Categories
Utsman Bin Affan

Biografi Sahabat Nabi Utsman Bin Affan : Kekhalifahan Utsman (Seri 4)

D. KEKHALIFAHAN UTSMAN, KEBIJAKAN DAN PERAN-PERAN PENTING YANG DILAKUKANNYA

1. Isyarat Nabi tentang kekhalifahannya
Ada beberapa petunjuk Nabi dan hadits shahi yang mengisyaratkan pada kekhalifahan Utsman Radiyallahu ‘Anhu.

Ummul mukminin Aisyah Radiyallahu ‘Anha meriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengutus seseorang untuk mengundang Utsman bin Affan. Maka Utsman datang memenuhi undangan dan ditemui oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Beliau berkata padanya, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan mengenakan padamu pakaian kekhalifahan, jika kaum munafik menuntut agar engkau menanggalkannya, jangan engkau tanggalkan hingga engaku bertemu denganku.” Rasulullah mengatakan tiga kali.

Jabir bin Abdullah Radiyallahu ‘Anhu menceritakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Seorang laki-laki shalih tadi malam bermimpi bahwa Abu Bakar dipautkan pada Rasulullah, Umar dipautkan pada Abu Bakar, dan Utsman dipuatkan pada Umar.” Jabir berkata, “Ketika kami bangkit dari sisi Rasulullah kami mengatakan, “Laki-laki shalih itu adalah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, sedangkan ucapan beliau tentang keterpautan mereka satu sama lain artinya mereka adalah para pemimpin urusan (Islam) yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Abdullah bin Umar mengatakan, “Kami bisa mengatakan pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam: Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” Yaitu terkait dengan kekhalifahan.

Ketika Umar Al-Faruq melaksanakan hajinya yang terakhir, dia memperhatikan takbir, doa, dan perbuatan orang-orang, semua itu membuatnya takjub. Maka dia berkata pada Hudzaifah yang saat itu berada di sampingnya, “Wahai Hudzaifah, sebagaimana yang engkau lihat, apakah ini akan tetap ada untuk orang-orang?” Hudzaifah berkata, “Fitnah itu memiliki pintu, jika pintu itu dirusak atau dibuka, fitnah itu akan keluar!” Umar bertanya, “Apa yang menjadi pintunya? Apa yang membuatnya rusak atau terbuka?” Jawab Hudzaifah, “Seorang mati atau terbunuh!” Umar bertanya, “Wahai Hudzaifah, menurutmu siapa yang akan diangkat sebagai pemimpin oleh kaummu setelahku?” Hudzaifah menjawab, “Saya melihat orang-orang mempercayakan urusan mereka pada Utsman!”

Haritsah bin Mudharrab berkata, “Saya melaksanakan haji bersama Umar, saya tidak melihat keraguan pada para shahabat bahwa khalifah setelahnya adalah Utsman.”

2. Pengangkatan Utsman sebagai khalifah dan bai’at umat terhadapnya
Isyarat Nabi tersebut dan berbagai sikap yang jelas dari para shahabat pada masa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam dan masa dua khalifah setelah beliau membuat Utsman menempati kedudukan tersebut dan ditunjuk oleh orang-orang setelah Umar Radiyallahu ‘Anhu.

Ketika Umar dalam kondisi sakit akibat mengalami penusukan, orang-orang meminta agar mengangkat seseorang sebagai penggantinya. Maka Umar berkata, “Saya tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka yang ketika Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam wafat beliau ridha kepada mereka. Siapa pun yang dipilih di antara mereka, maka dia yang menjadi khalifah setelahku.” Maka Umar menyebut nama Ali , Utsman, Thalha, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Dengan kejeniusanya, Umar mengisaratkan pada dua orang yang dianggapnya memiliki kedudukan yang lebih di mata orang-orang. Umar berkata, “Saya kira tidak ada seorang pun bisa menyamai Utsman dan Ali . Keduanya menulis wahyu pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam.”

Umar berpesan pada mereka berenam, “Jika saya meninggal dunia, bermusyawarahlah selama tiga hari. Hendaknya tidak datang hari keempat kecuali kalian telah menetapkan seorang pemimpin.”

Mereka pun berkumpul di kamar Ummul mukminin Aisyah. Sebelumnya Thalha bin Ubaidillah tidak hadir, baru kemudian dia hadir di tempat itu. Abdurrahman bin Auf memberi isyarat agar tiga orang dari mereka memberikan hak kekhalifahan pada tiga orang yang lain. Dia berkata, “Jadikanlah urusan ini pada tiga orang dari kalian.” Maka Zubair memberikan haknya pada Ali , Thalha memberikan haknya pada Utsman, dan Sa’ad memberikan haknya pada Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf berkata, “Siapa di antara kalian berdua yang melepaskan diri dari urusan ini, maka kami akan menyerahkan urusan padanya, Allah dan Islam akan menjadi saksi atasnya. Hendaklah yang paling baik di antara mereka melihat pada dirinya.” Dua Syaikh itu, yaitu Utsman dan Ali , hanya diam.

Maka Abdurrahman melanjutkan, “Apakah kalian menyerahkan urusan ini padaku? Demi Allah saya tidak akan lalai dari yang terbaik dari kalian!” Keduanya mengiyakan.

Maka Abdurrahman mengambil tangan salah satu dari mereka (yaitu Ali ) dan berkata, “Engkau mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan paling awal masuk Islam sebagaiman engkau ketahui. Maka berjanjilah pada Allah, jika saya mengangkat engkau sebagai pemimpin maka engaku akan bersikap adil, dan jika saya mengangkat Utsman sebagai pemimpin maka engaku akan mendengar dan mentaatinya?” Ali mengiyakan.

Lalu Abdurrahman bertanya hal yang sama pada Utsman, dan dia pun setuju. Kemudian mereka pun berpisah.

Sejak saat itu Abdurrahman mengemban urusan penting yang cukup berat yang harus diputuskan pada hari ketiga sebagaiman diwasiatkan oleh Al-Faruq untuk tidak melebihi jangka waktu tersebut.

Abdurrahman lalu meminta pandangan Utsman dan Ali , mengumpulkan pandangan kaum muslimin dan tokohnya, baik secara berkelompok maupun perorangan, secara sembunyi atau terang-terangan. Bahkan dia pun menanyakan pendapat kaum wanita di balik hijab mereka, bertanya pada anak-anak di berbagai madrasah, termasuk para pendatang dan penduduk badui yang datang ke kota Madinah.

Selam tiga hari tiga malam Abdurrahman disibukkan oleh urusan ini, matanya tak sempat dipejamkan untuk tidur, kecuali untuk melaksanakan shalat, berdoa, dan shalat isthikarah. Dia terus bertanya pada orang-orang pandai tentang keduanya, maka tidak didapatinya seorang pun yang menyamai Utsman bin Affan Radiyallahu ‘Anhu.

Pada pagi hari ke empat sejak wafatnya Umar, Abdurrahman bin Auf mengutus orang untuk mengundang Utsman dan Ali . Keduanya pun datang menemui Abdurrahman. Maka dia berkata pada mereka, “Saya telah bertanya kepada semua orang tentang kalian berdua dan saya tidak menemukan seorangpun yang menyamai kalian berdua. Kemudian Abdurrahman kembali mengambil janji dari keduanya, jika diangkat akan berlaku adil dan jika tidak diangkat akan mendengar dan taat pada yang diangkat sebagai pemimpin.

Abdurrahman lalu pergi bersamanya ke masjid Nabawi, dia naik ke atas mimbar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, berdiri cukup lama, berdoa cukup panjang di dalam hati, lalu berkata, “Wahai jamaah sekalian, saya telah bertanya pada kalian baik secara sembunyi-sembuyi maupun terang-terangan, namun saya tidak menemukan seorang pun yang menyamai salah satu dari dua orang ini, yaitu Ali ataupun Utsman.

“Maka silakan berdiri wahai Ali .” Ali pun berdiri di bawah mimbar dan Abdurrahman mengambil tangannya dan bertanya, “Apakah engaku mau berbai’at padaku untuk memimpin berdasarkan kitab Allah, Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar, dan Umar?”

Ali menjawab, “Tidak. Akan tetapi saya akan berbuat berdasarkan usaha dan kemampuanku.” Maka Abdurrahman melepaskan tangannya.

Lalu Abdurrhaman berkata, “Silakan berdiri wahai Utsman.” Abdurrahman menggenggam tangannya dan bertanya, “Apakah engkau mau berbai’at padaku untuk memimpin berdasarkan kitab Allah, Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar?’

Utsman menjawab, “Iya.”

Maka Abdurrahman menengadahkan kepalanya ke atap masjid sementara tangannya masih menggenggam tangan Utsman. Lalu dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah tanggung jawab yang dibebankan pada pundakku dan menyerahkannya pada Utsman.”

Maka Abdurrahman pun membai’at Utsman. Orang yang kedua membai’at Utsman adalah Ali bin Abi Thalib. Diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar, para panglima pasukan, dan masyarakat umum. Mereka mengerubungi hingga menutupinya di bawah mimbar. Utsman menerima pengangkatan dirinya sebagai khalifah pad hari Sabtu dari bulan Muharram pada tahun 24 H.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pernah memberi kabar gembira tentang situasi pembai’atan Utsman ini. Sebagaiman diriwayatkan oleh salah seorang shahabat bernama Abdullah bin Hawalah Radiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Kalian mengerubungi seorang laki-laki yang melipatkan penutup kepala ke wajahnya yang merupakan ahli surga membai’at orang-orang.” Abdullah bin Hawalah berkata, “Maka kami mengerubungi Utsman bin Affan, kami kami lihat dia melipatkan penutup kepalanya ke wajahnya sambil membai’at orang-orang.”

Terjadilah pembai’atan Utsman berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Mereka sepakat untuk mengangkat orang terbaik di antara mereka sebagai pemimpin. Seorang shahabat mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il, bahwa sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud dalam perjalanan dari Madinah menuju Kufah pada saat Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah. Maka dia memuji Allah, lalu berkata, “Amma ba’du, maka sesungguhnya Amirul mukminin Umar bin Khaththab telah meninggal dunia. Kami tidak pernah melihat hari yang paling banyak tangisan dari hari itu. Kemudian kami para shahabat Nabi Muhammad berkumpul, kami tidak mengesampingkan orang terbaik di antara kami yang paling banyak memiliki kelebihan dan keutamaan, maka kami membai’at Amirul mukminin Utsman bin Affan, maka mereka pun membaitnya.”

3. Strategi kekhalifahan Utsman dan arahnya
Utsman mendapat amanah kekhalifahan dan mengemban tanggung jawabnya, sementara dia memahami betapa sulitnya jalan yang yang ditempuh oleh para pendahulunya, yaitu Abu Bakar dan Umar. Dia juga tahu betapa negara Islam telah begitu luas cakupan wilayahnya, banyak kekayaannya, setiap keluarga memperoleh bagian tertentu dari baitul mal. Di samping itu penaklukan Islam telah meliputi berbagai tingkatan manusia yang berbeda-beda dalam kadar keimanannya dan penerimaannya terhadap agama ini.

Semua itu nampak jelas di hadapan Utsman. Suatu hal yang paling dikhawatirkan oleh Utsman akan terjadi pada kaum muslimin akibat perubahan tersebut adalah terbuka lebarnya kenikmatan dunia dan perlombaan di antara mereka untuk mengejarnya. Karena Utsman mengetahui bahwa Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah mengingatkan hal tersebut.

Karena itulah pada khutbah perdananya ketika dibai’at, Utsman menjelaskan pada kaum muslimin jalan yang akan ditempuhnya dan menyampaikan strategi kekhalifahannya. Utsman berkata, “Amma ba’du, maka sesungguhnya saya telah diberi amanah dan saya menerimanya. Ketahuilah bahwa saya sebenarnya seorang penerus bukan sebagai pelopor. Ketahuilah kalian memiliki hak atas saya setelah apa yang terdapat di Al-Qur’an dan Sunnah, tiga hal, yaitu meneruskan para pendahulu saya dalam menjalankan apa yang telah kalian mulai dan sepakati, memulai sesuatu yang baik yang belum kalian mulai, dan menahan dari kalian kecuali apa yang berhak kalian dapatkan.”

Utsman lalu mengirim surat kepada seluruh gubernur wilayah memerintahkan mereka agar bersikap sebagai pengayom bukan penarik pajak, berlaku adil di antara manusia dan menebar kasih sayang pada mereka. Utsman pun mengirim surat kepada para komandan pasukan di medan pertempuran untuk tetap pada apa yang diwasiatkan oleh Umar Al-Faruq kepada mereka dan memerintahkan para pegawai pajak untuk mengikuti kebenaran dalam menarik pajak dan bersikap amanah serta menjahui sikap aniaya. Bahkan Utsman menyampaikan suratnya untuk para penduduk di setiap wilayah untuk melakukan kewajiban amar makruf nahi munkar, mendatangi musim haji setiap tahunnya, agar orang-orang yang terzalimi mengangkat kasusnya kepada khalifah.

Utsman menulis sebagai berikut: “Amma ba’du, maka sesungguhnya saya telah mengangkat beberapa pekerja untuk mendatangiku pada setiap musim haji. Saya telah memberi wewenang kepada umat sejak saya diangkat sebagai khalifah untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Maka setiap kasus yang diangkat kepada saya atau kepada salah satu pekerja saya akan direalisasikan. Saya dan keluarga saya tidak memiliki hak seperti rakyat pada umumnya kecuali ditinggalkan untuk mereka. Sungguh telah melapor pada saya penduduk Madinah. Ada sekelompok orang yang dihina, ada juga yang dipukul. Wahai kalian yang pernah dipukul, dihina, atau semacamnya, hendaklah datang pada musim haji agar mengambil haknya dariku atau dari para pegawaiku, atau bersedekahlah, sesungguhnya Allah membalas orang yang bersedekah.”

Pada masa kekhalifahannya Utsman memiliki majlis syura yang beranggotakan para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar ditambah beberapa cendikiawan dari kalangan shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, termasuk Ibnu Abbas sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh Umar, untuk meminta pendapat mereka terkait persoalan kaum muslimin, pengiriman pasukan, penaklukan wilayah, dan pengelolaan negara serta urusan kekhalifahan.

4. Cara yang ditempuhnya dalam menjalankan kekhalifahan
Cara yang ditempuhnya dalam menjalankan kekhalifahan dan kehidupannya secara umum mengikuti manhaj kenabian dan petunjuk dua khalifah sebelumnya.

Utsman biasa tidur siang di masjid –padahal dia seorang khalifah- kainnya diletakkan di bawah kepala, tanpa ada seorangpun yang menjaganya. Ketika bangun, tampak bekas kerikil di bagian samping tubuhnya. Dia juga menjamu orang-orang dengan jamuan istimewa, sementara di rumahnya dia makan dengan cuka dan minyak. Abdullah bin Syaddad –seorang tabi’in terpercaya- pernah melihatnya pada hari Jum’at berdiri di atas mimbar mengenakan kain kasar seharga empat dirham.

Terkadang Usman menunggangi keledai sambil membonceng pembantunya. Dia juga menjenguk kaum muslimin yang sakit, mendoakan mereka, dan memenuhi undangan meskipun dia sedang berpuasa. Suatu kali Mughira bin Syu’bah mengundangnya pada acara resepsi pernikahannya. Utsman datang memenuhi undangan tersebut dan berkata, “Sebenarnya saya sedang berpuasa, tapi saya senang bisa memenuhi undangan dan ikut mendoakan agar diberi keberkahan.”

Dalam banyak kesempatan Utsman selalu bertanya tentang kondisi rakyatnya, berita mereka, dan harga-harga yang berlaku di pasar. Musa binThalha bin Ubaidillah meriwayatkan, “Saya melihat Utsman bin Affan berbicara dengan orang-orang bertanya tentang kabar mereka dan tentang harga-harga kebutuhan.”

Bersambung Insya Allah . . .

Artikel www.SahabatNabi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.