Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Syahid nya Ali (Seri 8)

F. SYAHIDNYA ALI, UNGKAPAN DUKA CITA, DAN KELUARGANYA

1. Pemberitaan nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tentang pembunuhan Ali
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memberi tahu Ali bahwa dia akan dibunuh. Jabir bin Samurah menceritakan, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Ali, “Siapa yang paling celaka di kalangan orang-orang terdahulu?” Ali menjawab, “Para penyembelih unta (pada masa Nabi Shalih).” Nabi bertanya lagi, “Siapa yang paling celaka di kalangan orang-orang kemudian?” Jawab Ali, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Yaitu orang yang membunuhmu.”

Diriwayatkan dari Ali Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepadaku, “Sesungguhnya umat akan menghianatimu setelahku, sedangkan engkau akan hidup diatas agamaku dan engkau akan dibunuh diatas sunnahku. Siapa yang mencintaimu berarti dia mencintaiku dan siapa yang membencimu berarti dia membenciku. Sesungguhnya ini (jenggot Ali) akan belumuran darah dari ini (kepala Ali).”

Ali sangat meyakini pemberitahuan Nabi tersebut. Suatu kali dia jatuh sakit, lalu datanglah sekelompok orang Khawarij mengatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya engkau akan meninggal!” Ali membantah, “Tidak, demi Allah, akan tetapi saya terbunuh akibat pukulan di kepala yang darahnya melumuri jenggot. Suatu janji yang telah dibuat dan keputusan yang telah ditetapkan. Maka rugilah orang yang mengarang-ngarang cerita!”

Diriwayatkan dari Ali juga, “Ini (jenggotku) akan dilumuri darah dari kepalaku, apa yang ditunggu-tunggu oleh orang yang paling celaka?” Para shahabat berkata, “Wahai Amirul mukminin, beritahu kami orangnya, agar kami binasakan keturunannya.” Ali berkata, “Kalau begitu, demi Allah, kalian akan membunuh karenaku orang yang tidak membunuhku.” Mereka berkata, “Tunjuklah orang yang menggantimu sebagai pemimpin kami.” Ali menjawab, “Tidak, akan tetapi saya akan meninggalkan kalian pada apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah kepada kalian.” Mereka bertanya, “Apa yang akan kau katakan pada Tuhanmu ketika bertemu dengan-Nya?” Jawab Ali, “Saya akan berkata, Ya Allah hamba meninggalkan Engkau untuk mereka, jika Engkau berkehendak, maka Engkau akan memperbaiki kedaan mereka, dan jika Engkau berkehendak, maka Engakau akan merusak keadaan mereka.”

Memasuki bulan Ramadhan, Ali makan malam sekali di rumah Hasan, sekali di rumah Husein, dan sekali di rumah Abdullah bin Ja’far, tidak lebih dari tiga suapan. Ali berkata, “Akan datang ketatapan Allah dan saya dalam keadaan perut kosong. Waktunya hanya tersisa satu atau dua malam lagi!”

Ajal yang telah ditentukan semakin dekat. Ketika dia shalat di masjid, datang padanya seorang laki-laki dari kabilah Murad berkata padanya, “Berhati-hatilah, orang dari kabilah Murad bermaksud membunuhmu!” Ali berkata, “Sesungguhnya bersama setiap orang ada dua malaikat yang akan menjaganya dari apa-apa yang tidak ditakdirkan padanya. Maka apabila datang takdirnya, keduanya akan membiarkan antara orang itu dan takdirnya. Sesungguhnya ajal itu perisai yang melindungi.”

2. Rencana jahat dan syahidnya Ali
Di suatu tempat di tengah kegelapan; kegelapan malam, kegelapan kesesatan, dan kegelapan beribadah yang menyimpang, tiga orang Khawarij berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, Al-Burak bin Abdullah bin At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi. Mereka berkumpul di Mekah dan menyebut-nyebut pembunuhan Ali terhadap saudara-saudara mereka dari penduduk Nahrawan. Timbullah rasa kasihan di hati mereka sehingga mereka sepakat untuk membunuh Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin Ash. Ibnu Muljam berkata, “Saya akan membunuh Ali.” Al-Burak berkata, “Saya akan membunuh Mu’awiyah.” Sedangkan Amr bin Bakr berkata, “Saya akan membunuh Amr bin Ash.” Mereka sepakat untuk menjalankan aksi mereka pada tanggal 17 Ramadhan. Masing-masing akan bermalam di daerah target mereka tinggal.

Ibnu Muljam berangkat ke Kufah untuk melaksanakan rencana jahat tersebut. Sesampainya di sana, ikut bergabung dengannya seorang laki-laki dari Bani Rabab yang bernama Wardan dan satu lagi bernama Syubaib bin Bahara Al-Haruri. Mereka bertiga mendatangi rumah Amirul mukminin Ali membawa pedang masing-masing. Mereka bersembunyi di seberang pintu tempat Ali biasa keluar. Ketika Ali keluar membangunkan orang-orang untuk shalat, Syubaib langsung menyergap Ali dan memukul pedang ke arahnya, namun pukulannya meleset. Lalu Ibnu Muljam memukulkan pedang ke arah sisi kepala Ali dan mengenainya. Mengalirlah darah dari kepala Ali hingga membasahi jenggotnya. Saat Ibnu Muljam memukul Ali, dia berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu hai Ali, bukan juga milik para shahabatmu. Lalu dia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(QS. Al-Baqarah [2]: 207).

Ali lantas berseru, “Tangkap mereka!”Wardan langsung berusaha melarikan diri namun berhasil ditangkap oleh seorang laki-laki dari Hadhramaut dan langsung membunuhnya. Sedangkan Syubaib berhasil lolos dari kepungan massa, sementara Ibnu Muljam berhasil ditangkap dan dibawah ke hadapan Ali. Lalu Ali memerintahkan Ja’dah bin Hubairah untuk mengimami shalat Subuh.

3. Wafatnya Ali, pemakamannya, usia, dan masa kekhalifahannya
Ali Radiyallahu ‘Anhu mengalami penusukan pada hari Jum’at waktu Subuh tanggal 17 Ramadhan 40 H. Dia masih sempat hidup pada hari Jum’at dan malam Sabtu, lalu meninggal dunia pada pada malam Ahad tanggal 19 Ramadhan.

Anak-anak Ali mendatangi Ibnu Muljam dan membunuhnya, ruhnya pergi menemui Tuhannya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dosanya.

Jenazah Ali dimandikan oleh kedua anaknya, Hasan dan Husain, serta Abdullah bin Ja’far. Lalu mereka mengkafaninya dengan tiga helai kain tanpa baju. Yang menjadi imam shalat jenazahnya adalah Hasan, putra tertuanya. Selanjutnya Ali dimakamkan di rumah khalifah di Kufah, khawatir sekelompok Khawarij akan membongkar makamnya.

Ibnu Katsir berkata, “Siapa yang berkata bahwa jenazah Ali dibawa dengan binatang tunggangannya lalu dibawa entah ke mana, sungguh pendapat yang salah dan tidak berdasarserta tidak dapat diterima akal maupun syariat. Sedangkan keyakinan mayoritas kaum Rafidah yang menyatakan bahwa makamnya di Masyad An-Najaf, tidak memiliki bukti dan tidak jelas asal usulnya. Bahkan ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud oleh mereka itu adalah makamnya Al-Mughirah bin Syu’bah.

Usia Ali saat mati syahid adalah 63 tahun, masa kekhalifahannya 4 tahun 9 bulan.

4. Ungkapan duka atas wafatnya Ali
Dari Huabirah bin Yarim, dia berkata, “Hasan bin Ali berkhutbah dihadapan kami, dia berkata, “Telah meninggalkan kalian seorang laki-laki kemarin yang tidak ada seorang pun melebihi kapasitas keilmuannya dari kalangan orang-orang terdahulu dan tidak juga dari kalangan orang-orang kemudian. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah menyerahkan panji peperangan padanya, jibril di sebelah kanannya, Mikail di sebelah kirinya, dia tidak mundur sampai Allah berikan kemenangan untuknya.”

Saat berita kematian Ali sampai ke telinga Aisyah Ummul mukminin, dia menyampaikan ungkapan duka yang mendalam.

Putrinya Ummu Kultsum berkata, “Ada apa antara saya dan waktu shalat Subuh? Suami saya Umar Amirul mukminin dibunuh pada saat shalat Subuh, ayah saya Ali, dibunuh pada saat shalat Subuh.”

Abu Al-Aswad Ad-Du’ali, seorang tabiin terkemuka yang juga merupakan murid Ali juga menyampaikan ungkapan duka lewat untaian syair yang digubahnya.

5. Istri dan anak Ali
Ali memiliki banyak istri. Ada yang meninggal saat dia masih hidup dan ada juga yang diceraikan. Saat Ali meninggal, dia meninggalkan 4 orang istri. Istri pertamanya adalah Fathimah putri Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Selama Fathimah masih hidup, Ali tidak menikah dengan wanita lain. Setelah Fathimah wafat, Ali menikah dengan banyak perempuan, yaitu Khaulah binti Ja’far, Laila binti Mas’ud, Ummul Banin binti Hizam, Asma’ binti Umais, Ash-Shahba’ Ummu Habib binti Rabi’ah, Umamah binti Abil Ash bin Ar-Rabi’, Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, dan Muhayyah binti Umru’il Qais, serta beberapa ummul walad (budak).

Ali memiliki lima belas orang putra, yaitu Hasan, Husain, Muhsin, Muhammad yang terkenal dengan Ibnu Al-Hanafiyah, Ubaidillah, Abu Bakar, Abbas Al-Akbar, Utsman, Ja’far Al-Akbar, Abdullah, Muhammad Al-Awsath, Muhammad Al-Ashghar, Yahya, Aun, dan Umar Al-Akbar.

Sedangkan putrinya ada sembilan belas orang, yaitu Zainab Al-Kubra, Ummu Kultsum Al-Kubra, Ruqayyah, Ummul Hasan, Ramlah Al-Kubra, Ummu Hani’, Maimunah, Zainab Ash-Sughra, Ramlah Ash-Shughra, Ummu Kultsum Ash-Sughra, Fatimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu Salamah, Ummu Ja’far, Jumanah, Nafisah, dan seorang perempuan yang tidak diketahui namanya.

6. Warisan Ali
Saat Ali Radiyallahu ‘Anhu meninggal dunia, dia tidak meninggalkan warisan apa-apa selain uang sebanyak 700 dirham yang ditabungnya untuk membeli budak untuk dijadikan pembantu. Dia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan mewakafkan banyak harta agar menjadi shadaqah jariyah abginya, hingga hasil dari harta wakafnya mencapai 40 ribu dinar.

7. Kepergian sang Imam
Imam Ali pergi menuju kampung akhirat setelah mengalami penusukan pada waktu Subuh tanggal 17 ramadhan, pada saat yang sama di mana Ali Radiyallahu ‘Anhu menikam orang-orang kafir dan mengalahkan musuh-musuh Islam pada perang Badar.
Ali bin Abi Thalib pergi setelah menorehkan banyak kisah kemuliaan dan kepahlawanan sepanjang perjalanan hidupnya. Dia pun telah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, melahirkan banyak ulama dan imam. Kehidupan setelah kepergiannya laksana matahari yang bersinar dan menempati posisi yang mulia dari kehidupan manusia, serta menarik berbagai sifat kepahlawanan, keberanian, keimanan, kejujuran, keikhalasan, dan kemuliaan.

Jasad Ali telah pergi, namun kemuliaan dan keutamaannya tetap hidup sebagai teladan bagi setiap muslim yang mencintai Allah, Rasul-Nya, dan para shahabat beliau yang mulia.
Ali meninggalkan dunia untuk memasuki alam lain dari pintu yang sangat luas, yaitu pintu para syuhada dan orang-orang yang benar. Setelah menghadapi berbagai ujian dan kesulitan yang berusaha menggerus kesabarannya dan kesibukannya dari tujuan hidup yang mulia, namun dia tidak lepas dari kesabaran hingga dia menemui ajalnya dalam kondisi terbaik. Dia mengucapkan salam perpisahan pada dunia diiringi lantunan istighfar di waktu Subuh, dia pergi menghadap Tuhannya dalam kedaan berpuasa agar memperoleh minuman yang membuatnya tidak merasa haus lagi untuk selamanya.
Telah meninggal dunia Ali bin Abi Thalib, seorang ahli fikih dan ahli ibadah, seorang ulama yang mengamalkan ilmunya, ahli ibadah yang bertakwah, sosok yang wara’ dan bersih, pemberani yang senantiasa berada dibarisan terdepan, pembawa panji Nabi dan kaum Muhajirin. Ali telah meninggal dunia dan meninggalkan berbagai pelajaran mengenai keikhlasan, wara’, ketakwaan, ibadah, ilmu, fikih, kepahlawanan, dan keberanian, sehingga telah hidup dalam kenangan kaum muslimin yang mencintainya dan orang-orang yang membac akisah perjalanan hidupnya yang bersih.

Maka selamat jalan untukmu wahai Imam Ali, semoga berbagai amalan yang engkau torehkan memperoleh keberkahan, alangkah indahnya akhir perjalanan hidup yang engkau dapatkan. Semoga engkau menempati kedudukan yang mulia di surga, di sisi Nabimu, ayah dari istrimu, dan putra pamanmu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.

S e l e s a i  . . .

One reply on “Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Syahid nya Ali (Seri 8)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.