dengan keinginan para shahabat, maka mereka pun berangakat ke sana baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ashim bin Umar bin Qatadah, dia berkata, “Ketika Abu Ubaidah bin Al-Jarrah hijrah dari Mekah ke Madinah, dia menumpang di rumah Kultsum bin Al-Hidm.”

Kaum Anshar menyambut saudara mereka kaum muhajirin dengan sambutan yang sangat baik. Meeka menyambutnya dengan rasa cinta dan penghormatan, dan menadhulukan kepentingan saudaranya sendiri dari pada mereka sendiri. Mereka pun berhak atas apa yang digambarkan oleh Al-Qur’an, “Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga darinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Harsy [59]: 9).

Abu Ubaidah menumpang di rumah seorang shahabat Anshar yang mulia, Kultsum bin Hidm bersama beberapa shahabat Nabi lainnya, seperti Al-Miqdad bin Amr, Khabbab bin Al-Art, Suhail bin Baidha’, dan lainnya.

Di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyusun kaidah-kaidah masyarakat yang baru dan salah satu kaidah terpenting adalah mempersaudarakan antara kaum muslimin dalam rangka membentuk struktur masyarakat muslim yang baru. Beliau lalu mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar atas dasar cinta karena Allah. Beliau bersabda kepada para shahabatnya, “Saling bersaudaralah karena Allah dua orang dua orang.” Abu Ubaidah bersaudara dengan Abu Thalhah Al-Anshari.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Rasulullah mempersaudarakan antara Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan Abu Thalhah.”
Dalam persaudaraan itu, kaum Anshar menunjukkan ketulusan hati mereka dalam mencintai saudara-saudara mereka dari kaum Anshar. Seluruh rasa cinta dan penghormatan yang mereka miliki diberikan pada saudara mereka. Bahkan mereka mendahulukan kepentingan saudaranya dengan cara yang tidak ada bandingnya sepanjang perjalanan sejarah.

5. Berbagai perang yang diikuti Abu Ubaidah bersama Rasulullah

Abu Ubaidah senantiasa mengiringi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sepanjang masa risalah baik di Mekah maupun di Madinah. Dia tidak pernah berpisah dengan beliau kecuali dalam waktu yang pendek, yaitu ketika dia hijrah ke Habasyah, lalu dia segera kembali ke Mekah untuk kembali menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dia sangat menikmati belajar Al-Qur’an langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, mendengarkan hadits-haditsnya, menyerap akhlak kenabian, dan mengikuti petunjuknya.
Setelah hijrah ke Madinah, Abu Ubaidah senantiasa ikut serta bersama Rasulullah dalam berbagai peristiwa. Dia tidak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah. Bahkan dia memiliki peran yang luar biasa dalam berbagai peperangan tersebut.

6. Pada perang Badar

Pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H bertemu dua pasukan, pasukan kaum muslimin dengan kekuatan imannya meski jumlahnya sedikit dan persiapan seadanya menghadapi pasukan kafir yang tenggelam dalam kesesatannya dengan jumlah yang banyak dan persiapan yang matang. Roda sejarah berhenti sejenak untuk menorehkan akhir kehidupan yang hina bagi kemusyrikan dan para penolongnya serta semakin majunya perjalanan kehidupan kemanusiaan yang mulia mengantarkan kepada dunia iman, petunjuk, keadilan, rahmat, persaudaraan, dan kasih sayang.

Pada peristiwa yang merubah perjalanan sejarah itu sekelompok kaum mukminin berjuang bersama Nabi mereka untuk mempertahankan akidah dan masyarakat iman dan tauhid. Di barisan terdepan terdapat sahabat kita Abu Ubaidah. Dia pun memperoleh perhargaan tertinggi sebagai Ahli Badar yang ditambahkan atas berbagai penghargaan yang diraihnya sebelumnya, yaitu sebagai kelompok yang paling awal masuk Islam, yang bersabar di Mekah, yang hijrah ke Habasyah lalu ke Madinah.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’ Az-Zuraqi, yang ikut serta dalam perang Badar, dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bertanya, “Bagaimana kalian menganggap mereka yang ikut perang Badar?” Jawab Nabi, “Mereka merupakan kaum muslimin paling utama.” Jibril berkata, “Begitu juga dengan malaikat yang ikut serta dalam perang Badar.”

Berbagai kitab tafsir, kitab sejarah, dan biografi menerangkan bahwa ayah Abu Ubaidah ikut bersama pasukan kaum musyrikin pada saat perang Badar. Maka Abu Ubaidah langsung menghadapinya dan berhasil membunuhnya.

Al-Hakim, Abu Nu’aim, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Dhamrah bin Rabi’ah, dari Abdullah bin Syaudzab, dia berkata, “Ayahnya Abu Ubaidah senantiasa mengejar putranya dalam perang Badar, namun Abu Ubaidah berusaha menghindar. Ketiak ayahnya terus mengejar, Abu Ubaidah pun menghadapinya dan berhasil membunuhnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat ini ketika Abu Ubaidah membenuh ayahnya dalam perang Badar, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapat suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22).

Perawi hikayat tersebut adalah Abdullah bin Syaudzab, seorang yang terpercaya, namun sanad haditsnya terputus, sehingga riwayat tersebut di pandang lemah. Ibnu Syaudzan lahir pada tahun 88 H, 86 tahun setelah perang Badar, dan dia tidak memiliki sanad yang tersambung.

Muhammad bin Umar Al-Waqidi mengingkari bahwa ayah Abu Ubaidah hidup pada masa Islam dan mengingkari pendapat penduduk Syam yang menyatakan bahwa Abu Ubaidah menghadapi ayahnya dalam suatu peperangan dan membunuhnya. Dia berkata, “Saya bertanya kepada beberapa orang dari Bani FIhr, diantara  Zufar bin Muhammad, mereka menjawab, “Ayah Abu Ubaidah wafat sebelum datangnya Islam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan kisah ini dalam kitab Fathul Bari dan memposisikannya sebagai riwayat yang dhaif (lemah). Dia berkata dalam penjelasan sifat  Abu Ubaidah, “Ayahnya terbunuh dalam keadaan kafir pada perang Badar. Ada yang mengatakan bahwa Abu Ubaidah yang membunuhnya. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan yang lain dari jalur Abdullah bin Syaudzab secara mursal.

Imam Al-Baihaqi menyebutkan berita ini dan diujungnya dia menyatakan, “Hadits ini terputus.” Dengan demikian, berita tersebut tidak shahih dari segi sanadnya.

Berita ini pun tidak shahih dari segi matannya. Menurut Al-Waqidi, ayah Abu Ubaidah telah wafat sebelum diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, berdasarkan berita sebagian bani Fihr. Mereka tentu lebih mengetahui hal itu. Di samping itu, perawi berita tersebut, Abdullah bin Syaudzab adalah orang Syam dan berita itu tersebar di Syam, padahal kejadiannya di Hijaz dan orang-orang Hijaz tidak tahu mengenai hal itu. Jika memang peristiwa itu terjadi, pasti mereka telah meriwayatkannya dan para perawi berita setelah mereka pasti akan menuliskannya.

Pena salah seorang sastrawan (Sastrawan yang dimaksud adalah Abdurrahman Ra’fat Al-Basys, di dalam kitabnya “Syurah Min Hayah Ash-Shahabah”) terlalu berlebihan ketika menggambarkan sebuah situasi bergaya sastra terkait hikayat tersebut, sehingga dia menyatakan, “Sesungguhnya Abu Ubaidah hanya berjarak satu hasta dari ayahnya, maka dia memukul kepala ayahnya dengan pedangnya hingga kepala tersebut terbelah menjadi dua, lalu sang ayah tersungkur di hadapannya.”

Bagaimana kita memposisikan cerita tersebut dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik?” (QS. Luqman [31]: 15) Ayat ini menggambarkan tentang seorang ayah yang musyrik dan berusaha untuk mengeluarkan anaknya dari agamanya dan menjadikannya musyrik juga, meski demikian, ayah tersebut menyuruh sang anak untuk berprilaku baik terhadap si ayah bahkan hendaknya mempersembahkan kebaikan padanya. Bagaimana menyelaraskan hal ini dengan apa yang disangka oleh kisah-kisah tersebut? Apakah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendidik para shahabatnya untuk bersikap kasar terhadap orang tua mereka yang musyrik? Bukankah beliau melarang shahabat Abdullah bin Abdullah bin Ubay untuk membunuh ayahnya  yang merupakan pemimpin kaum munafik? Bukankah beliau menasihati istrinya Ummu Habibah binti Abu Sufyan untuk bersikap baik kepada ayahnya pada saat Ummu Habibah melipat kasur yang akan diduduki Abu Sufyan ketika datang untuk meminta maaf atas pelanggaran Quraisy terhadap perjanjian damai Hudaibiyah?

Tidak ada keutamaan bagi Abu Ubaidah dalam hikayat tersebut hingga kita memasukkannya dalam biografinya dan memujinya karenanya.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel http://www.SahabatNabi.com

Leave a Reply