Categories
Ali Bin Abi Thalib

Biografi Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib : Kedudukannya di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam (Seri 4)

4. Syair Ali
Ali suka membaca syair dan memiliki pandangan positif tentang syair. Bahkan ada kumpulan syair yang dianggap sebagai karya Ali sehingga dinamakan Diwan Ali bin Abi Thalib. Diwan ini meliputi cukup banyak kasidah, namun hanya sedikit yang benar-benar merupakan karya Ali. Sedangkan mayoritas isinya merupakan sisipan.

5. Kecerdasan dan firasat Ali
Di atas semua yang telah di sebutkan tadi, Ali di kenal cerdas dan jenius. Suatu hari seseorang yang membencinya datang padanya dan memujinya secara berlebihan. Maka Ali berkata padanya, “Saya tidak seperti yang engkau ucapkan, saya di atas apa yang ada pada dirimu.”

Pada kesempatan lain, seseorang yang membencinya juga berkata padanya, “Semoga Allah menetapkanmu.” Ali segera menjawab, “Di atas dadamu.”

Seseorang berkata padanya, “Kenapa pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar situasi begitu tenang sedangkan masa kekhalifahanmu dan Utsman suasana menjadi keruh?” Jawab Ali, “Ketika Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, saya dan Utsman membantunya. Sementara engkau dan orang seperti engkau yang membantu saya dan Utsman.”

Seorang Yahudi datang menemuinya dan berkata, “Setelah kepergian Nabi kalian, hanya dalam jangka waktu dua puluh sekian tahun kalian saling membunuh satu sama lain.” Ali menjawab, “Kalian, belum lagi kering kaki kalian dari air laut (merah), kalian menuntut Musa dengan mengucapkan, “Hai Musa, buatkanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka memiliki banyak tuhan.”

6. Mendapat kabar gembira berupa surga
Berbagai kelebihan tersebut ditambah dengan sifatnya yang mulia, posisinya sebagai orang yang paling pertama memeluk Islam, pengorbanannya di jalan Islam, dan kecintaannya kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan kepatuhannya kepada beliau membuat Ali pantas untuk menjadi orang yang pertama masuk surga Firdaus. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan kabar gembira tersebut di berbagai kesempatan dalam banyak ucapannya.

Dalam hadits Sa’id bin Zaid disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sepuluh orang akan masuk surga, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali…..” hingga beliau menyebutkan sepuluh nama.

Jabir bin Abdullah meriwayatkan, “Saya berkunjung bersama Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam ke rumah seorang perempuan, lalu dia menyembelih seekor kambing untuk kami. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata, “Akan masuk seorang ahli surga.” Maka masuklah Abu Bakar Radiyallahu ‘Anhu. Lalu beliau berkata lagi, “Akan masuk seorang ahli surga.” Maka masuklah Umar Radiyallahu ‘Anhu. Kemudian beliau berkata, “Akan masuk seorang ahli surga, Ya Allah, jika Engkau menghendaki jadikanlah orang ini Ali.” Maka masuklah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu.

Ali Radiyallahu ‘Anhu pernah berkata, “Ketika Rasulullah memgang tanganku di salah satu penjuru Madinah, kami melewati sebuah kebun. Saya lantas berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah indahnya kebun ini.” Beliau enjawab, “Engkau memiliki yang lebih baik dari itu di surga.”

7. Kedudukannya di sisi Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam
Ali menempati posisi yang mulia di sisi Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam karena banyak kebijakannya, besar jasanya, dan berbagai keutamaannya serta hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Banyak hadits yang menyatakan hal tersebut, sehingga Imam Ahmad berkata, “Tidak ada riwayat tentang keutamaan seorang shahabat dengan sanad yang baik seperti yang diriwayatkan tentang keutamaan Ali Radiyallahu ‘Anhu.” Hal ini terjadi karena Ali Radiyallahu ‘Anhu hidup lebih lama daripada khalifah pendahulunya, ditambah lagi adanya perselisihan di masanya dan adanya kelompok yang membelot darinya. Para shahabat pun meriwayatkan keutamaan Ali sebagai balasan atas mereka yang melawannya dan orang-orang berusaha mencari berbagai keutamaan tersebut hingga riwayat-riwayatnya tersebar di kalangan umum.

Bukti yang paling nyata tentang keutamaan kedudukan Ali di hati Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam adalah beliau menikahkannya dengan putri beliau Fathimah, pemimpin kaum wanita ahli surga dan keluarga yang paling beliau cintai. Dia pun menjadi menantu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan termasuk keluarga beliau. Ketika turun ayat, “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu.”(QS.Ali Imran [3]: 61). Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memanggil Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein lalu berkata, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengambil pakaiannya dan meletakkannya di atas Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein lalu membaca, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlu bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(QS. Al-Ahzab [33]: 33), kemudian berkata, “Mereka adalah keluargaku, Ya Allah, keluargaku lebih berhak.”

Suatu ketika Rasulullah memegang tangan Hasan dan Husein, lalu berkata, “Siapa yang mencintaiku dan mencintai dua anak ini, ayah, dan ibunya, akan bersamaku pada hari kiamat.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam selesai meleksanakan haji Wada’ dan berangkat menuju Madinah, beliau berkhutbah di suatu tempat bernama Ghadir Khum . Dalam khutbah tersebut beliau menjelaskan keutamaan Ali Radiyallahu ‘Anhu, beliau memegang tangannya lalu berkata, “Siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka orang ini adalah walinya. Ya Allah, tolonglah orang yang mencintainya, Ya Allah musuhilah orang yang memusuhinya.”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyeru umat ini untuk mencintai Ali dan menghormatinya, hingga beliau menjadikan kecintaan padanya sebagai tanda kesungguhan iman seseorang dan terbebasnya dia dari sifat munafik. Beliau berkata, “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan oarang mukmin tidak akan membenci Ali.”
Ali sendiri menceritakan hal itu, dia berkata, “Demi Allah, janji Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepadaku, “Tidak akan mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak akan membenciku kecuali orang munafik.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berangkat menuju Tabuk, beliau memerintahkan Ali untuk tetap tinggal di Madinah. Muncul tuduhan miring dari orang-orang yang suka menyebar berita dusta. Maka Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan sabdanya kepada Ali, “Posisimu dariku seperti Harun dari Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”

Pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam masih hidup, beliau memerintahkan untuk menutup semua pintu yang dibuka ke arah Masjid Nabawi kecuali pintu rumah Ali. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memerintahkan kepada kami untuk menutup pintu-pintu yang mengarah ke Masjid Nabawi dan membiarkan pintu Ali.” Hal itu karena Fathimah binti Rasulullah membutuhkannya untuk pergi ke rumah ayahnya.

Ali memperoleh keberkahan doa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dalam banyak kesempatan. Pada perang Khaibar, Ali mengeluhkan sakit pada matanya. Maka Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memanggilnya, meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Maka mata Ali pun sembuh seketika.

Di samping itu, Ali Radiyallahu ‘Anhu termasuk salah seorang penulis wahyu. Dia juga menulis surat, piagam, dan surat perjanjian di hadapan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Dialah yang menulis poin-poin perjanjian damai Hudaibiyah.

Ali pernah mengenakan selimut Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pada malam hijrahnya beliau. Dia tidur di tempat tidur beliau dan mempertaruhkan jiwanya untuk beliau. Ali juga ikut serta dalam perang Badar, sementara Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah berkata kepada Umar, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah memberikan keringanan kepada orang-orang yang ikut dalam perang Badar dan berfirman, “Berbuatlah sesuka kalian, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian?” Di samping itu Ali pun ikut dalam peristiwa Bai’atur ridwan. Dengan demikian dia termasuk golongan orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon.” (QS. Al-Fath [48]: 18 ).

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam pun bersabda, “Tidak akan masuk neraka seorang pun yang berbai’at di bawah pohon.”

Ali juga ikut dalam perang Khaibar. Pada perang itu Ali mendapat kemuliaan yang tidak ada duanya, karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mengatakan, “Saya akan memberikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan sebaliknya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya, dia tidak akan lari dan Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya.” Ternyata orang itu adalah Ali bin Abi Thalib.

8. Kedudukan di sisi para shahabat
Para shahabat yang mulia mencintai Ali karena berbagai keutamaannya, karena dia orang yang pertama masuk Islam, dan karena kekerabatannya dengan Rasulullah. Mereka memposisikan Ali seperti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memposisikannya.

Abu Ya’la meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Umar berkata, “Ali diberi tiga keutamaan, jika aku memperoleh satu saja dari ketiga keutamaan dari keutamaan itu lebih aku sukai dari unta merah.” Umar ditanya, Apakah tiga keutamaan itu wahai Amirul mukminin?” Umar menjawab, “Pernikahannya dengan Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, tinggalnya di masjid bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dia boleh melakukan di sana apa yang boleh dilakukan Nabi, dan panji pada perang Khaibar.”

Ketika sekelompok orang mencela Ali di hadapan Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’ad berkata, “Sungguh saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam berkata mengenai tiga keutamaan Ali, jika aku memperoleh satu saja dari tiga keutamaan itu lebih aku sukai dari unta merah. Saya mendengar beliau bersabda, “Sesungguhnya posisi Ali denganku seperti posisi Harun dengan Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” Saya juga mendengar beliau bersabda, “Sungguh saya akan berikan panji pada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan sebaliknya Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Lalu saya mendengar beliau bersabda, “Siapa yang menjadikan aku sebagai walinya maka Ali adalah walinya.”

Qais bin Abi Hazim berkata, “Waktu itu saya sedang di Madinah. Ketika saya sedang berkeliling di pasar, saya melihat orang-orang mengerubungi seorang penunggang kuda yang sedang mencela Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu. Tiba-tiba datang Sa’ad bin Abi Waqqash dan berhenti dikerumunan itu. Dia bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ada orang yang mencela Ali bin Abi Thalib.” Maka Sa’ad maju dan menerobos kerumunan hingga sampai ke tempat orang itu. Lalu dia berkata, “Hai fulan, atas dasar apa engkau mencela Ali? Bukankah dia orang yang pertama masuk Islam? Bukankah dia orang yang pertama yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam? Bukankah dia orang yang paling zuhud? Bukankah dia orang yang paling berilmu?” Sa’ad terus menyebut keutamaan Ali hingga dia berkata, “Bukankah dia menantu Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam? Bukankah dia pembawa panji Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam berbagai peperangan?” Kemudian Sa’ad menghadap ke kiblat dan mengangkat tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, orang ini mencela salah seorang wali-Mu, maka tampakkanlah kekuasaan-Mu pada mereka sebelum mereka meninggalkan tempat ini.” Qais berkata, “Demi Allah, sebelum kami meninggalkan tempat itu, tiba-tiba kuda orang itu terperosok hingga orang itu terlempar ke bebatuan, kepalanya pun pecah dan orang itu tewas ditempat.”

Dalam kesempatan lain, seseorang menghina Ali di hadapan Sa’id bin Zaid Radiyallahu ‘Anhu. Sa’id pun menghardiknya dan menyampaikan kepada orang-orang hadits tentang sepuluh orang yang dijamin masuk surga, maka dia menyebut Ali orang keempat. Kemudian Sa’id berkata, “satu peperangan yang diikuti oleh mereka bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam hingga wajah mereka tertutup debu, jauh lebih baik dari amalan salah seorang dari kalian sepanjang umurnya, meskipun dia diberi umur yang panjang seperti Nuh.”

Mu’awiyah bertanya kepada Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhuma tentang keutamaan Ali. Ibnu Abbas menjawab, “Semoga Allah merahmati Abu Hasan. Demi Allah dia adalah pemilik ilmu yang benar, orang yang bertakwa, orang yang cerdas, pemilik setumpuk keelokan, cahaya bagi orang yang berjalan di kegelapan malam, penyeru kepada tujuan yang agung, mengetahui apa yang terdapat di dalam kitab-kitab terdahulu, menguasai takwil, terhubung dengan sebab-sebab petunjuk, meninggalkan kedzaliman dan tindakan yang menyakiti orang lain, menjahui jalan menuju kebinasaan, yang terbaik di kalangan oarang yang beriman dan bertakwa, pemuka bagi setiap yang berpakaian, yang terbaik di antara yang melaksanakan haji dan sa’i, yang paling adil, orator terbaik setelah para Nabi, menyaksikan dua kiblat, apakah ada yang menyamainya? Suami wanita terbaik, ayah dari dua cucu Nabi, saya tidak pernah melihat orang yang menyamainya dan tidak akan melihatnya hingga hari kiamat. Siapa yang melaknatnya akan dilaknat oleh Allah dan seluruh hamba-Nya hingga hari kiamat.”

Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dari Riyah bin Al-Harits, dia berkata, “Sekelompok orang datang menemui Ali di Rahbah (Sebuah tempat di Kufah), mereka berkata, “Assalamu’alaikum wahai wali kami?” Ali balik bertanya, “Bagaimana mungkin saya menjadi wali kalian padahal kalian bangsa Arab?” Mereka menjawab , “Kami mendengar Rasulullah berkata saat di Ghadir khum, “Siapa yang menjadikan saya sebagai walinya maka ini (Ali) adalah walinya.” Riyah berkata, “Ketika mereka pergi saya mengikuti mereka. Lalu saya bertanya, “Siapa gerangan mereka?” Mereka menjawab, “Sekelompok orang dari kaum Anshar, di antara mereka terdapat Abu Ayyub Al-Anshari.”

Akan tetapi semua itu tidak membuat para shahabat melebih-lebihkan posisi yang seharusnya atau menganggap Ali bahwa Ali adalah orang yang terjaga dari dosa. Mereka tetap menganggapnya seperti shahabat yang lain, bisa terkena sesuatu yang mengenai para shahabat yang lain.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Pada masa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kami tidak menyamakan Abu Bakar dengan seorangpun, lalu Umar, kemudian Utsman, selanjutnya kami tidak membeda-bedakan shahabat yang lain.”
Bahkan Ali sendiri tidak menganggap dirinya lebih baik dari Abu Bakar dan Umar. Sebagaimana diceritakan oleh putranya Muhammad yang di kenal dengan julukan Ibnu Al-Hanafiyah, dia berkata, aku bertanya kepada ayahku, “Siapa manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam?” Dia menjawab, “Abu Bakar.” Saya bertanya lagi, “Lalu siapa?” Dia menjawab, “Umar.” Dan saya khawatir dia akan menyebut Utsman, saya pun berkata, “Lalu engkau?” Dia menjawab, “Saya hanyalah salah satu dari kaum muslimin!”

Yang paling benar menurut Ahlus sunnah tentang urutan empat orang khalifah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali. Sedangkang pendapat ahli Kufah yang mengutamakan Ali, maka keutamaan itu hanya atas Utsman, tidak atas Abu Bakar dan Umar. Namun Ahlus Sunnah tidak ada yang berpendapat demikian.
Tidak sedikit ulama yang mengatakan bahwa, “Siapa yang mengutamakan Ali atas Utsman, sungguh telah merendahkan kaum Muhajirin dan Anshar.” Karena mereka sepakat untuk membaiat Utsman meski Ali ada di antara mereka. Tentu mereka sepakat untuk memilih yang terbaik dari mereka.

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.